NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Misi Membangun Sekte dari Nol

Malam turun sepenuhnya saat Xu Tian berhenti di tanah kosong itu.

Tidak ada penanda. Tidak ada bangunan. Tidak ada aura sekte. Hanya tanah keras yang dingin, rerumputan liar yang jarang, dan angin malam yang membawa bau lembap dari hutan jauh. Bulan menggantung pucat di langit, cahayanya jatuh tipis di permukaan tanah, membuat bayangannya sendiri tampak rapuh dan kurus.

Panel sistem melayang di hadapannya, redup namun stabil.

Cahaya kebiruan itu kontras dengan kegelapan sekitar, seolah menegaskan bahwa satu-satunya hal yang bersamanya sekarang hanyalah mekanisme dingin ini.

Teks pada panel berubah.

Judul misi utama muncul, lebih besar dari sebelumnya, tanpa hiasan.

“Misi Utama: Dirikan Sekte dari Nol.”

Xu Tian membaca kalimat itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Ia tidak bereaksi. Tidak menghela napas. Tidak mengernyit. Matanya hanya diam menatap kata-kata itu, seolah berusaha memastikan bahwa ia tidak salah membaca.

Dari nol.

Ia menurunkan pandangan, menatap tanah di bawah kakinya. Tanah ini tidak subur. Tidak istimewa. Tidak berbeda dengan ratusan tanah liar lain di pinggiran wilayah sekte besar. Bahkan hewan buas pun jarang berkeliaran di sini.

Tidak ada apa pun yang bisa disebut fondasi.

Xu Tian kembali menatap panel.

Di bawah judul misi, baris-baris penjelasan mulai muncul, satu per satu, tanpa emosi.

“Tidak disediakan modal awal.”

“Tidak disediakan murid awal.”

“Tidak disediakan wilayah sekte.”

Setiap baris muncul perlahan, memberi waktu bagi pikirannya untuk mencerna maknanya. Dan setiap makna itu jatuh seperti batu ke dalam dada.

Xu Tian memejamkan mata sejenak.

Ia menghitung, bukan dengan angka, melainkan dengan kenyataan.

Harta? Tidak ada. Semua miliknya telah ditinggalkan atau dirampas saat pengusiran.

Relasi? Namanya sudah tercemar di Sekte Awan Giok. Tidak ada yang akan mengulurkan tangan pada mantan murid buangan.

Kekuatan? Tubuhnya masih terluka. Kultivasinya tidak menonjol. Ia bahkan belum pulih sepenuhnya.

Wilayah? Ia berdiri di tanah tak bertuan, yang siapa pun bisa klaim, dan siapa pun juga bisa rampas.

Xu Tian membuka mata kembali.

“Masuk akal,” pikirnya datar.

Jika sistem ini memang tentang membangun sekte terkuat, maka titik awalnya memang tidak mungkin nyaman. Dunia ini tidak pernah memberi kemudahan pada mereka yang tidak punya latar belakang.

Panel itu tidak berhenti.

Baris baru muncul di bawah penjelasan sebelumnya.

“Misi ini tidak dapat ditolak.”

Xu Tian mengangkat alis sedikit.

Tidak ada nada ancaman. Tidak ada peringatan dramatis. Hanya pernyataan fakta, seolah menegaskan bahwa sejak ia menyentuh panel itu, ia sudah berjalan di jalur ini.

Ia menatap malam di sekelilingnya.

Angin bertiup lebih kencang, membuat rerumputan bergerak pelan. Suara binatang malam terdengar jauh, samar, namun cukup untuk mengingatkannya bahwa alam liar tidak mengenal belas kasihan.

Xu Tian duduk perlahan, bersandar pada batu kecil di belakangnya. Tubuhnya terasa berat, bukan karena lelah semata, tetapi karena tekanan yang perlahan menekan pikirannya.

Di dunia sekte, membangun sebuah sekte biasanya dimulai dengan dukungan.

