NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Kedua orang tua hanya tersenyum saja, sedangkan anaknya diam tidak bisa berkata apa-apa. Karena kalau anaknya berkata sesuatu pun, tetap saja salah di pandangan kedua mama mereka.

Akhirnya Papa Alia kembali masuk ke dalam, sedangkan Mama Alia sudah lebih dulu berada di ruangan kepala sekolah. Namun, Alia sempat melihat ke arah papanya.

“Papa…”

Papanya hanya diam dan tidak mau menatap ke arah Alia sedikit pun. Ia kecewa. Alia pun berusaha menahan papanya sebelum masuk.

“Papa, jangan marah dong sama aku. Aku benar-benar minta maaf sama Papa. Aku kecewa juga udah bikin Papa marah sama aku. Please, Pa… maafin aku.”

Namun, papanya tetap diam dan akhirnya masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Alia mendecak kesal pada dirinya sendiri karena sudah membuat masalah.

---

Di ruang kepala sekolah

Mereka duduk di bangku yang telah disediakan, menghadap langsung ke arah kepala sekolah. Alia tak berani menatap kepala sekolah, karena takut. Sementara itu, Mama hanya diam, takut jika Papa akan meluapkan amarahnya karena ulah Alia.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali Alia berbuat kesalahan. Sudah sering, sampai-sampai papanya merasa sangat kesal dan kecewa. Bahkan, sesekali papanya merasa seolah-olah ini bukanlah anaknya sendiri. Tapi, bagaimanapun juga, Alia tetap anaknya.

Kesalahan yang diperbuat Alia pun bukan hanya soal sekolah. Sejak mengenal seorang pria, Alia berubah drastis. Papanya paham bahwa cinta memang bisa membuat seseorang bertingkah aneh, tapi tetap saja, ia merasa perubahan Alia terlalu jauh.

Kadang papanya bertanya-tanya, apakah ia terlalu keras mendidik anaknya? Namun, di sisi lain ia juga merasa orang tua selalu benar.

“Baik, Pak,” ucap kepala sekolah, “jadi begini… saya sudah mendengar dari pihak orang tua pria. Tapi saya juga ingin mendengar dari orang tua pihak wanita. Menurut Bapak, apakah anak Bapak tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi?”

Papa menarik napas panjang. “Kalau soal itu, tanyakan saja langsung pada anaknya, Pak. Saya sendiri tidak tahu. Saya sebagai papanya juga pusing dengan tingkah anak saya. Jujur, Pak, sekarang saya sedang sibuk sekali. Saya sebenarnya ada rapat sebentar lagi, tapi karena anak saya selalu berbuat salah, jadinya saya harus ke sekolah, mengurus masalah yang terus menyita waktu saya.”

Ucapan itu membuat hati Alia hancur. Ia tak menyangka papanya bisa sekecewa itu terhadap dirinya. Saat itu juga, Alia bertekad ingin berubah, ingin membuat papanya bangga lagi. Tapi sulit, sebab cintanya pada pria itu terlalu kuat hingga menjauhkan dirinya dari orang tua.

Kepala sekolah berusaha menengahi. “Bapak, Ibu… maaf kalau saya lancang. Tapi sejujurnya, seusia Alia memang masa-masa bandel. Mohon dimaklumi. Tapi saya yakin, Alia sebenarnya anak baik. Dia juga siswa berprestasi di sekolah ini.”

Papa hanya diam, tetap tenggelam dalam rasa kecewanya.

---

Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah

Papa dan Mama berjalan keluar lebih dulu. Alia berharap papanya menoleh sedikit saja, tapi papanya tidak menoleh sama sekali, berjalan lurus dengan wajah tegas.

Mama sempat menatap Alia dengan iba. Walau Alia adalah anak semata wayang, papanya tidak pernah sekalipun memanjakannya. Semua itu karena Papa tidak ingin salah mendidik.

“Sayang, kamu tabah ya,” ucap Mama lembut. “Mama yakin kok, Papa itu sayang sama kamu. Cuma mungkin Papa lagi sibuk. Kadang Papa juga punya beban pikiran yang nggak bisa dibagi ke kita. Jadi, tanpa sadar, dia meluapkan masalah itu ke kamu. Kamu harus bisa memahami bapakmu, ya, Nak. Bukan maksud Mama nggak membela kamu, tapi Mama yakin Papa itu sebenarnya sayang banget sama kamu. Orang tua mana sih yang nggak sayang sama anaknya? Apalagi kamu anak satu-satunya.”

