NovelToon NovelToon
Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.

Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.

Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rubanah Dr. Darcel

Aku sedang berdiri, memperhatikan empat mayat yang digantung terbalik dengan pengait daging. Tenggorokan mereka sobek dan berdarah, wajah pucatnya terbalut oleh darah yang sudah kering, tapi ekspresi ketakutan itu masih ada di sana. Ada yang aneh dari raut wajah mereka, tatapan matanya ... kosong.

Seharusnya aku jijik sama pemandangan ini.Tapi nyatanya, enggak ada apa-apa. Mau aku tatap selama apa pun, tetap biasa saja.

Pandanganku menyisir ruang bawah tanah yang baru saja aku masuki. Ada tiga ember penuh darah berjejer rapi di sepanjang dinding.

Aku telan ludah, memaksa diri untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ini nyata, benar-benar nyata. Dan di saat itu aku sadar, mungkin cowok yang rumahnya aku bobol ini bukan orang yang seperti selama ini aku kira. Sekarang, Dokter Terapiku benar-benar seperti pembunuh. Pembunuh yang sangat berpengalaman, kalau dilihat dari ruangan ini, ya.

Rubanah besar ini mungkin saja didedikasikan untuk pembunuhan dan hal-hal lain. Selain mayat-mayat yang tergantung, ada toples kaca cokelat dengan label rapi, tabung plastik berisi bahan kimia, semuanya tersusun manis di rak baja. Ada tandu stainless, jerigen, galon, dan berbagai peralatan lain.

Aku pernah membayangkan adegan pembunuhan seperti orang waras pada umumnya, ditusuk, tembak dan lain-lain. Tapi aku enggak pernah sampai berpikir sejauh ini, gergaji tulang, gerinda, palu yang berlumuran darah. Astaga, mereka disiksa dulu apa bagaimana?

Sontak, berita soal pembunuhan dan penculikan selama beberapa tahun terakhir pun muncul di kepalaku. Aku sama sekali enggak menyangka itu akan mengarah ke Darcel.

Oke, mungkin aku terlalu cepat untuk menyimpulkan kalau dia itu pelakunya. Dan harusnya aku merasa bersalah sudah sejauh ini ikut campur urusannya. Tapi bukannya berhenti, rasa bersalah itu malah berubah menjadi sensasi yang membuat kulitku merinding, deg-degan, dan yang pasti .. nagih.

Dan itu yang bikin kacau.

Aku ingin tahu segalanya.

Telingaku menangkap suara tetesan darah di tengah dengungan Cold Room. Pendengaranku memang aneh. Dulu tante sama om aku sering bilang aku berhalusinasi soal semua hal yang aku dengar dan aku cium.

Tessss.

Tessss.

Teeesss.

Darah itu mengalir.

Merembes masuk ke kepalaku. Makin lama makin dalam dan rasa segera ingin tahu pun menjalar di otakku. Perutku langsung tegang waktu reaksi absurd itu berkuasa di kepalaku, "Ayo Rowena ... Coba ... Cicipi darah orang mati itu!"

Iya.

Kedengarannya masuk akal.

“Jangan aneh-aneh,” gumamku ke diri sendiri. Aku terpejam, menekan kuku ibu jari ke ujung jari-jari yang lain. Darcel pernah bilang kalau aku harus melawan nafsu mengerikan ini. Karena begitu aku merasakan sedikit saja … aku akan menyebrang batas dan enggak akan bisa kembali lagi.

Kayaknya dia bicara dari pengalaman pribadi, deh.

Aku berdiri dengan ragu di tengah ruangan yang bersih itu, menahan keinginan untuk jalan ke salah satu ember lalu mencelupkan jariku ke dalamnya, dan menjilatnya.

Sial.

Kenapa aku seperti ini, sih?

Obsesiku sama darah ini benar-benar merusak semua moodku.

Dr. Darcel, apa yang sudah kamu lakukan?

“Mungkin dia punya alasan,” kataku lantang ke mayat-mayat yang bergoyang pelan di udara. Aku gigit pipiku, jari-jariku mengusap paha. Dalam hati, aku yakin kalau Dr. Darcel gila. Ironisnya dia malah jadi Dokter Terapi aku.

Sempurna.

Aku mencolek-colek jaket kulit salah satu mayat, cuma untuk memastikan ini mayat sungguhan atau bukan. Tubuhnya terayun pelan, dan keinginan untuk mendorong dia lebih keras, untuk melihat dia bergoyang maju-mundur, langsung menyelonong ke kepalaku.

Senyumku menyerah sama keinginan itu. Tapi tiba-tiba saja suara meronta membuatku terkejut. Aku buru-buru tarik napas dalam-dalam, lalu memutar badan dengan panik.

Salah satu tubuh itu bergerak. Menggeliat seperti cacing di kail. Cowok itu mengerang. Matanya yang merah akhirnya terbuka, langsung menatapku. Sekejap kemudian, matanya melebar ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat, seperti kesetrum.

Geraman kasar dan napas paniknya membuat jantungku makin kacau. Aku refleks menengok ke pintu Cold Room, panik.

“Sssttt. Berhenti,” siulku pelan.

Dia enggak berhenti mengoceh, makin gelisah. Gemetarnya makin parah.

