Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kesaktian Sejati
Pisau-pisau yang tadinya menari indah di udara, yang seolah memiliki nyawa sendiri, seketika hancur berkeping-keping. Logam-logam itu jatuh berserakan di atas lantai kayu, kehilangan cahayanya, berubah menjadi sampah yang tak berguna hanya dalam satu kedipan mata.
Haotian terpaku. Tangannya yang masih terangkat di udara kini terasa kosong dan bergetar hebat. Wajahnya yang semula penuh kepercayaan diri, berubah menjadi pucat pasi, seperti kertas yang di remas.
"Eh..." suaranya keluar dengan gemetar, nyaris tak terdengar. Perubahannya terjadi secepat kilat, kesombongan yang tadi meluap kini menguap tanpa sisa, meninggalkan sosok pecundang yang berdiri gemetar di tengah reruntuhan senjatanya sendiri. Di hadapan Yixuan, ia bukan lagi seorang pangeran kegelapan yang tangguh, melainkan hanya seorang anak kecil yang baru saja menyadari bahwa mainannya telah hancur.
Yixuan melangkah perlahan. Setiap ketukan langkahnya di lantai kayu terdengar seperti detak lonceng kematian bagi harga diri Haotian. Ruangan itu mendadak terasa sempit, seolah-olah udara pun segan untuk mengalir di antara mereka.
"Apa kau pikir, dengan keahlianmu ini, kau bisa menaklukkan dunia?" tanya Yixuan. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan angin malam, namun nadanya mengandung peringatan yang lebih tajam dari pedang. Sebuah penghinaan yang di samarkan dengan keanggunan.
Haotian tersentak, punggungnya menempel pada pilar yang dingin. Kata-kata kakaknya menghantam lebih telak dari pada serangan fisik mana pun. Di dunia persilatan, luka di tubuh bisa sembuh dalam sebulan, namun luka pada harga diri bisa di bawa sampai ke liang lahat.
"Be-benar, kakak...aku akan mengingat kata-kata mu. Aku...aku akan berusaha jadi lebih baik," jawab Haotian dengan suara yang gemetar, seolah-olah jiwanya baru saja remuk.
Yixuan tidak menanggapi lebih jauh. Ia berdiri tegak, lalu berbalik, kembali mengamati lukisan yang sejak tadi menyita perhatiannya. Seolah-olah kehadiran adiknya tidak lebih penting dari pada segores tinta di atas kertas.
"Pergilah!," ucap Yixuan tajam, membelakangi adiknya. "aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan anak kecil."
"Ba-baiklah...aku pergi, aku pergi," sahut Haotian patuh, kepalanya tertunduk lesu. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan menuju pintu, ia berhenti. Ia menoleh perlahan ke arah punggung Yixuan.
Saat itulah, topeng itu retak.
Wajah yang semula menampakkan ketakutan dan kepatuhan itu lenyap secepat bayangan awan. Tatapannya berubah menjadi sembilu kebencian yang bercampur kelicikan yang pekat. Di matanya, bukan lagi penyesalan yang terlihat, melainkan api dendam yang baru saja di siram minyak.
Setelah beberapa saat Haotian pergi dari paviliun, Dari sudut ruangan yang paling gelap, sebuah bayangan memisahkan diri dari dinding. Ia telah ada di sana sejak tadi, diam tak bergerak seperti patung batu, menunggu drama antara dua saudara itu usai.
Yixuan tidak menoleh. Ia masih menatap lukisan di depannya, namun ia tahu siapa yang datang dari aroma angin yang di bawa orang itu.
"Apa yang kau temukan?" tanya Yixuan. Suaranya datar, namun ada nada keletihan yang terselip di sana, keletihan seorang pria yang sudah terlalu sering mendengar kabar buruk.
Orang itu melangkah mendekat. Ia membungkukkan badan dalam-dalam, sebuah penghormatan yang penuh dengan beban rahasia.
"Desa itu telah terbantai habis," bisiknya. Suara itu hampir tak terdengar, seolah ia takut kata-katanya akan terdengar oleh orang lain.
Yixuan tetap diam. Matanya yang tajam kini tampak meredup, seperti bara api yang tertutup abu. "Gulin?" tanya Yixuan pelan. Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.
"Benar, Tuan muda. Desa Gulin," jawab orang itu, kepalanya tetap tertunduk. "Tak ada satupun yang tersisa. Mereka mati dengan mengerikan."
Yixuan menghela napas panjang, jemarinya perlahan menyentuh lukisan pegunungan di depannya. "Haotian?, apakah dia?"
Nada suaranya terdengar tenang, namun ada getaran kemarahan dalam setiap ejaan kalimatnya.
"Mereka semua mati dengan luka sayatan lebar di tubuh mereka," lanjut si pembawa pesan, suaranya berat. "Sepertinya senjata yang melukai mereka berasal dari pedang berat milik prajurit istana."
Yixuan berbalik. Gerakannya tenang, namun matanya menatap tajam, seolah bisa menembus jantung si pembawa pesan. "Apakah kau menemukan petunjuk lain pada tubuh orang-orang yang di bantai itu?"
Si pembawa pesan mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah kepingan logam yang patah.
"Hanya ini, Tuan muda. Tertancap di antara tulang rusuk salah satu korban."
Yixuan mengambil kepingan logam itu lalu terdiam tanpa mengucap satu kata pun.
...****************...