DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
GARIS YANG TAK BISA DITARIK ULANG
Pagi itu, berita tidak datang dari media.
Ia datang dari pesan singkat yang masuk ke ponsel Aira saat ia baru saja menutup pintu kamar.
Raka:
Ai. Aku dengar Ayahmu dipanggil. Resmi. Polisi.
Aira berhenti melangkah.
Tidak ada rasa kaget yang meledak.
Hanya sensasi seperti lantai yang tiba-tiba menurun satu tingkat.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Menarik napas. Menghembuskannya perlahan.
Jadi ini tahap berikutnya.
Di ruang tamu, ayahnya sudah bersiap. Kemeja lengan panjang. Jam tangan lama. Wajahnya tenang, ketenangan yang terlalu dipelajari.
“Ini bukan penahanan,” katanya saat Aira muncul. “Pemeriksaan awal.”
Aira mengangguk. “Aku ikut?”
"Ibu juga" yang tiba-tiba muncul dari kamar, ibu kelihatan sangat gelisah
Ayahnya menatapnya lama kedua orang di depan nya secara bergantian
“Kali ini, jangan,” katanya. “Bukan karena Ayah mau sembunyi. Tapi karena kamu masih punya hidup yang harus kamu jaga. Dan untuk ibu, ayah hanya tidak mau ibu ikut di libatkan dan di beri pertanyaan, yang akan berakibat patal bagi keluarga kita, karna ibu terlalu panik”
Kalimat itu terasa seperti permintaan maaf yang tidak diucapkan.
Aira mengangguk pelan. Dan ibu terlihat pasrah.
Saat pintu tertutup, rumah kembali sunyi.
Sunyi yang berisik. Ibu kelihatan kehilangan semangat nya di pagi ini, ia kelihatan pucat dan sedih, Aira hanya bisa memeluk ibu nya, ia tak berani menghibur dengan memberi harapan yang tak pasti, karna Aira tau, saat harapan hilang maka semuanya akan seperti hidup namun tak ada jiwa
...####...
Sementara itu, di sudut kota lain, Langit menatap layar laptop dengan rahang mengeras.
Saksi yang ia dorong semalam…
terlalu banyak bicara.
“Relokasi itu tahun, eh, maksud saya… enam tahun lalu,” suara di video itu ragu. “Atau tujuh. Saya lupa.”
Komentar mulai muncul.
“Kok nggak konsisten?”
“Detailnya beda sama laporan sebelumnya.”
“Kalau bener korban, harusnya inget.”
Langit memukul meja pelan.
“Bodoh,” gumamnya.
Ia tidak marah pada saksi itu.
Ia marah karena tahu, satu kesalahan kecil cukup untuk membuat pola terlihat.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Aira.
Aira:
Ayahku dipanggil polisi hari ini.
Langit membaca kalimat itu berulang kali.
Ini seharusnya jadi puncak.
Ini seharusnya membuat Aira menjauh.
Membenci. Menyalahkan.
Tapi yang muncul justru rasa takut lain.
Bagaimana kalau Aira tidak hancur?
Bagaimana kalau Aira… bertahan?
...####...
Mereka bertemu sore itu.
Bukan di halte.
Bukan di kampus.
Di taman kecil dekat rumah Aira. Tempat yang terlalu tenang untuk pembicaraan seperti ini.
“Ayahku diperiksa,” kata Aira tanpa pembuka.
Langit mengangguk. “Aku dengar.”
Aira menatapnya. “Dari mana?”
Langit tersenyum tipis. “Berita cepat nyebar.”
Aira tidak menekan. Ia justru duduk lebih dekat.
“Aku capek, ,” katanya lirih. “Capek mikir siapa yang jujur, siapa yang main peran.”
Langit menelan ludah.
“Aku juga,” jawabnya.
Aira menoleh. Menatap wajah Langit, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya jujur pada satu hal yang selama ini ia tahan.
“Aku ada rasa,” katanya pelan. “Sama kamu.”
Langit membeku.
“Aku nggak tahu itu salah atau nggak,” lanjut Aira. “Tapi itu nyata.”
Jantung Langit berdegup keras.
Ini sesuai dengan rencana nya.
“Tapi,” Aira mengangkat wajahnya, “aku butuh tahu… rasa itu tumbuh di tempat yang jujur atau di medan perang.”
Langit membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Aira”
“Jawab yang sederhana,” potong Aira lembut.
“Kamu mendekatiku pertama kali… karena aku Aira, atau karena aku anak dari orang yang kamu benci?”
Sunyi jatuh di antara mereka.
Terlalu lama.
Dan itu sudah cukup sebagai jawaban pertama.
Langit tertawa kecil. Rapuh. “Aku nggak nyangka kamu bakal nanya sejauh itu.”
