NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

"Ah ... Nggak ada apa-apa, kok Pih. Tadi aku sama Bian, cuma habis nonton video-video lucu di ponsel ..." ujar Laras, ragu. Takut suaminya berpikir yang tidak-tidak tentang mereka.

"... Sini, Pih. Biar aku bawain!" sambung Laras, langsung membantu membawakan koper Adi selepas ia pulang bekerja hari ini.

Sedangkan Bianca, sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Bersikap sebagai anak yang sangat manja di depan Adiwijaya. "Papih ... Bian, kangen~" kata Bianca, mendongak ke atas menatap wajah sang ayah.

Kalau sudah begini, Adiwijaya sendiri yang mempunyai sikap tegas dan berwibawa 'pun luluh oleh kelakuan manja anak satu-satunya ini.

"Hmm ... Pasti ada maunya ..." kata Adi, tidak menatap Bianca dan fokus memandang ke depan. "Gimana kuliah kamu?" sambungnya, baru menatap wajah Bianca yang mulai menunjukan ekspresinya ketika merajuk.

"Ish, si papih mah ... Sama aja kaya momy! Kenapa, sih pada nanya itu mulu? ... Aman pih, kuliah Bian happy ..." jawab Bianca dengan ragu, seraya melepaskan pelukannya dan menatap ayah dengan wajah sedihnya yang di buat-buat.

"Papih cuma nggak mau, kamu main-main sama kuliah kamu ... Nggak semua orang seberuntung kamu Bian ..." ucapnya dengan pelan, namun penuh ketegasan di dalamnya.

Meskipun itu adalah nasihat yang baik, tapi Bianca seperti mendapat teguran kecil dari sang ayah. Mengingat, semua kehidupan mewahnya yang selalu ia terima secara cuma-cuma.

"Iyaa-iyaa, pih ... Bian ngerti kok!" jawab Bianca dengan senyum, agar membuat Adiwijaya merasa percaya dan bangga kepadanya.

"Sudah-sudah ... Papih baru aja pulang dari pekerjaan, mungkin lelah dan ingin bersantai dulu ... Mau aku siapin air hangat untuk mandi?" tanya Laras, mencari perhatian kecil dari suaminya yang telah lama menjalin hubungan.

"Boleh. Aku ingin ke kamar dulu untuk membuka baju ... Terimakasih," kata Adi, menatap sekilas istrinya lalu melangkah menghampiri tangga menuju lantai atas.

Bianca berdiam diri di tempatnya, tidak ikut mengantar Adiwijaya menuju kamarnya. Ketika kedua orang tuanya telah menaiki beberapa anak tangga, ia melihat Anya yang ingin mengambil bekas gelas minum jus mereka tadi.

Bianca langsung segera menghampiri Anya yang sedang kembali bekerja.

"Eh, anak kampung! ... " ucap Bianca dengan nada yang sedikit keras di belakang Anya. Kedua tangan Bianca bertolak pinggang, bersikap sangat angkuh sebagai seorang majikan.

"Selama ada papih gua disini, jangan suka sok cari perhatian, ya?! ... Bersikap biasa aja sebagai seorang pembantu!" bentak Bianca, memberi peringatan agar Anya tidak mencari kesempatan untuk cari perhatian di depan ayahnya.

Dengan masih memegang nampan dan dua gelas kosong, Anya kembali kaget karena kehadiran Bianca yang berteriak dengan tiba-tiba di belakangnya.

"Ngerti nggak?!" kata Bianca kesal ketika melihat Anya dari samping, dengan nada membentak yang sedikit lebih keras dari sebelumnya.

"Iyaa, Non ... Saya mengerti ..." jawab Anya, bersikap patuh dan enggan mencari masalah dengan majikannya. Bahkan sekarang, Anya masih tidak berani menatap Bianca. Walaupun sebenarnya, Anya tidak mengerti apa maksud ucapan Bianca ini.

"Bagus deh ... Awas lu!" kata Bianca, sambil tersenyum dan sedikit memberi ancaman, mengibaskan rambut halusnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Anya yang masih tunduk berdiri memegang nampan.

Di depan kamar Adi dan Laras sebelum Adiwijaya mengganti pakaian. "Eh, iyaa ... Pih. Aku belum sempet cerita ke kamu. Soal pembantu baru itu ... Ia telah bekerja hari ini, namanya Anya." kata Laras, menghentikan langkahnya di depan kamar.

"Oh, iyaa? ... Bagus, dong! Jadi bisa membantu pekerjaan Bi Inah hari ini ..." jawab Adi, sambil membuka pintu dan masuk kedalam kamarnya.

Ceklek ...

"Yasudah, kalau gitu ... Aku siapkan air hangatnya dulu, yaa pih ..." kata Laras, memberikan senyum penuh rasa mencari perhatian kepada suaminya.

"Hmm ..." balas Adi, terus melangkah masuk berjalan ke tepi kasur tanpa melihat Laras lagi. Laras terdiam sejenak memandang suaminya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar pribadi mereka.

Tak ...

Tak ...

Tak ...

Suara Laras saat melangkah menuruni anak tangga dari lantai atas. "Bi Inah ... Bi ..." teriaknya, sebelum akhirnya langkahnya terhenti di ujung paling bawah dari tangga memanggil Bi Inah.

Bi Inah dan Anya yang sedang menyiapkan beberapa lauk yang sudah matang di atas piring, mendengar teriakan dari majikannya. Bi Inah langsung bergegas berlari pelan untuk segera menghadap kepada Nyonya Laras.

