Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Babak Pertama
"Siap-siap!!" teriak Kak Egy sebelum melepaskan umpan lambung ke dalam kotak penalti.
Bola melambung ke dalam kotak penalti, bola itu melesat cepat tepat ke kepalaku. Aku melompat lalu menanduk bola dengan keras, tapi sayang bola tandukkanku berhasil dihalau penjaga gawang.
Bola terpental ke depan, aku berlari lagi ke luar kotak penalti dengan jantung yang berdebar. Bola mendarat di sisi lawan, dan pemain lawan dengan cepat langsung menggiring bola itu ke depan. Kak Ardi mendekat, dia mencoba menghentikan bola, tapi gagal. Pemain itu berhasil membuat bola melewati kedua kaki Kak Ardi dengan lincah, membuat Kak Ardi terlihat kecewa.
Pemain itu langsung mengumpan bola ke kanan, tapi beruntung bola berhasil dihalau oleh Kak Alfian. Kemudian, Kak Alfian langsung membuang bola ke depan.
Bola melesat ke arah Kak Teo. Dia menerima bola dan langsung menggiring bolanya ke depan, tapi tiba-tiba peluit tanda berakhirnya babak pertama terdengar.
"Prittttt!!!" suara peluit tanda berakhirnya babak pertama.
"Ya, nampaknya permainan di babak pertama ini sudah usai. Dua tim bermain dengan sangat solid, tapi belum ada gol dari kedua belah pihak!!" seru komentator.
"Fiuhhhhh!!" aku menghela napas panjang.
"Babak pertama, tanpa gol. Tapi tadi tandukkanku hampir saja!!" gumamku sambil berjalan keluar lapangan.
"Van, babak kedua kita harus lebih berusaha!!" seru Azzam sembari mengelap keringatnya.
"Iya," jawab singkatku.
Setelah diluar lapangan, kami lalu masuk ke ruang ganti. Aku duduk, minum, lalu mengganti jersey-ku yang sudah basah karena keringat.
"Oka, anak-anak. Babak pertama sudah cukup baik, tapi babak kedua harus lebih baik!!" seru Pak Nur ditengah-tengah kami untuk memberikan semangat.
"Ada perubahan formasi dan taktik. Babak kedua nanti kita full menyerang, berikan bola ke Ivan atau kalian cetak gol sendiri. Jangan andalkan striker ataupun kapten tim, tapi andalkan strategi kalian!!" ujar Pak Slamet memberikan instruksi.
"Siap, Pak!!" jawab kami.
"Jeda babak pertama akan segera berakhir, kedua kesebelasan dipersilahkan bersiap-siap untuk babak kedua!!" seru pembawa acara atau pembawa turnamen.
"Oh iya, ada beberapa pergantian pemain. Michel, kamu digantikan oleh Putra!!" seru Pak Slamet.
Michel dengan spontan langsung berdiri "Kenapa, Pak?!" tanya Michel dengan emosi.
"Tenang. Kamu sudah bekerja melindungi lini belakang dengan baik, tapi kamu terlalu lelah untuk melanjutkan lagi!!" ujar Pak Slamet.
Michel lalu duduk, dia lalu melepaskan jerseynya dan mengganti dengan baju kuning bertuliskan cadangan.
"Anak-anak, sekarang kita keluar!!" seru Pak Slamet.
Kami lalu berjalan keluar bersama-sama.
"Untuk kedua kesebelasan dipersilahkan masuk ke lapangan untuk melakukan kick-off babak yang kedua ini," seru pembawa acara.
Kami lalu masuk, sementara Michel dia duduk di bangku cadangan.
"Aku harus bisa buat satu gol!!" gumamku.
"Semuanya kesini dulu!!" teriak Kak Reno.
"Oke, bola harus terus bergulir ke depan. Jangan bermain-main di lini belakang, kalian menguasai bola jangan lebih dari sepuluh detik!!" ujar Kak Reno.
Kak Reno lalu menjulurkan tangannya, diikuti kami semua.
"Medika Jaya!!"
"Solid... Solid... Solid!!"
"Suara tepuk tangan!!"
"Sekarang ke posisi masing-masing!!" seru Kak Reno.
"Kak Reno, dia kapten tim yang hebat!!" batinku.
"Ya, saudara-saudara. Sebentar lagi kita akan menyaksikan babak kedua. Di babak kedua ini, saya yakin kedua kesebelasan akan bermain habis-habisan demi tiket menuju perempat final. Jika ada yang bingung mengapa cepat sekali ke perempat final, pertandingan ini adalah pertandingan 16 besar. Tidak ada babak grup, langsung 16 besar, lalu perempat final, semifinal, dan final!" seru komentator yang ikut menjelaskan.
"Prittt!!!" suara peluit tanda mulainya babak kedua.
Bersambung...