Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Aroma wangi lavender langsung menyambut indra penciuman saat Ummi Salwa dan Syifa melangkah masuk ke dalam butik eksklusif milik Tante Silvi siang itu. Desain interior yang didominasi warna warm white dan emas membuat butik itu terasa sangat mewah.
Syifa dan Ummi Salwa disambut dengan pelukan hangat oleh Tante Silvi. Tanpa menunggu lama, Tante Silvi langsung menggandeng Syifa menuju deretan manekin yang memamerkan koleksi gaun pengantin limited edition.
"Syifa sayang, kamu pilih sendiri mana yang paling kamu suka. Jangan lihat harganya, anggap saja hadiah dari Tante," bisik Tante Silvi ramah.
Sementara Syifa mulai tenggelam di antara gantungan gaun-gaun indah, Tante Silvi dan Ummi Salwa memilih duduk di sofa beludru, asyik berdiskusi sambil melihat katalog kain untuk seragam keluarga besar mereka nanti.
Setengah jam berlalu, suasana butik yang tenang agak terusik oleh bunyi gemerincing lonceng pintu. Sosok tegap berbalut kemeja formal yang lengannya digulung hingga siku melangkah masuk. Fadhlan telah datang.
"Assalamu'alaikum. Maaf, Ummi, Tante... sudah membuat kalian menunggu lama," sapa Fadhlan. Ia langsung menghampiri calon mertuanya dan Tante Silvi, lalu menyalami mereka dengan takzim.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka berbarengan.
Tante Silvi mencibir gemas. "Kenapa baru sampai sih, Fad? Untung saja ibu mertua sama calon istri kamu ini tipe orang sabar, coba kalau enggak, sudah ditinggal pulang kamu."
Fadhlan mengulas senyum tipis, ada rasa bersalah di matanya. "Iya Tante, maaf sekali. Tadi ada urusan mendesak sebentar."
"Oh iya, Nak Fadhlan," celetuk Ummi Salwa sambil menunjuk ke arah sudut ruangan dengan dagunya. "Syifa sepertinya kebingungan dari tadi. Bolak-balik lihat gaun tapi belum ada yang pas."
"Sana gih, kamu samperin. Bantu calon istrimu pilihkan gaun pengantin yang cocok," titah Tante Silvi setengah mendorong bahu keponakannya itu.
......................
Fadhlan melangkah dengan ritme santai, sepatunya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang konstan. Ia berjalan menghampiri Syifa yang sedang berdiri bingung di depan sebuah gaun berbahan satin.
"Ekhem.." Fadhlan berdeham pelan di belakang tubuh Syifa.
Syifa yang sedang fokus menimbang-nimbang detail payet langsung menoleh. Begitu melihat wajah akrab yang biasanya ia lihat di balik meja dosen, kini berdiri terlalu dekat dengannya, jantungnya memberikan reaksi aneh.
"Sudah dapat gaunnya?" tanya Fadhlan dengan suara datarnya yang khas, matanya ikut mengamati deretan gaun di depan mereka.
"Belum," jawab Syifa singkat, mendadak merasa canggung berdua saja dengan pria itu tanpa pembatas meja kuliah.
Mendengar respons cuek dan nada lesu dari Syifa, Fadhlan menghela napas pendek. Ia tahu gadis ini pasti lelah. Pria itu kemudian mengambil alih situasi, jemarinya bergerak lincah memilah gantungan baju, mengurasi dengan mata tajamnya yang perfeksionis.
"Tolong bantu dia mencoba gaun yang dua itu, dan satu yang sebelah sana. Juga... yang ini," panggil Fadhlan pada beberapa karyawan butik yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka.
"Baik, Tuan Fadhlan," jawab salah satu karyawan dengan nada yang dibuat semanis mungkin, matanya berkedip genit penuh harap supaya sang pewaris Ganendra itu melirik ke arahnya.
'Hmm, enggak di kampus, enggak di luar, banyak banget yang cari perhatian sama orang dingin ini,' batin Syifa bergejolak. Ada rasa kesal yang aneh mencubit hatinya saat melihat para karyawan butik curi-curi pandang pada calon suaminya. Tanpa sadar, Syifa mengerucutkan bibirnya.
"Mari, Kak, saya antar ke ruang ganti untuk dicoba dulu," ujar karyawan butik lainnya menyadarkan Syifa.
"Oh iya" Syifa mengekor di belakang karyawan tersebut.
......................
Satu per satu gaun dicoba oleh Syifa. Sementara menunggu tirai ruang ganti terbuka, Fadhlan memanfaatkan waktu untuk mencoba beberapa koleksi setelan jas di ruangan sebelah.
Setelah menemukan warna dan ukuran jas yang pas membungkus tubuh tegapnya, Fadhlan kembali ke area depan, bergabung duduk bersama Ummi Salwa dan Tante Silvi.
Tak lama, tirai ruang ganti terbuka untuk keempat kalinya. Syifa keluar dengan langkah gontai, ia benar-benar lelah mengenakan gaun-gaun berat itu.
"Kalau yang ini... bagaimana?" tanya Syifa, suaranya terdengar pasrah.