“Aku juga nggak nyangka aku bakal berani,” jawab Aira.
Langit mengusap wajahnya. “Awalnya… aku cuma mau dekat.”
“Awalnya,” ulang Aira.
“Iya,” suara Langit turun. “Awalnya.”
Kata itu menggantung. Berat. Tidak selesai.
Aira mengangguk. Ia tidak menangis. Tidak marah.
“Berarti kita berhenti di sini dulu,” katanya.
Langit menoleh cepat. “Aira”
“Aku nggak pergi,” lanjut Aira. “Aku cuma mundur setengah langkah. Biar aku bisa lihat kamu utuh.”
Langit menatapnya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki sepenuhnya, tapi di sisi lain ini sesuai rencana, dengan mematahkan hati Aira yang sangat rapuh itu, di periksa nya ayahnya Aira dan bisa naik sebagai tersangka, maka keluarga nya bisa benar-benar hancur, langit harap Aira bisa mati secara perlahan, karna tidak ada tempat pulang.
Langit mengatur semuanya dengan struktur, mencari cela, ia tau ayah nya Aira sangat keras, ia tak punya tempat cerita di rumah, itu bisa membuat kepribadian Aira berbeda dengan anak yang lain, ia membuat daftar beasiswa Naya hilang, dengan kesalahan mengarah ke Aira, sengaja membuat jarak antara Aira dan Raka.
Malam itu, satu berita lain naik.
Judulnya tidak sensasional.
Justru tenang.
“Saksi Relokasi Klarifikasi: ‘Saya Salah Sebut Waktu’”
Terlambat.
Komentar publik sudah terlanjur bergerak.
Dan di kolom diskusi, satu akun anonim
menulis:
“Kalau saksi salah ingat tanggal, siapa yang mengatur ceritanya?”
Langit membaca itu dengan dada berdebar.
ia sadar, balas dendam tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan.
Ia selalu menyisakan jejak.
...####...
Di kamar, Aira menulis satu kalimat lagi di buku cokelatnya.
Aku mencintaimu, tapi aku tidak mau menjadi alat.
Ia menutup buku.
Besok, ia akan bersikap seperti biasa.
Tersenyum. Mendengar. Mengamati.
Karena sekarang, ia tidak lagi mengejar jawaban.
Ia menunggu Langit melakukan kesalahan terakhirnya sendiri.
Dan di luar sana, hukum mulai bergerak.
Bukan cepat.
Tapi pasti.
Pagi itu, rumah Aira tidak lagi terasa seperti rumah.
Televisi menyala sejak subuh. Bukan karena ingin ditonton, tapi karena tak ada yang berani mematikannya. Setiap saluran menyiarkan hal yang sama, dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, namun berujung pada satu kalimat yang serupa
“Status hukum mantan konsultan Proyek Sungai Selatan resmi dinaikkan menjadi tersangka.”
Nama ayah Aira tidak perlu disebut utuh. Wajahnya sudah lebih dulu mengisi layar.
Aira berdiri di ambang ruang tengah.
Rambutnya belum disisir rapi. Ponsel masih di tangan, notifikasi menumpuk seperti hujan yang tak sempat dihindari. Ia tidak menangis. Tidak juga terkejut.
Entah sejak kapan, ia sudah menyiapkan diri untuk hari ini.
Ayahnya duduk di sofa. Tegak. Terlalu tegak untuk seseorang yang baru saja dijatuhkan oleh sistem yang pernah ia bela. Kemeja yang dikenakannya sama seperti saat klarifikasi, putih, rapi, seolah kesalahan bisa dirapikan dengan setrika.
“Sudah resmi,” kata ayahnya pelan. “Tersangka.”
Ibunya berdiri di dekat pintu dapur. Tangannya gemetar saat memegang gelas air. Wajahnya pucat, bukan karena kurang tidur, tapi karena tubuhnya akhirnya menyerah pada tekanan yang terlalu lama ditahan.
“Ayah…,” suara Aira keluar lebih pelan dari yang ia kira.
Ayahnya menoleh. Menatap putrinya lama. Untuk pertama kalinya, Aira melihat sesuatu yang jarang muncul di mata ayahnya, bukan kemarahan, bukan ketegasan, tapi kelelahan yang terlalu lama di pendam.
“Ini akan berat,” kata ayahnya. “Bukan cuma buat Ayah. Tapi buat kamu dan Ibu.”
Seolah kalimat itu adalah izin, tubuh Ibunya goyah.
Gelas jatuh. Pecahannya menyebar di lantai. Tapi suara yang lebih keras adalah tubuh yang menyusul roboh.
“Ibu!” Aira berlari.
Rumah sakit kembali menjadi ruang tunggu nasib.
