Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi harinya di SMA Pelita Bangsa, suasana sudah mulai ramai. Di koridor utama yang menuju ke arah laboratorium, Arkan sedang berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding, tampak sedang menunggu seseorang. Namun, ketenangannya terusik ketika segerombolan siswi dengan aroma parfum yang menyengat mendekat.
Itu adalah Tasya dan geng The Roses.
"Arkan! Akhirnya ketemu juga," sapa Tasya dengan suara yang dibuat-manis. Ia berdiri tepat di depan Arkan, sengaja memilin ujung rambutnya yang diwarnai highlight cokelat.
"Gue denger lo pegang proyek panggung pensi ya? Kenapa nggak bilang gue? Gue bisa banget lho bantu sponsorin biar panggungnya makin mewah."
Arkan tidak bergeming. Tatapannya tetap lurus ke depan, melewati kepala Tasya seolah gadis itu hanyalah tiang listrik. "Nggak perlu. Semua sudah diatur."
"Duh, kaku banget sih," Tasya tertawa kecil, mencoba menyentuh lengan jaket Arkan.
"Nanti malem ada acara di rumah gue, cuma buat kalangan terbatas. Lo dateng ya? Gue udah pesen catering khusus dari hotel bintang lima yang lo suka."
Di balik pilar yang hanya berjarak beberapa meter, Naura berdiri sambil berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Namun, telinganya terpasang lebar-lebar. Ia menahan tawa melihat wajah Arkan yang tampak sangat menderita menghadapi "serangan fajar" dari Tasya.
"Ehem!" Naura sengaja berdehem keras sambil melangkah keluar dari balik pilar, mendekati mereka dengan senyum ceria andalannya. "Wah, pagi-pagi udah ada yang dapet tawaran catering hotel bintang lima nih. Enak ya jadi cowok kulkas, banyak yang mau 'manasin' suasananya."
Tasya menoleh, matanya langsung menyipit tajam saat melihat Naura. "Oh, anak baru. Ada urusan apa lo di sini?"
"Nggak ada urusan apa-apa sih, cuma mau lewat aja," sahut Naura santai, matanya melirik Arkan dengan penuh ejekan. "Tadi gue denger soal acara di rumah Tasya... Arkan, lo nggak boleh nolak lho. Kapan lagi bisa dapet sponsor panggung sekaligus makan gratis? Mana tahu nanti di sana lo bisa diajarin caranya jadi 'manusia' dikit."
Arkan menatap Naura dengan tatapan membunuh. Ia tahu Naura sengaja memanas-manasi keadaan.
"Tuh kan, Naura aja setuju!" Tasya kembali menatap Arkan dengan penuh harap, sama sekali tidak menyadari bahwa Naura sedang menjadikannya bahan ledekan. "Jadi gimana, Kan? Dateng ya?"
Arkan menarik napas panjang, lalu menatap Naura dengan dingin. "Gue ada urusan penting. Sama dia," ucap Arkan sambil menunjuk Naura dengan dagunya.
"Eh?" Naura sedikit tersentak.
"Kita harus cek lokasi server... eh, maksud gue lokasi panggung sekarang," lanjut Arkan cepat, suaranya kembali datar. Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Tasya yang terpaku, seolah-olah memberikan isyarat agar Naura segera mengikutinya.
Naura tertawa kecil melihat ekspresi kesal Tasya, lalu berlari kecil mengejar Arkan. Begitu mereka sudah cukup jauh dari jangkauan telinga orang lain, Naura langsung menyenggol lengan Arkan.
"Ciyee... ditungguin menteri masa depan tuh. Kenapa ditolak? Padahal kalau lo jadi sama Tasya, misi kita nyelametin Maya bakal makin gampang, kan?" ledek Naura sambil menahan tawa.
"Berhenti bercanda, Naura," desis Arkan. "Gue nggak suka cara dia mandang gue. Dan gue nggak butuh bantuan 'sponsor' buat urusan ini."
"Oh ya? Masa? Tapi muka lo tadi lucu banget pas dia mau pegang tangan lo. Kayak mau digigit singa," Naura tertawa lepas, kali ini tawa yang benar-benar asli.
Arkan berhenti melangkah secara mendadak, membuat Naura hampir menabrak punggungnya. Arkan berbalik, menatap Naura dengan serius. "Simpan tawa lo buat nanti setelah kita berhasil masuk ke ruang server. Sekarang, fokus. Tasya ada di sini, itu artinya dia bakal sibuk di kelas selama satu jam ke depan. Ini waktu kita."
Naura langsung mengubah ekspresinya. "Oke, oke. Sori. Jadi, kunci cadangan yang lo bilang itu beneran ada?"
"Simpan tawa lo buat nanti. Sekarang, pasang telinga," bisik Arkan sambil menarik Naura masuk ke lorong sepi menuju sayap barat lantai tiga.
Naura langsung beralih ke mode serius. Senyum cerianya hilang, digantikan oleh tatapan tajam yang memetakan setiap posisi kamera di plafon. "CCTV di depan pintu ruang server punya blind spot setiap lima detik saat lensanya berputar ke kiri. Gue yang hitung waktunya, lo yang buka pintunya," instruksi Naura pelan.
