DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
CELAH YANG TERBUKA
Klarifikasi itu tayang pukul sembilan pagi.
Bukan konferensi pers besar.
Bukan pula pernyataan emosional.
Hanya video singkat berdurasi tujuh menit, diunggah di akun resmi lembaga tempat ayah Aira dulu bekerja, dan dibagikan ulang oleh beberapa media daring.
Ayah Aira duduk di balik meja kayu gelap. Kemeja rapi. Nada suara terkendali. Terlalu terkendali.
“Artikel yang saya tulis pada masa itu,” katanya, “berdasarkan data resmi yang tersedia dan telah melalui proses verifikasi internal.”
Aira menontonnya dari ruang tengah. Duduk diam. Tangan terlipat di pangkuan.
“Jika kemudian ditemukan adanya ketidaksesuaian di lapangan,” lanjut ayahnya, “maka hal itu merupakan tanggung jawab struktural tim distribusi, bukan keputusan personal saya.”
Kalimat itu terdengar aman.
Terlindungi.
“Terkait tudingan penyalahgunaan dana,” ayahnya menarik napas kecil, “saya tegaskan tidak pernah menerima, menyimpan, atau menggunakan dana kompensasi untuk kepentingan pribadi.”
Aira menelan ludah.
Kalimat berikutnya yang membuat dadanya mengencang.
“Adapun isu mengenai penutupan informasi, saya tidak pernah menyuap pihak mana pun. Redupnya pemberitaan pada masa itu terjadi karena tidak ditemukannya bukti lanjutan yang cukup.”
Video ditutup. Layar menjadi hitam.
Sunyi.
Aira tetap duduk. Tidak menangis. Tidak marah.
Ia hanya tahu satu hal:
klarifikasi itu tidak menutup apa pun.
Ia justru membuka pertanyaan baru.
Jika ayahnya benar-benar tidak bersalah, mengapa penjelasannya terasa seperti membagi jarak, bukan mendekatkan kebenaran?
Di tempat lain, Langit menonton video yang sama.
Ia berdiri. Duduk. Berdiri lagi.
Tangannya terkepal tanpa sadar.
“Itu dia,” gumamnya pelan. “Selalu begitu.”
Bukan penyangkalan yang membuatnya marah.
Melainkan cara ayah Aira mencuci tangan tanpa menyentuh air.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk. Dari Aira.
Aira:
Kamu sudah lihat klarifikasi Ayah?
Langit terdiam.
Ia menunggu.
Menunggu kalimat lanjutan.
Kemarahan.
Kecurigaan.
Tapi tidak ada.
Ia mengetik perlahan.
Langit:
Sudah.
Kamu gimana?
Balasan Aira datang beberapa menit kemudian.
Aira:
Bingung.
Rasanya kayak… jawabannya rapi, tapi nggak selesai.
Langit menghembuskan napas.
Itu bukan reaksi yang ia harapkan.
Ia ingin Aira bertanya lebih jauh.
Menuduh.
Atau membela ayahnya habis-habisan.
Tapi Aira memilih berada di tengah.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Sore itu mereka bertemu.
Di Tempat yang sama.
Halte yang sama.
Hujan tidak turun. Tapi langit kelabu.
“Aku takut,” kata Aira tiba-tiba, tanpa menatap Langit.
Langit menoleh cepat. “Takut kenapa?”
“Aku takut aku cuma tahu setengah cerita,” jawab Aira. “Dan setengahnya lagi… sengaja disembunyikan.”
Langit menelan ludah. “Kamu pikir ayahmu bohong?”
Aira mengangkat bahu kecil. “Aku pikir… dia memilih kata-kata.”
Langit tertawa singkat. Terlalu cepat.
“Itu sama saja.”
Aira menoleh. Menatapnya. “Kamu kelihatan kesal.”
Langit terdiam.
“Aku cuma capek,” katanya akhirnya.
“Capek sama apa?” tanya Aira lembut.
Langit membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia ingin berkata, keluargamu.
Ia ingin berkata, kamu.
Ia ingin berkata, semua ini seharusnya lebih cepat.
