Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dua hari lagi festival HASEM dimulai. Acara tahunan paling berisik sedunia menurut beberapa guru, tapi justru itu yang bikin Narisa selalu semangat.
Bukan karena dia ikut tampil, bukan pula karena stand kelas mereka selalu untung besar. Narisa cuma suka suasananya. Rame, penuh warna, orang-orang lari ke sana kemari, musik nyala dari segala arah, dan yang paling penting: banyak makanan gratis buat dicicip.
Sementara Narisa sibuk memikirkan dekor stand dan kostum karnaval, Kara malah capek duluan hanya dengan membayangkannya.
Sekarang Jumat. Festivalnya Minggu. Artinya Minggu sore dia harus tetap masuk kerja jam lima, sementara acara sekolah baru selesai sekitar jam tujuh malam. Sudah pasti dia bakal cabut duluan.
"Kara, lo jadi ikut karnaval ya?" tanya salah satu anak kelasnya penuh harap.
Kara yang sedang duduk menyender di kursi langsung melirik malas.
"Ogah."
"Bukan kostum aneh-aneh kok."
"Tetep males."
Harum yang sedang duduk di lantai sambil bikin hiasan stand langsung nyolek pahanya.
"Kostum pangeran tau. Kece gila." katanya sambil cekikikan.
"Ogah," Kara mendengus. "Di kelas ini banyak cowok. Ngapa musti gw?"
Si penanggung jawab kostum melirik deretan cowok di kelas mereka, lalu balik menatap Kara lagi.
"Yaaa.. lebih cocok aja sih."
"Itu bahasa sopannya," timpal Harum tanpa dosa. "Aslinya mereka pengen yang ganteng."
Satu kelas langsung ketawa.
"Tai lo."
"Batu banget ini orang," Harum ngakak makin keras.
Daripada terus jadi korban paksaan, Kara akhirnya memilih keluar kelas. Dia turun tangga tanpa tujuan jelas. Hari ini dan besok seluruh sekolah memang sibuk luar biasa. Anak-anak mondar-mandir bawa cat, kardus, kain, kabel, bahkan ada yang nyeret speaker lebih besar dari ukuran badannya sendiri.
Meski begitu, tiap berpapasan dengan Kara, para junior tetap menyapa sopan.
"Kak Ara."
Kara menoleh ke belakang. Cantika setengah berlari menghampiri.
"Mau ke mana, kak?"
"Ruang musik,"
"Ikut dong."
"Emang gak sibuk di kelas?"
"Sibuk sih," Cantika nyengir kecil. "Tapi sebagian besar udah kelar kok,"
Kara mengangguk saja.
Begitu mereka berbelok di ujung lorong, terlihat Narisa dan Putri sedang jalan ke arah yang sama.
"Eh, itu kak Risa," kata Cantika, berusaha terdengar biasa.
"Biarin aja."
"Oiya, kakak kok belakangan ini ngilang terus tiap habis basket?"
Kara melirik singkat. "Kan udah dibilang lagi sibuk."
Jawaban yang sama seperti sebelumnya.
Sudah hampir tiga minggu Cantika bertanya, tapi kata sibuk itu tidak pernah benar-benar terjawab.
"Sibuk apa sih, kak? Kalau rahasia juga aku gak bakal ember."
"Bukan soal ember sih. Aku freelance di kafe."
Mata Cantika langsung berbinar. "Kafe apa?"
Kara diam sebentar. Setelah dipikir-pikir, seharusnya tidak masalah kalau dia jujur. Paling Cantika cuma penasaran lalu main ke sana sekali dua kali.
"Skubidu."
"Wah, aku tau tempatnya."
Kara mengangguk tipis. Di depan, Narisa dan Putri sudah masuk ke ruang musik. Tidak lama kemudian Kara dan Cantika ikut masuk.
Ruangan itu ternyata sudah penuh suara musik.
Putra, Fahri, dan beberapa anak band sedang latihan di pojok ruangan. Sementara Narisa dan Putri duduk tidak jauh dari sana sambil merecoki mereka tanpa rasa bersalah.
"Coba lo kasih gw nada," kata Narisa sok paham.
Fahri mendecak, tapi tetap memetik gitarnya beberapa kali. Satu ruangan mengangguk puas mendengar melodinya.
Kecuali Narisa.
Cewek itu malah melipat tangan sambil mengernyit serius.
"Gw dengernya kliting jreng kliting kliting jembreng."
Satu ruangan langsung pecah.
"Telinga lo rusak, njir?" Putri ngakak. "Itu bagus tau."
"Dia gak punya jiwa seni," kata Fahri datar.
