kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Pak Ustadz duduk di pinggir ranjang, Dia minta Bibah meletakkan Lasmi terlentang. Di dahi anak itu, ada urat hitam tipis yang merambat dari pelipis ke leher.
Sekarang urat itu bergerak pelan seperti cacing di bawah kulit."Baca terus Ayat Kursi, Bu Bibah. Jangan berhenti sampai saya bilang," perintahnya.
Pak Ustadz mulai membaca surah Al-Baqarah ayat 102 dan Al-Falaq berulang-ulang. Suaranya rendah, tapi setiap kata seperti menekan sesuatu yang tidak terlihat.
Setiap kali dia berhenti menarik napas, tubuh Lasmi kejang kecil. Dari mulutnya keluar suara geraman pelan, bukan suaranya.
Keringat hitam mulai keluar dari pori-pori Lasmi. Baunya anyir seperti besi karatan.
"Keluar... keluar kau dengan izin Allah!" suara Pak Ustadz meninggi. Rian menuangkan air ruqyah dari botol biru itu sedikit demi sedikit ke mulut Lasmi. Anak itu tersedak, lalu muntah.
Yang keluar bukan makanan. Cairan hitam kental, bercampur benang merah tipis, berbau busuk. Jatuh ke baskom, asap tipis naik darinya dan langsung hilang.
Pak Ustadz mengangguk. "Itu dia. Santau kiriman."Lasmi mengerang panjang, lalu tubuhnya lemas. Napasnya pelan tapi teratur. Urat hitam di lehernya memudar, tinggal sisa garis pucat.
"Alhamdulillah," bisik Pak Ustadz. "Dia keluar. Tapi malam ini Lasmi tidak boleh ditinggal sendiri. Santau yang sudah marah biasanya mencoba balik lagi lewat mimpi."Bibah menangis pelan, mencium kening anaknya. Panasnya sudah turun. Wajah Lasmi akhirnya tenang, tidur seperti anak biasa.
Pak Ustadz berdiri, wajahnya lelah.
"Besok pagi saya mau tanya satu hal sama Ibu. Siapa terakhir yang kasih makanan atau minuman ke Lasmi sebelum dia sakit? Santau tidak masuk kalau tidak lewat perantara."
Bibah mengangguk pelan, masih memeluk Lasmi yang udah tidur pulas. Suaranya kecil, gemetar."Baik....Pak Ustad." Pak Ustadz mengusap tasbihnya sekali lagi, lalu menepuk pundak Rian.
"Air ruqyah ini jangan habis. Percikkan ke empat sudut rumah tiap habis maghrib sampai 7 hari. Rian cuma mengangguk dan Matanya tidak lepas dari pecahan kaca yang masih berasap tipis di lantai.
Mereka keluar kamar satu per satu. Bibah tetap di samping Lasmi, nggak berani berkedip. Jam menunjukkan 02:17.
Rumah itu akhirnya sunyi. Sunyi yang beneran sunyi, tidak ada seretan kaki dan bisikan.
Tapi sebelum Pak Ustadz sampai pintu depan, dia berhenti. Hidungnya mengendus pelan."Bu Bibah," katanya pelan tanpa menoleh ."Di dapur... ada yang masak ayam goreng malam ini?"
Bibah membeku. Di kepalanya langsung muncul ingatan tiga hari yang lalu lalu, sore sebelum Lasmi panas tinggi dan perutnya sakit dan saat diperiksa ke dokter ada serbuk di besi diperut anaknya dan adiknya sitoh memberikan ayam goreng untuk keponakan tersayangnya
Pak Ustadz menoleh, matanya tajam."Simpan itu dulu di kepala....bu!Besok baru kita bongkar."
Keesokan harinya, subuh baru merangkak masuk lewat celah jendela, Bibah tidak tidur semalaman. Setiap kali pejamkan mata, yang muncul cuma mata Pak Ustadz yang menajam waktu bilang "Simpan itu dulu di kepala... bu! Besok baru kita bongkar."
Masuk lewat celah jendela, cahaya pagi itu tipis dan dingin. Bibah tidak tidur semalaman. Setiap kali pejamkan mata, yang muncul cuma mata Pak Ustadz yang menajam waktu bilang _"Simpan itu dulu di kepala... bu! Besok baru kita bongkar."
Ayam goreng dan Bau itu. Kenapa dia bisa menciumnya padahal dapur sudah bersih sejak tiga hari lalu? Otaknya muter ke Sitoh, ke piring bekas, ke tong sampah yang dia buang sendiri tengah malam.
Jam 6 pagi, Pak Ustadz sudah duduk di beranda. Kopi hitam di tangan, dingin dan belum disentuh. Uapnya sudah lama mati dan Di sebelahnya ada tas kain hitam kecil, isinya nggak kelihatan, tapi dari cara kainnya menggembung, ada sesuatu yang berat di dalam.
"Bu Bibah....masuk," panggilnya pelan. Suaranya datar, tapi bikin punggung merinding. Dia tidak menoleh dan Matanya lurus menunjuk ke arah dapur.
"Buka pintu itu Dan jangan takut. Yang seharusnya takut itu yang tidak jujur."
Bibah berdiri pelan, Lututnya kaku. Setiap langkah ke arah dapur rasanya seperti menarik rantai. Pintu kayu itu sudah dicuci semalam, tapi sekarang ada bercak cokelat tua di gagang pintunya,Kering dan Lengket.
Dia dorong pelan.
Dingin langsung nyambar wajahnya, Padahal jendela dapur terbuka lebar dan tidak ada kompor menyala, tidak ada tungku bara. Tapi baunya... ada lagi. Samar, tapi jelas. Bau ayam goreng yang digoreng terlalu lama sampai minyaknya gosong.
Di lantai, tepat di bawah meja makan, ada jejak tetesan hitam. Bentuknya seperti jari kecil yang diseret.
Pak Ustadz muncul di belakangnya tanpa suara.
"Kemarin malam dia lapar," katanya pelan. "Makanya dia ikutin bau itu sampai masuk."
Bibah menoleh cepat. "Dia....? Dia Siapa, Pak ustadz?"Pak Ustadz tidak langsung jawab, Dia jongkok dan mengambil tas kain hitamnya. Dari dalam dia keluarin kain mori kusam, ada tulisan Arab yang sebagian udah luntur. Bau tanah basah keluar dari kain itu.
"Tiga hari lalu,sebelum Lasmi panas tinggi, siapa yang datang bawa ayam goreng," kata Pak Ustad.
"Adikku pak Ustadz," suara Bibah kecil, hampir putus. "Dia sudah lama tidak berkunjung. Pagi itu dia tiba-tiba datang. Katanya rindu pada keponakannya... dan bawa ayam goreng juga."
Pak ustadz hanya mengangguk sebagai jawaban.