Tapi yang keluar justru kalimat lain.
“Capek lihat orang-orang selalu punya jalan keluar,” katanya pelan. “Sementara yang lain… harus menanggung akibatnya seumur hidup.”
Aira mengangguk. “Kamu ngomong kayak orang yang pernah kehilangan banyak.”
Langit menatapnya lama.
Terlalu lama.
“Kamu nggak tanya aku apa pun,” katanya.
Aira tersenyum kecil. “Aku lagi belajar dengerin.”
Kalimat itu membuat Langit gelisah.
Karena ia sadar, Aira tidak bodoh.
Ia hanya menunda kesimpulan.
Dan penundaan itu membuat rencana Langit kehilangan ritme.
...####...
Malamnya, Langit kembali membuka arsip.
Ia menatap daftar akun media yang sudah bekerja sama.
Melihat grafik sebaran berita.
Naik.
Stabil.
Lalu melambat.
“Kenapa berhenti?” gumamnya.
Ia mengirim pesan.
Langit:
Dorong lagi.
Angle konflik kepentingan keluarga.
Balasan datang ragu.
Mediator:
Publik mulai nunggu bukti baru.
Kalau dipaksa sekarang, kelihatan terlalu diarahkan.
Langit mengusap wajahnya.
Semua ini seharusnya membuat Aira menjauh dari ayahnya.
Bukan… tetap berdiri di tengah-tengah.
Ia membuka ponsel. Melihat foto Aira terakhir kali tersenyum di halte.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama,
Langit merasakan sesuatu yang mengganggu rencananya.
Takut.
Takut jika Aira tidak memilih sisi mana pun, dan justru memilih dirinya sendiri.
...####...
Di kamar, Aira menulis catatan kecil di buku cokelatnya.
Langit tidak menyangkal.
Langit juga tidak menjelaskan.
Ia menutup buku.
Besok, ia akan bertanya sesuatu yang lebih spesifik.
Bukan tentang masa lalu.
Tapi tentang niat.
Dan ia tahu, jika Langit terus menghindar,
retakan itu akan berubah menjadi bukti.
Pagi itu, Aira membaca ulang pesan-pesan lama.
Bukan untuk mencari kesalahan besar.
Hanya detail kecil, tanggal, jam, potongan cerita yang dulu ia terima tanpa curiga.
Ia berhenti di satu percakapan.
Langit:
“Waktu relokasi itu aku kelas dua SMA. Masih bolak-balik naik motor sama Ayah.”
Aira membuka kalender lama di laptop.
Mencocokkan dengan data relokasi Sungai Selatan.
Relokasi tahap utama, enam tahun lalu.
Saat itu… Aira sendiri masih kelas dua SMP.
Ia menghitung cepat.
Jika Langit seumuran dengannya, berarti tujuh tahun lalu Langit masih SMP.
Bukan SMA.
Aira menatap layar lama.
Bukan selisih besar.
Tapi cukup untuk membuat satu pertanyaan muncul,
Kenapa ceritanya bergeser?
Ia menutup laptop perlahan. Tidak panik. Tidak tergesa.
Hanya satu kesimpulan kecil yang ia simpan rapat-rapat.
Langit tidak selalu berbohong.
Tapi ia mengatur apa yang ingin terlihat.
...####...
Di luar rumah, dunia mulai lebih kejam.
Artikel baru muncul siang itu.
Bukan lagi tentang proyek.
Bukan tentang data.
Judulnya mencolok,
“Konsultan Proyek Sungai Selatan, Pola Hidup Mewah di Tengah Derita Warga”
Foto ayah Aira terpampang.
Bukan foto kerja.
Foto lama, sedang turun dari mobil.
Sudut diambil rendah. Sengaja dibuat tampak arogan.
Aira membaca isinya dengan tangan dingin.
Kata-kata seperti serakah, munafik, bertopeng idealisme bertebaran.
Tidak ada satu pun data baru.
Hanya narasi yang diarahkan.
Ibunya mematikan televisi.
“Ini sudah bukan klarifikasi,” kata ibunya pelan. “Ini pembunuhan karakter.”
