Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Udara dingin kota yang asing menyambut langkah kaki Sheila saat ia turun dari gerbong kereta. Cahaya lampu stasiun yang remang memberikan rasa aman yang semu, seolah di kota ini, semua masa lalunya telah dikubur dalam-dalam.
Sheila melangkah pelan keluar dari area stasiun, menjauh dari kerumunan penumpang lain. Ia berhenti sejenak di sebuah kursi kayu panjang, menghirup napas dalam-dalam untuk menghalau rasa mual yang kembali menyerang akibat perjalanan jauh.
"Akhirnya kita sampai..." ucap Sheila sambil mengusap perutnya yang masih datar. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang, merasa sedikit lebih bebas namun juga sangat kesepian.
"Aku harap kamu mengerti kondisiku, baby. Meski kamu ada dalam keadaan yang tidak pernah aku harapkan, aku tetap menyayangimu," bisik Sheila berbicara pada bayi yang kini ada dalam rahimnya sambil mengelus perutnya dengan penuh kelembutan. Air matanya menetes, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena naluri seorang ibu yang mulai tumbuh di tengah luka.
Sheila membuka ponselnya dan melihat alamat kos-kosan yang sudah dipesankan oleh Risma sebelumnya. Karena ia tidak menerima fasilitas apartemen dari beasiswa tersebut, ia menggunakan uangnya untuk memulai semuanya dari awal—mencari pekerjaan sampingan dan tetap berusaha melanjutkan studinya secara daring jika memungkinkan.
Dua hari setelah menempati kamar kosnya yang sederhana, Sheila terkejut saat pemilik kos mengetuk pintunya dan membawa sebuah paket besar.
"Neng Sheila, ada paket atas nama neng. Tapi pengirimnya cuma tertulis 'Lembaga Pendidikan'," ucap ibu kos ramah.
Sheila membuka paket tersebut dengan ragu. Di dalamnya terdapat berbagai macam vitamin kehamilan terbaik, susu khusus ibu hamil, dan sejumlah uang tunai dalam amplop cokelat dengan catatan pendek: "Untuk masa depan anak yang tidak berdosa."
Sheila terpaku. Ia tahu ini bukan dari Risma, karena sahabatnya itu tidak memiliki uang sebanyak ini. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari bahwa meski ia telah melarikan diri beratus-ratus kilometer, bayangan Devano dan penyesalannya masih terus mengikutinya dari jauh, berusaha menjaga nyawa yang ada di dalam rahimnya.
"Rupanya kamu sudah mengetahui anak ini? Dan kamu pikir dengan semua ini, aku bisa memaafkan kamu, Vano?" desis Sheila sambil meremas amplop tersebut, matanya kembali memancarkan kilat kebencian yang masih sangat dalam.
Tanpa Sheila ketahui, Devano berada tidak jauh dari kos-kosannya. Langkah kaki Devano terhenti di bawah bayangan pohon besar yang tak jauh dari gerbang kos Sheila. Ia mengawasi dari kejauhan saat Sheila membawa paket itu masuk ke dalam kamar dengan guratan amarah di wajahnya. Devano bisa merasakan aura kebencian itu bahkan dari jarak puluhan meter.
Devano menyandarkan kepalanya pada batang pohon yang kasar, menatap jendela kamar Sheila yang baru saja tertutup. Penampilannya kini tak lagi rapi seperti pangeran sekolah; wajahnya tampak lelah dan matanya sembab karena kurang tidur.
"Harus dengan cara apa lagi agar aku bisa mendapatkan maaf dari kamu, Sheila?" ucap pelan Devano, nyaris seperti berbisik. Suaranya bergetar menahan perih yang menyesakkan dada.
Ia tahu bahwa uang, vitamin, dan semua fasilitas yang ia berikan tidak akan pernah bisa membeli kembali kehormatan Sheila yang telah ia rampas. Namun, pikiran bahwa Sheila harus berjuang sendirian dengan janinnya di kota asing ini membuat Devano tidak bisa tenang sedetik pun.
Di dalam kamar kos yang sempit, Sheila menatap nanar isi paket itu. Ia mengambil amplop cokelat berisi uang tunai dan melemparkannya ke atas meja kayu yang usang.
"Kamu pikir aku sehina itu, Vano? Kamu pikir tanggung jawab bisa dibeli dengan lembaran uang ini? Hiks... hiks..." isak Sheila pecah. Ia terduduk di lantai, memeluk lututnya erat.
"Huek! Huek! Huek!"
Namun, rasa mual yang tiba-tiba menyerang membuatnya terpaksa meraih kotak susu hamil dari dalam paket tersebut. Ada pertarungan batin yang hebat di dalam dirinya; antara rasa benci kepada ayah dari anak ini, dan keinginannya untuk memastikan bayinya tetap sehat dan bertahan hidup. Dengan gerakan cepat ia meraih susu itu dan berlari ke kamar mandi.
Suara air yang mengalir dari keran kamar mandi tidak mampu menyamarkan suara isakan dan mual yang terus menyiksa Sheila. Ia merosot di lantai kamar mandi yang dingin, memeluk perutnya dengan erat. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada rasa mual yang mengocok perutnya.
"Aku harap kamu mengerti bahwa aku di sini sendirian," lirih Sheila dengan suara serak, seolah berbisik kepada janin yang belum bisa mendengarnya.
Di luar sana, di balik gerbang kos yang tertutup, Devano masih berdiri seperti patung. Ia mendengar suara batuk dan mual dari balik jendela kamar Sheila yang sedikit terbuka. Hatinya teriris; ingin sekali ia berlari masuk, memijat tengkuk gadis itu, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun Devano sadar, kehadirannya hanya akan menjadi racun.
"Kamu tidak sendirian, Sheil. Aku ada di sini, meski kamu tidak menginginkanku," bisik Devano pilu kepada angin malam.
Tiba-tiba ponsel Devano bergetar tanda bahwa ada panggilan telepon.
"Halo, Pa."
"Di mana kamu, Devano? Tiket sudah Papa urus untuk kamu berangkat ke luar negeri," tegas Tuan Narendra.
Deg!
Jantung Devano serasa berhenti berdetak mendengar kalimat tegas dari sang ayah. Ia meremas ponselnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapannya, jendela kamar Sheila masih menampilkan cahaya remang, satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan untuk bernapas hingga detik ini.
"Papa tidak menerima bantahan, Devano. Besok pagi kamu harus sudah ada di bandara. Urusan kamu di sini sudah selesai, dan masa depan kamu ada di London," suara Tuan Narendra terdengar dingin dan tak terbantahkan.
Devano menelan saliva dengan susah payah. Matanya terasa panas saat menatap pintu kos yang tertutup rapat itu. Bagaimana mungkin ia pergi melintasi samudra sementara wanita yang sedang mengandung anaknya sedang berjuang sendirian menahan mual di kamar mandi yang sempit?
"Pa... Devano belum bisa pergi. Ada hal yang harus Devano selesaikan di sini," jawab Devano dengan suara bergetar, mencoba keberanian yang tersisa.
"Selesaikan apa? Mengejar gadis yang sudah kamu hancurkan itu? Justru dengan kamu pergi, dia bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang kamu! Jangan egois, Devano!" bentak Tuan Narendra sebelum mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Devano terduduk lemah di atas trotoar dingin. Dunia seolah benar-benar ingin memisahkan mereka secara paksa. Ia menundukkan kepala di antara kedua lututnya, membiarkan air mata penyesalan mengalir tanpa suara.
"Kenapa semuanya terjadi saat gue baru menyadari betapa berharganya lo, Sheil?" bisik Devano pilu.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/