Tante Silvi mengamati dari atas sofa. "Cantik sayang, simpel tapi elegan. Tante sih oke, kalau Mbak Salwa gimana?"
"Ummi setuju-setuju saja, Nak. Yang penting kamunya nyaman memakai itu sampai acara selesai," jawab Ummi Salwa lembut.
Fadhlan tidak langsung bersuara. Pria itu menyipitkan mata, mengamati Syifa dengan sangat detail dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun keempat ini bagus, tapi entah kenapa terasa ada yang kurang bagi seleranya.
"Ganti," ucap Fadhlan pendek, tanpa ekspresi.
Mata Syifa seketika melotot. "Ya Allah, lagi?! Ini sudah yang keempat, Bapak! Yang benar saja!" protes Syifa kesal, melupakan tempat di mana mereka berada sekarang.
Tante Silvi yang mendengar itu langsung tertawa renyah, sementara Ummi Salwa hanya tersenyum maklum. "Eh, Syifa cantik... kalian ini bukan lagi di ruang kuliah loh ya. Masa panggil calon suami sendiri 'Bapak' sih?" tegur Tante Silvi jahil.
Wajah Syifa seketika merona merah padam karena malu. Sementara di sisi lain, Fadhlan justru terkekeh pelan, suara kekehan langka yang membuat dadanya bergetar hangat melihat kegemasan calon istrinya.
"Kamu juga, Fadhlan! Panggil yang romantis sedikit kenapa, sih? Jangan dingin terus sama calon istri. Panggil sayang, honey, beb, atau apa gitu," sambung Tante Silvi lagi memojokkan keponakannya.
"M-maaf, Tante..." cicit Syifa, benar-benar ingin menenggelamkan diri ke lantai saat itu juga.
"Sudah-sudah, pokoknya Tante ngga mau tahu. Kalian diskusikan berdua saja di sini, masalah gaun dan jas yang cocok. Tante sama Umminya Syifa mau ke belakang dulu, biar kalian bisa bebas," goda Tante Silvi seraya mengedipkan mata pada Ummi Salwa, lalu keduanya berjalan pergi meninggalkan area fitting.
......................
Kini tinggilah Fadhlan dan Syifa dalam keheningan butik. Syifa kembali masuk ke ruang ganti dengan menghentakkan kakinya kesal untuk memakai gaun kelima pilihan terakhir dari Fadhlan.
Beberapa menit berlalu, suara rel tirai yang digeser terdengar nyaring. Fadhlan yang tadinya sedang fokus memeriksa e-mail di handphonenya langsung mendongak.
Detik itu juga, napas Fadhlan seolah berhenti. Handphone di tangannya nyaris tergelincir.
Fadhlan diam tak bergeming, tatapan matanya terkunci rapat, tak sedikit pun bergeser dari sosok yang kini berdiri di depannya.
Syifa berdiri dengan anggun mengenakan gaun muslimah potongan A-Line berwarna broken white. Gaun itu dibalut brukat premium bermotif daun yang sangat elegan, dipadukan dengan hijab syar'i senada yang jatuh dengan sempurna menutup dada, lengkap dengan kain veil transparan menjuntai dan sebuah mahkota kecil berkilau di atas kepalanya. Syifa menjelma bagai ratu dari negeri dongeng. Indah, suci, dan menawan.
Syifa yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Keheningan Fadhlan yang intens membuat dadanya berdebar tidak karuan.
"Ehmm... kalau yang ini bagaimana, Pak... ehh, m-mas?" tanya Syifa gugup setengah mati. Lidahnya mendadak kelu saat terpaksa mengubah panggilan itu di bawah tatapan tajam Fadhlan.
Di balik pilar tak jauh dari sana, Tante Silvi menyenggol lengan Ummi Salwa, berbisik heboh melihat pemandangan manis di depan mereka. Keduanya tersenyum geli melihat sejoli itu saling tersipu.
"Ya? Bagaimana tadi?" Fadhlan mendadak gelagapan, mendengarnya dipanggil 'Mas' oleh Syifa seperti ada letupan kembang api di hatinya.
Syifa menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat. "Kalau yang ini... bagaimana? Mas Fadhlan..." ulangnya dengan suara sekecil bisikan.
Fadhlan berdeham kencang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mendadak tidak normal. "Hm... ini lebih cantik. Ekhem! Maksud saya... gaunnya."
"Gaunnya apa orangnya, Fad?" Tante Silvi tiba-tiba muncul dari balik pilar sambil menyenggol usil lengan keponakannya itu. "Nih Mbak Salwa, lihat... calon menantumu sudah mulai pintar genit ya. Tahan sebentar lagi ya, Fad... nunggu beberapa minggu lagi sampai sah jadi suami istri, baru boleh ditatap terus."
Fadhlan hanya bisa tersenyum simpul dengan telinga yang memerah, menanggapi godaan tantenya. Sementara Syifa sudah menyembunyikan wajahnya di balik buket bunga dekorasi terdekat.
"Yuk, tante mau kasih lihat desainer gaun terbaru di dalam, siapa tahu cocok buat acara resepsi kalian nanti!" ajak Tante Silvi dengan penuh semangat, mencairkan suasana canggung yang mendadak manis itu.
...****************...