NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: KEJADIAN YANG MENGUBAH SEGALANYA

...BAB 12 ...

...KEJADIAN YANG MENGUBAH SEGALANYA...

Dua tahun setelah kepergian Ratna dan sebelum pernikahan Aditya dan Kirana.

Suara deru kendaraan memenuhi jalan raya yang basah bekas hujan sore itu. Langit Jakarta masih kelabu, sama seperti suasana hati Kirana saat itu. Ia baru saja pulang dari sekolah dasar tempat ia mengajar, langkahnya tergesa-gesa menuju rumah kontrakan kecil mereka di pinggiran kota Bandung.

Di rumah, ada Dimas yang baru berusia tujuh tahun sedang menunggu, dan ada suaminya, Rian, yang hari itu sedang bekerja lembur sebagai pengantar makanan. Sejak di-PHK dari pabrik tiga tahun lalu, Rian memang bekerja serabutan. Kadang menjadi kuli bangunan, kadang mengantar barang, dan belakangan ini ia menjadi pengantar makanan daring demi menambah penghasilan. Meski lelah, Rian tidak pernah mengeluh. Ia selalu bilang, asalkan bisa memberi makan istri dan anaknya, apa pun akan ia lakukan.

Sore itu, tepat pukul lima lewat tiga puluh menit, ponsel Kirana berdering kencang. Di layar tertera nomor yang tidak dikenal. Kirana mengangkatnya dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba menjalar di dada.

“Halo, selamat sore… apakah benar ini istri dari Bapak Rian Suwanto?” suara di ujung telepon terdengar gugup dan berat.

“Iya benar. Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?”

“Maaf, Bu… ini kami dari Rumah Sakit Umum Daerah. Suami Ibu baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia tertabrak mobil saat sedang melintas di perempatan jalan raya. Kondisinya… cukup kritis, Bu. Tolong segera datang ke sini.”

Ponsel di tangan Kirana terjatuh ke lantai. Dunia di sekelilingnya seolah runtuh seketika. Kakinya lemas, napasnya tercekat, dan tangisnya meledak di tengah jalanan yang ramai. Tanpa pikir panjang, ia segera menitipkan Dimas pada tetangga, lalu berlari sekuat tenaga menuju rumah sakit dengan hati yang hancur.

Sesampainya di rumah sakit, apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Rian terbaring diam di ruang gawat darurat, tubuhnya penuh luka, helmnya hancur lebur tergeletak di lantai. Dokter berkata, benturan itu terlalu keras. Peluang untuk selamat sangat kecil.

Dan benar saja, kurang dari dua jam kemudian, Rian menghembuskan napas terakhir di pelukan Kirana, meninggalkan istri yang dicintainya dan satu anak laki-laki yang masih kecil.

Keesokan harinya, suasana di rumah duka itu hening dan penuh duka. Kirana duduk di sudut ruangan, mata bengkak, wajah pucat, memeluk Dimas yang terus menangis memanggil-manggil nama Ayahnya. Di luar, terdengar suara mobil mewah berhenti tepat di depan rumah kontrakan mereka.

Sebuah mobil sedan hitam besar, mobil yang jarang sekali terlihat masuk ke jalan sempit perumahan itu. Dari dalam mobil turun dua orang. Seorang lelaki paruh baya berpakaian sopan, wajahnya tampan namun terlihat sangat bersalah dan penuh penyesalan. Di sebelahnya ada seorang pria muda berpakaian seragam sopir dengan wajah pucat ketakutan.

Itu adalah Aditya Mahendra dan supir pribadinya, Pak Surya.

Mereka masuk ke dalam rumah dengan langkah ragu. Aditya sudah mencari alamat keluarga korban selama semalam suntuk. Ia tidak bisa tidur semalaman karena rasa bersalah yang luar biasa. Ia tahu, kecelakaan itu murni kesalahan supirnya yang melaju terlalu cepat karena terburu-buru mengantar Aditya ke pertemuan penting, sehingga tidak sempat mengerem saat Rian tiba-tiba memotong jalan.

Sebagai orang yang bertanggung jawab, Aditya tidak mau lari atau menyelesaikan masalah dengan cara kekuasaan. Ia bertekad datang sendiri, meminta maaf secara langsung, dan menanggung semua biaya pemakaman serta kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan.

Aditya melangkah mendekati Kirana yang sedang duduk tertunduk. Ia menundukkan badannya dalam-dalam, suara bicaranya bergetar karena rasa bersalah yang mendalam.

“Ibu… saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya Aditya Mahendra. Kecelakaan yang menimpa suami Ibu itu adalah kesalahan supir saya. Saya datang ke sini untuk meminta maaf, dan saya siap bertanggung jawab atas segala hal. Saya akan menanggung semua biaya, saya akan pastikan Ibu dan anak Ibu tidak kekurangan apa pun mulai hari ini.”

