namanya Mahesa Kalandra, seorang duda yang bangkrut hingga istrinya membuangnya dengar seorang anak gadis yang masih berumur lima tahun, istrinya lari dengan boss nya dan lebih nelangsanya lagi ketika orang tuanya menfitnah dengan meminjam uang di suatu pinjaman online dengan mengatas namakan identitasnya, kini dia lari di kejar rentenir hingga hidupnya nyaris berakhir, mampukah dia bangun dari keterpurukan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto di dinding tangga
"maaf saya belum sanggup om jika harus di beri kepercayaan yang berat, saya tahu ini adalah kesempatan bagus tapi kehadiran saya nantinya akan ada banyak fihak lain yang menganggap saya musuh mereka dan menganggap saya hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan, menggunakan kekuasaan om Jo untuk keuntungan saya, saya ingin berdiri di kaki sendiri dengan kemampuan yang ada".begitu alasan Mahendra ketika om Jo menawarinya menjadi direktur umum menggantikan Devan yang saat ini telah di pecat dari perusahaan.
Ya, om Jo telah memecatnya dari perusahaan begitu juga Ririn juga telah dipecat tanpa hormat, kedua pasangan kumpul kebo itu kini malah hidup bersama dengan tanpa status setelah Karina mengajukan perceraian.
"Tapi ini kesempatan langka lho Hendra, gunakan kesempatan yang ada sebaik baiknya untuk meraih cita cita dan masa depanmu". Bujuk om Jo lagi.
"Saat ini saya belum siap om, maafkan saya". Alasan Hendra belum siap memang pekerjaan itu tak sesuai passion Hendra yang dilatar belakangi seorang pendidik bukan budak korporat.
Om Jo dan Karina memaklumi alasan Hendra, meskipun dia juga seorang sarjana tetapi memang beda jurusan dan Hendra tak mampu untuk terjun di dunia bisnis dan perkantoran, jika diharuskan maka setidaknya Hendra harus belajar menekuni bidang itu.
Malam Minggu, Hendra diajak , tepatnya diantar oleh keluarga om Jo ke tempat kediaman om Willy, karena checill ikut tentu saja Kiara yang biasanya malas kerumah om Willy karena takut peliharaan om Willy berupa anjing herder yang berjumlah sepuluh ekor itu, tiap Kiara datang mesti di sambut gonggongan dan lolongan dari makhluk yang sangat di benci Kiara karena baunya itu, tetapi karena checill ikut dia terpaksa harus ikut pula lagi pula di rumah lagi gabut, kakaknya Karina sedang lembur di kantor.
" Silahkan masuk Hendra, ayo silahkan masuk semuanya, makan malam sudah siap mari kita makan bersama". Sambut om Willy dengan ramah, ada banyak pelayan tapi tak satupun wanita ada disana, si tukang kebun sopir, koki, penjaga anjing, bahkan tukang cuci semuanya laki-laki, sepertinya om Willy ini orang yang sangat anti dengan makhluk yang namanya wanita.
Dan betul saja, ada beberapa anjing yang sengaja di lepas, selebihnya di kandangin .
dua anjing itu menyalak mendekati Kiara seakan minta perhatian atau bahkan menganggap Kiara musuh? Kiara merepet kearah Mahendra minta perlindungan dan secara ajaib ketika checill mengelus kepala anjing itu, si anjing begitu penurut dan luluh di hadapan gadis kecil ini, seakan kedua anjing itu minta di elus kepalanya oleh checill, om Willy heran atas reaksi anjing itu ketika bertemu Checil.
"Mahendra, putrimu sungguh mempunyai hati yang penyayang, lihat itu anjingnya langsung akrab dengannya dan tak mau beranjak darinya, tidak seperti ketika mendekat dengan princess Kiara". Ledek om Willy.
Kiara yang memang bermusuhan dengan si herder langsung saja menendang perut anjing itu membuat anjing bereaksi cepat dengan berusaha menyerang Kiara.
Anjing yang begitu marah itu luluh seketika ketika mendengar suara Checil, sang perawat anjing langsung membawanya ke kandang daripada nanti malah berkelahi dengan Kiara, padahal jelas saja jika berkelahi Kiara yang kalah, Checil minta izin pada ayahnya untuk mengikuti sang paman pengasuh anjing itu ke kandang anjing untuk melihat peliharaan kakek Willy yang katanya ada sepuluh ekor, apalagi ada pudel nya juga.
