NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Lautan Darah di Tangga Awan

​Gema hancurnya gerbang utama Sekte Awan Hijau masih bergemuruh di udara, disusul oleh dentang Lonceng Peringatan Emas yang melengking panik.

​Dalam sekejap mata, malam yang tenang berubah menjadi lautan obor dan kilatan cahaya pedang terbang. Ratusan bayangan melesat menuruni puluhan ribu anak tangga batu—yang dikenal sebagai Tangga Awan—dari berbagai puncak gunung.

​"Siapa yang berani menyerang sekte kita?!"

"Bunuh penyusup itu!"

"Pertahankan gerbang!"

​Teriakan marah bersahut-sahutan. Rombongan pertama yang tiba di dasar gunung adalah ratusan Murid Luar dan puluhan Murid Dalam penjaga malam. Ketika debu dari gerbang yang hancur perlahan menyapu, mereka menghunuskan senjata, bersiap menghadapi pasukan musuh yang besar.

​Namun, alih-alih pasukan, yang mereka lihat hanyalah seorang pemuda berdiri sendirian di tengah puing-puing. Jubahnya berkibar pelan ditiup angin malam.

​"Itu... Lin Tian?" seorang Murid Dalam yang memimpin barisan depan menyipitkan mata, raut wajahnya berubah dari marah menjadi bingung tak percaya. "Bukannya dia manusia cacat yang dibuang ke Lembah Kematian? Bagaimana dia bisa selamat? Tunggu... di mana pasukan musuhnya?"

​"Tidak ada pasukan," suara Lin Tian terdengar datar, matanya menyapu ratusan kultivator yang menghalanginya. "Hanya aku. Menyingkir dari jalanku."

​Mendengar itu, Murid Dalam tersebut tertawa keras, tawanya diikuti oleh ejekan dari ratusan murid lainnya.

​"Kau gila, Lin Tian! Dantianmu sudah hancur, kau hanyalah sampah fana! Beraninya kau menghancurkan gerbang sekte dan menantang Tuan Muda Zhao? Saudara-saudara, cincang sampah ini, kita akan mendapat hadiah besar dari Tetua!"

​SRAANG!

​Ratusan pedang dicabut berserakan. Puluhan kultivator Pengumpulan Qi tingkat rendah dan menengah melompat serentak ke arah Lin Tian, melepaskan berbagai tebasan cahaya spiritual—merah, biru, kuning—yang menerangi malam bagai kembang api mematikan.

​Lin Tian tidak mundur. Ia meletakkan satu kakinya di anak tangga pertama Tangga Awan.

​BOOM!

​Batu pijakannya retak. Tubuhnya melesat maju bagai peluru meriam, langsung menabrak kerumunan murid yang melompat ke arahnya.

​Tidak ada teknik yang indah. Tidak ada kilatan sihir.

​Saat seorang murid menebaskan pedang spiritual ke dada Lin Tian, pedang itu hancur berkeping-keping seolah menebas dinding berlian. Sebelum murid itu bisa berteriak kaget, bahu Lin Tian menghantam dadanya.

​KRAK!

​Tulang rusuk murid itu remuk berantakan. Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak selusin murid lainnya hingga mereka semua terpental berguling-guling menuruni tangga sambil memuntahkan darah.

​Lin Tian terus melangkah naik. Setiap ayunan lengannya menciptakan gelombang kejut udara yang merobek gendang telinga. Tangannya menyambar, mematahkan pedang, meremukkan pergelangan tangan, dan meninju rahang. Murid-murid sekte berjatuhan layaknya gandum yang disabit di musim panen.

​"M-Monster! Tubuhnya kebal terhadap pedang!" teriak salah satu murid yang tersisa, mundur dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya bergetar melihat rekan-rekannya merintih patah tulang di sekitar Lin Tian.

​Dalam kurang dari setengah batang dupa, lebih dari dua ratus kultivator tergeletak tak berdaya di dasar Tangga Awan. Darah mereka mulai mengalir ke bawah, menodai batu pualam putih menjadi merah pekat.

​Di tengah lautan tubuh yang mengerang itu, Lin Tian berdiri tegak. Tidak ada satu pun luka di kulit perunggunya. Ia menengadah, menatap Puncak Awan Hukuman yang menjulang tinggi menembus awan malam.

​Bulan semakin tinggi. Aku harus lebih cepat, batin Lin Tian.

​"Lancang!!!"

​Sebuah raungan menggelegar turun dari atas langit, membawa tekanan energi yang sangat dahsyat hingga membuat para murid yang terluka muntah darah lebih parah.

​Sesosok pria tua berjubah perak turun dari langit dengan menginjak sebilah pedang terbang raksasa. Wajahnya keriput namun matanya memancarkan niat membunuh yang mengerikan. Di belakangnya, belasan elit Penegak Hukum berpakaian hitam mendarat dengan anggun.

​"Tetua Penegak Hukum Wu!" seru para murid yang masih sadar dengan nada penuh harapan.

​Tetua Wu adalah seorang ahli di tahap Pembangunan Pondasi (Foundation Establishment) Menengah. Di seluruh sekte, posisinya hanya berada di bawah Pemimpin Sekte dan para Tetua Besar. Di matanya, kultivator Pengumpulan Qi hanyalah semut.

​Tetua Wu melayang beberapa meter di atas anak tangga, menatap tajam ke arah Lin Tian dan kekacauan di sekitarnya. Kemarahannya meledak hingga janggutnya bergetar.

