NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — WANITA SUMUR MENAGIH

Bau busuk itu kini memenuhi setiap inci udara di ruang tengah Joglo. Bukan lagi bau tanah atau kemenyan, melainkan bau daging yang membusuk secara agresif—bau gangren. Sumbernya adalah Raka.

​Pemuda itu tergeletak di lantai tegel, napasnya pendek-pendek dan cepat. Kulitnya yang tadi malam melepuh kini berubah warna menjadi ungu kehitaman, menjalar dari pangkal paha hingga ke pusar. Nanah kuning kental merembes dari balik celananya yang kotor, menetes ke lantai, meninggalkan noda yang tak akan pernah bisa dipel bersih.

​"Sakit... panas..." rintihan Raka sudah tidak terdengar seperti suara manusia, melainkan seperti suara binatang yang terjepit perangkap besi.

​Nara duduk di sebelahnya, memegang kain basah. Tangannya gemetar saat mencoba menyeka keringat dingin di dahi Raka. Ia ingin menolong, tapi kotak P3K mereka tidak memiliki obat untuk kutukan. Betadine dan alkohol terasa seperti lelucon di hadapan penyakit yang menggerogoti Raka dalam hitungan jam.

​"Bertahan, Rak. Pagi sebentar lagi," bisik Nara, meski ia tahu itu bohong. Jam dinding mati di angka 02.00. Waktu seolah berhenti bergerak, memberi ruang bagi penderitaan untuk berdurasi selamanya.

​Di sudut ruangan, Siska meringkuk memeluk lutut. Ia menolak melihat Raka. Setiap kali Raka mengerang, tubuh Siska tersentak, seolah suara itu adalah cambuk yang memukul punggungnya. Rasa bersalah dan rasa jijik bercampur aduk di dadanya, membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya, namun yang tersisa hanya cairan empedu pahit.

​Dion duduk bersandar di dekat pintu depan yang terkunci, matanya nanar menatap kegelapan. Ia tidak lagi menulis. Jurnalnya tergeletak di sampingnya, terbuka di halaman kosong yang menunggu nama berikutnya.

​"Dia nggak bakal tahan sampe pagi, Nar," kata Dion datar. "Liat kakinya. Jaringan selnya udah mati. Nekrosis."

​"Diem lo, Yon!" bentak Nara. "Bantu gue mikir!"

​"Mikir apa? Amputasi?" Dion tertawa hampa. "Kita butuh gergaji mesin buat motong kakinya, dan itu pun nggak bakal nyelametin jiwanya."

​Tiba-tiba, suara tetesan air terdengar.

​Tes... Tes... Tes...

​Bunyinya nyaring, bergaung di keheningan malam. Anehnya, suara itu tidak berasal dari kamar mandi atau dapur. Suara itu terdengar dari bawah lantai tempat Raka berbaring.

​Raka yang tadinya mengerang kesakitan, tiba-tiba diam. Matanya yang sayu mendadak terbuka lebar, menatap langit-langit joglo dengan fokus yang tajam.

​"Denger nggak?" bisik Raka.

​"Denger apa, Rak?" tanya Nara cemas.

​"Air..." Raka tersenyum tipis, senyum yang mengerikan di wajahnya yang pucat. "Airnya manggil. Dia haus."

​Kreeek...

​Suara itu datang dari kejauhan, dari arah halaman belakang. Suara kerekan sumur yang berputar. Karatan, kering, dan berat. Seolah ada seseorang yang sedang menimba air di tengah malam buta.

​Nara dan Dion saling pandang. Mereka tahu tidak ada siapa-siapa di belakang. Lala ada di kamarnya—atau setidaknya, pintu kamarnya tertutup.

​"Rini..." gumam Raka. Ia mencoba bangkit duduk.

​"Rak, jangan gerak! Luka lo!" Nara mencoba menahan bahunya.

​Namun, tenaga Raka mendadak kembali. Bukan tenaga orang sehat, tapi tenaga orang yang kerasukan. Ia menepis tangan Nara dengan kasar.

​"Dia nungguin gue, Nar. Kasihan. Airnya dingin," racau Raka. Ia berdiri, meski kakinya yang membusuk itu seharusnya tidak mampu menopang berat badannya. Ia berjalan terpincang-pincang, menyeret kaki kanannya yang sudah mati rasa.

​"Raka! Sadar!" Dion melompat, mencoba menghalangi jalan Raka menuju pintu belakang.

​Raka menatap Dion. Bola matanya bergetar. "Minggir, Yon. Gue mau mandi. Badan gue kotor. Gue harus bersihin dosa gue sama Siska."

​"Lo nggak bisa ke sumur malem-malem!" Dion mencengkeram lengan Raka.

​PLAK!

​Raka menampar Dion dengan punggung tangan. Dion terhuyung mundur, kacamata retaknya jatuh ke lantai.