"wah rumahnya besar sekali ya paman, nanti kalau ke tempat ayah tolong antar Checil kesana ya, takutnya nyasar". Pinta Checil pada paman penjaga anjing itu, dan si paman hanya tersenyum sambil mengangguk.
Sementara Checil terus berjalan melewati lorong dan turun kelantai bawah di tangga di sebelah dinding ada terpampang foto entah itu lukisan besar sekali, seorang wanita muda cantik jelita dengan baju tanktop celana cutbray warna hitam dan sepatu kets warna putih membawa ransel di punggungnya berambut keriting ikal di kuncir ekor kuda, wanita itu tersenyum cantik sekali, dengan memakai gelang giok warna hijau.
" Ini foto siapa ya, kok Checil seperti pernah lihat orang ini, kok wajahnya seperti emak, tapi emak kan gemuk dan pakai hijab panjang, wanita ini pakai baju nggak ada lengannya, aurat nya kemana mana". Batin Checil sambil main kan matanya , gemas sekali.
"Ayo non cepetan katanya mau lihat anjing, nanti keburu di suruh makan sama tuan lho". Ajak sang paman.
"Checil nggak mau lihat anjing ah, Checil mau ke ayah aja". Ucap Checil sambil balik kanan ke tempat ayahnya, sesampai di tempat sang ayah Checil sebenarnya mau cerita kalau dia ketemu foto emaknya tapi masih muda dan aurat nya kemana mana, tapi ayahnya pernah cerita jika ada rahasia harus di bicarakan nanti ketika sampai dirumah, dan si Checil menganggap pertemuan nya dengan foto itu adalah suatu rahasia.
Acara makan malam itu sangat mewah, apapun yang diinginkan sang koki cekatan memasak buat mereka, jadi semuanya serba fresh, Checil yang biasanya lahap ketika dalam keadaan lapar itu makan dengan ogah ogahan, dia hanya habis dua slice pizza,slice kecil ukuran anak anak dan segelas susu, ketika sang kakak Kia mengajaknya bercanda Checil tak begitu menanggapi.
"Tumben, ada apa putrimu Hendra, tak biasanya seperti itu, kayaknya ada yang sedang mengganggu pikirannya?" om Jo heran dengan perilaku putrinya Mahendra.
"Mungkin capek saja om, tadi kan dia habis jalan jalan sama temen sekolahnya". Mahendra memberi alasan.
Om Willy yang juga telah menyukai gadis kecil itu selalu mencuri pandang, setiap pandangannya bertatapan dengan mata bulat Checil jantung om Willy berdegup seperti ABG yang tengah puber pertama, jatuh cinta pada pandangan mata.
Om Willy yang selama ini tak pernah menyukai anak kecil itu kini merasa dekat dengan si kecil ini, bagi om Willy setelah putrinya meninggal dan istrinya berkhianat tak ada lagi yang bisa membuat hatinya mencair, anak kecil itu tak ada lucu lucunya baginya dan semua wanita itu adalah pengkhianat, sungguh hatinya telah membatu oleh sebuah pengkhianatan.
Setelah kunjungannya usai dan om Willy pun sudah selesai konsultasi dengan Mahendra tentang kejantanannya yang tak pernah mau diajak berperang semenjak kepergian istrinya, Mahendra berjanji akan datang lagi untuk pengobatan selanjutnya.
Sesampainya di rumah, Checil yang sudah setengah ngantuk itu masih sempatnya bercerita pada sang ayah, dengan penuh perhatian Mahendra mendengar cerita sang putri.
"Beneran yah, tadi ketika Checil turun ke bawah di lantai bawah sendiri di dekat tangga ada foto emak disana, wajahnya mirip banget dengan emak karena rambutnya juga keriting, Checil tahu kok rambut emak keriting kan dulu Checil sering tidur di rumah emak, tapi foto itu pake celana dan baju lekbong (lekek bolong)". itu istilah yang di bikin oleh Checil sendiri.
"ngawur kamu, masa emak ada di tempat orang kaya, salah lihat kali, apa mungkin foto orang yang mirip saja". Sangkal Hendra padahal dia juga sangat penasaran, masa iya ada foto Mbak Imah dirumah sebesar itu, rumah om Willy terdiri dari tiga tingkat lebih besar dan lebih mewah daripada rumah keluarga om jo.
*****