“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rhea Tidur Pulas
...****************...
Dua puluh menit kemudian, setelah selesai fotokopi seluruh berkas yang diminta, Rhea berjalan menyusuri lorong fakultas menuju ruangan Arga.
Tumpukan kertas di tangannya terasa semakin berat seiring langkahnya yang mulai melambat karena lelah. Suasana gedung sudah jauh lebih sepi dibanding siang tadi. Beberapa kelas bahkan mulai kosong, menyisakan suara pendingin ruangan dan langkah kaki samar dari kejauhan.
Begitu sampai di depan ruangan Arga, Rhea mengetuk pintu dua kali pelan sebelum mendorongnya terbuka.
“Permisi…”
Pintu terbuka perlahan.
Ruangan itu langsung menyambutnya dengan hawa dingin pendingin ruangan dan aroma kopi samar yang entah kenapa sudah terasa familiar baginya sekarang.
Laptop Arga masih terbuka di atas meja kerja, beberapa map dan dokumen tersusun rapi di sisi meja, sementara tas kerja pria itu terletak di kursinya seperti ditinggal sebentar.
“Pak Arga…”
Hening.
Rhea melangkah masuk sedikit lebih jauh sambil menoleh ke sekitar ruangan.
“Pak Arga…”
Tetap tidak ada jawaban.
Alisnya langsung berkerut kecil.
“Kemana orangnya…” gumamnya pelan sambil berjalan mendekati meja kerja Arga.
Ia meletakkan tumpukan berkas fotocopy di atas meja dengan hati-hati sebelum kembali melihat sekeliling ruangan sekali lagi.
"Tasnya ada tapi orangnya nggak ada…"
Rhea akhirnya mengembuskan napas kecil lalu berbalik menuju sofa di sudut ruangan. Tubuhnya langsung jatuh duduk santai di sana, sedikit merebahkan punggung begitu rasa lelah mulai terasa di bahunya.
“Kemana sih…” gumamnya lirih sambil mengeluarkan ponsel dari dalam totebag.
Ia mulai memainkan ponselnya untuk mengusir bosan. Beberapa notifikasi langsung memenuhi layar, sebagian besar berasal dari grup kelas dan grup angkatan yang tidak pernah benar-benar sepi.
Namun perhatian Rhea langsung tertahan saat melihat satu notifikasi baru.
Mas Dito menambahkan Anda ke grup: CIS Committee 2026.
“Oh ini…” gumamnya pelan.
Rhea membuka grup itu perlahan. Isi chat di dalamnya sudah ramai dipenuhi pembagian divisi, jadwal rapat, dan pesan mahasiswa lain yang sibuk memperkenalkan diri.
Jempolnya menggulir layar pelan sambil sesekali membaca nama-nama panitia yang terasa asing.
Ruangan Arga tetap hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar memenuhi udara.
Beberapa menit berlalu begitu saja.
Dan entah karena hawa ruangan yang terlalu dingin, sofa yang terlalu nyaman, atau tubuhnya yang memang sudah lelah sejak pagi...mata Rhea perlahan mulai terasa berat.
Awalnya ia masih berusaha fokus membaca isi grup di ponselnya. Namun lama-lama kepalanya mulai bersandar lebih dalam ke sofa. Kelopak matanya berkedip lambat beberapa kali.
Ponselnya masih berada di genggaman tangannya ketika rasa kantuk itu akhirnya menang sepenuhnya.
Tubuh Rhea perlahan merosot ke sofa, rambutnya jatuh berantakan menutupi sebagian pipi, sementara napasnya mulai terdengar pelan dan teratur.
Tanpa sadar, ia benar-benar tertidur di ruangan Arga.
...****************...
Sekitar lima belas menit kemudian, suara pintu ruangan yang terbuka perlahan akhirnya memecah keheningan.
Ceklek.
Arga melangkah masuk sambil membawa beberapa map di tangannya. Kemeja gelap yang ia pakai tampak sedikit kusut di bagian lengan karena seharian penuh dipakai mengajar, sementara wajahnya masih terlihat datar seperti biasa setelah keluar dari rapat dosen yang cukup panjang.
Namun baru beberapa langkah masuk ke dalam ruangan, langkahnya perlahan terhenti. Tatapannya langsung jatuh ke arah sofa.
