NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 26

“Stefani?” Mata Alyra membulat sempurna kala mendengar sebuah nama yang cukup familiar.

“Iya, Al.” Suara Annika merendah, namun saat melihat respon tak biasa dari sahabatnya, ia kembali mengajukan tanya. “Lo kenal?”

Alyra hanya membalas dengan gelengan kepala.

“Penulis, Alyra. Anda dipanggil ke ruangan Bu Sisil!” seru salah satu staf yang mendekati dua sahabat tengah berbincang.

Keduanya menoleh bersamaan.

“Baik, terima kasih,” sahut Alyra.

Kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju ruang produser eksekutif — Sisilia Lukman.

.

.

.

Seorang wanita berusia empat puluh tahunan lebih, berdiri dengan raut lelah, rambutnya telah berwarna dua — hitam pekat di bagian bawah, sementara bagian atas mulai memudar akibat cat rambut yang tak lagi sempurna menutupi uban.

Garis samar di sekitar matanya mempertegas usia, namun sorot tatapannya masih menyimpan ketegasan yang sulit diabaikan.

Sisilia menatap tegas sang bawahan, seorang penulis yang telah dikontrak di bawah kepemimpinannya.

“Silakan duduk, Penulis Alyra, Editor Annika.” Wanita paruh baya itu menatap bergantian.

“Baik, Bu.” Keduanya mulai duduk di sofa yang telah disediakan, di dalam ruangan yang cukup luas, cukup elit untuk sekelas produser eksekutif.

“Coba jelaskan,” suara Sisilia terdengar menekan. Ia mulai membuka perbincangan. “Bagaimana bisa naskah yang belum dirilis itu bisa bocor?”

Annika mengangkat wajah, menatap tanpa ragu netra pekat yang terus menyorotkan kecurigaan. “Saya sama sekali tidak melakukan tindakan curang, apalagi membocorkan naskah tersebut, Bu.”

Sebagai editor yang memegang penuh naskah milik Alyra, posisi Annika kini berada di ujung tanduk. Semua akses mengarah padanya, menjadikan wanita itu tersangka utama dalam kasus kebocoran tersebut.

Tatapan Sisilia yang tertuju padanya terasa seperti tuduhan tanpa suara, membuatnya tertekan dan merasa terpojok.

“Kau bisa mempercayai editor-mu, Nona Alyra?” sang atasan menatap penuh tanya.

“Iya, Bu. Selama hampir sepuluh tahun bekerja bersama … saya sama sekali tidak menaruh rasa curiga kepada Annika,” sahutnya dengan yakin.

Sang produser manggut-manggut, tak bersuara sejenak. Duduk menyilangkan kedua kakinya, tatapannya turun seolah tengah menimbang sesuatu di dalam kepala.

Kemudian ia menyandarkan tubuh ke sofa, menatap Alyra dengan sorot mata tajam.

“Kalau begitu,” ucapnya perlahan. “Permasalahannya ada pada dirimu, Nona Alyra.” Sisilia kemudian mengubah posisi, sedikit mencondongkan tubuh. “Kau … benar-benar tidak melakukan plagiat?”

Pertanyaan menohok itu membuat Annika tercengang, sementara Alyra hanya merespon dengan tatapan datar.

Bibir ranum pucat itu setengah bergetar, sudutnya terangkat mencetak senyum seringai. “Anda … tidak mempercayai saya, Bu Sisilia?”

Sisilia membalas dengan senyum tipis, kemudian menarik tubuh, kembali bersandar pada sandaran sofa.

“Di dalam keadaan genting seperti ini … saya harus berpikir rasional. Semuanya terlihat mencurigakan,” ucapnya dengan gamblang. “Saya sudah meminta staf mengecek cctv sepanjang pekan kemarin, tapi tak ada orang asing ataupun tindakan mencurigakan yang ada di dalam ruang divisi penulis.”

Wanita berpenampilan mencolok itu berdiri, memperlihatkan sebuah gaun bercorak bunga, mengembang di bagian bawahnya.

