NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 24: Rumah Berkat 2

Suasana Rumah Baru :Rumah Berkat 2 🏠

_Malam. Jam 11:37 malam. _

Lampu kuning teras masih nyala. Rumah kecil tipe 54 itu udah nggak berisik kayak siang tadi.

3 kamar penuh.

Carel meringkuk di sofa ruang tamu, bantal gepeng, selimut tipis. Ketiduran nonton reel sambil nunggu Zaki-Indry ngobrol di teras.

Lalu Indry duluan ke kamar. Zaki tarik Nafas. merenung. masuk.

Zaki pelan-pelan jongkok di samping sofa.

Zaki: “Rel… bangun. Tidur di sofa nggak enak. Kamar atas masih kosong.”

Carel merem melek. “Kak Zaki? Kirain mimpi.” 🥱🥱🥱

Zaki: “Bukan mimpi. Ayo pindah. Kasur kamu udah rapi.” 🥱🥱🥱

Carel: “Tapi Kak… Kakak tidur mana?” 🥱🥱

Zaki senyum kecil. “Kak tidur di sini aja. Sofa L ini empuk. Daripada bangunin Indry.”

Carel nurut. Sambil jalan ke kamar, dia bisik: “Kak Zaki… makasih ya.” ☺

Zaki cuma angguk. 😇Tunggu Carel masuk kamar, dia tarik selimut, rebahan di sofa. Kipas angin Nyala. Hujan Karawaci pelan-pelan turun.

Dia nggak langsung tidur. Matanya liatin langit-langit. Di kepalanya masih keputar obrolan siang tadi sama Romo dari paroki Curug.

 

_Siang tadi. Jam 1:15 siang. Ruang tamu abis makan bersama.

Romo duduk santai. Nggak pakai baju lengkap. Cuma kemeja putih. Adik adik sambil kemasi bekas syukuran dan makan.

Romo: “Zaki, kamu duduk. Santai aja. Nggak ada interogasi.”

Zaki: “Iya, Romo. Terima kasih sudah mau datang dan berkat Rumah ini..." agak gugup, rasanya mau nanya tapi segan,

Romo ketawa pelan. “Wajar. Kamu mau nikah sama umat saya. jadi kamu mau tanya apa” Romo lansung nembak isi hati Zaki.

Obrolan panjang. Yang lain pada kasi Ruang buat Zaki dan Romo biar bicara gak ganggu. Indry dan Meta pamit kemas kamar, padahal pasang kuping di pintu.

Romo jelasin pelan-pelan. Tentang dispensasi nikah beda agama.

Tentang janji baptis anak.

Tentang “keselamatan menurut Katolik”.

Romo: “Gereja nggak maksa Indry minta kamu pindah. Tapi Gereja minta kamu hormati iman dia. Dan kamu harus izinkan anak kalian dibesarkan Katolik, kalau itu janji yang kamu tanda tangan.”

Zaki: “Saya nggak akan paksa Indry, Romo. Saya juga nggak akan paksa anak saya.”

Romo: “Bagus. Cinta itu bukan memaksa. Cinta itu memberi ruang.”

Romo: “Keselamatan itu misteri, Zaki. Yang jelas, Tuhan lihat hati. Kamu jaga Indry dengan baik, itu juga ibadah.”

Zaki Tarik nafas panjang beberapa kali. Kepalanya memutar banyak memory. Zaki rebahan dengan kepala penuh banyak hal.

Nggak takut. Tapi merenung.

“Keyakinan Indry… sungguh berbeda,” batinnya. “Tapi cara dia doa, cara dia jaga adik-adik, cara dia sabar… itu beda,mungkin itulah yang Romo tadi sebut Wajah Kasih Kristus.”

Malam-malam ini Zaki kebetulan sering buka TikTok. FYP-nya tiba-tiba penuh: “Penjelasan Doa Rosario”, “Makna Ekaristi”, “Cerita Santo Fransiskus”.

Dia nggak sengaja klik. Tapi dia nonton sampai habis.

Dia juga baca artikel tentang “Maria dalam Islam”. Diam-diam.

Di sisi lain, di kamar atas, Indry juga nggak bisa tidur.

Dia buka YouTube. Video ceramah tentang “Wanita Muslimah yang Sabar”. Tentang Khadijah. Tentang Fatimah.

Indry nggak tau kenapa. Tangannya sendiri yang nyari.

“Bukan mau pindah,” batinnya. “Cuma… pengen ngerti Zaki lebih dalam.”

Dua hati. Dua Ruang. Dua keyakinan.

Tapi sama-sama cari damai. Diam-diam.

 

_Pagi. Jam 6:12 pagi. Teras Rumah Berkat._

Hujan udah reda. Bau tanah basah.

Indry keluar bawa dua gelas teh hangat.

Indry: “ Zaki… kamu nggak tidur ya?”

