NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Plak! Suara tamparan keras menggema di ruang tamu. Semua orang langsung terdiam. Mirza menoleh kaget. Pipinya merah. Dan Amira berdiri di depannya dengan tubuh gemetar hebat. Air matanya terus jatuh tanpa henti.

“Aku kehilangan anakku demi rumah tangga ini…” suaranya pecah penuh amarah dan luka. “Aku berusaha jadi istri baik buat kamu!” Dadanya naik turun menahan sesak. “Sementara kamu tidur sama sahabatku di belakang aku?!”

Mirza tampak terpukul oleh tamparan itu. Namun Amira belum selesai. “Kalau dari awal kamu tidak mau menikah denganku…” tangisnya makin keras, “kenapa kamu nikahi aku?!”

Tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan Nurul menangis semakin keras sambil menutup wajahnya.

Sementara ibu mertua Amira hanya terduduk lemas dengan wajah penuh penyesalan.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah Amira memandang suaminya bukan dengan cinta. Melainkan dengan kebencian yang begitu dalam. Entah kenapa, saat ia menemukan suaminya di rumah sahabatnya sendiri, Amira telah kehilangan rasa cinta itu.

Mirza mengusap pipinya yang masih merah akibat tamparan Amira. Ruangan dipenuhi napas berat dan suara tangis yang saling bertumpuk. Namun bukannya menyesal sepenuhnya Mirza justru berkata pelan, “Kita masih bisa cari jalan keluar.”

Amira menatapnya tidak percaya.

Mirza melanjutkan dengan suara cepat seolah sedang menawarkan solusi paling masuk akal. “Aku bisa tanggung jawab sama kalian berdua.” Mirza memandang Amira dan Nurul bergantian. “Kita poligami saja.”

Kalimat itu membuat semua orang membeku beberapa detik. “Toh agama membolehkan.”

Amira sampai tertawa saking tidak percayanya. Tertawa sambil menangis.

Namun sebelum ia sempat bergerak, “Dasar anak enggak tahu diri!” Brak! Ibu Mirza tiba-tiba bangkit lalu langsung menjambak rambut anaknya sendiri dengan brutal.

“Aduh! Ibu!” Mirza sampai terhuyung karena tarikan keras itu.

“Kamu masih waras ngomong begitu?!” teriak ibunya sambil terus menjambak. “Apa tadi kamu bilang? Poligami? Heh, kamu sadar nggak sih kalau kamu nggak mampu punya dia istri. Kamu memang ustad, tapi ibadah wajib saja masih berantakan, sekarang malah ngomongin sunah. Mau nambah istri? Ya ampun, tidak tahu malu sekali. Menafkahi Amira saja kamu masih keteteran. Masih mau punya istri dua?!”

“Ibu, sakit!”

“Sakit rasain!” Beberapa helai rambut Mirza benar-benar tercabut di tangan ibunya. Kalau saja lelaki itu tidak buru-buru mengelak dan menahan tangan ibunya, mungkin kepalanya sudah hampir botak.

Amira bahkan sampai terpaku melihat kemarahan perempuan tua itu.

“Kamu pikir poligami itu mainan?!” suara ibunya pecah penuh amarah. “Menafkahi istri satu aja kamu enggak sanggup!” ibunya kembali mengulangi untuk menyadarkan anaknya.

Mirza terdiam. Dan kalimat berikutnya menghantam jauh lebih keras.

“Kamu tahu enggak selama ini siapa yang nombokin kebutuhan rumah tangga?!” Ibunya menunjuk dirinya sendiri lalu Amira. “Aku sama Amira!” Air mata perempuan tua itu jatuh deras sekarang. “Amira jual perhiasannya diam-diam buat bantu kamu!” suaranya bergetar. “Aku juga berkali-kali utang ke tetangga demi dapur tetap ngebul!”

Mirza mulai pucat.

Sementara Amira langsung menangis lagi karena semua itu memang benar. Ia menahan semuanya selama ini demi menjaga harga diri suaminya.

“Kamu sibuk ceramah soal akhirat…” lanjut ibunya penuh amarah, “tapi rumah tanggamu sendiri berantakan!”

Mirza menunduk. Dan ibunya belum selesai. “Anakmu mati juga karena kurang gizi!”

Kalimat itu membuat Amira langsung terisak keras.

“Nak…” ibu mertuanya ikut menangis sekarang sambil memegang dadanya sendiri. “Waktu hamil, Amira sering kurang makan karena uang belanja enggak cukup…”

Mirza langsung mendongak. Seolah baru tahu.