“Diam,” pekikku masih dengan suara rendah.

Jangan sampai aku ketahuan Darcel. Aku harus pergi. Sekarang juga. Aku bakal simpan rahasia mengerikan ini untuk diriku sendiri. Tapi sebelum itu, aku harus keluar hidup-hidup.

“Tolong!” Cowok itu megap-megap, matanya melotot ketakutan. Baru saat itu aku sadar, tenggorokannya ternyata belum digorok seperti lainnya. Wajahnya ungu kehitaman, memar akibat pukulan.

Apa Dr. Darcel yang melakukan ini?

aku sudah terobsesi sama jari-jarinya yang kekar itu. Enggak pernah sekalipun terbayang jari-jari itu melakukan hal lain selain memegang pena, menulis catatan dengan tulisan tangan elegan itu. Aku bahkan enggak pernah lihat bekas luka. Enggak pernah lihat memar di sana. Dia … sempurna.

Selama ini, sih.

“Tolong, dasar jalang!” teriaknya, nadanya menantang.

Aku tersentak.

“Kalau kamu mau minta tolong,” desisku sambil menggertakkan gigi, “Enggak usah sok jagoan!”

Sepertinya aku dengar suara langkah sepatu di tangga, di luar ruangan Cold Room basement ini. Pendengaranku memang tajam, tapi sekarang aku sudah keburu panik. Tenggorokanku pun tercekat. Aku sempoyongan ke satu-satunya tempat yang bisa jadi persembunyian, wastafel stainless dengan lemari dua pintu di bawahnya.

Jari-jariku gemetar. Tanganku lemas saat aku buka pintunya dan menyelipkan diri untuk masuk, merangkak di atas botol-botol. Bau klorin menyengat, membakar hidungku, mataku langsung berair. Begitu aku dengar pintu Cold Room mulai terbuka, aku langsung tutup pintu lemari.

Masalahnya, lemari itu enggak bisa tertutup rapat dari dalam. Pintunya tetap terbuka sedikit. Jadi, jari-jariku harus menekan bagian bawah masing-masing pintu agar enggak terbuka lebar.

Kacau parah.

Aku benar-benar enggak mau Darcel tahu kalau aku sudah membobol rumahnya. Kalau aku selama ini … menguntitnya.

Lewat celah tipis yang terkena cahaya, aku pelan-pelan mengintipnya.

Darcel aku.

Wajahku langsung lemas. Napasku menjadi pelan. Dia masuk ke ruangan itu dengan penampilan yang ... Oh My God?

Seperti bintang serial killer.

Lengan bajunya digulung, menunjukkan lengan berotot dengan urat-urat yang tegang. Dia dengan sarung tangan kulit hitam, pas banget membungkus jarinya yang seksi.

Dan pikiranku langsung melayang ke satu hal ... bagaimana rasanya kalau sarung tangan kulit itu masuk ke dalam rahimku?

Sensasi kulit halus yang bergesek-gesek sama dinding rahim, langsung terbayang jelas di kepalaku.

1
Adellia❤
ampuun deh darcel👻👻
Adellia❤
sikopat itu serius rupanya..
Adellia❤
hiii merinding sebadan" tuh orang bener" sikopat eh bukan orang dink👻
Adellia❤
km di cap pasien gila rowena tapi dokter terapi km dy orang gila yg sebenernya👻👻
Adellia❤
serruu karna gak cuman gairah pingin di tindih tapi juga gairah pingin minun darah👻👻👻
Adellia❤
hhhh rowenaaa🤦‍♀️🤦‍♀️
Adellia❤
hah... menguntit??? berati ilmu dr darcel buat menghapus ingatan itu enggak mempan??? 😱😱
DityaR: kan yg di hapus ingatan hari itu aja kak 🙏
total 1 replies
Adellia❤
sereem tapi seruu sekaligus menegangkan semangaatt thorr tulisanmu bagusss💪💪
Adellia❤
sama" senyum tapi beda arti.. hati" rowena dy vampir berbulu dombaa🤗🤗
Adellia❤
dr darcel bolehkah q bertemu km q ingin menghapus ingatanku sama seseorang😭😭
Adellia❤: boleh gak kasih no wa dr darcel thorr pliiisss🙏🙏
total 2 replies
Adellia❤
Torvald... heyyy emang km punya mental🤣🤣 kalo punya mah km enggak bakal tinggal di paragon ✌
Adellia❤
palingan km bakal di gigit sama darcel ..
Adellia❤: itu apa anu😱
total 4 replies
Adellia❤
astaga.. ngegantung🤔
Adellia❤: ciyuuss???
total 14 replies
Adellia❤
ya ampun pak dokter chat mulu... sugardady 😍
Rainn Dirgantara
Beuhh!
Rainn Dirgantara
Pelit kali 👀
Atelier
hi Rowenaaa
Atelier
🤭 memang mempesona
Adellia❤
karna pak dokter juga sama kayak km rowena 👻👻👻
Adellia❤: itu lho kak rowena sama pak dokter di kasih bodrex ..
total 6 replies
Dewi kunti
kok ngeri siiiiich🙈🙈🙈
Adellia❤: wlee😋😋😋
total 14 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!