Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — Belum Selesai
“Belum selesai…”
Suara perempuan itu terdengar kecil.
Parau.
Seperti tenggorokan yang rusak karena terlalu lama menjerit.
Naresha mencoba mundur.
Namun kakinya terasa berat.
Lorong sekolah itu semakin gelap.
Lampu di atas kepalanya berkedip cepat.
Ceklek.
Ceklek.
Ceklek.
Perempuan berjahit itu terus berdiri di depannya sambil memegang buku hitam hangus.
Buku yang seharusnya sudah musnah.
“Apa maunya lo…” bisik Naresha gemetar.
Perempuan itu perlahan mengangkat tangannya.
Kulitnya pucat keabu-abuan.
Jahitannya bergerak sedikit di wajahnya.
Menyeramkan.
“Buka…”
Deg.
Naresha langsung menegang saat perempuan itu menyodorkan buku hitam tersebut ke arahnya.
“Engga…”
“Buka…”
Suaranya kali ini lebih keras.
Lorong langsung bergetar pelan.
Lampu-lampu mulai mati satu per satu.
Dan tiba-tiba—
Brakkk!
Pintu kelas di sepanjang lorong terbuka bersamaan.
Naresha langsung menjerit kecil.
Bayangan hitam keluar dari dalam kelas.
Merayap di lantai.
Mendekatinya perlahan.
Napas Naresha makin kacau.
Ia mencoba lari.
Namun tubuhnya tetap terasa berat.
Perempuan itu tersenyum lagi.
Jahitannya mulai robek sedikit demi sedikit.
Darah hitam menetes dari sela bibirnya.
“Belum selesai…”
“Sha!”
Deg.
Suara itu.
Arven.
Naresha langsung menoleh cepat.
Arven berdiri di ujung lorong sambil menatap panik ke arahnya.
“Jangan sentuh bukunya!”
Perempuan berjahit itu langsung menoleh tajam ke arah Arven.
Dan suasana lorong mendadak berubah jauh lebih dingin.
Bayangan hitam bergerak liar di dinding.
Perempuan itu tertawa pelan.
Suara tawanya tidak normal.
Patah-patah.
“Mereka datang lagi…”
“Mereka siapa?!”
Namun perempuan itu tidak menjawab.
Ia justru mendekatkan wajahnya ke Naresha.
Sangat dekat.
Sampai Naresha bisa melihat jahitan kasar di seluruh kulitnya.
“Awas…”
Bisikannya terasa dingin di telinga Naresha.
Dan detik berikutnya—
Naresha terbangun.
“Hah—!”
Napasnya langsung memburu.
Keringat dingin membasahi lehernya.
Kamar gelap.
Suara hujan masih terdengar di luar.
Dadanya naik turun cepat.
“Mimpi…”
Naresha menutup wajahnya pelan.
Jantungnya masih sakit karena takut.
Namun saat ia mencoba menenangkan diri—
Buzz.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Deg.
Dengan tangan gemetar Naresha mengambil ponselnya.
Pesan dari Arven.
“Lo mimpi juga?”
Mata Naresha langsung melebar.
Tangannya cepat mengetik balasan.
“JANGAN BILANG LO LIAT CEWEK JAHIT ITU JUGA.”
Typing…
“Iya.”
Deg.
Bulu kuduk Naresha langsung berdiri.
Beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.
“Kita ketemu besok pagi.”
•
Keesokan harinya Naresha langsung mencari Arven begitu sampai sekolah.
Cowok itu sudah duduk di belakang kelas sambil memegang kopi kaleng dingin.
Wajahnya terlihat lelah.
Ada lingkar hitam samar di bawah matanya.
“Lo juga ga tidur ya?” tanya Naresha pelan.
Arven menggeleng kecil.
“Setelah mimpi itu gue ga bisa tidur.”
Naresha langsung duduk di depannya.
“Jadi… mimpi kita sama?”
Arven menatapnya serius.
“Sama persis.”
Deg.
Naresha menggenggam roknya pelan.
“Itu bukan mimpi biasa berarti…”
“Iya.”
Sunyi beberapa saat.
Suasana kelas masih sepi karena murid lain belum banyak datang.
Hanya suara kipas angin yang terdengar pelan.
Arven akhirnya membuka suara lagi.
“Yang bikin gue takut…”
Tatapannya berubah gelap.
“Di mimpi itu gue bisa ngerasain sesuatu.”
“Apa?”
Cowok itu diam sebentar sebelum menjawab pelan,
“Penjaga belum benar-benar hilang.”
Deg.
Naresha langsung merasakan tenggorokannya kering.
“Ga mungkin…”
“Gue harap gue salah.”
Namun ekspresi Arven sama sekali tidak terlihat seperti orang yang yakin dirinya salah.
Naresha memijat pelipisnya pelan.
“Aku capek…”
“Aku juga.”
“Kenapa hidup kita ga bisa normal bentar aja sih?”
Arven terkekeh kecil meski wajahnya masih lelah.
“Kayaknya dunia emang ga suka kita tenang.”
Naresha mendengus pelan.
Namun sebelum sempat membalas—
Tiba-tiba suasana kelas mendadak dingin.
Sangat dingin.
Deg.
Arven langsung menegang.
Tatapannya perlahan mengarah ke jendela kelas.
Naresha ikut menoleh.
Dan jantungnya langsung terasa jatuh.
Karena di luar jendela lantai dua…
Perempuan berjahit itu sedang berdiri diam menatap mereka.