“Dia selalu bilang sudah kenyang.” Air mata ibunya makin deras. “Padahal dia sengaja ngalah buat kamu dan aku.”

Tubuh Amira gemetar hebat. Rahasia yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka juga.

“Kamu tahu enggak…” suara perempuan tua itu pecah penuh penyesalan, “aku sering lihat Amira muntah-muntah tapi tetap maksa kerja?”

Mirza mulai terlihat benar-benar terguncang. Namun kalimat terakhir ibunya membuat suasana runtuh total.

“Pantas Allah ambil cucuku…”

“Ibu…” suara Mirza melemah.

“Karena Allah tahu kamu belum pantas jadi ayah!”

Tangis Amira langsung pecah semakin keras.

Sementara Mirza berdiri membeku dengan wajah hancur mendengar kata-kata ibunya sendiri. Mirza mengusap pipinya yang masih merah akibat tamparan Amira.

Ruangan dipenuhi napas berat dan suara tangis yang saling bertumpuk. Sementara Mirza berdiri membeku dengan wajah hancur mendengar kata-kata ibunya sendiri.

Ibu Mirza masih terengah setelah menjambak anaknya sendiri. Tangannya gemetar hebat. Entah karena marah atau terlalu kecewa. Tatapannya lalu beralih tajam pada Nurul yang sejak tadi menangis di pojok ruangan. “Kamu.”

Nurul langsung menegang.

Perempuan tua itu melangkah mendekat perlahan. “Sekarang aku tanya sama kamu, Nurul.” Suaranya rendah, tetapi jauh lebih menakutkan daripada teriakan tadi. “Apa kamu sanggup hidup seperti Amira?”

Nurul menangis sambil menggeleng kecil, tidak paham harus menjawab apa.

“Amira bangun sebelum subuh.” Air mata ibu Mirza jatuh lagi. “Masak, nyuci, bantu aku kerja serabutan saat suaminya pergi, ngurus rumah, mencari peluang usaha, terus masih tetap menghormati suaminya yang hari-harinya cuma bisa ceramah tapi tidak dipraktekkan ke kehidupannya sendiri." Setiap kalimat terdengar seperti tamparan. “Dia rela lapar supaya dapur tetap jalan.”

“Dia rela enggak beli baju demi kebutuhan rumah. Dia bahkan enggak pernah mengeluh walaupun hidup sama Mirza susah!”

Nurul makin tertunduk.

“Nah kamu?” Tatapan perempuan tua itu menusuk tajam. “Apa sanggup?” Ruangan hening. Karena semua orang tahu jawabannya. “Kalau enggak sanggup…” suara beliau bergetar penuh amarah dan hina, “jangan mimpi jadi menantuku.”

“Bu…” Nurul terisak.

Namun ibu Mirza justru mundur seperti jijik. “Kalian ini…” napasnya memburu, “sudah melakukan dosa besar.” Tangannya menunjuk Mirza dan Nurul bergantian. “Kalian berzina!”

Amira memejamkan mata sambil menangis. Sementara Mirza tampak semakin pucat. “Dalam hukum Allah…” suara perempuan tua itu pecah, “orang seperti kalian pantas dilempari batu sampai mati!”

“Bu, istighfar…” Mirza mencoba menenangkan.

“Jangan ajari aku istighfar!” Bentakan itu menggema keras. “Yang harus istighfar itu kamu!” Tubuh ibu Mirza sampai gemetar menahan emosi. “Aku membesarkan kamu susah payah supaya jadi ustaz…” air matanya jatuh tanpa henti, “bukan jadi laki-laki munafik!”

Kalimat itu menghantam Mirza telak. Untuk pertama kalinya lelaki itu tampak benar-benar malu. Bukan karena ketahuan warga. Tetapi karena semua topeng kesalehan yang selama ini ia bangun runtuh di depan ibunya sendiri.

Sementara Amira hanya duduk sambil menangis pelan. Hatinya sudah terlalu hancur untuk ikut marah lagi.

Nurul menghapus air matanya dengan tangan gemetar. Wajahnya sembab, napasnya tidak beraturan. Namun kali ini ia memberanikan diri menatap ibu Mirza lalu Amira.

“Terus sekarang bagaimana?” suaranya pecah. “Aku sadar kami salah.” Tangisnya kembali jatuh. “Aku hamil anaknya Mas Mirza…”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!