NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 Merawat Luka

"Jadi begitu, pak Sena." ujar pak Wiryo lirih,

"yang berat adalah kenangan saya-" kalimatnya tertahan sebentar, "-Bukan! Tapi kenangan banyak orang yang harus ikut tumbang bersama Rerindang."

Kami terdiam.

Ia tidak menyangka suara Pak Wiryo bisa serapuh itu. Lelaki tua yang biasanya tegar dan kolot, kini tampak seperti pemuda yang sedang merawat luka.

Angin sore menyusup di antara daun-daun Rerindang, membuat bayangannya bergerak pelan di tanah. Seolah pohon itu ikut mendengarkan.

Pak Wiryo menelan ludah, suaranya pecah lagi. "Pohon ini… bukan cuma kayu, pak Sena. Bukan cuma akar dan daun." Ia menatap batang Rerindang, lama, seperti menatap wajah seseorang yang pernah ia cintai.

"Di sini… banyak orang jatuh cinta. Banyak orang berdoa. Banyak orang sembuh dari patah hati." Ia mengusap batang pohon itu dengan jemari yang bergetar.

"Dan saya… saya kehilangan seseorang di sini." Pak Sena menunduk, tidak berani memotong.

Pak Wiryo menarik napas panjang, napas yang terdengar seperti seseorang yang sedang mengangkat beban bertahun-tahun.

"Kalau Rerindang ditebang… bukan cuma pohonnya yang hilang." Ia menatap pak Sena, matanya merah tapi tidak menangis.

"Yang hilang itu… tempat orang-orang untuk menyimpan bagian terbaik hidupnya."

Ia menepuk batang pohon itu pelan, hampir seperti menepuk bahu sahabat lama. "Dan saya…" suaranya melemah, "saya nggak punya tempat lain buat menyimpan Siska."

Hening jatuh. Hening yang panjang, berat, dan penuh makna.

Rerindang berdiri tegak, seperti sedang memeluk kenangan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Aku berdiri tidak jauh dari Pak Wiryo, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Suaranya lirih, tapi terasa berat, seperti seseorang yang sedang memegang kenangan yang hampir jatuh dari genggamannya.

Seperti ada sesuatu yang hangat, namun perih di dadaku. Karena melihat cara Pak Wiryo menatap pohon itu.

Aku melangkah maju, pelan, takut mengganggu kesunyian yang sedang memeluknya.

"Pak…" panggilku lembut.

Pak Wiryo menoleh, matanya masih merah. "Ya, Mir…?"

"Kalau… kalau Rerindang memang harus ditebang," kataku hati-hati, "bagaimana kalau kita tanam kembali?"

Pak Wiryo mengerutkan kening. "Tanam kembali?"

Aku mengangguk. "Rerindang yang baru. Yang tumbuh dari batang yang sama. Yang tetap Rerindang… tapi jadi sosok baru."

Angin sore lewat, menggoyangkan daun-daun besar di atas kami. Bayangan daun pergi dari wajah Pak Wiryo, membuatnya tampak seperti punya sedikit harapan.

Aku melanjutkan, suaraku lebih mantap. "Panen tahun ini… bisa jadi panen terakhir Rerindang yang lama. Panen batang kayunya, panen juga kenangan yang sudah ia jaga puluhan tahun."

Pak Wiryo menunduk. Aku bisa melihat jemarinya semakin bergetar.

"Tapi setelah itu," kataku, "kita tanam kembali, kita rawat bersama, kita jaga bersama. Rerindang akan tumbuh lagi."

Ia memejamkan mata setelah melihat ke arah bapak, "Kalau ditebang… aku akan kehilangan Siska sekali lagi.”

Aku mendekat, berdiri tepat di sampingnya. "Pak… Siska nggak hilang di pohon ini."

Aku menyentuh batang Rerindang dengan lembut. "Dia ada di bapak. Di cerita bapak. Di orang-orang yang pernah dengar kisahnya."

Pak Wiryo membuka mata, menatapku lama seperti mencari sesuatu di wajahku.

"Kalau kita tanam kembali," kataku pelan, "Rerindang yang baru akan tumbuh membawa semua kenangan itu. Bukan menghapus. Tapi meneruskan."

Akhirnya, Pak Wiryo mengangguk pelan. Gerakan kecil, tapi terasa seperti gunung yang bergeser.

"Kalau begitu…" katanya lirih, "panen kali ini… bukan akhir."

Aku tersenyum kecil. "Bukan, pak. Ini awal."

Pak Wiryo menatap batang Rerindang untuk waktu yang lama. "Baiklah," katanya akhirnya, suaranya lebih mantap.

"Kita tebang Rerindang… lalu kita tanam kembali."

Angin berhembus, dan daun-daun pohon itu bergoyang seperti seseorang yang mengangguk setuju.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!