"Iyaa Nyonya ... Ada apa? Maaf, kalau saya terlambat ..." kata Bi Inah, merasa takut dan terus menunduk. Meminta maaf jika dirinya mempunyai kesalahan. Walaupun sebenarnya, ia sudah bergerak cepat menghadap ketika tadi baru di panggil.

Nyonya Laras sama sekali tidak memperdulikan itu, seolah ia lupa dengan peraturan yang sering kali berubah-ubah untuk pembantunya. Ia enggan berlama-lama berbincang dengan para pembantunya.

"Siapkan air hangat untuk suami saya mandi!" perintah Laras dengan angkuh, yang sama sekali tidak bisa Bi Inah bantah sebagai pembantunya dengan rasa takut.

"Ba-baik, Nyonya ..." balas Bi Inah, dengan nada yang cepat dan masih terus berdiam berdiri sambil menunduk.

"Cepetan!" bentak Laras, langsung membuat Bi Inah merasa kaget dan segera pergi untuk menyiapkan air hangat.

"Punya pegawai, pada lambat semua kerjanya," sambung Laras, menggerutu pelan ketika Bi Inah sudah pergi meninggalkannya. Dengan gayanya yang angkuh, Laras kembali melanjutkan langkahnya.

"Ampun ... Gusti. Kok bisa, yaa pak Adi betah punya istri seperti bu Laras ..." kata Bi Inah, menggerutu di dalam hati kecilnya, mengisi di sela-sela langkahnya menuju kamar mandi saat ini.

Langit cerah sore hari yang menghiasi rumah keluarga Adiwijaya perlahan sirna, berganti malam yang gelap dimana burung-burung kecil 'pun sudah kembali ke sarang mereka di pohon.

Saat ini, terlihat keluarga makmur Adiwijaya tengah duduk bersama. Berkumpul di satu meja makan untuk makan malam bersama. Laras, Bianca, dan Adiwijaya juga sudah menunggu Bi Inah yang sedang menata beberapa lauk hasil masakannya.

"Wah ... Pasti enak, nih masakan Bi Inah," puji Adi, karena ia melihat Bi Inah seperti sudah berusaha keras menyiapkan semua ini.

Mendengar itu, malah membuat Bi Inah terlihat panik. Ia ragu memberanikan diri menatap bergantian ke arah Laras, lalu Bianca.

"Ah, tidak Tuan ... Ini masakan biasa, dan saya tidak sendirian mengerjakan ini. Ada Anya yang sekarang membantu saya ..." kata Bi Inah pelan, dengan perasaan takutnya tidak berani menatap wajah anggota keluarga majikannya itu.

Pandangan Laras dan Bianca, seperti tidak suka kepada Bi Inah. Apalagi, ketika ia menyebutkan nama Anya di depan Adiwijaya. Satu-satunya orang yang paling berkuasa dan bijak di rumah ini.

"Oh, iyaa ... Dimana anak itu? Saya belum melihatnya ..." kata Adi dengan ramah, karena sebenarnya ia juga penasaran dengan sosok Anya yang belum ia pernah lihat sebelumnya.

"Ish! Apa-apaan, sih Papih ...? Kok malah nanyain Anya! Kan ada aku sekarang di sampingnya," kata Bianca dalam hati. Merasa kesal atas kecemburuannya kepada Anya sekarang.

"Hmm ... Mungkin dia lagi sibuk Pih ... Di belakang, dia 'kan juga pembantu," sindir Laras untuk Bi Inah, ketika Laras mulai merasa dan melihat kekesalan yang timbul pada wajah Bianca anak kesayangannya ini.

Mendengar ucapan Laras yang seperti itu, membuat Bi Inah semakin merasa tertekan. Ia tahu kalau Laras saat ini, sedang tidak ingin dirinya berada terlalu lama di hadapan suaminya.

Sorot mata ibu dan anak itu benar-benar mengintimidasi Bi Inah sekarang, perasaan menjadi lebih takut dan membuat Bi Inah mendadak gugup.

"A-ada Tuan ... Dia sedang menyiapkan hidangan yang akan dibawa kesini ..." jawab Bi Inah, dengan sangat sopan dan terus menunduk. Takut membuat kesalahan di depan keluarga ini.

"Ah, begitu ..." sambung Adi dengan pelan, seraya membalikan piring di hadapannya dengan santai.

"Kalau begitu, saya permisi ..." kata Bi Inah, mengangguk sekali sebelum izin mengundurkan diri kembali bekerja. Laras dan Bianca tidak merespon dan bersikap acuh, sedangkan Adi, membalasnya dengan senyum kecil di wajahnya.

Tidak lama ketika Bi Inah melangkah pergi menjauh dari meja makan mereka, datang Anya yang berpapasan dengan Bi Inah. Seraya membawa beberapa lauk di kedua tangannya.

Anya merasa takut sebenarnya, ketika baru pertama kali melayani keluarga di saat makan malam bersama seperti ini. Ia sedikit terlihat canggung, namun tetap berusaha untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun.

Tap ...

Tap ...

Terlihat Anya yang sudah berdiri dengan sangat sopan di depan meja makan keluarga besar ini sekarang. Anya mulai menata satu persatu makanan itu dengan sangat hati-hati, dengan perlahan. Bahkan sesekali Anya harus menunduk karena merasa sungkan dan malu.

Semua pandangan tertuju kepada Anya saat ini, pembantu baru yang baru saja bergabung di dalam kediaman keluarga Adiwijaya.

"Kamu ...?" kata Adi dengan tiba-tiba, ketika melihat Anya yang sedang menata piring berisi makanan di meja makan. Suara dari satu-satunya pria disana, kini menjadi pusat perhatian. Dari Laras, Bianca dan juga Anya yang merasa dirinya di panggil.

Bersambung ...

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!