​"Binatang kecil pemberontak! Aku tidak tahu sihir iblis apa yang kau pelajari di Lembah Kematian untuk menguatkan fisik fana-mu, tapi di hadapan keagungan Pembangunan Pondasi, fisik tanpa Qi hanyalah gumpalan daging mati!"

​Tetua Wu merentangkan tangannya. Lautan energi spiritual dari alam sekitar tersedot dengan ganas ke telapak tangannya, membentuk sebuah telapak tangan energi raksasa berwarna keemasan selebar sepuluh meter. Udara berderak, bergesekan dengan suhu yang memanas.

​Teknik Tingkat Menengah: Telapak Emas Penekan Gunung!

​"Mati kau menjadi pasta daging!" Tetua Wu mendorong tangannya ke bawah.

​Telapak emas raksasa itu jatuh dari langit bagai meteor, membawa tekanan yang membuat anak tangga di bawah kaki Lin Tian hancur menjadi debu bahkan sebelum serangan itu mengenainya. Para Penegak Hukum tersenyum sinis, menantikan kematian brutal Lin Tian.

​Namun, Lin Tian hanya mendongak. Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajahnya.

​Ia menarik napas panjang. Udara dingin malam tersedot ke paru-parunya. Urat-urat perunggu di sekujur tubuhnya menyala terang, memompa tenaga ke lengan kanannya. Lin Tian menekuk lututnya, menghancurkan sisa batu pijakannya, dan melompat lurus ke atas, menyongsong telapak emas raksasa itu!

​"Hahaha! Mencari mati!" ejek Tetua Wu.

​Lin Tian menarik tinjunya ke belakang. Ia mengerahkan seratus persen kekuatan dari Baja Pembelah Urat, dipadukan dengan Niat Pedang kuno yang tertidur di sumsum tulangnya.

​Saat ia meninju, bukan energi Qi yang keluar, melainkan distorsi udara yang mengerikan. Pukulannya menabrak tepat di tengah-tengah telapak emas raksasa itu.

​DDUUUAAARRR!!!

​Langit seolah meledak. Angin topan tercipta dari titik benturan, menyapu belasan elit Penegak Hukum hingga mereka terlempar ke dinding tebing.

​Mata Tetua Wu terbelalak lebar hingga nyaris robek. Telapak emas kebanggaannya—yang cukup kuat untuk meratakan sebuah bukit—tertahan oleh kepalan tangan fana sekecil kerikil! Lebih buruk lagi, retakan demi retakan mulai menjalar di permukaan telapak energi tersebut, persis seperti kaca yang dipukul palu godam.

​"M-Mustahil! Kekuatan fisik apa ini?!" jerit Tetua Wu panik. Ia berusaha menyuntikkan lebih banyak Qi, namun terlambat.

​PRANG!

​Telapak emas raksasa itu hancur berkeping-keping menjadi pecahan cahaya spiritual yang berhamburan ke segala penjuru.

​Lin Tian menembus pecahan cahaya itu bak dewa perang yang tak terhentikan. Sebelum Tetua Wu bisa memanggil pedang terbangnya untuk menghindar, tangan perunggu Lin Tian telah mencengkeram wajah pria tua itu.

​"Tekananmu... bahkan tidak seberat beliung tambangku," bisik Lin Tian dingin di telinga Tetua Wu.

​Lin Tian memutar tubuhnya di udara, mengerahkan berat tubuhnya dan kekuatan fisiknya untuk membanting Tetua Wu dari atas langit langsung menuju Tangga Awan.

​BOOOM!

​Tubuh Tetua Wu menghantam anak tangga giok dengan kecepatan meteor. Kawah berdiameter lima belas meter tercipta dari hantaman tersebut, menerbangkan debu dan bongkahan batu ke udara.

​Saat debu menipis, terlihat Lin Tian berdiri dengan satu kaki menginjak dada Tetua Wu. Tetua di tahap Pembangunan Pondasi itu memuntahkan darah hitam bercampur serpihan organ dalamnya. Dantiannya retak parah, auranya merosot drastis bagai lilin yang tertiup badai. Ia memandang Lin Tian dengan kengerian absolut, seolah menatap iblis primordial yang bangkit dari mitos kuno.

​"K-Kau... kau bukan manusia..." rintih Tetua Wu sebelum matanya bergulir ke belakang, kehilangan kesadaran sepenuhnya.

​Sisa murid dan elit Penegak Hukum yang menyaksikannya membeku di tempat. Mulut mereka ternganga, lutut mereka gemetar tak terkendali. Seorang Tetua Pembangunan Pondasi dikalahkan hanya dengan satu pukulan fisik?!

​Lin Tian melirik mereka dengan sudut matanya. Niat membunuh yang dingin menyapu udara.

​TRANG! KLINTING!

​Tanpa dikomando, sisa-sisa murid itu menjatuhkan senjata mereka ke tanah dan mundur ketakutan, membuka jalan lebar ke atas. Mereka telah benar-benar patah semangat.

​Lin Tian tidak membuang waktu mempedulikan mereka. Ia mengangkat kakinya dari dada Tetua Wu, dan kembali melanjutkan langkahnya.

​Langkah demi langkah yang berat dan ritmis, menaiki Tangga Awan menuju satu-satunya tempat yang menjadi tujuannya malam ini: Puncak Awan Hukuman, tempat kawah pengorbanan adiknya telah disiapkan. Bulan purnama bersinar terang, namun malam ini, cahayanya akan tenggelam dalam lautan darah.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!