NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 19: MAAF DAN JANJI SETIA

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 19: MAAF DAN JANJI SETIA

Pagi itu, sinar matahari pagi yang hangat namun redup masuk menerobos masuk melewati celah-celah dinding rumah kayu yang sudah tua, tak rapat, dan banyak bagian yang lapuk dimakan usia. Udara pagi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, membuat siapa saja yang berada di sana merinding, apalagi rumah itu sama sekali tak ada langit-langitnya, hanya beratapkan daun rumbia yang kadang-kadang meneteskan sisa embun malam. Di sudut ruangan, dekat jendela kecil yang terbuka, Ria sudah bangun dari tidurnya, duduk bersandar di dinding yang dingin dan kasar itu. Ia masih terasa sedikit lemas dan pening sisa demam tinggi semalam, tapi senyumnya yang lembut dan tulus itu sudah kembali mengembang di bibirnya.

Terlihat jelas sekali sosok remaja putri berusia empat belas tahun, kelas 3 SMP itu bertubuh sangat tinggi, sama tingginya dengan anak laki-laki seusianya, bahkan terlihat lebih tinggi sedikit karena badannya yang begitu kurus kering. Tulang bahu, lengan, dan pipinya terasa nyaris tak ada dagingnya, menonjol jelas ke luar seolah hanya kulit yang membungkus tulang-belulang itu saja. Kulitnya tampak pucat, kering, dan kusam, bukan karena kurang bersih, tapi karena tubuhnya yang selama bertahun-tahun ini kekurangan gizi, kurang makanan yang bergizi, dan hanya sekadar makan seadanya saja asal masuk perut. Di wajahnya yang masih muda itu, sudah terlihat ada guratan-guratan lelah dan beban hidup yang berat, tanda bahwa ia sudah terlalu banyak berpikir dan bekerja keras di usia yang seharusnya masih bermain-main. Tangan dan kakinya panjang, kurus, dan terlihat kasar, kulitnya mengeras di beberapa bagian, bekas dari pekerjaan berat yang setiap hari ia lakukan: membantu Bu Rini guru ngaji menyapu halaman, mencuci piring, mengangkat air, membantu Pak Guru di sekolah membersihkan ruang kelas, menyusun buku, mengatur kursi, dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Semua itu ia lakukan bukan karena senang bekerja atau dipaksa orang lain, tapi karena kenyataan hidup yang pahit. Mereka ini keluarga yang serba kekurangan, miskin harta, makan saja susah didapat, mana ada uang lebih untuk biaya sekolah? Kalau Ria tidak bantuin orang lain, tidak mencari uang jajan sendiri, mungkin ia sudah putus sekolah sejak lama, mungkin ia sudah tidak bisa bersekolah sampai kelas 3 SMP seperti sekarang ini.

Di sebelahnya, Bunda Maria duduk diam, menatap sosok putri kesayangannya itu dengan mata yang berkaca-kaca, hati Bunda terasa perih sekali, nyeri, dan sedih yang tak terkira. Bunda tahu benar, betapa berat perjuangan putrinya ini selama dua tahun belakangan ini, terlebih lagi saat hubungan dengan ketiga kakaknya menjadi dingin dan renggang. Saat itu, Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah bersikap sangat acuh tak acuh, seolah tak punya adik perempuan. Mereka pergi pagi, pulang sore, makan tidur, seolah Ria tidak ada di rumah itu. Mereka membiarkan Ria berjuang sendirian, membiarkan Ria bekerja banting tulang demi biaya sekolahnya, membiarkan Ria makan seadanya, membiarkan Ria tumbuh menjadi tinggi tapi kurus kering begini, tanpa sedikit pun mereka peduli atau mau menolong. Bunda sering kali menangis diam-diam melihat itu semua, tapi Bunda tidak punya kuasa, apalagi keadaan ekonomi mereka yang memang sangat sulit.

