Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Sang Dewi
Kemenangan atas pasukan Serigala Hitam menyisakan puing-puing yang berasap, namun kota mulai bernapas kembali. Kaisar Tian Long, yang meskipun masih lemah akibat racun, mulai memimpin pembersihan istana. Namun, perhatiannya tak pernah lepas dari Li Hua.
Li Hua sendiri merasa ada yang tidak beres. Sejak ia menghancurkan pasukan di lorong air, penglihatan dalam cermin perunggunya menjadi semakin jelas dan menghantui. Setiap kali ia melihat pantulan wajah cantiknya, bayangan itu seolah-olah mulai retak dan memudar.
Puncak Gunung Giok: Pertemuan dengan Takdir
Sesuai dengan petunjuk dalam penglihatannya, Li Hua melakukan perjalanan rahasia ke Puncak Gunung Giok, tempat yang dikatakan sebagai titik terdekat antara bumi dan langit. Di sana, di bawah pohon plum yang meranggas, berdirilah seorang pria berjubah putih bersih. Ia bukan Si Buta He, melainkan sosok yang jauh lebih agung, dengan mata yang menampung ribuan tahun sejarah.
"Kau datang, Li Hua," suara pria itu seperti hembusan angin pegunungan.
"Siapa kau?" tanya Li Hua. "Dan mengapa kau terus mengujiku?"
"Aku adalah Penjaga Keseimbangan. Kau telah menggunakan kesempatan keduamu dengan luar biasa. Kau menyelamatkan kerajaan, kau menghancurkan pengkhianat, dan kau belajar mencintai jiwamu yang terluka," ucap sang Penjaga. "Namun, hukum alam tidak bisa selamanya dilanggar. Raga Permaisuri Xuan menolakmu karena ia memang seharusnya sudah mati."
Li Hua merasakan kakinya kembali berdenyut perih rasa sakit yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. "Apa yang harus kulakukan?"
Pria itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan sebening air mata. "Ini adalah penawar untuk penyakitmu. Jika kau meminumnya, jiwamu akan benar-benar menyatu dengan raga ini. Kau akan tetap cantik, kau akan menjadi Ratu selamanya, dan kau akan hidup bahagia bersama kaisar Tian Long."
Li Hua mengulurkan tangannya, namun sang Penjaga menarik botol itu kembali.
"Tapi ada harganya. Jika kau memilih kecantikan abadi ini, maka seluruh ingatanmu tentang masa lalumu sebagai si buruk rupa akan dihapus. Kau akan lupa betapa sakitnya lapar, kau akan lupa rasanya dihina, dan kau akan menjadi Ratu yang sama dangkalnya dengan Xuan yang asli. Karena tanpa penderitaan itu, kau bukan lagi Li Hua."
Li Hua tertegun. "Lalu, apa pilihan lainnya?"
"Tinggalkan raga ini. Kembali ke jati dirimu yang sebenarnya. Penyakitmu akan sembuh, tapi kau akan kembali ke wajahmu yang lama—wajah yang penuh luka dan cacat. Kau akan hidup sebagai Li Hua, namun dengan jiwa seorang Ratu."
Dilema Sang Ratu
Li Hua jatuh bersimpuh di atas salju. Pilihan yang kejam.
Pilihan pertama: Menjadi cantik, dicintai semua orang, tapi kehilangan jati diri dan empati yang membuatnya menjadi penyelamat rakyat.
Pilihan kedua: Menjadi "monster" kembali di mata dunia, kehilangan posisi sebagai Ratu, namun tetap memiliki integritas dan memori yang membentuknya.
"Tian Long mencintaiku karena jiwaku... atau karena wajah ini?" bisik Li Hua pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di atas salju. Tian Long muncul dari balik kabut. Ia rupanya mengikuti Li Hua secara diam-diam. Ia mendengar seluruh percakapan itu.
"Aku tidak butuh seorang Ratu yang cantik tapi tidak mengenal dirinya sendiri," ucap Tian Long dengan suara serak namun penuh cinta. "Aku jatuh cinta pada wanita yang merangkak di debu demi seorang anak pengemis. Aku jatuh cinta pada wanita yang berani mengungkap kebenaran meski nyawanya terancam. Jika kecantikan itu adalah penjara bagi jiwamu, maka hancurkan saja penjara itu."