Aira duduk di kursi plastik dingin. Jaket tipis melingkari bahunya, bukan untuk menghangatkan tubuh, tapi menahan dirinya agar tidak runtuh. Dokter keluar-masuk.
Kata-kata medis melayang tanpa benar-benar mendarat.
“Tekanan darah naik.” “Stres berat.” “Perlu di lakukan pemeriksaan lanjutan.”
Ayah Aira mondar-mandir di lorong. Teleponnya tak berhenti bergetar, tapi tak satu pun ia angkat. Sampai satu nama muncul, tanpa nomor tersimpan. Hanya satu huruf awal.
Ia berhenti berjalan.
Menatap layar.
Lalu menjauh beberapa langkah dari Aira.
“Aku butuh bantuan,” katanya saat panggilan tersambung. Suaranya rendah. Tidak memerintah. Tidak mengatur. Hanya meminta. “Bukan untuk menyelamatkan citra. Tapi untuk kebenaran… atau setidaknya, sisa-sisanya.”
Hening di seberang sana.
Ayah Aira menutup mata sejenak. “Aku tahu ini bukan permintaan kecil. Tapi aku tak punya banyak pilihan.”
Ia mengakhiri panggilan tanpa penjelasan lebih lanjut.
Aira memperhatikan dari jauh. Ia tidak mendekat. Tidak bertanya. Tapi ada satu hal yang ia catat, ayahnya tidak menelepon pengacara lama. Tidak menelepon kolega. Tidak menelepon pejabat.
Ia menelepon seseorang yang seolah… sudah lama berada di lingkaran ini, tapi selalu di luar sorot.
Berita menyebar lebih cepat dari kemampuan Aira untuk mencerna.
Kampus menjadi ruang asing. Tatapan orang berubah. Bisik-bisik tidak lagi berhenti saat ia lewat. Beberapa dosen menghindari kontak mata. Beberapa teman bersikap terlalu hati-hati, seolah Aira rapuh dan bisa pecah jika disentuh dengan kata yang salah.
Langit muncul di antara semua itu, seperti variabel yang tidak bisa ia hapus.
“Kamu nggak jawab chat-ku,” kata Langit sore itu, berdiri di samping Aira di taman kampus.
“Aku capek,” jawab Aira jujur.
Langit mengangguk. “Aku dengar soal status ayahmu.”
Aira menatap ke depan. “Sekarang semua orang dengar.”
“Aku… ikut prihatin,” katanya. Nadanya tepat. Terlalu tepat. Seolah sudah dilatih.
Aira mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Ada jeda. Langit menunggu Aira runtuh. Atau marah. Atau bertanya.
Tapi Aira tetap diam.
“Aira,” Langit akhirnya berkata, “kalau kamu butuh apa pun...”
“Aku lagi butuh kejujuran,” potong Aira lembut, tanpa menatapnya.
Langit terdiam.
“Bukan sekarang,” lanjut Aira. “Tapi nanti. Kalau kamu siap.”
Kalimat itu seperti pisau kecil. Tidak melukai langsung. Tapi cukup untuk membuat Langit sadar, Aira tidak lagi berjalan di belakangnya. Ia berjalan sejajar. Mengamati.
Dan itu membuat Langit kehilangan kendali yang selama ini ia banggakan.
...####...
Malam turun tanpa memberi jeda.
Ibunya masih terbaring di rumah sakit. Ayahnya dipanggil untuk pemeriksaan lanjutan keesokan harinya. Aira duduk sendirian di kamar, membuka buku cokelatnya.
Ia menulis:
Ayah menjadi tersangka.
Ibu jatuh sakit.
Dan orang yang paling tenang di antara semuanya… justru orang yang seharusnya paling marah.
Ia berhenti menulis.
Bayangan Langit muncul lagi. Bukan sebagai musuh. Bukan sebagai penyelamat. Tapi sebagai teka-teki yang terlalu rapi untuk tidak dicurigai.
Aira menghela napas panjang.
Ia memang memiliki rasa. Ia tidak memungkiri itu.
Tapi rasa tidak boleh membutakan niat.
Dan malam itu, Aira memutuskan satu hal:
jika Langit datang membawa luka, ia akan membiarkannya bicara.
Tapi jika Langit datang membawa dendam,
Aira tidak akan menjadi alatnya.
Di tempat lain, seseorang membaca berita yang sama.
Bukan dengan senyum. Bukan dengan amarah. Tapi dengan perhatian yang tenang.
Ia menutup laptop. Menyandarkan tubuh. Lalu menatap foto lama di dompetnya, foto seorang gadis SMP yang tersenyum canggung, dengan mata yang belum tahu apa-apa tentang dunia.
“Sudah sejauh ini,” gumamnya pelan. “Aira…”
Ia berdiri.
Bersambung.