​"JANGAN HALANGIN GUE!" teriak Raka. Suaranya berubah berat, basah, seperti orang yang berbicara sambil berkumur. "ISTRI GUE NUNGGU!"

​Raka mendobrak pintu dapur. Pintu yang semalam terkunci rapat dan susah dibuka, kini terbuka dengan mudah seolah engselnya sudah diminyaki.

​Angin malam yang lembap dan berbau lumut langsung menyerbu masuk.

​Raka melangkah keluar, menuju kegelapan kebun belakang.

​"Kejar!" teriak Nara, menyambar senter.

​Nara dan Dion berlari menyusul Raka. Siska tetap tinggal di pojok ruangan, menutup telinganya rapat-rapat, menangis histeris. Ia tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi.

​Kebun belakang Joglo terasa berbeda malam ini.

​Tidak ada suara jangkrik atau kodok. Hening mutlak. Kabut tebal menggantung rendah di atas tanah, setinggi lutut, menyembunyikan akar-akar pohon yang mencuat.

​Di tengah kabut itu, sumur tua itu berdiri.

​Bibir sumurnya tampak basah, berkilau ditimpa cahaya bulan yang samar. Dan di atas sumur itu... airnya meluap.

​Hukum fisika tidak berlaku. Air sumur itu naik, membumbung tinggi melebihi bibir sumur, namun tidak tumpah ke tanah. Air itu membentuk pilar cair yang bergoyang-goyang, hitam pekat seperti minyak mentah.

​Raka berjalan mendekati sumur itu seperti pengantin pria yang berjalan menuju altar. Rasa sakit di selangkangannya seolah hilang, digantikan oleh ekstasi hipnotis.

​"Rak! Berhenti!" Nara berlari, mencoba menggapai punggung Raka.

​Namun, langkah Nara terhenti. Kakinya terpaku di tanah.

​Bukan karena takut, tapi karena tanah itu sendiri. Rumput-rumput liar di kebun belakang tiba-tiba membelit pergelangan kaki Nara dan Dion. Akar-akar halus mencuat dari tanah, menjerat sepatu mereka, menahan mereka di jarak sepuluh meter dari sumur.

​"Lepasin!" Nara meronta, menebas akar-akar itu dengan pisau dapur yang dibawanya, tapi akar itu tumbuh kembali lebih cepat.

​"Nara... liat airnya..." bisik Dion, wajahnya pucat pasi.

​Pilar air di atas sumur itu mulai berubah bentuk.

​Cairan hitam itu memadat, membentuk lekuk tubuh. Bahu, leher, kepala. Rambut panjang yang terbuat dari aliran air menjuntai ke bawah.

​Wanita Sumur itu telah mewujud sepenuhnya.

​Dia bukan lagi sekadar bayangan di cermin atau sosok dalam mimpi. Dia ada di sana, fisik, terbuat dari air keramat desa yang telah meminum ribuan doa dan kutukan.

​Wajahnya terbentuk dari riak air, namun matanya... matanya adalah dua lubang hitam yang menatap Raka dengan kepemilikan mutlak.

​"Mas Raka..." suara wanita itu tidak terdengar lewat telinga, tapi langsung bergetar di dalam tulang tengkorak mereka. "Akhirnya datang juga. Rini sudah dandan cantik lho."

​Raka berhenti tepat di depan pilar air itu. Ia tersenyum, air mata mengalir di pipinya. "Maafin aku, Rin. Aku telat. Tadi jalanan macet."

​Raka berbicara seolah ia sedang menjemput pacarnya untuk kencan malam minggu, bukan menghadapi monster air yang akan memakannya. Halusinasi telah mengambil alih sisa otak warasnya.

​"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting sekarang kita sama-sama," jawab entitas itu.

​Tangan air wanita itu terulur. Ujung jarinya menyentuh dada Raka, tepat di luka cakaran yang berdarah.

​Ssssshh...

​Darah Raka terhisap masuk ke dalam air, menyatu dengan tubuh wanita itu. Air yang tadinya hitam pekat, kini memiliki urat-urat merah yang bercahaya redup.

​"Ikut aku ya?" ajak wanita itu.

​"Ke mana?" tanya Raka lembut.

​"Ke rumah kita. Di bawah. Di sana nggak ada sakit. Nggak ada bisul. Nggak ada dosa."

​Raka mengangguk. "Iya. Aku mau. Di sini panas. Di sini orang-orang jahat."

​Nara berteriak sekuat tenaga, "RAKA! ITU BUKAN RINI! ITU SETAN! DIA MAU BUNUH LO!"

​Raka menoleh pelan ke arah Nara. Tatapannya kosong, namun ada sedikit rasa iba di sana.

​"Nara... jangan berisik," kata Raka pelan. "Liat dia... dia cantik banget. Dia nerima aku apa adanya. Nggak kayak kalian yang jijik sama aku."

