“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 16
‘Nyonya Alyra?’ Andi mengerutkan dahi, mengetahui keberadaan sang nyonya muda, berdiri membelakangi dia dan Erlan.
Perempuan yang terlihat anggun, mengenakan gaun berwarna biru langit, ada detail warna putih di bagian kerah hingga turun ke dada.
Lalu ia melangkah keluar tanpa menoleh.
“Tuan—”
“Kamu apa kabar?” Si wanita berambut pirang memotong cepat, membuat Andi kembali menutup mulut, urung untuk bicara.
Andi hendak memberitahu sang tuan, namun melihat Erlan yang terdiam kaku saat dipeluk si wanita, tak merespon risih atau pun menolak, Andi akhirnya memilih kembali diam.
Pemuda berwajah terbilang tampan itu hanya menatap tanpa ekspresi pada sosok wanita hamil yang melangkah pelan keluar dari lobi.
“Kenapa nggak angkat telepon? Kamu juga jarang membalas pesanku. Are you ok? Kamu nggak sakit, ‘kan?” Rentetan tanya seperti rel kereta api tak ada putusnya.
Wanita itu masih memeluk Erlan, kemudian melerai dengan perlahan, kini tangan menggenggam jemari pria itu.
“Kamu nggak kangen sama aku? Hm?” Alisnya diangkat tinggi, kemudian tersenyum secerah mentari pagi.
“Stefani?” Hanya satu kata yang keluar, sementara sekian banyak pertanyaan tak direspon olehnya. Erlan masih menatap tak percaya. “Ngapain kamu di sini?”
“Pengen ketemu kamu, dari bandara aku langsung menuju ke sini,” sahut perempuan pemilik nama Stefani.
“Sorry, aku sibuk, nggak ada waktu main hp, apalagi membalas pesanmu,” kata Erlan, jelas berdusta. Dia hanya enggan menanggapi pesan dari wanita yang terus menggilainya sejak usia remaja.
Kemudian ia lepas genggaman wanita itu.
“Erlan ….” Stefani menatap penuh rindu, suaranya dibuat manja nan mendayu-dayu. “Kamu kok gitu, sih. Kan kita baru ketemu setelah sekian lama berpisah, nggak mau ajak aku ke ruangan kerjamu dulu? Aku capek … pengen istirahat.”
Ia kembali meraih tangan Erlan, mengayunkan pelan ke kiri dan ke kanan, bertingkah seperti anak kecil yang tengah merayu untuk dibelikan jajan.
“Sorry, Fan. Aku sibuk, aku mau lanjut meeting.” Begitu lugas caranya menolak secara halus. “Kamu kan bisa langsung pulang atau menginap di hotel. Kenapa repot-repot datang ke sini cuma untuk istirahat?” Erlan mengerutkan kening terheran.
“Erlan ….” Fani mengerucutkan bibir. “Kamu kenapa, sih? Lagi badmood? Kata-katamu barusan bikin aku sakit hati, tau nggak? Kayak ngusir aku secara halus.”
“Aku kan udah bela-belain ke sini, mengudara selama berjam-jam, begitu mendarat … kamu orang pertama yang kucari,” lanjutnya. “Kenapa sikapmu dingin sekali?”
Ia memasang raut wajah memelas, berharap sedikit saja bisa menyentuh ujung hati seorang Erlando, setelah sekian tahun lamanya, ia masih terjebak di dalam hubungan rumit — cinta bertepuk sebelah tangan.
“Apa aku yang meminta? Enggak, ‘kan?” sergah Erlan. “Mendingan kamu pulang, deh. Aku lagi banyak kerjaan.”
Ia kemudian berjalan melewati si wanita, pergi tanpa sepatah kata.
Andi mengekori sang tuan dengan langkah mantap, tak memberi ekspresi apapun, ia bahkan sama sekali tak menatap Stefani.
Sementara wanita yang ditinggal menghentakkan kaki, sorot matanya berubah tajam, tak ada raut wajah secerah tadi.
“Erlan!!!!” Ia memekik sekuat hati, tak mempedulikan pasang mata yang menatapnya heran, sebagian orang berbisik mencemooh.
“Dia nggak waras?”
“Eh, tante pirang dari mana, nih?”
“Kayaknya dia perempuan yang ditolak sama Pak Erlan!”
“Bisa jadi.”
“Stress deh kayaknya.”
“Cinta ditolak, mental pun ikut rusak!”
“Hihihi!”
Fani menelan ludah, menatap sekeliling, setelah sadar dirinya menjadi tontonan banyak orang, akhirnya ia berbalik badan, melangkah meninggalkan gedung pusat Pradana Group.
.
.
.
Sementara di tempat lain.
Alyra baru saja memijakkan kaki di rumah Pradana, dan langsung disambut oleh suara pedas sang ibu mertua.
“Dari mana saja kau, wanita tak tahu diri?!”
