Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Alyssa perlahan membuka matanya.
Pandangan wanita itu masih sedikit buram karena efek obat dan rasa lelah setelah melahirkan.
Ruangan rawat inap tampak tenang. Aroma obat samar memenuhi udara.
Di samping ranjang, Mike berdiri sambil tersenyum bahagia. Sementara Lucien berdiri tidak jauh darinya dengan wajah tenang seperti biasa.
Di sisi kanan ranjang, Jean dan Darius juga berada di sana.
Melihat Alyssa sudah sadar, Mike langsung melangkah mendekat.
“Alyssa,” ucap pria tua itu dengan suara lebih lembut, “terima kasih karena telah melahirkan anak laki-laki untuk keluarga Fan.”
Tatapan Mike jatuh pada Alyssa yang masih terlihat lemah.
“Setelah kau keluar dari rumah sakit,” lanjutnya, “Kakek akan meminta sopir menjemputmu untuk tinggal di rumah keluarga Fan dulu. Biar kami bisa merawatmu selama pemulihan.”
Alyssa sedikit terdiam mendengar ucapan itu.
Namun sebelum ia menjawab...
“Pa, tidak perlu.”
Jean langsung menyela.
Wanita itu menatap Mike sambil tersenyum tipis.
“Bagaimana kalau aku dan Darius saja yang merawat Kael?” tanyanya cepat.
Tatapan Alyssa langsung berubah.
“Tidak bisa,” jawab Alyssa tegas meski wajahnya masih pucat. “Kael masih membutuhkanku.” Tangannya perlahan memegang selimut. “Bayi yang baru lahir tidak bisa dipisahkan dari ibunya.”
Jean langsung mengernyit tidak suka.
“Alyssa, aku juga seorang ibu,” katanya dingin. “Aku lebih tahu darimu.” Jean menyilangkan kedua tangannya di dada. “Mengenai menyusui anak, aku sudah memiliki seseorang yang bisa menyusukannya.” Tatapannya penuh tekanan. “Jadi kau tidak perlu khawatir. Kau istirahat saja di rumahmu.”
Wajah Alyssa langsung berubah dingin.
Sementara di sisi lain, Darius tetap diam. Tatapannya terlihat rumit.
“Hanya dengan cara ini kami bisa memisahkan wanita ini dari anakku… lalu aku akan menikah dengan Vanessa,” batin Darius dingin.
Alyssa perlahan mengangkat wajahnya.
“Aku adalah ibu dari Kael,” ucapnya tegas. “Siapa pun tidak bisa memisahkan kami.” Tatapannya penuh tekad. “Di mana pun aku berada, Kael harus bersamaku.”
“Alyssa,” ujar Darius dengan nada tidak senang, “kenapa kau selalu melawan Mama? Apa kau tidak sadar statusmu?”
Alyssa langsung menatap suaminya tanpa takut sedikit pun.
“Lalu kau siapa?” tanyanya dingin. “Saat istrimu kesakitan, kau saja tidak peduli.” Tatapannya mulai memerah menahan emosi. “Apa kau mengira kau berhak mengaturku?”
“Aku mengandung selama sembilan bulan,” lanjut Alyssa lirih. “Sakit, pegal, semua aku alami sendiri tanpa kau merawatku walau sedetik pun.” Air matanya perlahan jatuh. “Sekarang kau malah merasa paling berjasa karena memiliki anak?”
Wajah Darius langsung mengeras.
Lucien yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
“Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Walau Kael adalah putramu, kau tetap tidak bisa melakukan itu.” Lucien memasukkan satu tangan ke saku celana. “Bayi yang baru lahir tidak bisa dipisahkan dari ibu kandungnya. Walau kalian memiliki pengasuh.”
Jean langsung terlihat kesal.
“Lucien, ini urusan keluarga kecil mereka—”
“Cukup.”
Mike memotong dingin.
Pria tua itu langsung menatap Jean dan Darius tajam.
“Kalian jangan membuat masalah lagi. Alyssa butuh istirahat. Pulanglah.”
“Tapi…” Darius mencoba membantah.
“Sudah!” bentak Mike. “Apa yang dikatakan Alyssa tidak ada salahnya,” lanjut pria tua itu tegas. “Di antara kita semua… tidak ada yang berhak menentukan Kael ikut dengan siapa.”
Mike menatap Alyssa beberapa detik. Sorot matanya penuh penghargaan.
“Karena yang berjuang melahirkan anak ini adalah Alyssa. Yang menahan sakit dan mempertaruhkan nyawanya juga Alyssa.”
