Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi itu, aku membawa harapan di dalam tas kecilku. Sebuah buku menu yang disusun rapi, namun sebenarnya hanyalah alasan agar aku bisa menginjakkan kaki di dunia Ghani, di rumah neneknya. Aku memarkir mobil tepat sebelum gerbang rumah Ibu Sonia. Rumah itu nampak begitu megah, sebuah istana kecil yang asri dengan tanaman hias yang memanjat pagar, seolah menyambutku dengan keramahan yang semu.
Aku turun dari mobil, merapikan dress-ku sejenak, dan menarik napas dalam. Namun, langkahku terhenti tepat di tepi gerbang.
Duniaku runtuh sebelum sempat aku melangkah masuk.
Di teras rumah yang teduh itu, bayangan Ghani tak lagi berdiri sendirian. Seorang perempuan cantik, begitu muda dan nampak sangat feminin, sedang melingkarkan lengannya di leher Ghani dengan keintiman yang membuat mataku pedih. Ghani membelakangiku, namun aku bisa melihat bagaimana bahu tegap itu merendah, membiarkan perempuan itu bergelayut manja di dadanya.
Aku segera bersembunyi di balik dinding rumah tetangga, jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada seperti burung yang terjebak dalam sangkar besi.
"Janji ya, Bang, hanya sebentar," suara perempuan itu terdengar manja, membawa nada kepemilikan yang tak bisa diganggu gugat. "Ghina jauh-jauh ke sini karena kangen Abang, malah ditinggal pergi."
"Iya, Sayang. Abang janji. Nanti selesai main dengan anak-anak, Abang langsung pulang, oke?"
Suara itu. Suara bariton yang beberapa hari ini menjadi pusat gravitasiku. Suara yang kemarin memujiku cantik di restoran itu, kini memanggil wanita lain dengan sebutan "Sayang" yang begitu fasih. Dari celah persembunyianku, aku melihat Ghani merunduk, mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening perempuan itu, sebuah kecupan pelindung yang biasanya diberikan seorang pria pada belahan jiwanya.
Hatiku tidak sekadar patah, hatiku hancur menjadi debu yang menyesakkan. Air mata meledak tanpa permisi, mengaburkan pandanganku. Jadi, ini alasannya? Ini alasan mengapa ia begitu misterius, mengapa ia berkata dunianya tak bisa kujangkau? Karena tempat itu sudah dihuni. Karena aku hanyalah selingan di sela liburannya bersama wanita yang ia cinta.
Bodoh. Aku mengumpat pada diriku sendiri di tengah isak yang tertahan. Bagaimana bisa aku membiarkan hatiku terseret dalam pusaran pria asing ini? Bagaimana bisa aku begitu haus akan perhatiannya hingga lupa bahwa pria sepertinya mustahil jika tidak dimiliki siapa pun?
Dalam kemarahan yang bercampur malu, aku masuk ke dalam mobil. Aku memacu mesin dengan gila, menjauh dari rumah yang kini terasa seperti monumen pengkhianatan. Aku butuh udara. Aku butuh laut.
Sesampainya di sudut paling sunyi Pantai Kreya, aku melepaskan segalanya. Aku menangis hingga tubuhku terguncang, memaki cakrawala yang nampak terlalu indah untuk hatiku yang sedang berdarah. Aku keluar dari mobil, mencoba mencari ketenangan pada desau angin, namun yang kudapat justru kehampaan yang mencekam.
Lalu, badai sesungguhnya datang.
Bukan badai dari laut, melainkan dari dalam dadaku sendiri. Rasa sesak itu merayap, menjerat tenggorokanku dengan jemari es yang tak kasat mata. Detak jantungku memacu liar, dan tiba-tiba, paru-paruku terasa seperti spons yang diperas habis hingga kaku.
Dunia mendadak menjadi sangat sunyi, kecuali suara siulan parau yang keluar dari tenggorokanku sendiri—suara kematian yang mengintai. Aku mencoba menarik napas, tapi oksigen di sekitarku seolah mendadak raib. Rasanya seperti tenggelam di daratan yang kering.
Asmaku kambuh di saat aku paling tidak berdaya. Inhalerku... aku ingat benda itu ada di dalam tas, dan tasku tertinggal di kursi mobil.
Aku melangkah gemetar, namun lututku menyerah. Aku terjatuh di atas pasir panas, merangkak dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Otot leherku menegang kuat, menonjol keluar karena dipaksa mencari napas yang tak kunjung sampai ke darah. Pandanganku mulai menyempit, terowongan gelap mulai membayang, dan kepalaku terasa ringan secara tidak wajar. Otakku mulai menyerah.
Satu inci lagi. Jariku berhasil membuka pintu mobil, meraba tas, dan menyentuh benda biru itu. Namun, jemariku yang gemetar hebat justru menyenggolnya. Benda itu meluncur, memantul, dan jatuh ke celah gelap di bawah kursi penumpang.
"Tidakkk..." raungku dalam hati. Suara itu hanya menjadi gema sunyi di kepala.
Di detik saat duniaku mulai memudar, sesosok bayangan berlari menerjang pasir.
"Ghea! Ghea! Kamu kenapa?!"
Itu dia. Ghani. Dia merangkak masuk ke kolong kursi dengan kalap, menemukan inhaler itu, dan menyodorkannya ke bibirku. "Ini, cepat hirup!"
Namun, kebencianku pada pengkhianatannya lebih kuat dari keinginanku untuk hidup. Dalam sisa kesadaran, aku memalingkan wajah, menepis tangannya dengan kemarahan yang terakhir. Aku lebih memilih mati di pelukan laut daripada diselamatkan oleh pria yang baru saja mencium wanita lain.
"Pe... r... gi..." desisku parau, setiap kata terasa seperti sayatan pisau di tenggorokan.
"Aku akan pergi setelah ini!" Ghani menjerit, air matanya pecah, jatuh mengenai pipiku. "Tapi kumohon, jangan sekarang! Hirup ini!"
Pshht. Sekali. Dua kali.
Tapi semuanya terlambat. Saluran napasku sudah terkunci total. Silent chest. Udara tak lagi bisa menembus dinding paru-paruku yang membatu. Kesadaranku goyah, aku jatuh terkulai di dadanya yang bidang, dada yang tadinya ingin kujadikan rumah, namun kini menjadi tempat terakhirku sebelum kegelapan benar-benar menelan segalanya.
Suara terakhir yang kudengar adalah jeritannya yang histeris dan deru mesin mobil yang dipacu gila-gilaan menembus hiruk pikuk jalanan, sementara duniaku benar-benar menjadi hitam pekat.