NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Keesokan harinya Arbani pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Tasnya masih tergantung satu tali di bahu ketika ia melihat ayahnya terbaring di ruang depan, selimut tipis menutup hingga dada.

Ia berhenti melangkah, seperti sedang mengawasi, sosok pria yang begitu ia segani.

Sementara Nara yang sedang di dapur langsung menoleh.

 “Wis bali, Le?”

(Sudah pulang, Nak?)

“Iya, Bu,” jawab Arbani pelan.

Bocah itu tidak langsung mendekat. Matanya menatap meja kecil di samping ayahnya. Di sana ada segelas air yang sudah dingin, dan botol obat, tutupnya belum sepenuhnya tertutup.

Arbani mendekat pelan, seperti takut suara langkahnya membuat ayahnya hilang.

“Pak?” panggilnya lirih.

Albi membuka mata sedikit. “Wis bali, Le?”

(Sudah pulang?)

Arbani mengangguk. “Pak turu wae.”

(Ayah tidur saja.)

“Tadi sekolah piye?”

(Sekolah gimana?)

“Biasa,” jawabnya singkat. Lalu ia diam.

Albi menutup mata lagi, napasnya masih berat tapi teratur. Arbani berdiri beberapa detik, lalu meraih botol obat itu. Ia membaca labelnya perlahan, belum benar-benar paham, tapi hafal jamnya.

Ia membuka tasnya. Dari saku kecil, ia mengeluarkan kotak bekal kosong. Lalu botol obat itu dimasukkan ke dalamnya, diselipkan rapi, dan tas ditutup kembali.

Nara memperhatikan dari ambang dapur. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, melihat sang anak yang memasukkan botol-botol obat ke dalam tas nya.

“Le…” panggilnya pelan.

Arbani menoleh cepat. Wajahnya langsung berubah waspada.

“Bu aja ngomong Pak, ya,” katanya terburu-buru.

(Ibu jangan bilang Ayah ya.)

Nara mendekat. “Ngopo, Le?”

(Kenapa, Nak?)

Arbani menunduk. Jemarinya saling meremas. “Yen Pak lali ngombe obat, aku iso ngelingke.”

(Kalau Ayah lupa minum obat, aku bisa ngingetin.)

Nara terdiam, seribu kata-kata sedang berputar di dalam pikirannya, anak sekecil itu, dia masih kelas 4 SD tapi sudah mengerti cara memperlakukan orang yang ia sayang.

“Pak kan ora seneng ngrepoti,” lanjutnya cepat, seperti sudah lama memikirkan itu.

(Ayah kan nggak suka merepotkan.)

Nara berlutut di depan anaknya. “Sopo sing ngomong Pak repot?”

(Siapa yang bilang Ayah merepotkan?)

Arbani menggeleng. “Ora ana.”

(Tidak ada.)

Lalu ia menambahkan, hampir berbisik,

“Aku mung ora pengin Pak loro maneh.”

(Aku cuma nggak mau Ayah sakit lagi.)

Kalimat itu terlalu dewasa untuk suara sekecil itu. Nara memeluknya tiba-tiba. Tidak erat, tapi lama.

“Le… kowe isih bocah.”

(Nak… kamu masih anak-anak.)

Arbani membalas pelukan itu pelan. “Ora opo-opo, Bu.”

(Tidak apa-apa, Bu.)

Di balik pelukan itu, Albi membuka mata. Ia melihat punggung anaknya, tas sekolah yang sedikit miring, dan tangan kecil yang masih memegang resleting tas seolah menyimpan sesuatu yang penting.

“Ra…” panggilnya pelan. Nara menoleh, matanya basah.

Albi menatap Arbani. “Mrene.”

(Sini.)

Arbani mendekat. Albi mengelus kepalanya perlahan, lama.

“Bapak kuwat, Le,” katanya.

(Ayah kuat.)

Arbani mengangguk. Tapi tangannya refleks menyentuh tasnya.

“Iya, Pak,” jawabnya. “Tapi yen Pak kesel, ngomong.”

(Tapi kalau Ayah capek, bilang.)

Albi menelan ludah. Untuk pertama kalinya sore itu, ia tidak bisa menjawab cepat.

Nara refleks menggenggam tangan suaminya erat.

Di dalam tas sekolah Arbani, botol obat itu diam. Disimpan bukan karena disuruh, bukan karena diminta. Tapi karena cinta kecil yang belajar berjaga terlalu dini.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam turun pelan di rumah itu. Lampu ruang tengah menyala temaram. Albi sudah tertidur kembali, napasnya lebih teratur, meski wajahnya masih pucat.

Arbani duduk di meja kecil, buku terbuka, pensil di tangan. Ia sedang menulis materi yang tadi disampaikan oleh gurunya, namun saat matanya melirik jam dinding 19.45. Ia langsung berhenti.