"Nak... Maafkan Bunda ya..." suara Bunda terdengar parau dan bergetar, tangan keriputnya perlahan menyentuh lengan Ria yang kurus panjang dan kasar itu. "Maafkan Bunda yang tidak bisa kasih kamu makanan enak, tidak bisa kasih kamu gizi yang cukup... Bunda tahu, badanmu jadi begini karena kurang makan, karena sering menahan lapar... Bunda tahu, tanganmu jadi kasar begini karena setiap hari kamu bantuin orang lain, kerja keras, cuma supaya kamu tetap bisa sekolah dan punya uang jajan... Bunda tahu berat sekali beban yang kamu pikul sendirian selama ini... Maafkan Bunda ya, Nak... Bunda gagal jadi ibu yang baik buat kamu..."

Mendengar itu, Ria langsung menggeleng pelan, lalu tersenyum manis menghibur hati ibunya. Ia memegang tangan Bunda, mengusapnya lembut dengan tangannya yang kasar itu.

"Jangan bicara begitu ya, Bunda... Ini bukan salah Bunda sama sekali..." jawab Ria lembut dan dewasa sekali, jauh melebihi umurnya. "Memang begini keadaan kita kan, Bun... Kita keluarga susah, kita miskin, kita tidak punya apa-apa... Kalau Ria tidak bantuin Bu Rini, kalau Ria tidak bantuin Pak Guru di sekolah, mana ada uang buat beli buku, alat tulis, atau bayar iuran sekolah? Kalau cuma mengandalkan apa yang ada di rumah, mungkin Ria sudah tidak sekolah lagi dari dulu... Ria ikhlas kok, Bun... Ria senang bisa bantu-bantu, yang penting Ria masih bisa belajar, masih bisa sekolah, dan Bunda makan kenyang... Lagian dulu kan Abang-abang juga belum ada rezeki lebih, jadi Ria harus berusaha sendiri... Ria tidak pernah marah atau dendam sama Bunda, sama Abang-abang, atau sama keadaan... Ria terima semuanya dengan ikhlas..."

Kalimat sederhana tapi begitu dalam itu terdengar jelas sampai ke sudut kamar lain, di mana ketiga kakaknya, Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah berdiri diam bersandar di tiang rumah. Mereka mendengar semuanya, mereka tahu semua kenyataan pahit itu, dan setiap kata yang keluar dari mulut adiknya itu terasa seperti pisau tajam yang menyayat hati mereka berdarah-darah. Rasa bersalah mereka begitu besar, begitu berat, hingga rasanya dada mereka sesak dan sulit bernapas. Mereka sadar betul, selama dua tahun lebih ini mereka hidup santai, makan apa adanya saja tapi tetap kenyang, tidur nyenyak, sementara adik perempuan satu-satunya mereka harus mengorbankan tenaga, waktu, dan kesehatannya sendiri demi mengejar cita-citanya bersekolah. Dulu mereka tidak peduli, bahkan kadang menganggap remeh, pura-pura tidak melihat, pura-pura tidak tahu, tapi sekarang? Semua penyesalan itu datang menumpuk menjadi beban terberat seumur hidup mereka.

Mereka pun melangkah masuk perlahan, langkah mereka berat sekali seolah ada beban berat yang menginjak kaki mereka. Wajah mereka tampak pucat, mata mereka merah dan bengkak sisa menangis semalam, tatapan mereka penuh rasa bersalah yang mendalam. Mereka berlutut di depan tempat Ria duduk, menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata adiknya itu karena rasa malu yang luar biasa besarnya.