“Bila editornya tak mencurigakan … saya harus bertanya sekali lagi kepada penulisnya.” Ia menatap penuh serangan ke arah sang penulis. “Penulis Alyra. Sekali lagi saya ingin bertanya, jawablah dengan jujur.”

Alyra masih menatap tenang, sama sekali tak menunjukan sorot mata gugup, atau pun terguncang.

“Benarkah Anda tidak memplagiat karya tersebut?” Sisilia masih terus menyerang.

Alyra balik menatap tajam, raut wajahnya terlihat penuh tekad. “Bu Sisilia …,” ucapnya dengan suara ditekan. “Izinkan saya sekali lagi menjawab dengan kejujuran. Saya … tidak memplagiat karya tersebut.”

“Baiklah ….” Sisilia kembali mengangguk. Ia menjeda sejenak, kembali berpikir keras. “Karena kasus ini sudah tersebar luas di sosial media, perusahaan tidak bisa menindaklanjuti karena tidak adanya bukti kuat. Anda bersitegas tidak mengakui bahwa memplagiat, dan pihak Stefani juga mengakui hal yang sama.”

“Saya rasa … proyek berikutnya kita tunda dahulu, sambil menunggu huru-hara ini mereda—”

“Perusahaan tidak bisa menindaklanjuti?” Alyra menyela, kini tatapannya lebih dingin tak setenang tadi. “Bagaimana bisa perusahaan besar seperti ini tidak memiliki kemampuan melindungi karyawannya?”

“Alyra ….” Sisilia tak lagi menggunakan bahasa formal, menatap tajam sang bawahan. “Stefani bukanlah seseorang yang bisa kamu lawan. Dia penulis pemilik nama cukup besar,” katanya dengan nada rendah. “Lihat saja di sosmed, tidak ada satupun netizen yang memihak dirimu. Perusahaan sudah cukup menanggung dampak dari kasus ini, kami tidak melayangkan tuntutan saja seharusnya kamu sudah bersyukur.”

“Lagipula … kontrakmu akan berakhir bulan ini, buang-buang tenaga saja mengurus masalah tak berbobot seperti ini,” lanjutnya dengan nada bicara angkuh.

Alyra menyeringai tajam. “Itukah alasannya?” Senyumnya tipis, tetapi dingin menusuk. “Baiklah … saya akan mengurusnya sendiri. Sebagai jaminan agar perusahaan tidak merugi atas kasus ini … saya akan mengundurkan diri.”

Wanita hamil itu berdiri, lalu menundukan kepala dengan hormat ke arah sang atasan. Kemudian berbalik, meninggalkan ruangan.

Sementara Annika menyusul, melangkah tergesa mengikuti sahabatnya.

Menyisakan Sisilia yang berdiri di dalam ruangan dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

.

.

.

Sebuah mobil tipe Mercy melaju stabil membelah jalanan kota siang itu. Andi duduk di balik kemudi dengan tatapan fokus, kedua tangannya menggenggam setir, sesekali matanya melirik ke spion tengah.

Di kursi belakang, sosok rupawan duduk menyandarkan bahu dengan wajah masam. Tatapannya kosong menembus jendela mobil, seolah pikirannya tengah dipenuhi sesuatu yang mengusik.

‘Ada apa dengannya?’ monolog Andi nyaris bocor bersuara.

“Fokuslah menyetir, jangan meleng,” tegur sang tuan yang menyadari ekor mata Andi terus melirik penuh tanya.

“Baik, Tuan.” Andi kembali menatap lurus.

Suasana kembali hening, hingga sebuah notifikasi pesan memecah sunyi di antara deru mesin dan hembusan dingin AC mobil.

Andi refleks melirik ke spion tengah, sementara pria di kursi belakang akhirnya mengalihkan pandangan dari jendela. Ia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping paha, lalu membaca isi pesan yang masuk.

Dalam sekejap, sorot matanya berubah tajam. Rahangnya mengeras, jemarinya mencengkeram ponsel sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

“Andi. Putar balik sekarang,” titahnya tegas pada sang asisten.

“Ke mana tujuan kita, Tuan?” Andi masih siaga pada setir kemudi.

“Rumah produksi Star Gold!”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!