Seorang tetua yang memisahkan diri. Sebuah klan kecil. Modal awal. Murid-murid yang setia.

Ia tidak memiliki satu pun dari itu.

Xu Tian menatap panel lagi, matanya kini lebih tenang.

“Jadi inilah aturannya,” batinnya.

Tidak ada yang akan memberinya perlindungan. Tidak ada tangan yang menariknya naik. Jika ia ingin berdiri, ia harus mencakar tanah ini sendiri.

Panel itu kembali berubah.

Bagian bawahnya terbuka, memperlihatkan informasi tambahan.

“Progres Misi: 0%.”

Tidak ada indikator lain. Tidak ada petunjuk bagaimana memulai. Sistem itu tidak menjelaskan langkah pertama. Tidak memberi saran. Tidak memberi peringatan tentang bahaya yang akan datang.

Xu Tian tertawa pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin.

“Bahkan caranya pun harus kutemukan sendiri.”

Ia menunduk, menatap telapak tangannya. Tangannya kasar, penuh bekas latihan dan luka lama. Ini bukan tangan seorang pemimpin sekte. Ini tangan seseorang yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya dengan sempurna.

Namun tangan ini masih ada.

Itu sudah cukup untuk saat ini.

Xu Tian mengangkat kepala saat panel kembali menyala lebih terang. Cahaya kebiruan itu membentuk batas baru, memisahkan bagian misi dengan bagian lain.

Judul baru muncul.

“Hadiah Misi.”

Matanya menyipit sedikit.

Naluri lamanya, naluri murid sekte yang terbiasa dengan hadiah dan kontribusi, muncul tanpa ia sadari. Hadiah berarti sumber daya. Berarti kemungkinan bertahan.

Beberapa ikon muncul di bawah judul itu.

Nama-namanya singkat, tapi cukup untuk membuat siapa pun tergoda.

“Bangunan Inti Sekte (Dasar).”

“Teknik Sekte Awal.”

“Slot Murid Tambahan.”

Xu Tian menatap daftar itu tanpa berkedip.

Bahkan tanpa penjelasan detail, ia tahu nilai dari hal-hal tersebut. Bangunan inti berarti fondasi fisik. Teknik sekte berarti identitas. Slot murid berarti kemungkinan masa depan.

Namun sebelum pikirannya melangkah lebih jauh, satu baris kecil muncul di bawah setiap ikon.

“Terkunci.”

Xu Tian menghela napas perlahan.

Ia tidak merasa marah. Tidak merasa ditipu. Hanya ada rasa getir yang familiar, seperti mengunyah sesuatu yang pahit namun sudah ia duga rasanya.

Panel itu menambahkan satu baris penjelasan.

“Hadiah hanya dapat diakses setelah syarat misi terpenuhi.”

“TIDAK ADA pengecualian.”

Huruf terakhir sedikit lebih tebal, seolah menekankan finalitasnya.

Xu Tian bersandar lebih dalam ke batu di belakangnya.

Jadi bahkan harapan pun dipajang di depannya dalam keadaan terkunci. Sistem itu tidak menyembunyikan hadiahnya, namun juga tidak memberinya kesempatan untuk menyentuhnya sebelum ia benar-benar layak.

Ia menatap tanah kosong di sekelilingnya.

Tanah ini tidak menjanjikan apa pun. Tidak ada air mengalir di dekatnya. Tidak ada gua perlindungan. Jika ia ingin bertahan malam ini saja, ia harus memikirkan api, tempat berlindung, dan makanan.

Misi besar itu tidak peduli pada detail kecil seperti rasa lapar dan dingin.

Namun jika ia mati malam ini, semua itu tidak akan berarti.

Xu Tian menggeser posisinya, duduk lebih tegak. Pikirannya mulai bergerak, bukan lagi dipenuhi emosi, melainkan perhitungan.

Pertama, bertahan hidup.