"Dik..." suara Bang Hamza terdengar berat, parau, dan bergetar hebat. "Kami sudah dengar semua... Kami tahu semuanya... Kami tahu betul, kalau kamu masih bisa duduk di bangku kelas 3 SMP sampai hari ini, itu sama sekali bukan karena kami, bukan karena bantuan kami... Tapi itu semua karena keringatmu sendiri, karena kerja kerasmu sendiri... Kami tahu kamu bangun pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, kamu sudah menyapu halaman sekolah supaya boleh belajar gratis. Kami tahu sepulang sekolah kamu tidak langsung pulang istirahat seperti teman-temanmu, tapi kamu langsung lari ke rumah Bu Rini, kamu bantu masak, bantu cuci piring, bantu angkat air, apa saja kamu kerjakan, sampai sore hari... Kami tahu kamu pulang dalam keadaan lelah, lapar, dan kadang kedinginan... Kami tahu semua itu, Dik... Kami lihat itu semua setiap hari, tapi apa yang kami lakukan? Kami diam saja... Kami pura-pura tidak melihat... Kami bersikap dingin sekeras batu... Kami ini kakak-kakak yang paling buruk, paling jahat, dan paling tidak berguna di dunia ini..."

Bang Hamza mengangkat wajahnya perlahan, air matanya langsung jatuh berderai membasahi pipi. Ia menatap tubuh adiknya yang tinggi kurus kering itu dengan pandangan yang begitu sedih dan menyakitkan.

"Lihat dirimu ini, Dik... Tinggi sekali, sama seperti kami, tapi kosong... Tidak ada dagingnya, tidak ada isinya... Tulang-belulangmu terlihat semua, tanganmu kasar penuh bekas kerja keras... Semua ini karena kami... Karena kami yang dulu tidak mau peduli, tidak mau berbagi, tidak mau berjuang buat kamu... Kami biarkan kamu makan seadanya, apa yang ada saja, sampai tubuhmu kekurangan gizi begini... Kami biarkan kamu berjalan kaki jauh sendirian... Kami biarkan kamu dihina atau dikasihani orang lain... Kami biarkan kamu sakit-sakitan dan demam tinggi begini... Semua salah kami... Semua ini dosa kami padamu..."

Bang Arefin dan Bang Ardiansyah ikut berlutut di samping kakak sulungnya, menunduk dalam-dalam, bahu mereka terguncang hebat menahan tangis yang pecah kembali.

"Betul kata Bang Hamza, Dik..." ucap Bang Arefin dengan suara yang hampir tak terdengar karena terisak. "Dulu kami bodoh, kami jahat, kami tidak punya hati nurani... Kami pikir tidak ada apa-apanya kalau kami diam saja... Kami pikir kamu kuat-kuat saja... Kami tidak sadar betapa berat bebanmu, betapa lapar dan lelahnya kamu... Kami tidak sadar, kamu itu adik kami, perempuan satu-satunya kami, yang seharusnya kami lindungi, kami kasihi, dan kami jaga... Kami miskin harta memang, Dik... Kami tidak bisa belikan kamu makanan enak, kami tidak bisa belikan kamu baju bagus... Tapi kami punya tenaga, kami punya waktu, kami punya kasih sayang... Dan dulu pun itu kami simpan buat diri kami sendiri saja, kami tidak mau kasih ke kamu... Kami malu sekali sama diri kami sendiri... Kami malu sama Bunda... Kami malu sama kamu..."

Bang Ardiansyah perlahan mengangkat tangan, menggenggam tangan Ria yang kurus, panjang, dan kasar itu erat sekali, seolah takut jika dilepaskan, adiknya itu akan hilang atau pergi jauh darinya. Ia mencium punggung tangan itu berkali-kali dengan penuh rasa hormat dan penyesalan yang mendalam.