Zaki bangun dari sofa. Rambut acak.

Zaki: “Tidur. Cuma sebentar. Kamu udah bangun?”

Indry: “Iya. Mau bikin sarapan buat adik-adik.”

Zaki terima gelas teh. Tangan mereka nyentuh sebentar.

Zaki: “Sayang… makasih ya. Rumah ini jadi rumah beneran karena kamu.”

Indry: “Kita yang bikin, Zaki. Semua.”

**

Zaki pamit balik ke Tegal jam 9 pagi. Travel jam 10.

Zaki: “Ibu udah nanyain terus. Katanya kangen lihat Rumah Berkat langsung.”

Indry: “Bilang Ibu, kapan aja boleh datang. Kamar tamu selalu siap.”

Zaki: “Ibu senang denger itu. Katanya mau bawa oleh oleh Tegal yang banyak”

Indry ketawa. “Bilang Ibu, jangan kebanyakan. Nanti Ogah kesenangan habisin.”

Di terminal, Zaki peluk Indry lama.

Zaki: “Aku kangen besok.”

Indry: “Aku juga. Tahan ya.”

Zaki: “Tahan, sayang. Demi yang halal.”

Travel jalan. Zaki duduk di kursi paling depan. HP di tangan.

Dia chat Indry: “Sayang, Romo bilang Gereja nggak maksa. Yang penting saling hormat.”

Indry balas: “Aku tahu, Zaki. Aku juga belajar banyak akhir-akhir ini.”

Zaki: “Belajar apa?”

Indry: “Belajar… kalau cinta itu nggak harus sama. Cinta itu bisa beda, tapi tetap satu.”

Zaki diem lama. Baca chat itu berkali-kali.

Di dadanya ada hangat yang nggak bisa dijelasin.

 

_Sore. Jam 4:30 sore. Rumah Mama Zaki, Tegal._

Mama Zaki pegang HP. Video call sama Indry.

Mama: “Nak, rumahnya bagus ya! Carel tadi tunjukin kamar Ogah. Astronaut katanya!”

Indry ketawa. “Iya, Tante. Ogah milih sendiri.”

Mama: “Ibu mau datang ya, Nak. Minggu depan. Ibu mau lihat dapur. Ibu mau masak sop ikan bareng kamu.”

Indry: “Siap, Tante. Kami tunggu.”

Mama: “Zaki cerita, Romo udah jelasin panjang. Kamu kuat ya, Nak. Jaga Zaki ya.”

Indry: “Iya, Tante. Aku janji.”

Mama Zaki tutup VC. Dia duduk di kursi kayu. Tarik napas.

Mama: “Ya Allah… kalau ini jalan mereka, tolong jaga mereka.”

 

_Malam. Jam 10:00 malam. Grup WA “Keluarga AndreBetari”._

Meta kirim foto sofa L.

Meta: “DRY!!! GUE MAU TIDUR DI SINI KALAU KE KARAWACI!!! EMPUK!!!”

Carel: “Met, itu tempat Kak Zaki tidur semalam.”

Meta: “WAH!!! BAUNYA ZAKI PASTI!!!”

Ogah: “KAK!!! KAK ZAKI MAU BELIIN PS KAN?! KATANYA JANJI!!!”

Zaki balas Indry: “Siap, Ogah. Bulan depan. Kalau Doain usaha nya laris.”

Semua ketawa.

Paul ketik pelan: “Kak, aku senang lihat rumah ini rame. Rumah beneran.”

Mauba: “Kak, aku dan Dara mau main ke sana. Boleh nginap?”

Indry: “Boleh, Ba. Kamar tamu selalu kosong.”

Indry ketik terakhir: “Makasih kalian semua. Rumah ini berkat. Karena kalian.”

Zaki di Tegal baca chat itu. Dia nggak bales. Cuma kirim emoji hati. ❤️

 

_Larut malam. Jam 12:03 malam. Tegal._

Zaki duduk di kontrakan kecil. Meja kerja penuh nota.

Dia buka aplikasi Alkitab. Nggak sengaja. Cuma penasaran.

Dia baca: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati…” 1 Korintus 13.

Dia diem lama.

Di Karawaci, Indry buka Al-Qur’an. Surat An-Nisa ayat 1.

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri…”

Dia juga diem lama.

Dua hati. Dua kota. Dua kitab.

Tapi satu doa: “Tuhan, jaga kami. Jaga cinta kami. Jaga yang halal.”

Di luar, hujan Tegal turun pelan.

Di dalam, Zaki tutup HP. Pejamkan mata.

Besok dia harus bangun jam 4. Banting Tulang demi sebongkah berlian buat Indry.Minimal siapkan Cincin dulu.

Demi rumah yang akan dia tinggali bersama Indry.

Demi yang halal.

Kita Bahagia. Tuhan Tau

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!