Arkan mengeluarkan sebuah kartu akses putih polos dari sakunya. "Gue udah modifikasi frekuensi kartu ini. Tapi kita cuma punya waktu tiga menit sebelum sistem pusat mendeteksi adanya akses ilegal."
"Tiga menit? Terlalu lama. Gue bisa lakuin itu dalam dua menit," balas Naura menantang.
Mereka berhenti di tikungan terakhir. Naura menatap pergerakan kamera CCTV dengan saksama. "Satu... dua... sekarang!"
Keduanya berlari senyap. Arkan menempelkan kartu ke panel sensor. Klik. Lampu indikator berubah hijau. Mereka menyelinap masuk tepat saat lensa kamera kembali berputar ke arah pintu.
Di dalam, ruangan itu sangat dingin dan dipenuhi suara dengung mesin server. Cahaya biru dan hijau berkedip-kedip di kegelapan. Arkan langsung menuju komputer induk, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa.
"Naura, jaga pintu. Kalau ada suara langkah kaki, kasih kode," perintah Arkan tanpa menoleh.
Naura berdiri menempel di balik pintu, telinganya ditekan ke permukaan kayu. Di luar, suara aktivitas sekolah terdengar lamat-lamat. Namun, tiba-tiba, detak jantung Naura berpacu lebih cepat. Sayup-sayup terdengar suara tawa yang sangat ia kenali.
"Tasya..." bisik Naura tegang. "Dia ke arah sini bareng gengnya!"
Arkan tidak berhenti. "Satu menit lagi. Gue lagi nembus enkripsi folder tersembunyi milik bokapnya. Isinya bukan cuma foto Maya, tapi semua data murid beasiswa yang mereka intimidasi."
"Cepetan, Arkan! Mereka makin deket!" Naura mengintip lewat celah kecil. Tasya tampak sedang membetulkan riasannya di depan kaca koridor, tepat di samping ruang server.
"Ayo, Arkan... come on..." gumam Naura. Ia mulai memikirkan rencana darurat. Jika pintu terbuka, ia harus siap kembali ke mode "gadis polos" yang tersesat, tapi bagaimana dengan Arkan yang sedang meretas?
"Dapet!" Arkan mencabut flashdisk-nya.
"Semua folder terhapus dari server sekolah dan salinannya ada di gue. Sekarang kita harus keluar."
"Nggak bisa! Mereka tepat di depan pintu!" Naura menahan napas. Gagang pintu luar mulai bergerak. Tasya sepertinya mencoba mengecek apakah ruangan itu terkunci atau tidak.
Dalam kegelapan ruang server, Arkan tiba-tiba menarik lengan Naura, membawa gadis itu masuk ke celah sempit di antara rak server besar. Jarak mereka sangat dekat hingga Naura bisa merasakan deru napas Arkan yang tertahan di dekat telinganya.
Ceklek. Pintu terbuka sedikit. Cahaya dari koridor masuk menyinari ruangan. "Lho, kok nggak dikunci?" suara Tasya terdengar melengking. "Tadi perasaan gue liat ada bayangan masuk ke sini. Eh, bau parfum apaan nih? Kok kayak bau... Naura?"
Naura mematung. Ia lupa kalau ia memakai parfum yang cukup khas pagi tadi. Di sampingnya, tangan Arkan perlahan bergerak ke arah sakunya, seolah siap melakukan sesuatu jika mereka ketahuan.
"Mungkin cuma perasaan lo aja, Tas. Yuk ah, kantin yuk, keburu bel masuk," sahut teman Tasya dari luar.
Pintu kembali tertutup. Naura mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Namun, ia baru sadar bahwa ia masih berada dalam dekapan Arkan di sela-sela mesin yang sempit.
"Udah pergi," bisik Arkan pelan, namun ia tidak segera menjauh. Matanya menatap Naura dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Lain kali, jangan pake parfum kalau mau menyusup."
Naura berdehem canggung dan segera mendorong bahu Arkan pelan untuk keluar dari celah itu. "Bilang aja makasih karena insting gue bener soal Tasya. Sekarang ayo cabut sebelum dia balik lagi bawa satpam!"
Mereka keluar lewat jalur ventilasi yang sudah dipetakan Arkan sebelumnya. Begitu sampai di taman belakang yang sepi, Naura langsung menodongkan tangannya.
"Mana flashdisk-nya? Gue mau pastiin foto Maya beneran aman."
Arkan melemparkan benda kecil itu ke udara, yang langsung ditangkap Naura dengan sigap. "Gue udah hapus semuanya. Tapi Naura... ada satu file yang gue temuin di folder pribadi Tasya. Sesuatu yang nggak cuma soal Maya, tapi soal alasan kenapa lo sebenernya masuk ke SMA Pelita Bangsa."
Langkah Naura terhenti. Ia berbalik, menatap Arkan dengan wajah yang mendadak pucat. "Apa maksud lo?"
Arkan menyilangkan tangan di dada. "Lo bukan cuma anak konglomerat yang mau sekolah biasa, kan? Gue liat nama asli lo di dokumen intelijen yang disimpan bokap Tasya. Siapa lo sebenernya, Naura Amira?"