NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Komedi
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembantaian Serangga Malam

Malam di Benua Awan Surgawi terasa merayap dengan kecepatan yang sangat menyiksa bagi puluhan kultivator yang berdiri di halaman. Dua bulan kembar berwarna merah darah menggantung diam di langit gelap, memancarkan pendaran cahaya mistis yang menembus kabut lembah.

Hawa dingin gunung berhembus menembus celah-celah daun pinus biru, menciptakan suara siulan panjang yang terdengar seperti rintihan roh penasaran. Rumput-rumput liar yang tersisa di tepi jurang bergesekan satu sama lain, menghasilkan harmoni alam yang biasanya sangat menenangkan jiwa.

Namun, keindahan malam itu sama sekali tidak bisa dinikmati oleh para elit Sekte Teratai Angin yang sedang menjalani hukuman. Mereka berdiri melingkari paviliun mewah tersebut dengan tubuh yang menegang kaku layaknya barisan arca batu di depan makam kuno.

Kepala Sekte Zhao Wuji menahan napasnya dengan susah payah, wajahnya memucat di bawah sorotan cahaya bulan yang temaram. Korset baja di balik jubahnya yang kotor terasa semakin mencekik lambungnya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca.

Pria paruh baya itu membelalakkan matanya lebar-lebar, memfokuskan seluruh indera pendengarannya ke udara malam yang sunyi senyap. Keringat dingin terus mengucur melewati pelipisnya, menetes pelan membasahi kerah jubah sutra yang dulu selalu menjadi simbol keagungannya.

Seekor nyamuk hutan berukuran sebesar biji beras tiba-tiba terbang melintasi halaman dengan kepakan sayap yang menghasilkan dengungan sangat pelan. Di telinga para penguasa dunia persilatan itu, suara dengungan kecil tersebut terdengar lebih mengerikan daripada tabuhan genderang perang iblis.

Mata Zhao Wuji seketika menyipit tajam, urat-urat di leher dan dahinya langsung menonjol keluar merespons ancaman terbang tersebut. Dia tidak berani menggunakan pedang emasnya karena takut suara tebasannya akan membangunkan tiran fana yang sedang tidur nyenyak di dalam.

Pria perkasa itu mengangkat tangan kanannya perlahan, merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang masih dipenuhi luka lecet. Dia memusatkan energi spiritual elemen angin ke ujung jarinya, menciptakan titik cahaya hijau yang sangat kecil dan tidak bersuara.

Dengan gerakan tangan yang luar biasa presisi, Zhao Wuji menembakkan jarum angin tak kasat mata itu tepat ke arah nyamuk tersebut. Serangga kecil itu hancur menjadi debu halus di udara, tidak menyisakan jejak apa pun sebelum sempat mendekati pintu paviliun.

Zhao Wuji menghembuskan napas lega yang panjang dan bergetar, tangannya langsung terkulai lemas di sisi tubuhnya karena kelelahan mental. Dia melirik ke arah rekan-rekannya dengan pandangan putus asa, menyadari bahwa malam penderitaan ini masih sangat panjang dan menyiksa.

Di sudut lain beranda, Tetua Lin sedang bergerak mengendap-endap dengan postur tubuh yang membungkuk layaknya pencuri kelas teri. Pria tua berjubah putih itu memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan serangga malam dengan kepanikan luar biasa.

Tangannya yang keriput terus bergerak membentuk segel rumit, menciptakan jaring es transparan berukuran sangat kecil di udara kosong. Tetua Lin menangkap seekor ngengat bercahaya menggunakan jaring es itu, lalu membekukannya perlahan agar tidak menghasilkan suara kepakan sayap.

Janggut palsu di dagunya bergoyang pelan setiap kali dia merinding ketakutan, nyaris terlepas dari perekatnya karena keringat yang membanjir. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangis, meratapi nasibnya yang berubah dari tetua terhormat menjadi pembasmi hama dadakan.

Sementara itu, di bawah semak-semak yang gelap, Anjing Petir Ekor Tiga sedang meringkuk menyembunyikan hidungnya di antara kedua kaki depan. Monster buas penjaga peternakan itu menutup telinganya rapat-rapat, tidak berani mengeluarkan suara dengkuran sedikit pun meski matanya sangat mengantuk.

Binatang raksasa itu sesekali menggigil kedinginan, namun dia lebih memilih membeku daripada harus berhadapan dengan mulut berbisa Li Zhen. Tiga ekor berdurinya diselipkan ke bawah perut buncitnya, membuktikan betapa hancurnya harga diri monster legendaris tersebut malam ini.

Waktu berlalu dengan sangat lambat, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi di dalam neraka yang dingin dan sepi. Bintang-bintang ungu di langit perlahan mulai memudar, menandakan bahwa fajar akan segera menyingsing di ufuk timur benua tersebut.

Semburat cahaya jingga akhirnya mulai terlihat merobek kegelapan malam, menyapu kabut tebal yang menyelimuti lereng gunung dengan kehangatannya. Udara pagi yang segar membawa aroma tanah basah dan embun, sebuah pertanda bahwa hari yang baru telah resmi dimulai.