Dan di sana, Rhea tertidur pulas tanpa sadar sedikit pun.
Tubuh gadis itu meringkuk kecil di sofa dengan posisi yang jelas tidak nyaman. Salah satu tangannya masih menggenggam ponsel longgar di atas perutnya, sementara kepalanya bersandar miring di bantalan sofa dengan rambut yang sedikit berantakan menutupi sebagian pipi.
Ruangan kembali hening beberapa detik. Arga berdiri diam di tempatnya sambil memperhatikan Rhea cukup lama tanpa bicara apa pun.
Tatapannya perlahan bergerak, menelusuri wajah gadis itu yang terlihat jauh lebih tenang saat tidur... berbeda dari biasanya yang selalu penuh ekspresi, ribut, atau sering kali cemberut sendiri. Jelas sekali, gadis itu benar-benar kelelahan.
Arga akhirnya mengembuskan napas pelan sambil menggeleng kecil.
“Ceroboh sekali…” gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar.
Ia berjalan mendekat dengan langkah yang sangat pelan, lalu meletakkan map yang dibawanya ke atas meja kerja, sebelum kembali menoleh ke arah sofa. Pandangannya jatuh pada benda pipih di tangan Rhea yang nyaris terlepas begitu saja.
Dengan gerakan hati-hati, Arga membungkuk sedikit lalu perlahan berusaha mengambil ponsel itu dari genggaman Rhea agar tidak jatuh ke lantai. Namun tepat saat jemarinya menyentuh benda tersebut, Rhea bergerak kecil dalam tidurnya.
Alisnya berkerut samar, lalu tubuhnya refleks semakin meringkuk sambil menarik napas pelan, persis seperti seseorang yang sedang mencari posisi lebih nyaman agar tetap hangat.
Gerakan kecil itu membuat Arga otomatis diam sesaat, menahan napas sejenak seakan takut mengganggu.
Dan entah kenapa, melihat Rhea tidur begitu lelah dan tak berdaya seperti itu, membuat tatapan tajamnya perlahan berubah menjadi jauh lebih lembut tanpa ia sadari.
Sudut bibirnya bahkan sempat terangkat tipis membentuk senyum samar, sebelum buru-buru ia kembalikan menjadi datar seperti biasa.
...****************...
Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan setelah Arga duduk di kursi kerjanya.
Suara ketikan keyboard terdengar pelan sesekali memenuhi ruangan, bercampur dengan dengung halus pendingin ruangan yang membuat suasana siang terasa semakin tenang dan dingin. Cahaya matahari dari jendela samping mulai bergeser perlahan, jatuh samar di lantai ruangan dan sebagian sisi sofa tempat Rhea tertidur.
Di atas meja kerjanya, beberapa dokumen masih terbuka berantakan. Laptop Arga menyala menampilkan materi kuliah yang sejak tadi coba ia selesaikan, sementara secangkir kopi di sampingnya sudah hampir dingin tanpa disentuh lagi.
Arga mencoba kembali fokus membaca isi layar di depannya. Namun sesekali, tanpa sadar tatapannya kembali terarah ke sofa.
Ke arah Rhea yang masih tertidur pulas di sana.
Posisi gadis itu sudah berubah sedikit dari sebelumnya. Tubuhnya kini setengah rebah di sofa dengan satu tangan terlipat di bawah pipinya sendiri, sementara rambutnya semakin berantakan menutupi sebagian wajah.
Napas Rhea terdengar pelan dan teratur di tengah sunyinya ruangan.
Benar-benar tertidur nyenyak.
Arga memperhatikannya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil sambil menggeleng tipis.
“Benar-benar bisa tidur di mana saja…” gumamnya pelan.
Meski begitu, entah kenapa pria itu sama sekali tidak berniat membangunkan Rhea. Tatapannya justru sempat tertahan sebentar pada wajah gadis itu yang terlihat jauh lebih tenang saat tidur...tidak banyak bicara, tidak membantah, dan tidak membuat kepalanya pening seperti biasanya.
Dan tanpa sadar, suasana ruangan yang biasanya terasa dingin dan formal perlahan berubah jauh lebih nyaman hanya karena keberadaan gadis itu.