"Eh, ada Kara sama Cantika," celetuk Putra sambil melirik pintu.
Narisa langsung menoleh. Matanya sempat bergeser ke Cantika yang berdiri di dekat Kara. Hanya sebentar.
"Eh, santen, Sini."
Narisa melambaikan tangan seenaknya. Begitu Kara mendekat, Narisa langsung merangkul pundaknya dengan santai.
"Dia jago main gitar," katanya ke anak-anak band. "Suruh coba."
"Lah serius?" Fahri langsung menyodorkan gitar. "Nih."
Kara menoleh ke Narisa yang malah senyum-senyum sendiri. Dengan ekspresi malas, dia tetap mengambil gitar itu lalu memainkan melodi pendek.
Tidak lama. Tidak ribet. Tapi melodi itu langsung bikin beberapa anak melongo.
"Lah, bagus."
"Iya juga anjir."
"Buset. Kenapa gak gabung aja?"
Kara langsung menghela napas panjang. Dari tadi dia diajak sana sini.
Sementara itu Narisa malah terlihat paling bangga. Mirip mama muda yang anaknya baru menang lomba.
"Jago kan?" katanya sambil terkekeh kecil. Tangannya naik mengusap samping kepala Kara sembarangan.
"Berantakan rambut gw," kata Kara datar. "Emang gw anak anjing?"
Narisa memutar mata.
"Sok cakep banget. Rambut lo aja kasar kayak bacotnya Putri."
"Lah ngapa gw dibawa-bawa?" Putri langsung sewot.
"Udah lah," Kara menepis pelan tangan Narisa. "Gak usah diacak."
Narisa langsung mendelik. Tanpa bicara apa-apa lagi, dia berdiri lalu keluar dari ruang musik.
Satu ruangan mendadak hening.
Kara masih menatap pintu beberapa detik setelah Narisa pergi.
"Ngambek?" celetuk Putra.
"Kagak lah," sahut Fahri cepat. "Paling kebelet."
"Setuju," timpal Putri santai. "Tadi kita makan seblak level neraka."
Ruangan kembali ribut sendiri, tapi Kara masih sedikit mengernyit.
Dia tadi salah ngomong ya?
Sementara di tengah ruangan, Cantika diam-diam memperhatikan semuanya. Dan entah kenapa, kecurigaan di hatinya mulai terasa makin besar.
~
Akhir-akhir ini Narisa jadi sering nongkrong di pinggir lapangan basket sepulang sekolah. Bukan buat kasih semangat. Bukan juga karena tiba-tiba suka olahraga. Dia datang murni buat ngomel.
Sampai pernah satu kali salah satu anak basket heran sendiri.
"Lo sekarang rajin banget nongkrong di sini, Ris."
Narisa yang lagi duduk selonjoran sambil makan ciki langsung menjawab santai, "Gw tiba-tiba suka basket."
Anak-anak langsung melongo. Narisa melanjutkan tanpa dosa, "Tapi karena gw males main, ya nonton aja."
Final. Tidak bisa dibantah.
Sejak itu, keberadaan Narisa di pinggir lapangan malah jadi pemandangan biasa. Hari ini pun sama. Dia duduk sambil memegang snack dan minuman dingin, mulutnya sudah mulai berisik bahkan sebelum latihan selesai.
"Lo lompatnya kurang tinggi.","kepala lo miring tuh pas nembak.","Rambut lo iket yang bener napa? Ganggu visual.","Itu ring kurang rendah gak sih?"," Jaringnya juga kayak abis berantem."
Salah satu pemain langsung nyeletuk sambil ngos-ngosan, "Jaring ikan kali, Ris."
Anak-anak ketawa.
Pelatih mereka bahkan cuma geleng-geleng kepala sambil meniup peluit.
Anehnya, tiap Narisa tidak datang, anak-anak malah nanya.
"Risa mana?"
"Sepi banget njir."
Padahal yang dicari cuma sumber keributan.
Jam empat sore latihan akhirnya selesai. Kara langsung masuk ruang ganti bersama yang lain. Dia cuma ganti baju dan cuci muka seadanya tanpa mandi.
Bukan malas. Tapi pengalaman sudah mengajarkan satu hal penting: kalau Narisa menunggu terlalu lama, cewek itu bisa berubah jadi setan parkiran.
Begitu keluar menuju area motor, Cantika tiba-tiba muncul dari samping lorong dan berjalan di sebelah Kara.
Harum yang tadinya ikut jalan langsung melambat sendiri sambil pasang muka jijik.
"Kak, anterin pulang dong," kata Cantika santai. "Udah lama juga kakak gak main ke rumah."
Kara melirik sekilas.
