NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:82.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Emran Richard sama sekali tidak mengatakan pada Annisa tentang rencananya menemui Darto hari itu. Pria itu tetap bersikap tenang seperti biasa selama sarapan berlangsung.

Sementara, Annisa duduk diam di meja makan panjang mansion itu dengan perasaan canggung yang masih belum hilang. Meski pelayan terus melayaninya dengan hormat, dirinya tetap belum terbiasa diperlakukan seperti itu lagi.

Setelah sarapan selesai, Annisa akhirnya meminta perawat pribadi yang berjaga untuk melepaskan infus di tangannya.

“Kondisi saya sudah lebih baik,” ucapnya pelan.

Perawat sempat ragu, tetapi setelah memeriksa keadaan Annisa dan mendapat izin dari dokter, infus itu akhirnya dilepas. Tubuhnya memang masih sedikit lemas, namun setidaknya sudah jauh lebih baik dibanding semalam. Dirinya berjalan pelan menyusuri tangga lantai dasar mansion.

Dan tepat saat tiba di bawah, Annisa melihat Emran yang tampaknya hendak pergi. Pria itu berdiri rapi dengan setelan jas hitam mahal, sementara Han sudah menunggu di dekat pintu utama sambil membawa beberapa dokumen.

Langkah Annisa langsung terhenti. Emran yang melihatnya spontan mengernyit tipis.

“Kamu mau ke mana?” Nada suaranya terdengar datar, tetapi jelas seperti sedang memastikan sesuatu. Annisa menggenggam ujung cardigan yang dipakainya pelan.

“Aku hanya mau jalan-jalan di halaman mansion,” jawabnya pelan. “Di kamar terus itu bikin bosan”

Tatapan Emran meneliti wajah Annisa beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk tipis.

“Saya akan pergi ke perusahaan.”

Annisa sedikit mengangguk paham. Namun, sebelum wanita itu sempat bergerak, Emran kembali berkata tegas,

“Dan jangan tinggalkan mansion sebelum saya pulang.”

Annisa sedikit terdiam mendengar nada perintah itu. Tetapi akhirnya ia hanya mengangguk kecil.

“Baik,” suasana sempat hening beberapa detik sebelum Annisa kembali berkata lirih,

“Satu hal lagi...”

Emran menatapnya.

“Tolong jangan beri tahu Ayah kalau saya ada di sini.”

Tatapan Emran sedikit berubah.

Annisa menunduk pelan. “Aku tidak mau Beliau gelisah.”

Kalimat itu membuat Emran terdiam sesaat. Padahal, pria itu tahu, kalau Darto melihat kondisi putrinya sekarang, bukan sekadar gelisah. Mungkin pria tua itu akan menghancurkan semuanya saat itu juga.

“Kamu punya rencana?” Pertanyaan Emran Richard membuat Annisa perlahan mengangkat wajahnya.

Wanita itu terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Ada.”

Emran menatapnya lurus menunggu kelanjutan jawaban itu.

Annisa justru berkata pelan,

“Nanti saat Anda pulang ... kita bicarakan.” Suaranya terdengar jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak berada di mansion itu, Annisa menatap Emran dengan tulus.

“Terima kasih, Tuan Emran.” Senyum kecil terbit di wajah pucat wanita itu. Itu adalah senyum pertama yang Emran lihat darinya hari ini.

Langkah pria itu langsung terasa kaku sesaat. Tatapan matanya bahkan sedikit membeku. Jantungnya berdetak aneh untuk sepersekian detik. Han yang berdiri tidak jauh dari sana sampai melirik diam-diam ke arah tuannya. Karena wajah Emran yang biasanya dingin mendadak terlihat tidak natural.

Namun, seperti biasa, pria itu segera menutupi semuanya. Emran berdeham pelan lalu membenarkan jas di tubuhnya dengan tenang.

“Jangan terlalu banyak berjalan,” ucapnya datar tanpa menatap Annisa lagi. “Kondisimu belum pulih.” Setelah mengatakan itu, pria tersebut langsung berbalik dan berjalan keluar mansion. Langkahnya tetap tenang dan berwibawa.

Begitu pintu utama tertutup, Han yang mengikuti di belakang diam-diam melihat ujung telinga tuannya sedikit memerah. Dan itu membuat Han hampir tidak percaya pada penglihatannya sendiri.

Mobil mewah itu perlahan meninggalkan halaman mansion.

Suasana di dalam mobil terasa tenang, hanya suara mesin dan rintik hujan kecil yang masih tersisa terdengar samar.

Emran Richard duduk bersandar di kursi belakang dengan tatapan lurus ke depan.

Sementara Han fokus menyetir di kursi depan.

Namun beberapa menit kemudian, Emran tiba-tiba membuka suara, “Han.”

“Ya, Tuan?”

“Selidiki keluarga Emeli juga.”

Han langsung sedikit menoleh lewat kaca tengah. “Dokter Emeli?”

Emran mengangguk tipis. Tatapan pria itu perlahan menggelap mengingat kembali semua data yang semalam ia baca tentang kehidupan Annisa.

“Aku yakin ada sesuatu yang terjadi,” ucap Emran rendah. “Dan wanita itu terlibat.”

