NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — Chemistry Pertama

Mereka berhasil melakukan kombinasi pertama yang benar-benar sempurna.

Waktu tersisa tiga menit. Skor masih imbang, 85–85.

Keenan menguasai bola di area tengah. Dua pemain lawan langsung menutup ruang geraknya. Rakha dikunci lebih ketat lagi. Mereka tahu siapa otak permainan tim ini.

Keenan melakukan fake ke kiri. Satu langkah. Dua defender terpancing, menutup jalur yang salah.

Dan di celah yang terbuka, hanya sepersekian detik—Keenan mengoper.

Itu umpan yang menantang. Bounce pass yang terlalu cepat, terlalu rendah, dan seharusnya mustahil diterima di tengah kepadatan seperti ini.

Namun Rakha sudah bergerak.

Ia memotong jalur pertahanan, melesat ke ruang yang hanya Keenan yang lihat. Bola sampai tepat di tangannya tanpa memecah langkah. Rakha melompat dan menyelesaikannya dengan layup bersih.

Jaring bergetar pelan.

Skor berubah: 87–85.

Bukan hanya angka yang bergeser.

Seluruh penonton terdiam, seolah lupa bernapas. Sorakan tim lawan terputus di tengah jalan. Yang tersisa hanya suara sepatu di lantai dan detak jantung yang menggila.

Rakha mendarat. Dadanya naik turun, sisa adrenalin berdenyut keras di pelipis. Ia tidak menoleh ke arah Keenan. Tidak merayakan.

Ia hanya berbalik dan kembali ke posisinya, seolah ini hanyalah satu poin biasa.

Padahal bagi semua orang di lapangan, itu adalah keajaiban.

Play itu tidak pernah ada di buku latihan mereka. Tidak pernah dibahas, apalagi dilatih. Kombinasi itu lahir begitu saja—murni dari insting, dari bahasa yang hanya mereka berdua pahami, terlepas dari segala gesekan yang selama ini mereka tunjukkan.

Keenan tahu Rakha akan memotong di sana.

Dan Rakha—kapten yang perfeksionis—sangat yakin Keenan tidak akan pernah salah sasaran. Ia hanya terlalu keras kepala untuk mengakui keyakinan itu.

Sinkronisasi absolut.

Keenan, yang berdiri beberapa meter di belakang garis tiga poin, terdiam sesaat. Layup itu berbeda. Bukan karena angkanya, tapi karena rasanya seperti penanda bahwa sesuatu telah terkunci dengan sempurna.

Di bangku cadangan, Pelatih Arwin yang biasanya kalem mendadak berdiri. Tangan mengepal ke udara, senyum lega tak tertahan. Ia tahu, ini bukan keberuntungan. Ini hasil dari latihan yang memakan waktu, emosi, dan ego mereka—hari demi hari.

"Gila! Sempurna!" teriak Dimas.

Olan tertawa lepas.

Tim lawan langsung meminta time-out.

Waktu istirahat dimulai.

Rakha berjalan ke tepi lapangan, mengambil botol minumnya. Ia sengaja menghindari pandangan Keenan, sibuk berpura-pura mengatur tali sepatunya. Ia tidak bisa membiarkan Keenan melihat betapa play tadi mengacaukan pertahanan dirinya sendiri—betapa tepat dan memuaskannya momen itu.

'Gue tahu lu bisa, Keenan.'

Rakha tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Wajahnya tetap sedatar biasa.

Namun Keenan tahu.

Ia selalu tahu.

Keenan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia berjalan santai menghampiri Rakha, mengambil botol airnya sendiri, lalu berdiri tepat di sampingnya.

Ia menenggak air, lalu menyikut Rakha pelan.

Rakha pura-pura tidak terganggu.

"Gimana?" tanya Keenan, suaranya rendah—mengusik.

Rakha tidak menoleh. Ia mencondongkan badan, pura-pura memperhatikan sol sepatunya. "Gimana apanya?"

"Umpanku," kata Keenan, nada suaranya sarat kepuasan. "Mulus, kan? Padahal itu pass dadakan."

Rakha mendengus pelan. "Itu teknik biasa," jawabnya singkat, disusul batuk kecil.

"Biasa?" Keenan tertawa kecil—ejekan yang akrab. "Kalau biasa, harusnya bola itu nyangkut di wajah lu, Kapten. Tapi lu nangkap bolanya tanpa melambat sedikit pun." Ia melirik Rakha sekilas. "Lu percaya gue nggak bakal salah, kan?"

Rakha menegakkan badan. Akhirnya ia menoleh.