Para tetua sekte yang berdiri di halaman langsung menghembuskan napas lega secara serempak, tubuh mereka limbung karena kehabisan tenaga. Mata mereka memerah parah dengan lingkaran hitam yang sangat tebal di bawahnya, membuat mereka terlihat seperti sekumpulan mayat hidup.

Kepala Sekte Zhao Wuji menjatuhkan dirinya ke posisi berlutut, kedua tangannya bertumpu pada tanah merah untuk menopang tubuh besarnya. Pria itu terengah-engah hebat, menatap pintu paviliun dengan pandangan kosong yang tidak lagi memancarkan wibawa atau harapan hidup.

Di dalam ruang utama paviliun yang sejuk, kedamaian mutlak masih menyelimuti sosok pemuda kurus yang sedang tidur tengkurap. Li Zhen memeluk guling sutranya dengan erat, bibirnya sedikit terbuka melepaskan dengkuran halus yang sangat berirama dan menenangkan.

Kasur bulu angsa yang tebal itu menelan tubuh kurusnya dengan sempurna, memberikan kenyamanan yang membuat otot-ototnya sangat rileks. Cahaya pagi yang masuk menembus celah jendela giok jatuh tepat di wajahnya, mengusik kelopak matanya yang masih tertutup rapat.

Li Zhen mengerang pelan, memutar tubuhnya untuk menghindari sinar matahari ganda yang mulai menyilaukan pandangan matanya. Dia meregangkan kedua tangan dan kakinya secara bersamaan, menciptakan suara gemeretak tulang yang menggema di dalam ruangan sunyi tersebut.

Pemuda itu membuka sebelah matanya dengan malas, mendecakkan lidahnya karena waktu tidurnya yang berharga harus terganggu oleh datangnya pagi. Dia bangkit duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang pucat dengan kedua telapak tangan secara kasar.

"Tidur di dunia kultivasi ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan, asalkan kau memiliki budak-budak gratisan yang menjagamu semalaman," gumamnya bangga. Sebuah senyuman licik kembali menghiasi wajah tirusnya, teringat pada puluhan elit sekte yang pasti sedang menderita di luar sana.

Li Zhen melirik ke arah ujung ranjangnya, tempat jubah kebesaran Kepala Sekte berbahan sutra laba-laba surgawi itu tergeletak sembarangan. Dia meraih jubah putih bersulam naga emas itu, lalu memakainya kembali dengan gerakan yang sangat asal-asalan dan tidak rapi.

Karena ukurannya yang terlalu besar, ujung jubah mahal itu menyapu lantai giok putih setiap kali Li Zhen mengambil langkah. Dia menggulung bagian lengannya hingga ke siku, lalu mengikat sabuk emasnya dengan asal agar pakaian itu tidak melorot.

Pemuda bermulut sampah itu berjalan gontai menuju ambang pintu, langkahnya tidak memancarkan sedikit pun keanggunan seorang kultivator. Dia mendorong pintu kayu jati berukir itu hingga terbuka lebar, langsung disambut oleh hembusan angin pagi yang sedikit menghangatkan.

Kehadirannya di beranda paviliun seketika mengubah suasana halaman yang tadinya dipenuhi kelegaan menjadi medan teror yang sangat mencekam. Puluhan kultivator sakti yang sedang terduduk lemas langsung memaksakan diri untuk bangkit dan kembali ke posisi siaga mereka.

Kepala Sekte Zhao Wuji buru-buru menyatukan kedua tangannya di depan dada, menundukkan kepalanya dalam-dalam meski pandangannya sudah mulai berkunang-kunang. "S-Senior Agung, junior-junior ini menyambut kebangkitan Anda di pagi hari yang cerah ini," sapa Zhao Wuji dengan suara bergetar parah.

Li Zhen melipat lengannya di dada, matanya menyapu seluruh pemandangan di depannya dengan tatapan menilai yang sangat tajam dan dingin. Dia melihat wajah-wajah kuyu, mata panda yang membengkak, dan postur tubuh membungkuk dari para dewa persilatan yang sangat ditakuti tersebut.

1
Lucy Sandy
lucu seru
Roy Kkk
😄
Roy Kkk
bagus ceritanya tor
Roy Kkk
👍
King Salman
🤭
King Salman
👍👍
King Salman
🙏
King Salman
mantapppp lucuuu
Sarndi Kurma
lanjut tor mantap
Turki Salman
baguasssss tor
Sofia
karya bagus
Kalong Super
bagus mantab luar biasa
Kalong Super
lanjut 👍👍👍👍
Nh4Fi
bnar2 tnp keringat.../Sweat/
Bambang Purwanto
gas terus...mAntap
Bambang Purwanto
👍👍👍👍lanjuttttt
Nisfah Ungaran
bagus ceritanya tapi masak cuma nyiksa didalam sektenya aja...kurang seru kalo gak petualang sekte lain dan kekaisaran bos...
Anonim
Bagus sih, tpi terlalu lebay
Mbah Haryo
pengin baca novel ini..tp cpt masih sdikiit..ntar nanggung bacanya...
kita udh follow authornya..jd gampanglah nanti balek ksini lg kalo udah banyak cpt nya...
ninggal ktp aja doeloe...

💪
Op L
mantap ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!