Ayah Aira duduk diam. Wajahnya pucat, tapi rahangnya mengeras.
“Mereka mau aku bereaksi,” katanya. “Kalau aku salah bicara sedikit saja… semua akan dipelintir.”
“Ayah nggak perlu jawab semuanya,” kata Aira. “Tapi Ayah juga nggak bisa terus diam.”
Ayahnya menoleh. Menatap Aira lama.
“Aira,” katanya, “serangan seperti ini bukan datang dari orang yang cuma ingin keadilan.”
Aira tahu maksudnya.
Ini sudah personal.
...####...
Sore itu, Langit muncul tanpa janji.
“Aku dengar soal berita baru,” katanya cepat.
“Kamu nggak apa-apa?”
Aira menatapnya.
“Aku baik,” jawabnya. “hanya capek.”
Langit duduk di sampingnya. Terlalu dekat.
“Mereka kejam,” katanya. “Padahal belum tentu ayahmu bersalah.”
Kalimat itu terdengar… aneh.
Aira menoleh. “Belum tentu?”
Langit tersenyum kecil. “Maksudku… semua orang punya sisi yang nggak kelihatan.”
Aira mengangguk pelan. “Iya. Semua orang.”
Ia diam sebentar, lalu berkata ringan, seolah sambil lalu,
“Kamu dulu pindah rumah waktu SMP, ya?”
Langit mengangguk cepat. “Iya.”
“Kamu pernah bilang SMA.”
Sunyi.
Tidak lama.
Tapi cukup.
Langit tertawa kecil. “Ah, iya. Maksudku… masa-masa itu campur. Lama soalnya.”
Aira tersenyum. “Pasti berat.”
Langit menatap ke depan. Rahangnya menegang.
“Iya,” katanya pendek.
Sekarang Aira melihat kalau Langit seperti cerita yang kehilangan alur.
Bukan marah.
Bukan defensif.
Tapi Gugup.
...####...
Malam itu, Langit membuat keputusan yang terlalu cepat.
Ia menghubungi seseorang yang selama ini ia jaga jaraknya.
“Naikkan,” katanya tanpa basa-basi. “Bukan anonim. Pakai saksi.”
Suara di seberang terdiam. “Itu berisiko.”
“Lakukan,” ulang Langit. “Atau aku cari orang lain.”
Ia menutup panggilan.
Tangannya bergetar sedikit.
Bukan karena ragu.
Tapi karena ia tahu, langkah ini terlalu dekat dengan dirinya.
Ia membuka laci. Mengeluarkan satu map tipis.
Fotokopi kartu keluarga lama.
Alamat kontrakan sempit.
Surat pemecatan ayahnya.
“Sedikit lagi,” gumamnya. “Sedikit lagi semuanya seimbang.”
Tapi bayangan wajah Aira muncul tanpa izin.
Bukan wajah marah.
Melainkan wajah yang mengamati.
Dan itu membuat dadanya sesak.
...####...
Keesokan harinya, artikel baru muncul.
Judulnya lebih tajam.
“Saksi Relokasi: ‘Kami Dipaksa Pergi Tanpa Uang’”
Nama saksi disamarkan.
Tapi detailnya terlalu spesifik.
Tanggal.
Blok rumah.
Jumlah anggota keluarga.
Aira membaca satu paragraf dan langsung tahu.
Ini bukan cerita umum.
Ini cerita seseorang yang sangat dekat dengan pusat luka.
Ia menutup layar.
Menarik napas panjang.
Jika Langit berpikir ia akan hancur,
ia salah.
Aira justru merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Karena kini, ia tahu satu hal pasti, Langit tidak hanya menyimpan masa lalu.
Ia menggerakkannya.
Dan setiap langkah ekstrem yang ia ambil
justru membuat bayangannya semakin terlihat.
Di kamar, Aira menulis satu kalimat di buku cokelatnya
Jika kau datang sebagai kebenaran, kau tak perlu menyembunyikan tanggal.
Ia menutup buku.
Besok, ia tidak akan bertanya lagi.
Ia akan menunggu Langit tergelincir sendiri.
Bersambung.