Alyra memejamkan mata, menghela napas. Kakinya tak lagi melangkah, berhenti pada undakan tangga kedua.
“Habis ketemu teman, Ma.” Ia memutar badan, suara dibuat setenang mungkin.
“Kamu ini, ya. Sudah tau di rumah lagi repot malah keluyuran nggak jelas entah ke mana!” Intonasinya naik satu oktaf, tatapannya begitu sinis kepada menantu keduanya. “Kamu kan tau, di rumah mau ada acara arisan jam 4 sore nanti. Harusnya kamu, tuh, bantu-bantu di dapur!”
“Arisan?” Alyra mengerutkan keningnya. “Alyra nggak tau kalau di rumah akan ada acara.”
“Alesan aja! Jelas-jelas tadi pagi saya sudah minta Velisa untuk ngasih tau kamu!”
“Velisa nggak ngasih tau apa-apa, Ma.” Alyra tak mau bungkam, terus menimpali setiap kata sang ibu mertua.
Bukan berdusta, memang begitu adanya, ia tak menerima pemberitahuan apapun perihal acara yang akan digelar sore nanti.
‘Sial! Velisa pasti sengaja nggak ngasih tau aku, biar ada bahan repetan buat si tua ini!’ rutuknya dalam hati.
“Ada aja jawaban dan alasannya setiap diajak bicara, nggak mau disalahkan pula! Dasar kampung! Attitude-nya buruk sekali!” Zaskia menarik napas panjang, sungguh menguras tenaga menghadapi sang menantu yang terbilang cukup berani membantah.
“Perempuan rendahan kayak kamu ini mana tau soal attitude. Taunya cuma pergi keluyuran, foya-fota ngabisin harta, ingin berleha-leha di rumah mertua. Cih!” lanjutnya seraya mencebik sinis. “Ya, maklum lah. Namanya juga orang kaya baru, jadi kalap, aji mumpung ada yang bisa diporotin!”
“Ya biarin aja, yang diporotin juga duit suami sendiri,” sahut Alyra dengan nada santai.
Zaskia mendengus, tatapannya sangatlah tajam. “Nggak salah lagi, kamu itu memang keturunan Nirmala — perempuan penggoda, nggak punya etika! Menjadi cem-ceman bos-bos—”
“Bos-bos muda!” sergah Alyra. “Setidaknya mama Nirmala mendapatkan pengusaha muda, ganteng pula. Meskipun duda … beliau masih terlihat josjis!”
“Tidak beruban, tidak emosian, penuh perhatian dan selalu memprioritaskan istrinya!” sambung perempuan yang sudah kepalang muak, tak hanya sekali, ia kerap mendengar sindiran cemooh dari sang mertua, perihal latar belakangnya.
“Terserah! Saya nggak peduli,” ujar Zaskia, kedua tangan terlipat di depan dada, menatap angkuh pada Alyra. “Mau ayah tirimu tampan, perhatian atau ber-uang, saya nggak peduli!”
“Saya juga nggak pernah minta Mama untuk peduli.”
Zaskia mengangkat dagu, menatap penuh kesal. “Cepet ke dapur, bantuin Mbok Tum sama Wina, sekarang!”
Kehabisan kata, tak bisa lagi melawan menantunya.
Setelah membentak sang menantu, Zaskia melengos sinis, berjalan congkak ke arah ruang tamu.
Akhirnya Alyra melangkah malas ke arah dapur.
Di sana, Mbok Tum, Wina dan beberapa bibi tampak sangat sibuk mengolah pangan.
Alyra mendekat, langsung meraih adonan yang hendak dibuat camilan. “Biar saya aja yang nggoreng, Mbok.”
Baskom cukup besar berisi adonan donat, ia angkat dengan sekuat tenaga, lalu diletakan pada meja di dekat kompor.
“Ndak usah, Nyonya Muda. Biar Mbok saja yang urus, sampeyan istirahat saja,” ujar Mbok Tum, kembali mengambil alih posisi.
“Nggak apa-apa, Mbok. Saya bantu biar cepet beres.” Alyra tak mau pergi, ia paksa tetap berdiri pada posisi.
“Tapi, Nyonya—”
“Udah, nggak apa-apa. Mbok Tum bisa ambil alih pekerjaan lainnya,” ucap wanita berperut sedikit buncit.
“Kalau begitu … hati-hati, Nyonya. Ini minyak e cukup panas.” Dengan berat hati, Mbok Tum akhirnya pergi, membiarkan sang nyonya muda mengambil alih pekerjaannya.
Di tengah kesibukannya, Alyra berdiri dengan tatapan kosong, ingatan kembali dipenuhi oleh sosok wanita asing yang tadi memeluk suaminya.
“Sebenernya siapa dia? Bikin penasaran aja.”
Tanpa sadar, minyak yang hendak digunakan untuk menggoreng, telah menguap sangat panas. Tangannya tak sengaja turun, menyentuh wajan penggorengan.
“Aakhhh!”
*
*
Bersambung.