"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejutan dari Deva
Lusi menahan rasa kesalnya melihat sepeda yang sudah tak utuh, roda belakangnya terlepas dan entah ada di mana, lalu keranjang depannya pun sudah tidak di tempatnya. mata Yulia melotot sempurna melihat sepedanya yang di rusak orang lain
"SIAPA YANG RUSAKIN SEPEDA GUE!!!" teriak Yulia marah, Claudia sendiri menengok ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu, hingga matanya mengarah pada pohon mangga tempat roda sepeda Yulia di gantung pada ranting yang cukup tinggi
"Yul, roda sepeda loe disana.." tunjuk Claudia
tawa tiga orang yang berada di dalam mobilnya masing-masing itu cukup renyah, tiga gadis yang terlihat bengong menatap ke arah roda di atas pohon itu terasa lucu bagi mereka, ada kertas putih yang tertempel di roda sana Lusi tanpa fikir panjang memanjat pohon tak peduli dengan rok pendeknya karena ada celana pendek didalam
di kertas tertulis "Suka? lain kali lebih tinggi lagi!" dan itu berhasil membuat Lusi kesal setengah mati. setelah turun kertas itu di rebut Claudia dan Yulia yang penasaran, awalnya Lusi mengira itu ulah Marsha tapi ada satu tulisan lagi di balik kertasnya yang Lusi belum sempat baca
"gadis manis rasa cocopandan" serempak Yulia dan Caludia membaca tulisan itu, Lusi langsung tau siapa pelakunya
"DEVAAA!!!!" teriak Lusi kesal mengejutkan dua orang itu. tiga mobil yang terparkir sedikit jauh itu melaju pergi, sadar dengan itu Lusi tak bisa berbuat apa-apa sekarang karena Deva sudah pergi
"gimana nih sepeda nya, masa iya di tinggal di sini?" gumam Yulia sedih, Lusi merasa bersalah karena Deva yang menargetkan dirinya tapi malah salah sasaran, sepeda itu bukan miliknya tapi milik Yulia
"maaf ya Yul.." Lusi memungut sepeda, roda dan keranjang nya, menenteng nya untuk di bawa ke bengkel
"gue tanggung jawab kok, gue benerin sepeda nya" lanjut Lusi
"sepedanya biarin di sini aja, nanti gue suruh mang ujang yang ngambil dan bawa ke bengkel kita pulang aja" ucap Caludia, Lusi menaruh kembali sepeda itu dan mereka pulang dengan berjalan kaki, Claudia pun mendorong sepedanya ikut berjalan dengan dua sahabat barunya itu.
.
"jadi maksudnya kalian selama tiga hari bakalan di bukit?" tanya Bisma yang sedang mengulek bumbu rujak untuk tiga gadis itu
"iya kak.. kakak gak mau pulang kampung? bapak sama ibu udah kangen banget pasti sama kita" jawab Lusi yang memotong buah
"kakak kan kerja, pulangnya nanti aja kalo ada waktu.. hari ini kakak izin satu hari juga atas permintaan kamu yang pengen di tunggu pulang sekolah" ucap Bisma
"kesel banget deh kak.. masa tadi ada yang jahatin Yuli, sepeda Yuli di rusakin orang!" cerita Yulia tiba-tiba. Claudia sepertinya tau seluk beluk niat Yulia yang bercerita
'pantes aja Yulia genit, orang cowok nya aja seganteng ini! gak heran sih Lusi cakep orang kakaknya aja bikin naksir berat!' batin Claudia
"terus sepedanya dimana? siapa yang rusakin? mau kakak tegurin?" tanya Bisma terkejut, pantas saja mereka pulang tanpa sepeda tadi, dirinya tak sempat bertanya karena dya gadis itu membawa satu temannya lagi ke sana dan membuatnya harus bergabung dengan mereka
'udah ramah, maco lagi! pacar idaman banget sih ini!' batin Claudia lagi
"udah aku bantuin kok kak, tadi aku suruh mamang di rumah aku yang urus!" celetuk Claudia cepat ingin di puji oleh Bisma
"jangan ciptain musuh di sekolah, kakak udah pernah bilang kan ke kalian berdua" ucap Bisma pada mereka, mereka bertiga mengangguk setuju
"tapi kak, mereka yang mulai duluan kalo gak aku balas mereka bakalan anggap aku mudah ditindas dan selamanya aku bakalan di bully!" Lusi menjelaskan sedikit situasi yang di alaminya di sekolah