Kedua, memastikan ia memiliki tempat yang bisa ia sebut titik awal.

Bukan sekte. Belum.

Hanya tempat untuk berdiri.

Panel itu tetap melayang, diam, seolah mencatat setiap keputusan tanpa mengomentari apa pun.

Xu Tian menatap hadiah yang terkunci sekali lagi. Matanya tidak menyimpan keserakahan, hanya kesadaran bahwa semua itu ada, menunggunya di ujung jalan yang panjang.

“Keji,” pikirnya. “Tapi jujur.”

Ia berdiri perlahan. Kakinya sedikit goyah, namun ia menahan diri. Ia mengambil beberapa langkah, menginjak tanah kosong itu dengan sengaja, seolah menegaskan keberadaannya.

Tanah ini tidak mengenalnya.

Dunia ini tidak mengakuinya.

Namun ia tetap berdiri di sini.

Xu Tian berhenti, menatap ke depan. Tidak ada apa pun yang berubah secara visual. Tidak ada cahaya turun dari langit. Tidak ada pengakuan dari sistem.

Namun di dalam dadanya, sesuatu mengeras.

Jika memang harus dari nol, maka ia akan menerima nol itu sepenuhnya.

Tanpa ilusi.

Tanpa harapan palsu.

Panel hadiah masih terkunci di sampingnya, dingin dan tidak tergoyahkan.

Xu Tian menatap tanah kosong itu sekali lagi, lebih lama dari sebelumnya.

Ini bukan awal yang megah.

Ini bahkan bukan awal yang layak dibanggakan.

Namun untuk pertama kalinya sejak ia diusir, ia tidak lagi merasa terlempar tanpa arah.

Jika dunia ini hanya memberi nol, maka nol inilah yang akan ia paksa menjadi fondasi.

...

Api kecil menyala di hadapannya, nyalanya tidak stabil, sesekali meredup saat angin malam menyapu lebih keras. Xu Tian menambahkan beberapa ranting kering yang ia kumpulkan dengan susah payah. Api itu bukan untuk kenyamanan, hanya untuk memastikan ia tidak membeku sebelum fajar.

Panel sistem masih melayang di sisi pandangnya.

Diam.

Seolah sengaja membiarkannya tenggelam dalam kenyataan tanpa gangguan.

Xu Tian memandang api itu lama. Bayangan nyala memantul di matanya, memperlihatkan wajah yang jauh lebih kurus dibanding hari-hari ia masih mengenakan jubah murid sekte. Tidak ada lagi simbol identitas. Tidak ada lagi perlindungan nama besar.

Hanya dirinya sendiri.

Panel tiba-tiba bergetar ringan.

Bukan cahaya terang. Bukan suara keras. Hanya perubahan halus, seperti seseorang membuka halaman baru dalam buku tebal.

Teks tambahan muncul.

“Konsekuensi Misi Utama Aktif.”

Xu Tian mengangkat kepala.

Baris berikutnya menyusul, singkat dan dingin.

“Selama misi utama belum diselesaikan, sistem tidak akan memasuki fase lanjutan.”

“Beberapa fungsi akan tetap terkunci.”

“Gagal memenuhi progres minimum dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan penurunan kompatibilitas sistem.”

Xu Tian menatap kalimat terakhir lebih lama.

Penurunan kompatibilitas.

Tidak dijelaskan apa artinya secara rinci. Tidak ada ancaman eksplisit. Namun justru karena itulah kalimat itu terasa berat. Sistem tidak perlu menjelaskan hukuman dengan detail untuk membuatnya mengerti bahwa kegagalan bukan pilihan.

Ia menyandarkan punggungnya ke batu, menatap langit malam yang dipenuhi bintang pucat.

“Jadi bukan hanya soal berhasil,” batinnya tenang. “Bahkan berhenti pun tidak diizinkan.”