Ia membuka tasnya perlahan. Botol obat itu masih ada. Ia keluarkan, diletakkan di samping buku, seolah bagian dari tugasnya.

Nara memperhatikannya dari kamar. Tidak menegur. Tidak mendekat.

“Le, sinau opo?” tanya Nara akhirnya.

(Nak, belajar apa?)

“Matematika,” jawab Arbani cepat.

Padahal matanya kembali ke jam. 19.59.

Ia berdiri, mengambil segelas air. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti takut lantai berisik. Ia menuju ke kamar Albi.

“Pak,” panggilnya lirih.

Albi membuka mata. “Ngopo, Le?”

(Kenapa?)

“Wes jame,” ujar Arbani singkat sambil menyodorkan obat.

(Sudah waktunya.)

Albi menatap botol itu. Lalu ke wajah anaknya. “Kowe sing eling?”

(Kamu yang ingat?)

Arbani mengangguk kecil. “Iya.”

Albi menerima obat itu. Tangannya bergetar sedikit, di dalam hatinya ia menangis, anak yang dulu ia bawa kemana-mana, sekarang menjelma seolah menjaganya.

Nara menunduk di sampingnya. Dadanya terlalu penuh untuk bicara, hanya setetes air mata yang sempat ia usap dengan tangannya, sebagai perwakilan ungkapan hatinya.

Setelah obat diminum, Arbani kembali ke meja belajarnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, anak itu melanjutkan kembali tugas yang belum ia selesaikan tadi.

Albi masih duduk, menatap punggung kecil itu. Anak yang seharusnya hanya menghafal perkalian dan pembagian, bukan jadwal obat ayahnya, dan hal itu benar-benar membuat dada Albi sesak.

“Ra…” panggil Albi pelan.

Nara mendekat. “Iya.”

“Kowe ngerti?”

(Kamu tahu?)

Nara mengangguk. “Aku weruh saka sore.”

(Aku lihat sejak sore.)

Albi menelan napas. Dadanya terasa lebih sakit dari penyakitnya sendiri. “Aku gagal dadi bapak sing nggawe anake ora mikir koyo ngono,” katanya lirih.

(Aku gagal jadi ayah yang membuat anaknya tidak perlu mikir seperti itu.)

Nara menggeleng cepat. “Ora, Bi.”

(Tidak, Bi.)

“Kowe justru dadi bapak sing nggawe anakmu pengin njaga.”

(Kamu justru jadi ayah yang membuat anakmu ingin menjaga.)

Albi menutup mata, tidak menangis. Tapi rahangnya mengeras, seperti menahan sesuatu yang terlalu besar.

“Sak uripku…” suaranya serak.

(Sepanjang hidupku…)

“Aku tau wedi mati,” lanjutnya.

(Aku pernah takut mati.)

Ia membuka mata, menatap Arbani.

“Tapi saiki aku luwih wedi ninggalke.”

(Tapi sekarang aku lebih takut meninggalkan.)

Nara menggenggam tangannya erat. Tidak berkata apa-apa. Karena cinta seperti ini tidak butuh kalimat panjang.

Malam semakin larut. Arbani sudah di kamar, lampu dimatikan, hanya cahanya kecil dari luar jendela yang menerangi, anak kecil itu berbaring lalu bangkit lagi dan duduk menghadap ke kiblat, lalu menangkupkan kedua tangan kecilnya.

“Gusti Allah…”

(Tuhan Allah…)

“Sakjane aku pengin dolanan wae kaya bocah liyane,” katanya pelan.

(Sebenarnya aku ingin main saja seperti anak-anak lain.)

“Tapi yen Pak lali obat, aku wedi.”

(Tapi kalau Ayah lupa obat, aku takut.)

Ia mengusap matanya cepat, seperti malu kalau ada yang melihat tangisnya.

“Yen aku dijaluk milih…”

(Kalau aku disuruh memilih…)

“Tulung aja njupuk Bapakku saiki.”

(Tolong jangan ambil Ayahku sekarang.)

“Sakdurunge aku gede tenan.”

(Setidaknya sebelum aku benar-benar besar.)

Di ruang tengah, Albi terbangun, bukan karena suaranya tapi karena sesuatu yang menusuk di dadanya tanpa luka. Ia duduk lama dalam gelap.

Ia tidak memanggil ataupun masuk, ia hanya diam mengintip seorang diri, lalu berjanji dalam diamnya.

"Aku bakal urip sak suwene sing aku iso.

Ora mung kanggo aku. Tapi kanggo bocah sing nyimpen obatku ing tas sekolahe."

(Aku akan hidup lama seperti yang aku bisa, bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk anak yang menyimpan obatku di tas sekolahnya)

Bersambung ....

Pagi .... Semoga suka ya

1
Astrid valleria.s.
makasih thor 🙏🌹🌹🌹
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!