Akhir-akhir ini Cantika memang makin sering nempel. Bukan tipe agresif yang terang-terangan, tapi cukup bikin dia capek mikir cara nolaknya.
"Aku kan mau kerja." Jawaban andalan.
"Yaudah aku ikut ke kafe deh," kata Cantika cepat. "Anggep aja customer."
"Kagak bisa. Kan harus pulang dulu."
"Aku ikut ke rumah kakak aja."
Kara langsung menatap lurus ke depan.
Nah.
Mulai ribet.
Dia menghela napas pendek tepat saat mereka sampai di parkiran. Harum yang sudah siap naik motor langsung pura-pura sibuk pasang helm.
"Kamu dianter Harum aja gimana?" kata Kara hati-hati.
Harum menoleh lambat. "Mantap. Jadi tumbal."
Cantika tersenyum kecil, tapi keliatan jelas kecewanya.
"Jadi gitu ya, kak." katanya pelan. "Yaudah deh. Aku gak enak maksa."
Setelah itu dia pergi ke arah depan sekolah sambil membuka ponselnya. Kara tahu pasti ujung-ujungnya pesan ojek online lagi.
"Rum, anterin gih," kata Kara sambil pakai helm.
Harum langsung mendengus. "Ogah. Masa gw nganter calon pacar orang."
Kara menurunkan kaca helmnya setengah. " Calon siapa? Ngadi-ngadi lo."
"Terus tuh anak nempel mulu kenapa?"
"Mana gw tau,"
"Oh, ngerti gw," Harum mengangguk-angguk. " Jadi dia itu cadangan?"
"Gila lo. Gw udah ngomong, njir."
"Gak usah bohong."
"Mulai posesif lo?"
Harum ngakak kecil, tapi sebelum dia sempat lanjut ngeledek, Kara sudah keburu menyalakan motor. Begitu keluar parkiran, Kara sempat berhenti sebentar di dekat Cantika.
"Sama Harum aja ya," katanya lgi.
Cantika mengangkat wajah. "Gapapa kak. Aku udah pesen ojek."
Kara diam sebentar, lalu mengangguk kecil. "Yaudah. Hati-hati."
Belum sempat Cantika menjawab, motor Kara sudah melaju pergi. Tidak lama kemudian, dia sampai di depan Indahmaret dekat sekolah. Dan benar saja. Narisa sudah nongkrong di parkiran dengan muka ditekuk.
Begitu melihat Kara datang, cewek itu langsung berdiri cepat dan berjalan mendekat dengan aura siap ribut.
Kara sengaja diam. Pengalaman kedua: kalau Narisa lagi manyun begini, salah ngomong sedikit bisa-bisa dia dicekik di jalan.
~
~
Kara makin heran karena Narisa masih cemberut.
Sampai di rumah, biasanya cewek itu langsung ganti baju lalu rebahan sambil nonton tv. Tapi hari ini tidak.
Padahal Kara sudah mengambil alih semua kerjaan dapur. Masak nasi, memanaskan lauk dari kulkas, bahkan membuat jus seadanya. Tetap saja Narisa tidak keluar kamar.
Setelah mandi, Kara melirik jam dinding. Setengah enam. Lima belas menit lagi dia harus berangkat ke kafe.
Karena malas cari masalah, kali ini dia memilih mengetuk dulu.
Tok. Tok. Tok.
Hening.
Kara mendesah panjang.
"Nah ini. Kalo gw ngetok malah gak dibukain."
Akhirnya dia membuka sendiri pintunya.
Ceklek.
Narisa sedang telungkup sambil main ponsel. Dia melirik sekilas sebelum kembali fokus ke layar.
"Ayo makan. Gw bentar lagi berangkat."
Narisa duduk pelan sambil memeluk bantal. Mukanya masih kusut.
"Lo kenapa sih?" Kara mendekat. "Gw ada salah?"
"Pikir aja sendiri," jawab Narisa jutek.
"Gak gitu dong. Itu jawaban sinetron emak-emak banget."
Bantal langsung melayang ke muka Kara.
Plak!
"Lo gak sadar?"
Kara mengernyit sambil menurunkan bantal. "Ya kagak, Emang apaan?"
Narisa menunjuknya dengan kesal.
"Lo nepis tangan gw."
Kara bengong.
"Hah?"
"Gw gak boleh pegang kepala lo?" omelnya makin panjang. "Bisa-bisanya lo tepis tangan gw depan orang. Atau jangan-jangan gara-gara ada pacar lo di sana?"
"Pacar siapa?"
"Itu. Cantika tapi gak cantik."
Kara melongo beberapa detik sebelum akhirnya sadar.
"Lo ngambek gara-gara itu doang?"