Tongkat di tangannya mengetuk lantai pelan.
“Jadi lebih baik kalian berdua diam saja.”
“Kakek,” ucap Alyssa pelan, "aku ingin pindah ke rumah papaku untuk sementara.” Tatapannya perlahan menunduk. “Aku ingin menenangkan diri.”
Wajah Jean langsung berubah.
“Tidak bisa!” katanya tegas. “Kau ingin memisahkan Kael dengan papanya?” Tatapannya tajam penuh tekanan. “Bagaimana pun juga, kau tidak bisa membawa Kael pergi jauh.” Nada suaranya meninggi. “Dia adalah penerus keluarga Fan!”
Alyssa langsung mengangkat wajahnya.
“Aku ibunya,” jawabnya dingin. “Dan aku lebih berhak menentukannya.”
Jean langsung terlihat marah.
“Alyssa!” bentaknya kesal.
Darius yang sejak tadi diam akhirnya ikut membuka suara.
“Alyssa, jaga mulutmu!” Tatapannya penuh peringatan. “Cepat minta maaf pada Mama.”
Alyssa menatap suaminya beberapa detik.
Sorot matanya perlahan berubah penuh kekecewaan.
“Kau telah melakukan banyak kesalahan padaku,” ucap Alyssa lirih. “Apakah kau pernah meminta maaf?”
Tatapan Alyssa semakin dingin.
“Daripada terus menyalahkanku…” wanita itu menarik napas pelan, “lebih baik kau menghilang dari hadapanku.”
Wajah Darius langsung mengeras.
“Alyssa, kau—”
“Cukup.”
Suara Lucien terdengar dingin dari samping ranjang.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam menekan ke arah Jean dan Darius.
“Kalau kalian masih membuat keributan di sini…” ucap Lucien rendah penuh ancaman, “jangan salahkan aku kalau mengusir kalian keluar.”
Alyssa menatap Darius dengan wajah dingin.
“Setelah aku sembuh,” ucap Alyssa pelan tetapi tegas, “aku ingin bicara denganmu.”
Darius langsung mengernyitkan alis.
“Aku akan pulang dan menemuimu sendiri,” lanjut Alyssa. “Jadi selama masa pemulihan ini… jangan muncul di depanku.”
Tatapannya semakin tajam.
“Agar aku tidak muak melihat wajahmu.”
Wajah Darius langsung berubah buruk.
Ia tidak menyangka Alyssa akan berbicara setajam itu padanya.
Sementara Jean terlihat semakin kesal melihat perubahan sikap menantunya.
“Ada apa dengan wanita ini?” batin Darius sambil mengepalkan tangannya. “Selama ini dia sangat patuh dan mencintaiku.” Tatapannya terus tertuju pada Alyssa. “Tapi kenapa dia berubah dalam sekejap?”
Alyssa yang dulu selalu diam dan mengalah… kini justru berani melawannya tanpa takut sedikit pun.
Lucien yang berdiri di samping ranjang hanya menatap dingin ke arah Darius.
“Kalau kau masih punya sedikit rasa malu,” ucap Lucien rendah, “maka lakukan seperti yang diminta Alyssa.”
“Paman, permintaannya sangat keterlaluan,” ujar Darius dengan wajah tidak senang. “Itu sama saja dia sengaja ingin memisahkanku dari anakku.”
“Kalau kau masih berani membantah…” ucap Lucien rendah penuh ancaman, “jangan salahkan aku kalau menghapus namamu dari keluarga Fan.”
Wajah Darius langsung berubah pucat.
“Lucien!” Jean langsung membentak tidak percaya. “Darius adalah penerus keluarga Fan!” Wanita itu terlihat panik. “Kau tidak bisa membuat keputusan sendiri!”
Lucien tertawa kecil.
Tawanya terdengar dingin dan mengerikan.
“Siapa yang mengatakan aku tidak bisa?” tanyanya pelan.
Pria itu melangkah maju perlahan. Aura menekannya langsung memenuhi seluruh ruangan.
“Penerus keluarga Fan sekarang adalah Kael Fan.”
Jean langsung membelalak.
Sementara Darius membeku di tempatnya.
Lucien menatap keponakannya tanpa belas kasihan.
“Aku bisa mengusirmu keluar dari keluarga Fan…tanpa membiarkanmu membawa apa pun. Dan kau akan hidup seperti gelandangan di luar tanpa dukunganku. Aku ingin melihat tanpa aku... apakah kau memiliki kemampuan untuk bangkit."
ayooooo