Sistem ini tidak memaksanya dengan emosi. Tidak membangkitkan ketakutan dengan kata-kata. Ia hanya menutup semua jalan mundur secara perlahan, rapi, dan mutlak.

Xu Tian mengalihkan pandangannya kembali ke panel.

Bagian hadiah kembali ditampilkan, seolah sengaja dipertontonkan lebih jelas.

Bangunan Inti Sekte (Dasar) — Terkunci

Teknik Sekte Awal — Terkunci

Slot Murid Tambahan — Terkunci

Tidak ada satu pun yang berubah.

Namun kali ini, Xu Tian tidak lagi memandangnya sebagai janji. Ia melihatnya sebagai konsekuensi. Hadiah-hadiah itu bukan sesuatu yang akan diberikan karena belas kasihan, melainkan sesuatu yang harus direbut melalui proses yang panjang dan melelahkan.

Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuh panel, melainkan meraih tanah di sampingnya. Jemarinya menggenggam segenggam tanah kasar, merasakannya di telapak tangan.

Dingin. Kering. Tidak bersahabat.

Ia melepaskan genggaman itu perlahan.

“Jika aku ingin membangun sesuatu,” pikirnya, “aku harus mulai dari hal sekecil ini.”

Api kecil di hadapannya kembali berderak. Bara merahnya memantul di panel sistem, menciptakan kilau aneh yang membuatnya tampak lebih jauh, lebih tak terjangkau.

Xu Tian berdiri.

Tubuhnya masih sakit, tetapi rasa sakit itu kini terasa lebih jujur dibanding luka di dadanya saat dihakimi di aula sekte. Rasa sakit ini setidaknya nyata, bisa dihadapi, bukan ditelan tanpa perlawanan.

Ia melangkah beberapa langkah menjauh dari api, menatap area di sekelilingnya dengan mata lebih waspada.

Tanah ini kosong, tetapi tidak sepenuhnya mati. Ada bekas jalur hewan. Ada batu-batu besar yang bisa dijadikan pelindung. Ada pepohonan jarang di kejauhan yang mungkin menyimpan air atau buah liar.

Tidak banyak.

Namun cukup untuk bertahan jika ia berhati-hati.

Panel sistem menyesuaikan posisinya, tetap berada dalam jangkauan pandang, seolah mengingatkannya bahwa apa pun yang ia lakukan sekarang akan menjadi bagian dari progres misi, sekecil apa pun langkah itu.

Xu Tian menghela napas panjang.

Bukan karena putus asa.

Melainkan karena ia akhirnya memahami bentuk jalan yang ada di depannya.

Ini bukan jalan lurus menuju kekuatan.

Ini jalan bertahan, mengikis, dan membangun perlahan di atas kehampaan.

Ia menoleh ke arah tempat api menyala, lalu ke arah kegelapan yang lebih pekat di luar jangkauan cahaya. Di sana, dunia terbentang luas, penuh bahaya dan kemungkinan yang sama besarnya.

Panel hadiah masih terkunci.

Dan justru karena itu, ia tahu satu hal dengan pasti.

Sistem ini tidak akan menyelamatkannya.

Jika ia ingin hidup, jika ia ingin membangun sekte, jika ia ingin menantang dunia lama yang telah membuangnya, maka setiap langkah harus ia buat sendiri.

Xu Tian melangkah maju, meninggalkan bayangan api di belakangnya sejenak, lalu berhenti dan menatap tanah kosong di depannya.

Tidak ada tanda kepemilikan.

Tidak ada saksi.

Namun di dalam dirinya, keputusan sudah diambil.

Jalan ini kejam.

Sistem ini tidak adil.

Tapi hanya inilah jalan yang tersisa.

Xu Tian menegakkan tubuhnya, matanya tenang, dalam, dan keras.

Jika memang harus dimulai dari nol absolut, maka ia akan menerima kehampaan ini sepenuhnya—dan memaksanya menjadi fondasi, satu langkah demi satu langkah.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!