"Buat lo 'doang'. Buat gw enggak." Narisa membuang muka. "Bukan salah lo sih. Salah gw juga. Gak seharusnya gw pegang-pegang lo depan pacar lo."
Kara masih tidak habis pikir kenapa ujungnya jadi pacar lagi. Akhirnya dia menghela napas lalu membungkuk sedikit, sengaja mendekatkan kepalanya ke Narisa.
"Nih."
Narisa melirik.
"Nih apaan?"
"Pegang dah. Mau usel juga terserah."
Batin Kara cuma satu: Biar nih manusia adem dulu.
Narisa malah makin manyun,.
"Gak minat. Gw rasa lo lebih suka dipegang Cantika."
Kara langsung menarik tangan Narisa lalu menempelkannya ke kepalanya sendiri.
"Gak usah bawa-bawa Cantika. Dia cuma junior."
Bukannya luluh, Narisa malah menarik rambut Kara cukup keras.
"Aduh, anjir."
"Junior yang pernah lo cium."
"Itu juga lo tau ceritanya gimana."
"Yang gw tau bibir lo emang murah."
Kara langsung berdiri tegak.
"Gw murah? Maksudnya gw kayak Cakra gitu?"
Narisa melipat tangan.
"Ya mirip-mirip lah."
"Kalau gw kayak Cakra, dari awal lo udah gw apa-apain."
Narisa mendelik jijik.
"Dih. Najis banget omongan lo."
"Cakra emang gak gitu?"
"Maksud lo?"
Kara menatap Narisa beberapa detik.
"Sonya hamil,"
Narisa langsung melongo.
"Hah? Sumpah?"
"Iya."
"Kok gw gak tau?!"
"Dia udah dua minggu gak masuk."
"Gw kira gara-gara di jauhin anak-anak."
Kara mengusap wajah lelah.
"Yaudah pokoknya lo gak usah nyebarin."
Narisa masih bengong sendiri. Tapi beberapa detik kemudian matanya menyipit curiga.
"Lo kok bisa tau?"
"Di kelasnya ada anak basket." Lalu Kara menatap Narisa dari atas sampai bawah. "Jangan-jangan lo juga..."
Mata Narisa langsung membelalak.
"Mikir apaan lo?!"
"Ya... kali aja."
"Gw masih perawan, goblok!"
"Gw gak ngomong apa-apa," Kara buru-buru mundur sebelum dilempar barang lagi. "Mending makan dah. Gw udah mau telat."
"Minta libur."
"Lah kenapa?"
Bukannya menjawab, Narisa malah menarik bawah kaos rumahnya sampai dada. Kara langsung refleks menoleh ke arah lain.
"Lo ngapain?!"
Narisa malah santai.
"Gw gak suka difitnah, Cek sendiri aja."
"Cek apaan anjir. Pake baju lo yang bener."
"Jadi lo percaya gw?"
"Iya."
"Kok iya doang?"
"Iya-iya percaya."
Narisa akhirnya mendengus puas dan menurunkan kaosnya.
"Bagus."
Kara cuma bisa mengusap muka sendiri. Ini manusia kalau gak bikin kaget sehari kayaknya hidupnya kurang lengkap.
Narisa masih berdiri sambil melipat tangan dengan muka juteknya.
"Jadi?" tanyanya menuntut.
Kara menatap pasrah, "Jadi apa lagi?"
"Gw laper."
"Ya makan lah."
"Bujukin."
Kara langsung menatap datar.
"Amit-amit. Lo kayak bocah Tk."
"Oke." Narisa duduk lagi di kasur. "Gak makan."
Kara memejamkan mata sebentar.
Capek.
Benar-benar capek.
Akhirnya dia mendekat, lalu merangkul pundak Narisa asal sambil mendorongnya pelan ke arah pintu.
"Makan. Gak usah manja."
Narisa masih sempat ngomel sambil jalan.
"Ya iya lah. Gw kan bukan pacar. Ngapain dimanjain."
"Lo bini gw. Udah?"
Tadinya Kara pikir Narisa. bakal ngelawan lagi. Nyatanya cewek itu cuma mendecih pelan lalu balas merangkul pinggang Kara sambil jalan.
Kara melirik Narisa sebentar, lalu menghela napas kecil. Satu kalimat Harum tiba-tiba lewat di kepalanya.
"Gw rasa doi udah suka sama lo."
Kara langsung menggeleng sendiri. Daripada Narisa suka sama dia, dia lebih percaya UFO itu ada.
Yang aneh, tangannya malah naik mengusap punggung Narisa pelan. Tapi sayangnya perjalanan ke dapur ternyata singkat. Terlalu singkat.
.