Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 Night Fall
*Gasp!*
Aku terbangun, nafas terengah-engah, metaku terbelalak akan mimpi semalam.
Seingatku, semalam aku pulang bersama Raka yang mendorong motor karena mogok. Setelah itu... Setelah itu, yang aku ingat hanya potongan dari kejadian semalam.
Aku ingat makan malam, aku ingat bapak berbicara dengan ibu mengenai ladang. Tapi aku tidak ingat kapan aku tertidur.
Aku duduk di ranjang, keringat masih menempel di pelipis. Nafasku belum sepenuhnya teratur, aku sekali lagi mencoba untuk mengingat kembali.
Makan malam, suara bapak yang berat ketika membicarakan ladang, ibu yang sesekali menimpali dengan nada tenang. Lalu… gelap. Tidak ada ingatan jelas kapan mataku terpejam.
Namun ada sesuatu yang tertinggal, samar tapi kuat. Perasaan itu masih menempel di tubuhku, rindu yang menyesakkan, takut kehilangan, dan kehangatan yang anehnya membuatku ingin kembali tertidur.
Aku menutup mata, membiarkan bayangan itu perlahan muncul. Namun bukannya ingatan tentang kejadian semalam, aku malah dapat mengingat mimpiku barusan.
Perasaan mengawang, seperti tengah mengapung di laut lepas yang tenang tanpa ada gelombang.
...Sepertinya, malam ini aku bertemu dengan Marcel lewat mimpi....
Mencoba fokus, aku membanting tubuh ke kasur dan memeluk guling sangat erat demi dapat mengingat lebih jauh mengenai mimpi semalam. Aku memeluk guling semakin erat, mencoba menahan bayangan Marcel agar tidak hilang.
Rasanya aneh, sudah lama aku meninggalkan kota, meninggalkan Marcel, tapi malam ini ia kembali hadir lewat mimpi.
Ada perasaan yang tercampur antara rindu samar yang menyesakkan, ketakutan akan luka lama, dan kehangatan yang tak bisa kutolak.
Marcel berdiri di jalan itu, menatapku dengan mata yang dulu begitu akrab. Senyumnya tidak berubah, senyum yang dulu membuatku merasa aman, tapi kini justru membuat dadaku bergetar.
Dia duduk di bangku cafe, menyilangkan kakinya sembari menghembuskan asap rokok tipis ke udara, lalu segera tersenyum ketika menyadari kedatanganku.
Aku menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. "Curang! Kenapa harus Marcel?” ungkapku geram.
Aku menggigit guling lalu menarik gigitan itu, cukup kuat hingga membuat kainnya mengeluarkan suara sobek.
Enggan bila harus mengingat Marcel, namun benci pun dapat luluh bila senyumannya tetap bersarang di kepala.
Lama di kota, aku mengenal Marcel yang pada akhirnya menjadi kekasihku pada saat itu.
Pria manis berkulit sawo matang yang begitu kontras dengan kulitku. Warna kulit berbeda dan tubuh tingginya, membuat kami tampak seperti susu di dalam cawan perunggu, ketika dia memelukku.
Aku yang kerap kikuk, sering kali berlindung di balik punggungnya, terutama tatkala harus memesan makanan di resto cepat saji.
Aku menutup mata, mencoba menahan bayangan Marcel agar tidak semakin jelas. Tapi justru kenangan itu datang, kenangan yang dulu membuatku memilih pergi.
Marcel... Pria ideal yang selalu lembut ketika berbicara. Senyumnya ramah, kata-katanya ringan, dan setiap orang merasa nyaman di dekatnya.
Kelembutan yang dulu membuatku jatuh hati, dan juga alasan bagi kami untuk berpisah.
Aku masih ingat bagaimana setiap kali kami berjalan di kota, selalu ada wanita yang menyapanya, tertawa dengan caranya yang hangat.
Aku berdiri di sampingnya, kaku, merasa kecil. Senyum Marcel yang dulu jadi milikku, perlahan terasa seperti milik semua orang.
Aku tahu, bukan salahnya menjadi ramah. Tapi hatiku tak sanggup menahan rasa cemburu yang terus tumbuh.
Hingga akhirnya, aku ketahui kalau aku hanyalah wanita kedua.
Aku terdiam, tubuhku kaku di atas ranjang. Kata-kata itu kembali bergema di kepalaku wanita kedua. Luka yang dulu kupikir sudah tertutup, ternyata masih berdarah sampai ke dalam mimpi.
Aku ingat malam terakhir bersamanya, ketika aku lihat ada notifikasi di ponselnya yang bertuliskan sayang dari orang lain.
Aku menutup mata, berharap mimpi itu tidak pernah datang. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu kalau Marcel akan selalu menemukan jalan untuk kembali, meski hanya lewat mimpi.
Aku membuka mata, menatap langit-langit kamar yang gelap. Nafasku berat, pelukan pada guling mulai mengendur.
Hingga tibalah suara lama yang tidak pernah aku dengar, keluar dari ponselku. Nada dering panggilan masuk, berbunyi keras mengganggu telinga.
Nada dering itu terus berulang, menusuk telinga, membuat jantungku berdetak semakin cepat. Aku meraih ponsel di meja kecil samping ranjang, layar menyala terang menembus gelap kamar.
Nomor asing.
Tanganku bergetar, keringat di pelipis semakin deras. Aku menatap layar itu lama, seakan menimbang apakah harus menjawab atau membiarkan panggilan itu lenyap.
*Tut!* "...Halo?"
"Mira, Ini aku..." jeda panjang, lalu suara itu menjadi lebih jelas. "Marcel."