Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Lahirnya Paviliun Naga Emas
Seminggu setelah pertempuran di Gunung Gede, sebuah gedung lima lantai mewah di pinggir Jakarta Selatan resmi menjadi markas Paviliun Naga Emas. Juanda Hartono membeli gedung tersebut dengan cepat dan mengubahnya menjadi tempat kultivasi sekaligus pusat bisnis. Di atap gedung terpasang patung naga emas yang mengaum ke langit, terlihat jelas dari kejauhan.
Arkan berdiri di balkon lantai paling atas, angin malam Jakarta menerpa wajah tampannya. Tubuh kekarnya memancarkan aura Tingkat 9 yang semakin stabil. Di sampingnya, Sela memeluk lengannya, kepala gadis itu bersandar manja di bahu Arkan.
“Hari ini kita mulai merekrut,” kata Arkan. “Aku ingin Paviliun ini kuat dalam waktu singkat.”
Sela mengangguk. “Aku sudah siapkan daftar kandidat. Ada 27 orang kultivator liar dan mantan anggota sekte kecil yang muak dengan Naga Hitam.”
Pagi harinya, aula besar lantai dasar dipenuhi calon anggota. Arkan duduk di singgasana utama yang sederhana tapi penuh wibawa. Sela berdiri di samping kanannya, orang tuanya di kiri.
“Siapa yang ingin bergabung dengan Paviliun Naga Emas harus siap bertarung melawan kegelapan,” kata Arkan dengan suara tegas dan dominan. “Aku tidak janjikan kekayaan semata, tapi kekuatan dan perlindungan. Kalian yang mau, maju dan tunjukkan kemampuan kalian.”
Dua puluh tujuh orang maju satu per satu. Arkan menguji mereka dengan pertarungan singkat. Ia tidak menggunakan kekuatan penuh, tapi tetap mendominasi setiap lawan ujian. Enam belas orang lolos seleksi awal. Arkan langsung memberikan teknik dasar Naga Emas tingkat rendah kepada mereka sebagai tanda kepercayaan.
Malam harinya, Arkan mengadakan upacara sederhana. Semua anggota baru bersumpah setia di depan patung naga emas. Arkan meneteskan darahnya ke mangkuk, lalu setiap anggota meminumnya yang sudah dicampur dengan Qi-nya. Ini menciptakan ikatan sederhana yang memungkinkan Arkan merasakan pengkhianatan jika ada.
Dalam dua minggu berikutnya, Paviliun Naga Emas berkembang pesat.
Arkan membagi waktu antara melatih anggota, kultivasi pribadi, dan menghabiskan waktu dengan Sela. Setiap malam, ia dan Sela berlatih bersama di ruang kultivasi pribadi. Tubuh mereka semakin sering menyatu, bukan hanya untuk kenikmatan, tapi juga untuk saling memperkuat Qi.
Suatu malam, setelah sesi kultivasi intens, Sela berbaring telanjang di dada Arkan yang berkeringat. Napasnya masih tersengal.
“Arkan… aku sudah Tingkat 7 sekarang. Terima kasih,” bisiknya lembut.
Arkan mengusap punggung mulus Sela. “Kamu pantas mendapatkannya. Kamu adalah ratu Paviliun ini.”
Sela tersenyum polos tapi matanya penuh gairah. Ia naik ke atas tubuh Arkan lagi. “Kalau begitu, izinkan ratumu melayanimu malam ini.”
Mereka kembali menyatu dengan penuh hasrat. Naga Qi mengalir deras di antara mereka hingga dini hari.
Sementara itu, ancaman dari luar semakin nyata.
Sebuah surat tantangan resmi datang dari Naga Hitam. Mereka mengundang Arkan ke pertemuan damai di sebuah pulau netral dalam sebulan. Arkan tahu ini jebakan, tapi ia tetap menerima.
“Aku akan pergi, tapi bukan untuk damai,” katanya pada keluarga. “Ini saatnya kita tunjukkan kekuatan Paviliun.”
Dalam persiapan menghadapi pertemuan itu, Arkan semakin giat melatih anggota. Ia membuat pil-pil penyembuhan dan peningkatan Qi secara massal menggunakan resep dari warisan. Paviliun mulai memiliki 45 anggota aktif dengan rata-rata kekuatan Qi Condensation Tingkat 4-6.
Ayah Arkan bertanggung jawab atas urusan bisnis dan intelijen, ibunya mengurus logistik dan pengobatan, sementara Sela menjadi tangan kanan Arkan di medan pertempuran.
Suatu sore, saat Arkan sedang melatih pedang di atap gedung, seorang tamu tak terduga datang. Murong Fei — adik kandung Murong Xue yang dulu dikhianati Arkan. Gadis itu berlutut di depan Arkan.
“Saya datang untuk balas dendam… tapi bukan pada Anda,” katanya dengan suara gemetar. “Saya ingin bergabung. Saya benci Naga Hitam yang sudah membunuh kakak saya setelah gagal.”
Arkan menatap gadis itu lama. Setelah memastikan tidak ada niat jahat, ia menerima Murong Fei sebagai anggota. Gadis itu membawa banyak informasi penting tentang struktur internal Naga Hitam.
Dengan informasi baru itu, Arkan mulai merencanakan serangan balik kecil. Ia mengirim tim kecil dipimpin Sela untuk menghancurkan salah satu gudang obat Naga Hitam di pinggir Jakarta. Serangan itu sukses besar. Sela kembali dengan membawa banyak ramuan langka dan tanpa korban di pihak mereka.
Malam kemenangan itu, Arkan memeluk Sela di kamar pribadi.
“Kamu semakin hebat. Aku bangga,” katanya sambil mencium leher Sela.
Sela mendesah pelan. “Aku ingin selalu berguna untukmu.”
Mereka kembali menghabiskan malam dengan penuh gairah. Arkan berhasil breakthrough ke **Foundation Establishment Tingkat 1** awal setelah menyerap banyak Qi dari ramuan yang dibawa Sela. Tubuhnya bergetar hebat saat inti Foundation terbentuk di dantiannya. Aura barunya jauh lebih kuat, seperti raja naga yang baru lahir.
Pagi harinya, seluruh anggota Paviliun merasakan perubahan aura pemimpin mereka. Semua berlutut hormat.
Arkan berdiri di balkon, memandang kota Jakarta yang sibuk di bawah sana.
“Sekarang kita sudah siap. Satu bulan lagi, kita hadapi Naga Hitam di pulau netral. Bukan untuk damai… tapi untuk deklarasi perang.”
Sela berdiri di sampingnya, tangan mereka saling genggam.
“Kita akan menang. Bersama.”
Paviliun Naga Emas semakin kokoh. Arkan semakin kuat. Musuh semakin resah.
Dan badai besar di Nusantara mulai terbentuk di ufuk timur.