Alia menunduk, mencoba memahami walau hatinya sakit. Ia sadar, ia yang salah karena saat jam belajar malah bolos. Tapi ia juga ingin mengerti posisi papanya, walau sulit.

“Iya, Mah. Alia akan coba memahami Papa… dan Mama. Maafin aku, ya. Aku banyak salah. Tapi aku nggak pernah marah kalau Mama dan Papa negur aku. Aku juga sadar aku sering salah. Semoga ke depannya aku nggak bikin kesalahan lagi, Mah.”

Mama tersenyum tipis. “Kamu nggak sepenuhnya salah, Nak. Kamu tuh nggak bandel, cuma… ya, ingin mencoba. Mama juga pernah muda, tahu rasanya. Jadi Mama paham. Mungkin memang Papa kamu lagi sensi aja. Jadi jangan diambil hati, ya. Mama yakin, kalau kamu terus kasih yang terbaik, Papa pasti makin sayang sama kamu.”

Alia tersenyum kecil. “Makasih ya, Ma, udah selalu kasih aku wejangan. Aku janji bakal dengerin. Maaf kalau aku sering bikin salah. Mama nggak pernah capek kan sama aku?”

Mama mengelus kepala Alia. “Enggak, sayang. Mama nggak akan pernah capek. Sekarang Mama harus pergi dulu sama Papa kamu. Kalau pulangnya telat, kamu makan duluan aja, ya. Atau kita makan di luar nanti. Tapi jangan lupa kabarin Mama, oke?”

Alia mengangguk. Mamanya pergi menyusul Papa, sementara Alia kembali ke kelas.

---

Di kelas, ia disambut Arnold.

“Papa kamu gimana, sayang?”

Alia menghela napas. “Nggak tahu… semua jadi abu-abu. Aku nggak bisa jelasin. Tapi maaf ya, boleh nggak aku minta waktu sendiri dulu? Bukan maksud aku nyakitin kamu, tapi aku lagi pengen sendiri. Boleh kan?”

Arnold tersenyum lembut. “Boleh kok. Tapi kalau kamu butuh aku, bilang aja. Aku pasti selalu ada buat kamu. Ya udah, aku ke kelas dulu ya. Nanti kita ketemu lagi setelah pulang sekolah.”

Arnold sempat mengusap kepala Alia, lalu pergi.

Alia pun masuk ke kelas. Walau tanpa semangat belajar, ia bertekad untuk membanggakan papanya. Ia ingin berdamai dengan papanya dengan caranya sendiri.

---

Sore hari, sepulang sekolah

Alia tiba di rumah. Hanya ada bibi, karena orang tuanya belum pulang. Masih dengan seragam putih abu-abu, ia disambut bibi.

“Non Alia…”

“Iya, Bi, ada apa?”

Alia tersenyum pada bibinya, lalu mendengarkan pesan yang dititipkan oleh kedua orang tuanya melalui sang bibi.

Alia kaget saat melihat surat yang diberikan orang tuanya untuk dirinya. Namun, ia tidak mempercayai isi surat itu. Seketika, tanpa berpikir panjang, ia langsung menelpon orang tuanya.

Walau sebenarnya, Alia sendiri tidak tahu apakah orang tuanya akan mengangkat telepon darinya atau tidak, karena papanya sedang sangat marah besar kepadanya.

“Bi, bener deh… ini beneran Papa dan Mama yang kasih tahu ke Bibi, atau mereka salah kasih info, sih, Bi?”

“Nggak tahu, Non. Soalnya tadi Bibi nggak dikasih tahu apa-apa, cuma disuruh kasih surat ini aja ke Non. Emangnya, apa sih isi suratnya? Kalau Bibi boleh tahu.”

Alia jadi bingung bagaimana harus berbicara kepada bibinya. Padahal, sejak kecil ia sudah sangat akrab dengan Bibi. Hanya saja, kali ini rasanya agak aneh baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!