Kirana perlahan mengangkat wajahnya, hendak melihat wajah orang yang menjadi penyebab suaminya pergi selamanya. Namun, detik itu juga, napasnya tertahan di tenggorokan.

Mata mereka bertemu.

Wajah itu… wajah itu sangat ia kenal. Wajah lelaki yang dulu sering datang menjemput Ratna, wajah lelaki yang dulu selalu tampak bahagia berjalan bergandengan tangan dengan istrinya yang cantik, wajah Ayah dari gadis kecil bernama Alina yang dulu pernah ia ajari membaca, ia ceritakan dongeng, dan ia sayangi seperti anaknya sendiri.

“Bapak… Bapak Aditya?” bisik Kirana dengan suara parau, matanya membelalak kaget.

Aditya pun terkejut setengah mati. Ia menatap wajah wanita di depannya lekat-lekat, mencari jejak ingatan di kepalanya. Wajah yang sederhana, mata yang lembut namun sekarang penuh air mata… wajah yang pernah sering ia lihat di rumahnya dulu, saat mendiang istrinya masih ada. Saat Alina belum lancar membaca dan berhitung.

“Mbak Kirana?” Aditya menyebutkan namanya dengan nada tidak percaya. “Kamu… kamu Mbak Kirana? Guru privatnya Alina yang dulu dicarikan sama Ratna?”

Kirana mengangguk pelan, air mata kembali mengalir deras di pipinya, kali ini bukan hanya karena kesedihan, tapi juga karena takdir yang terasa begitu kejam dan aneh.

“Iya, Pak. Saya Kirana. Sebelum Ibu saya meninggal, saya sering datang ke rumah Bapak di Jakarta. Saya yang mengajari Alina membaca dan menulis dan sebagai imbalannya Mbak Ratna-lah yang membiayai pengobatan Ibu saya yang sakit keras pada waktu itu."

Hening menyelimuti ruangan itu. Aditya merasa seperti dipukul keras di kepalanya. Ia tidak pernah membayangkan, wanita yang dulu begitu dekat dengan mendiang istrinya, wanita yang pernah membantu mendidik putri kesayangannya, ternyata adalah istri dari orang yang tidak sengaja ditabrak oleh supirnya sendiri. Takdir benar-benar mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyakitkan.

“Ya Tuhan… Mbak Kirana… maafkan saya…” Aditya menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasa bersalahnya kini berlipat ganda. Ia merasa dunia ini terlalu sempit, dan nasib ini terasa begitu tidak adil bagi wanita baik di hadapannya ini. “Saya tidak tahu… sama sekali tidak tahu kalau itu suami kamu. Saya benar-benar tidak tahu…”

“Saya mengerti, Pak,” potong Kirana pelan, suaranya lembut meskipun hatinya sedang hancur. “Ini kecelakaan. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Saya tidak menyalahkan Bapak, dan tidak menyalahkan siapa pun. Ini sudah takdir Allah untuk suami saya.”

Namun, meskipun Kirana memaafkan, beban di hati Aditya tidak berkurang sedikit pun. Ia merasa berutang nyawa pada wanita ini. Ia merasa ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar memberi uang atau bantuan materi. Ia harus bertanggung jawab sepenuhnya.

Hari-hari berikutnya, Aditya benar-benar menepati janjinya. Ia mengurus semua proses pemakaman Rian dengan hormat dan layak. Ia sering datang ke rumah Kirana, membawa makanan, bertanya kabar, dan memastikan kebutuhan Kirana serta Dimas terpenuhi. Ia bahkan berusaha mencari pekerjaan yang lebih layak untuk Kirana, mengingat gajinya sebagai guru SD desa sangat kecil dan hampir tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan anaknya.

Aditya melihat betapa kerasnya perjuangan Kirana. Ia melihat Kirana yang bangun pagi sekali untuk mengajar, lalu pulang sore harus mengurus rumah, mengurus anak, semuanya sendirian. Ia melihat ketegaran wanita itu yang luar biasa, meskipun hatinya penuh luka. Dan di setiap kunjungannya, ingatannya selalu kembali pada mendiang istrinya, Ratna. Dulu Ratna selalu bilang, Kirana adalah wanita yang paling sabar, paling baik hati, dan paling tulus yang pernah ia kenal.

Waktu berjalan perlahan. Setiap kali Aditya datang, ia tidak pernah melihat sedikit pun wajah kesal atau rasa dendam di mata Kirana. Wanita itu selalu menyambutnya dengan senyum tulus, selalu melayani dengan sopan, bahkan seringkali malah ia yang menenangkan hati Aditya yang masih merasa bersalah.