"ya walapun sebenarnya karena Lusi yang gak sengaja nabrak satu orang, tapi kan Lusi gak sengaja! udah minta maaf juga, udah Lusi bersihin juga seragamnya yang kena debu dikit itu!" lanjut Lusi, Bisma menaruh cobek di tengah-tengah dan membantu adik-adiknya itu mengupas buah
"mau kakak bantu tegurin? atau kamu bisa lapor ke BK kan?" sahut Bisma lagi mereka bertiga serempak menggeleng
"masalahnya yang jadi musuh Lusi tuh orang yang gak bisa di ganggu kak.. dia anak donatur tetap di sekolah, dia siswa berprestasi tapi ya gitu.. dia benci di ganggu jadi kalo dia di ganggu dia bakalan balas berpuluh-puluh kali lipat kak, mana ada yang berani lawan dia orang guru-guru aja pada tutup mata!" jawab Claudia
"ohh.. jadi dia anak yang sok berkuasa ya? kakak pernah punya temen yang kayak gitu, di anak manja" jawab Bisma faham
"nah itu! kak Bisma pasti tau kan rasanya jadi Lusi!! pengen Lusi cekik deh lehernya!!" gerutu Lusi
"lain kali hindarin kontak sama disa, dalam segi apapun! udah yang lalu biarin aja gak udah di gubris nanti juga berhenti sendiri dia" jawab Bisma memberi saran sambil mengelus lembut kepala adiknya itu, Yulia dan Caludia merasa cemburu melihat kepala Lusi yang elus, Bisma memang terlalu menunjukkan rasa sayangnya pada Lusi dan itu terjadi dari sejak mereka masih kecil
"kakak mau nitip sesuatu gak? nanti aku bilang sama ibu disana" tanya Lusi, mereka mulai menikmati rujak yang mereka buat
"astaga ini apa!! siapa Chef ajaib yang buat bumbu rujak ini hah!! ENAK BANGEETT!!" teriak Caludia tiba-tiba, sifat lebayy nya sangat mirip dengan Yulia dan Lusi, Bisma sampai melepas tawanya melihat gadis SMA itu
"lebayyyy!!" serempak Yulia dan Lusi, Bisma semakin tertawa sepertinya semenjak Lusi pindah dan ikut merantau dengannya mengundang begitu banyak warna dalam hidupnya, dia sangat bersyukur bisa di kelilingi bocah-bocah yang membuatnya tertawa itu
"kak kenapa gak jadi Koki aja? atau kenapa kakak gak jualan rujak aja, sumpah sih pasti bakalan ramai banget yang beli kak.. tenang aja nanti Odii yang bantu promosi gimana??" ucap Claudia memberi saran, rasanya sayang sekali jika Bisma tidak memanfaatkan bakat nya membuat rujak itu
"kakak udah kerja di Brew & Co, sebagai barista di sana" jawab Bisma menolak halus saran Claudia. Lusi juga pernah memberi saran yang sama beberapa tahun yang lalu sayangnya Bisma tak tertarik menjual rujak
"yahhh.." lesu Caludia yang sedikit kecewa
"nanti kakak pikirin mau nitip apa" ucap Bisma pada Lusi, Lusi mengangguk dengan semangat
tidak cuma rujak, Caludia juga bisa mencoba masakan Bisma karena semalam Lusi sudah memberi taunya jika ada teman yang akan datang bermain kesana Bisma sudah memasak untuk mereka, memasak juga menjadi hobi lain Bisma.
melihat adiknya itu tertawa lepas dengan dua temannya yang lain, Bisma merasa senang dan melepas rasa ke khawatiran nya, sebelumnya dia masih khawatir adiknya itu tak bisa berbaur dengan baik dengan orang-orang kota nyatanya malah sebaliknya walaupun beberapa saat yang lalu adiknya menceritakan dia punya musuh di sekolah
Bisma menatap ke luar jendela, menikmati gerimis yang perlahan turun. aroma tanah yang menyambut setiap rintik air hujan itu terasa menenangkan bagi Bisma rasa rindunya pada Desa dan orang tua di sana tiba-tiba menyelimuti hatinya
'bapak bilang ada yang mau beli lahan disana buat di jadiin lapangan berkuda.. apa bapak setuju ya?' batin Bisma teringat dengan obrolan mereka pagi tadi
"kakak ngapain disini?" tanya Lusi yang mengantar gelas, Bisma yang duduk di kursi sambil menikmati hujan itu di kejutkan oleh suara Lusi yang tiba-tiba
"liatin hujan" jawab Bisma
"ya gak di dapur juga kali kak! gabung yuk sama kita" ajak Lusi
"bulan depan kayaknya kakak akan pulang sebentar.. bantuin bapak ngurusin sesuatu" ucap Bisma, Lusi tersenyum
"Lusi sih gak masalah.. ada Yuli juga kan disini" jawab Lusi