​Kalimat itu menampar Nara. Raka tahu. Raka sadar bahwa teman-temannya memandangnya dengan jijik setelah kejadian dengan Siska. Rasa terisolasi itulah yang menjadi kunci terakhir bagi Wanita Sumur untuk membuka pintu hatinya.

​Raka kembali menatap wanita air itu.

​Wanita itu membuka pelukannya. Pilar air itu melebar, seperti sayap kelelawar raksasa yang terbuat dari lumpur cair.

​Raka melangkah maju.

​Dia tidak melompat. Dia masuk ke dalam pelukan air itu.

​Tubuh Raka menembus permukaan air yang tegak lurus itu. Pertama tangannya, lalu dadanya, lalu wajahnya.

​Nara melihat dengan horor bagaimana tubuh Raka larut.

​Begitu kulit Raka menyentuh air itu, dagingnya melunak. Pakaiannya terlepas, mengambang di dalam tubuh air itu. Raka tidak meronta. Ia justru memejamkan mata, wajahnya penuh kedamaian yang mengerikan, seolah ia sedang kembali ke dalam rahim ibu.

​Wanita Sumur itu memeluk Raka sepenuhnya. Tubuh air itu membungkus Raka, menelannya bulat-bulat.

​Kini, di atas sumur itu, terlihat sebuah bola air besar yang melayang. Di dalamnya, Raka terperangkap seperti serangga dalam getah damar. Rambut-rambut hitam panjang di dalam air itu mulai bergerak, melilit leher, tangan, dan kaki Raka.

​Dan kemudian... Makan Malam dimulai.

​Daging Raka mulai terkelupas perlahan, ditarik oleh ribuan mulut kecil tak kasat mata di dalam air. Darah menyembur, mewarnai bola air itu menjadi merah keruh.

​Tapi Raka tidak menjerit. Mulutnya terbuka, membentuk senyum abadi, sementara paru-parunya diisi oleh air keramat Wanasari.

​BYUUR!

​Bola air itu jatuh kembali ke dalam sumur dengan suara deburan yang berat.

​Hening.

​Akar-akar rumput yang membelit kaki Nara dan Dion tiba-tiba layu dan melepaskan cengkeramannya.

​Nara jatuh berlutut di tanah basah. Napasnya tersengal.

​"Raka..." bisik Nara.

​Dion merangkak mendekati sumur, menyinari lubang itu dengan senter.

​Tenang.

Permukaan air sumur itu tenang sekali, seolah tidak baru saja menelan seorang manusia dewasa hidup-hidup.

​Hanya ada satu benda yang mengapung di sana.

​Celana dalam Raka. Bernoda darah dan nanah.

​Dion mundur, muntah di samping sumur.

​"Dia udah diambil," suara Dion bergetar hebat. "Dia udah bayar utangnya. Hasrat dibayar nyawa."

​Dari arah kegelapan hutan di belakang kebun, terdengar suara tepuk tangan. Pelan. Satu orang.

​Lala keluar dari balik pohon pisang. Ia mengenakan daster putihnya yang kini terkena cipratan lumpur. Wajahnya berseri-seri.

​"Indah kan?" tanya Lala, menatap sumur itu dengan tatapan memuja. "Penyatuan yang sempurna. Mas Raka nggak akan kesepian lagi. Di bawah sana banyak temennya."

​Nara bangkit berdiri, mencengkeram pisau dapurnya erat-erat. Kemarahannya kali ini lebih besar dari rasa takutnya.

​"Lo yang manggil dia, kan?" tuduh Nara. "Lo yang buka pintunya!"

​"Aku cuma bridesmaid, Nar," Lala terkekeh. "Yang nikah kan mereka. Aku cuma bantu gelar karpet merah."

​Lala berjalan mendekati Nara, tidak takut pada pisau itu.

​"Sekarang tinggal tiga," bisik Lala. "Dion si pencatat. Siska si pendosa. Dan kamu... si pemimpin."

​Lala menunjuk ke arah Joglo.

​"Siska udah nunggu di dalem. Dia lagi pengakuan dosa. Mending kalian temenin, sebelum dia juga dijemput."

​Nara menatap sumur itu sekali lagi. Raka sudah tidak bisa diselamatkan. Dia sudah menjadi bagian dari ekosistem horor ini.

​"Ayo, Yon," Nara menarik Dion yang masih syok. "Kita balik ke Siska. Kita nggak boleh kehilangan satu lagi malem ini."

​Mereka meninggalkan sumur tua itu. Namun, Nara bersumpah ia mendengar suara dari dalam tanah. Suara Raka. Bukan mengerang, tapi bernyanyi.

​"Lingsir wengi..."

​Raka telah bergabung dengan paduan suara kematian Desa Wanasari. Dan suaranya kini menjadi salah satu teror yang akan menghantui mereka sampai akhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!