Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Cekikan Isolde
Dua minggu telah berlalu sejak penangkapan Lord Valerius. Gencatan senjata lokal di perbatasan utara memang berhasil menahan arus darah, namun Ratu Isolde tidak tinggal diam. Dia tahu bahwa Mobelle tidak bisa bertahan lama hanya dengan moral dan strategi militer. Mobelle adalah negara dagang. Jantungnya berdetak melalui pelabuhan, pasar, dan jalur karavan.
Dan Isolde memutuskan untuk menghentikan jantung itu.
Pagi itu, suasana di Pasar Utama Ibu Kota Mobelle terasa berbeda. Biasanya riuh rendah oleh teriakan pedagang dan tawar-menawar, hari ini pasar itu sunyi senyap. Deretan kios-kios kayu sebagian besar kosong. Kain-kain sutra dari Zenthoria yang biasanya memamerkan warna-warni cerah kini lenyap. Rempah-rempah eksotis dari kepulauan selatan tidak ada. Hanya sayuran lokal yang layu dan ikan asin yang tersisa.
Floren berjalan melintasi lorong-lorong pasar, diapit oleh Kaelia dan Julian. Warga yang melihatnya tidak bersorak seperti biasa. Mereka menunduk, wajah-wajah mereka tampak cemas dan lelah. Seorang pedagang tua, Tuan Hareth, yang dulu sering memberikan apel gratis pada Floren kecil, duduk di depan kios kosongnya, kepalanya tertunduk.
Floren berhenti di hadapannya. "Tuan Hareth?"
Pedagang tua itu mengangkat kepala. Matanya cekung. "Yang Mulia... Maafkan hamba. Stok habis. Kapal dari Aethelgard tidak datang. Jalur darat diblokir oleh pasukan Isolde di perbatasan selatan. Mereka menyita semua kargo yang mencoba masuk."
"Apakah tidak ada alternatif?" tanya Floren, suaranya lembut.
Hareth menggeleng pelan. "Zenthoria juga menutup pelabuhannya untuk kapal berbendera Mobelle. Isolde telah menekan mereka. 'Siapa yang berdagang dengan Mobelle, adalah musuh Aethelgard,' begitu ancamannya. Kami kelaparan, Yang Mulia. Harga gandum naik lima kali lipat dalam tiga hari. Rakyat tidak mampu membeli roti."
Floren merasakan tinju di sakunya mengepal erat. Ini lebih buruk daripada perang terbuka. Perang membunuh tubuh, tetapi blokade ekonomi membunuh harapan. Jika rakyat kelaparan, mereka akan kehilangan kepercayaan padanya. Dan jika kepercayaan itu hilang, reformasinya akan runtuh dari dalam.
"Saya akan memperbaikinya," janji Floren, meski dia sendiri tidak tahu caranya.
Dia berbalik dan kembali ke istana dengan langkah berat. Di Aula Takhta, para menteri keuangan sudah menunggu dengan wajah pucat.
"Laporan, Menteri Baren," perintah Floren, duduk di takhtanya.
Menteri Baren, seorang pria gemuk yang biasanya ceria, kini tampak keringatan. "Yang Mulia... cadangan emas kita menipis. Kita perlu mengimpor gandum dari Kerajaan Timur, tapi Isolde telah memblokir jalur laut utama. Kapal-kapal kita dicegat dan ditahan. Jika ini berlanjut selama sebulan lagi, kita akan mengalami hiperinflasi. Kerusuhan sosial tidak dapat dihindari."
Julian, yang berdiri di sisi Floren, berbicara pelan. "Kita bisa menggunakan sihir untuk menciptakan makanan sintetis?"
"Tidak cukup untuk jutaan orang," jawab Floren cepat. "Dan itu akan merusak tanah pertanian dalam jangka panjang. Kita butuh perdagangan nyata. Barang nyata."
"Isolde pintar," gumam Kaelia, yang bersandar di pilar. "Dia tidak menyerang benteng kita. Dia mencekik dompet kita. Dia tahu kelaparan akan membuat rakyat memberontak melawan Anda sebelum pasukannya bahkan perlu menembakkan satu panah."
Floren menatap peta di meja. Jalur merah yang menandai rute perdagangan semuanya dicoret hitam. Terputus. Diblokir.
"Apa opsi kita?" tanya Floren, menatap para menterinya.
Hening. Tidak ada jawaban. Semua jalur resmi tertutup. Isolde telah membangun tembok ekonomi yang tak tembus.
Floren merasa lelah. Sangat lelah. Mark mati. Valerius menjadi tawanan. Dan sekarang, rakyatnya kelaparan. Beban mahkota terasa seperti timah panas di kepalanya.
"Cari jalan lain," kata Floren akhirnya, suaranya dingin dan putus asa. "Jika pintu depan ditutup, cari jendela. Jika jendela ditutup, bongkar dinding. Saya tidak peduli bagaimana caranya. Tapi dalam seminggu, gandum harus masuk ke kota ini. Atau kita semua akan makan debu."
Para menteri membungkuk dan bubar dengan wajah khawatir.
Floren tetap duduk di takhta, menatap langit-langit yang tinggi. Dia merasa terjebak. Untuk pertama kalinya sejak menjadi Ratu, dia merasa tidak berdaya.
Di sudut ruangan yang gelap, Kael mengamati adegan itu. Dia berdiri di balik tirai, wajahnya tertutup bayangan. Dia mendengar setiap kata. Dia melihat keputusasaan di mata Floren.
Kael menyentuh saku dalamnya, di mana surat dari Seraphina tersimpan. Surat itu menuntut informasi militer. Tapi Kael tidak memberikannya. Sebaliknya, dia menyimpannya sebagai jaminan.
Dia tahu sesuatu yang tidak diketahui Floren. Sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di bawah tanah, di antara celah-celah hukum dan moral.
Ada jalur lain. Jalur yang kotor. Jalur yang berbahaya. Jalur yang melibatkan orang-orang yang tidak memiliki bendera, tidak memiliki loyalitas, dan hanya memiliki satu tuan: Emas.
Kael tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
Akhirnya, pikirnya. Waktunya tiba. Saatnya aku menunjukkan nilaiku. Bukan sebagai mata-mata. Tapi sebagai penyelamat.
Dia berbalik dan menghilang ke dalam koridor gelap, menuju bagian istana yang jarang dikunjungi: ruang arsip lama, tempat dia menyimpan kontak-kontak lamanya dari masa lalunya yang kelam.