"Maafkan kami, Dik... Maafkan kami ya..." isak Bang Ardiansyah pilu. "Kami tahu, maaf kami ini terlambat... Kami tahu, bekas luka di hatimu mungkin belum sembuh sepenuhnya... Kami tahu, tubuhmu yang kurus dan lemah ini adalah bukti nyata dari kejahatan sikap kami dulu... Kami tahu kami tidak pantas dimaafkan... Tapi kami mohon sama kamu... Berikan kami kesempatan sekali saja... Berikan kami waktu untuk menebus semua kesalahan besar kami itu... Meski kami tetap miskin, meski kami tetap susah cari makan, meski kami tetap serba kekurangan... Kami berjanji, mulai detik ini, mulai hari ini, dan sampai kapan pun selama kami masih bernapas... Kami berjanji takkan pernah lagi membiarkan kamu sendirian... Kami berjanji takkan pernah lagi membiarkan kamu bekerja bantuin orang lain sendirian sampai lelah begini... Kalau kamu harus ke rumah Bu Rini, kami yang akan nemenin, kami yang bantu kerjakan sebagian besar... Kalau kamu harus bersihkan sekolah, kami yang datang bantu kamu... Biar kami saja yang capek, biar tenaga kami saja yang habis... Kamu cukup belajar saja, cukup sekolah saja, cukup makan dan istirahat saja... Kami berjanji, kami akan berusaha cari uang lebih sekuat tenaga kami, biar kamu tidak perlu lagi pusing mikirin biaya sekolah atau kebutuhanmu... Itu kewajiban kami sekarang... Mulai sekarang, kami adalah perisaimu, kami adalah bentengmu, kami adalah kakak-kakak yang akan selalu ada di sampingmu, melindungimu, dan menyayangimu melebihi apa pun yang ada di dunia ini... Kami tidak akan pernah bersikap dingin lagi, kami tidak akan pernah cuek lagi, selamanya..."

Mendengar pengakuan tulus dan janji setia yang begitu dalam itu, hati Ria terasa penuh sekali, seolah ada kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi seluruh dadanya. Selama dua tahun lebih ini, ia selalu berpikir ia tidak dianggap, ia tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri, ia selalu berpikir ia harus berjuang sendirian selamanya. Tapi hari ini, di saat tubuhnya sedang lemah dan sakit, ia mendengar janji yang begitu besar dan tulus dari mulut kakak-kakaknya yang dulu sangat dingin dan jauh itu. Air mata bahagia dan haru mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau rasa sakit, melainkan air mata kebahagiaan yang paling indah yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ria mengangguk berulang kali sambil terisak bahagia, lalu ia langsung memeluk erat ketiga kakaknya itu bergantian, memeluk mereka dengan sekuat tenaga yang tersisa di tubuh kurusnya itu.

"Aku maafkan... aku maafkan semuanya, Bang... Sudah jangan menangis lagi ya... Sudah jangan menyesal lagi..." ucapnya lirih namun penuh ketulusan hati yang luar biasa besarnya. "Semuanya sudah berlalu... semuanya sudah selesai... Sekarang kan kita sudah sama-sama lagi... Sekarang kan Abang-abang sudah sayang sama Ria... Itu saja sudah cukup buat Ria... Itu saja sudah bikin Ria jadi anak paling bahagia di dunia ini... Biarpun kita susah, biarpun kita makan seadanya saja, biarpun rumah kita sederhana... Asal kita rukun, saling sayang, dan saling bantu, itu sudah lebih dari cukup buat Ria... Ria janji, Ria akan semangat sekolah, Ria akan jadi anak yang baik, biar Abang-abang dan Bunda bangga sama Ria..."

Di sudut ruangan, Bunda Maria hanya bisa memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia, mengucap syukur berulang kali kepada Yang Maha Kuasa. Di pagi yang dingin itu, di tengah keterbatasan hidup dan kemiskinan mereka, kasih sayang yang dulu hilang dan renggang itu akhirnya tumbuh kembali menjadi jauh lebih kuat, lebih kokoh, dan lebih indah dari sebelumnya. Meski dompet mereka kosong, meski makanan mereka sederhana dan kurang gizi, namun kebahagiaan dan kasih sayang yang kini melingkupi mereka adalah harta paling mahal yang tak bisa dibeli apa pun. Janji setia itu telah terucap, dan kini Ria tahu pasti, ia tidak lagi berjalan sendirian. Di belakangnya kini berdiri tegap benteng terkuatnya: keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, yang akan selalu ada untuknya selamanya.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!