NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 : Penyelidikan kasus 04

“Berhenti kau!!” suaranya bergema keras, mengguncang koridor dan tangga sempit itu.

Alexander kembali mengangkat pistolnya, mengunci pandangan ke punggung sosok gelap di depannya. Jemarinya menekan pelatuk, hingga suara letupan kecil memecah keheningan. Peluru meluncur, tapi kegelapan membuat arah tembakan sulit ditebak. Ia tak tahu apakah berhasil menembus target atau hanya menghantam dinding kosong.

Saat selongsong peluru terpental dari senjata, logam panas itu jatuh tepat mengenai tangannya. Refleks, Alexander menjatuhkan pistol dan berlutut, meringis menahan perih. Tangannya bergetar hebat, rasa sakit menjalar cepat, tak memberinya waktu untuk melihat luka itu lebih jelas.

“Tch… sial…” desisnya, tertahan di antara gigi yang terkatup rapat.

“D-Dia… lolos…”

Alexander menekan telapak tangan ke luka yang masih berdenyut, jemarinya bergetar tak mampu menahan rasa perih yang menjalar hingga ke lengan. Kegelapan di sekeliling menambah tekanan, seolah setiap bayangan menjadi saksi kelemahannya malam itu. Tepat saat ia hendak memaki dirinya sendiri, sebuah sentuhan ringan menyentuh bahunya, menopang tubuhnya yang hampir terhuyung.

“Tuan Reed…”

Nada suara itu begitu dikenalnya. Alexander menoleh cepat, menatap wajah pria yang akhirnya muncul setelah penantian panjang. Rico berdiri di sampingnya, sorot matanya penuh kekhawatiran.

Namun, alih-alih merasa lega, Alexander menepis lengannya dengan kasar. Pandangannya menusuk tajam, tak sekadar menunjukkan marah, melainkan juga kekecewaan yang mendalam.

“Tinggalkan aku!! Akan kubunuh kau setelah ini!!” suaranya pecah penuh emosi, sebelum ia bangkit. Tangan kirinya masih mencengkeram luka yang belum berhenti berdenyut, langkahnya terseok namun tetap memaksa menjauh, meninggalkan Rico sendirian dalam lorong gelap yang senyap.

Keesokan paginya, lorong rumah sakit dipenuhi suara berderit roda stretcher. Beberapa perawat mendorong ranjang dorong itu dengan wajah tegang. Di atasnya, terbaring tubuh yang sudah diselimuti kain putih, dingin dan kaku. Sorot mata semua orang yang melintas penuh tanda tanya, sebagian menutup mulut, sebagian lain hanya diam terpaku. Stretcher itu terus bergerak menuju ruang pemeriksaan forensik.

Kegaduhan sejak fajar merebak cepat, menyulut perhatian publik. Media sosial dipenuhi unggahan baru tentang kasus pembunuhan yang sebelumnya mengguncang sebulan lalu. Gambar, spekulasi, hingga teori liar bertebaran. Namun, pihak rumah sakit tetap bungkam, memilih menutup rapat semua kemungkinan jawaban.

Di sisi lain, Alexander berdiri kaku di lokasi kejadian semalam. Wajahnya pucat, mata tajamnya menelusuri setiap sudut, seakan mencari bayangan yang semalam menjeratnya. Polisi-polisi berjaga di sekitarnya, beberapa berjongkok, meneliti lantai dan dinding.

“Tuan Reed, apakah anda yakin pemadaman listrik di lantai sembilan dan delapan memang disengaja untuk aksi pembunuhan?” tanya salah satu polisi, suaranya ragu. Ia ikut jongkok di samping Alexander, menunggu jawaban.

Alexander menarik napas dalam. “Awalnya, aku juga sulit mempercayai hal itu.” Ia berhenti sejenak, pikirannya kembali pada malam sebelumnya, seolah suara-suara itu masih terngiang di telinganya. “Tapi saat itu, semua lampu benar-benar padam. Aku melihatnya sendiri… bahkan percakapan mereka bergema di sepanjang lorong ini.”

Para polisi saling menatap, kebingungan tercermin jelas di wajah mereka. Belum pernah ada kasus yang begitu berani, memanfaatkan sistem rumah sakit sebagai panggung pembunuhan. Meski ragu, mereka mulai menuliskan setiap detail yang Alexander sampaikan.

“Apa yang mereka katakan?” seorang polisi lain bertanya, suaranya tegang.

Kening Alexander mengerut. “Aku tidak bisa memastikan seluruhnya… tapi ada satu kata yang diulang berkali-kali.” Suaranya semakin berat, hampir seperti bergumam. “‘Kembalikan.’ Seakan ada sesuatu yang direnggut darinya.”

Rico, yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan, akhirnya maju selangkah. “Lalu… apa yang dilakukan korban sebelum itu?” tanyanya perlahan.

Alexander menatap kosong ke lantai. “Aku tidak tahu pasti. Korban hanya terus merintih, suaranya penuh sakit. Tidak ada luka luar di bagian tubuh depan… mungkin tersembunyi di bagian lain.” Ucapannya terhenti sesaat, diselingi helaan napas berat yang terdengar jelas.

“Setelahnya… dia menyiramkan cairan ke lantai.” Pandangan Alexander bergeser ke arah tangga yang masih menyisakan bekas basah.

“Itu hanya air biasa,” potong salah seorang polisi cepat, mencoba meremehkan detail itu.

Alexander menoleh dengan tatapan tajam. “Ya, cairannya memang air biasa… tapi tindakannya, tidak.”

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!