Namun, masalah besar datang menghampiri Kirana. Sekolah tempat ia mengajar akan ditutup karena kekurangan murid. Penghasilan utamanya hilang sama sekali. Di saat yang sama, kondisi kesehatan Dimas sempat menurun drastis dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Kirana mulai terdesak kebutuhan. Hutang-hutang mulai datang menagih, dan ia tidak tahu lagi harus meminta tolong ke mana.

Di saat ia sedang bingung dan putus asa, Aditya datang kembali ke rumahnya. Kali ini, wajah Aditya terlihat sangat serius dan berat. Ia duduk di depan Kirana, menarik napas panjang sebelum berbicara.

“Mbak Kirana… saya sudah memikirkan ini matang-matang, sudah hampir dua bulan ini saya pikirkan setiap malam. Saya rasa, cara terbaik dan satu-satunya bagi saya untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang terjadi, dan juga cara terbaik untuk menjamin masa depan kamu dan Dimas… adalah dengan cara ini.”

Aditya menatap mata Kirana dengan pandangan yang jujur dan penuh kesungguhan.

“Mbak Kirana… maukah kamu menikah dengan saya?”

Kirana terkejut besar, matanya terbelalak kaget sampai hampir jatuh dari kursinya.

“Bapak… apa Bapak bicara serius?”

“Saya sangat serius, Mbak,” jawab Aditya tegas. “Saya tahu ini terdengar mendadak dan aneh. Saya duda, kamu janda. Kita sama-sama pernah kehilangan orang yang kita cintai. Tapi saya tidak tega melihat kamu terus berjuang sendirian begini. Saya tahu kamu wanita yang baik, wanita yang luar biasa. Ratna saja sangat menyayangimu, pasti dia pun akan setuju dengan keputusan saya ini.”

Aditya melanjutkan ucapannya, suaranya melembut namun tetap tegas.

“Alina sudah tidak punya Ibu. Dia masih butuh kasih sayang seorang ibu. Dan saya melihat, kamu sudah pernah menjadi sosok ibu kedua bagi Alina dulu. Kamu tahu sifatnya, kamu sudah pernah mengurusnya. Begitu pun Dimas, dia butuh sosok Ayah. Saya akan menjaga Dimas seperti anak kandung saya sendiri, sama seperti saya menyayangi Alina.”

Aditya menggenggam tangan Kirana dengan lembut.

“Bukan karena saya mau kasihan sama kamu, Kirana. Tapi karena saya rasa ini takdir yang dipertemukan Tuhan. Saya butuh teman hidup yang baik, ibu untuk anak saya. Kamu butuh sandaran hidup yang kuat, ayah untuk anakmu. Kita saling membutuhkan. Dan yang paling penting… saya ingin menebus kesalahan saya, saya ingin memastikan kamu hidup tenang, tidak lagi menderita sendirian.”

Kirana terdiam lama. Hatinya bimbang. Di satu sisi, ia merasa tidak pantas. Aditya adalah orang kaya, terpandang, punya segalanya. Sedangkan dirinya hanya guru desa miskin, janda dengan satu anak. Jarak di antara mereka terlalu jauh. Ia juga ingat betapa manjanya anak itu. Betapa Alina sangat mencintai mendiang Mamanya. Ia takut Alina tidak akan mau menerima kehadirannya.

Tapi di sisi lain, ia melihat kenyataan pahit di depannya. Hutang yang menumpuk, masa depan Dimas yang belum pasti, ketidakmampuannya untuk bertahan hidup sendirian lagi. Ia juga melihat ketulusan di mata Aditya, melihat niat baik lelaki itu yang memang tulus ingin bertanggung jawab dan berbuat baik.

Dan satu hal lagi yang membuat hatinya luluh: ia ingat pesan terakhir mendiang Ratna sebelum meninggal, yang selalu bilang, “Kirana, kalau nanti aku pergi, tolong sering tengoklah Alina. Aku percaya sama kamu.” Ratna saat itu di ambang keputusasaan.

Namun perintah Ratna belum sempat Karina lakukan. Karna jarak Bandung-Jakarta cukup memakan waktu lama, hingga membutuhkan biaya transportasi, dengan keadaan ekonomi Kirana yang pas-pasan bahkan seringnya kekurangan. Sudah lama sekali sejak Ibu Karina meninggal, dia pun belum pernah lagi melihat Alina. Bagaimana kabar anak itu sekarang?

Air mata Kirana menetes perlahan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Aditya dengan pandangan yang sudah bulat tekadnya.

“Baiklah, Pak Aditya… Saya mau menikah dengan anda...”

Aditya tersenyum lega, senyum yang tulus dan bahagia, senyum yang pertama kali muncul sejak Ratna meninggal dunia.

“Terima kasih, Kirana. Terima kasih banyak. Saya berjanji, saya akan menjaga kamu, menjaga Dimas, dan menjaga rumah tangga ini sebaik mungkin.”

Bersambung ....

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!