Tatapan dingin yang biasa ia pakai sempat muncul, lalu runtuh sebelum sempat bertahan. Yang tersisa hanya sisa adrenalin dan kepuasan yang terlalu jujur untuk disembunyikan.

"Benar," katanya akhirnya. "Lu nggak pernah salah." Ia berhenti sejenak. "Sia-sia gue ngelatih lu malam itu kalau permainan lu masih jelek."

Keenan hanya mengangkat alis, senyum kecil mengembang. Tidak membantah.

"Tenang," katanya ringan. "Gue selalu inget ajaran kapten gue yang perfeksionis ini."

Dari sudut lapangan, suara Pelatih Arwin mulai memanggil memotong momen yang nyaris terlalu personal.

"Sudah tahu kan," bisik Keenan sebelum berbalik menuju Pelatih, "kita memang seharusnya sinkron sejak dulu."

Kata-kata itu ringan. Hampir santai.

Tapi justru itulah deklarasi kemenangan yang sesungguhnya.

Rakha tetap berdiri di tempatnya. Tenggorokannya tercekat.

'Sial.'

Ia tidak bisa lagi menyangkalnya—bahwa apa pun yang selama ini ia tolak, apa pun jarak yang ia jaga, mereka sudah terikat. Terlalu lama. Terlalu dalam. Dan kini, terlalu nyata untuk diabaikan.

Keterikatan.

Peluit berbunyi. Time-out selesai. Kedua tim kembali ke lapangan.

Rakha berlari, memaksa pikirannya fokus—pada formasi lawan, pada posisi, pada hitungan. Namun matanya, tanpa izin, tetap mencari Keenan.

Dan dari sudut pandangnya, Keenan tampak sebaliknya. Bahunya rileks, geraknya ringan, matanya tajam—penuh keyakinan. Seolah tekanan pertandingan ini hanya angka, bukan beban.

Bola kembali di tangan Keenan.

Detik-detik berlalu. Skor masih ketat.

Keenan melewati satu defender. Lalu yang lain.

Dan sebelum Rakha sempat berpikir, tanpa aba-aba. Tanpa isyarat. Keenan mengirimkan pass yang sama persis seperti sebelumnya.

Bounce pass. Cepat. Rendah. Menuju ruang kosong di garis pertahanan.

Menuju Rakha.

Rakha tahu persis ke mana bola itu akan mendarat.

Kali ini, ia tidak ragu. Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Dengan satu langkah cepat, ia memotong pertahanan, meraih bola, dan melompat.

Bola masuk.

Skor berubah: 89–85.

Sorak penonton meledak.

Itu bukan kebetulan.

Dan Rakha tahu itu, meski belum siap menyebutnya dengan apa. Ada sesuatu yang bekerja di antara mereka, bergerak tanpa kata, lahir dari kebersamaan yang terlalu sering ia bantah.

Keenan tersenyum lebar. Ia menatap Rakha, tidak mengatakan apa pun. Tidak perlu. Tatapannya sudah cukup jelas.

Rakha mendarat. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena adrenalin yang dibagi. Ia menatap Keenan. Sudut bibirnya bergerak, hampir tak bisa disebut senyum.

Kejengkelan masih ada. Tapi kebanggaan itu… lolos juga, meski cuma sesaat.

"Lu memang hebat, Keenan," gumam Rakha pelan. Cukup pelan untuk tidak menjadi pengakuan penuh. Cukup jelas untuk didengar Keenan.

Keenan tertawa lepas. Tawa yang ringan. Jujur. Dan entah kenapa, Rakha baru sadar itu pertama kalinya ia mendengar tawa seperti itu di tengah pertandingan.

Sorak penonton masih menggema ketika Keenan mendekat. Adrenalin belum sepenuhnya turun, tubuh mereka masih panas oleh permainan.

Tanpa banyak pikir, Keenan melingkarkan lengan ke leher Rakha dan menyeretnya turun ke lantai.

Rakha sempat hendak protes. Tapi kali ini, ia tidak mendorong Keenan menjauh.

Ia tertawa.

Tertawa lepas, sesuatu yang jarang, hampir tak pernah. Seolah semua ketegangan yang selama ini ia jaga runtuh begitu saja.

Keenan tertegun. Ia menatap Rakha sejenak, kagum, sebelum akhirnya merebahkan diri di sampingnya. Menatap langit-langit gedung yang dipenuhi lampu terang, ikut tertawa tanpa benar-benar tahu apa yang mereka tertawakan.

Untuk pertama kalinya, Rakha membiarkannya tetap di sana.

Dan itu saja sudah cukup sebagai jawaban.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!