Han terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata hati-hati, “Anda mencurigai hasil pemeriksaan Nona Annisa?”

“Bukan mencurigai.”

Nada suara Emran terdengar begitu yakin. “Aku hampir memastikan.”

Han langsung memahami maksud tuannya.

Karena memang terasa aneh.

Bagaimana mungkin wanita seperti Annisa yang terlihat sehat justru divonis mandul berkali-kali oleh dokter yang sama—

Dan di saat bersamaan, dokter itu malah memiliki hubungan dengan Haikal.

“Cari semua data tentang Emeli.” Tatapan Emran berubah tajam. “Riwayat rumah sakit, hubungan keluarganya, sampai kehidupan pribadinya.”

“Baik, Tuan.”

“Dan satu lagi.”

Han kembali fokus mendengar.

“Jangan sampai mereka sadar sedang diawasi.”

Han langsung mengangguk mantap.

“Saya mengerti.”

Mobil kembali melaju membelah jalanan kota. Sementara di kursi belakang, tatapan Emran perlahan berubah dingin.

Sementara itu, di sebuah restoran mewah di pusat kota, suasana pagi terasa jauh berbeda. Tawa pelan dan obrolan ringan terdengar dari meja dekat jendela. Haikal duduk santai sambil memainkan sebuah map cokelat di tangannya.

Di depannya, Dokter Emeli terlihat begitu bahagia sejak tadi.

“Jadi semuanya selesai?” tanya Emeli penuh antusias.

Haikal tersenyum puas lalu mengetuk pelan map tersebut.

“Sudah.”

Pria itu mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari dalam map dan menyerahkannya pada Emeli.

“Itu surat perceraian resmi.”

Tatapan Emeli langsung berbinar senang.

Senyum di wajahnya semakin lebar saat membaca nama Annisa yang kini resmi bukan lagi istri Haikal.

“Cepat sekali,” ucapnya puas.

Haikal tertawa kecil. “Untung temanmu membantu.”

Emeli tersenyum bangga. Salah satu teman dekatnya memang seorang pengacara yang cukup berpengaruh. Dan dengan bantuan itu, proses perceraian dibuat berjalan sangat cepat. Bahkan, tanpa kehadiran Annisa, tidak hanya itu, di dalam gugatan tersebut, mereka juga memasukkan berbagai tuduhan palsu.

Mulai dari Annisa yang dianggap tidak menghormati suami. Membangkang pada keluarga mertua. Hingga tuduhan perselingkuhan yang sama sekali tidak pernah terjadi. Dan semuanya, berhasil dikabulkan begitu saja oleh pengadilan agama.

“Sekarang dia benar-benar tidak punya apa-apa,” kata Haikal sambil tersenyum puas.

Emeli ikut tertawa kecil. Namun, beberapa detik kemudian Haikal tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari sakunya.

Mata Emeli langsung membesar. Pria itu membuka kotak tersebut perlahan. Sebuah cincin berlian berkilau terlihat di dalamnya.

“Emeli,” ucap Haikal lembut penuh percaya diri, “maukah kamu jadi istriku?”

Wajah Emeli langsung berseri-seri penuh kemenangan. Tanpa ragu sedikit pun, wanita itu mengangguk cepat.

“Mau!”

Haikal tersenyum lebar lalu mengambil tangan Emeli untuk memasangkan cincin tersebut. Keduanya terlihat begitu bahagia.

1
Ass Yfa
puas bngt....hhh aku...liat mereka hancur tak bersisa...yg paling berat sanksi sosial...bisa2 jadi gila
Ass Yfa
modar ra kowe...😒
Ass Yfa
heh..Haikal bidoh apa oon ..nempermalukan diri sendiri
Ratih Tupperware Denpasar
haikal ini juga aneh wkt ibunya menghina anisa dia malqh mendukung ibunya bahkan menerima dr gadungan itu.. skr baru nyalahin ibunya. kalo kamu cinta beneran sama anisa harusnya bela thu istrimu bukan malak mengikuti permainan ibumi dan menalak anisa....dasar kamunya aja yg plinplan
Sri Widiyarti
puas banget bacanya....
Sri Widiyarti
makasih banyak kak up-nya 🥰
Les Tary
lasmi gaya gayaan...kyk dia sendiri kaya sampai merendahkan annisa
iqha_24
penyesalan datang belakangan yaa kan Haikal wkwkwk
爾妮
lanjutkan tor🤣🤣
dyah EkaPratiwi
rasakan Haikal nyesel kan
Dew666
💄💄💄
mariammarife
yo ngga bisa lngsng nikah hrs menunggu masa Iddah nya Annisa beres dulu pak Darto
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kalo sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga
Mutaharotin Rotin
rasain kalian bertiga kena karma nya 😂😂
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut thor 🥰🥰🥰
mariammarife
mas Emran jgn terburu² ngajak Annisa nikah harus nya nunggu masa Iddah nya selesai
Les Tary
emeli minta tolong annisa bilang jgn hancurkan hidupku...ga salah ngomong itu org
Teh Euis Tea
rasain kalian jd gembel, puaslah
Oma Gavin
akhirnya mereka bertiga jadi gembel kere gelandangan
Abisatya
lanjut kk🙏💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!