NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi ini, suasana di lantai dua puluh terasa lebih suram dari biasanya. Mataku menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Riko dan Siska, dua asisten setiaku, bahkan berjalan mengendap-endap seperti ninja setiap kali melewati kubikelku, takut memicu ledakan emosi dari manajer mereka yang sedang dalam mode senggol-bacok.

Aku menghela napas panjang, menenggelamkan wajahku di atas lipatan tangan di meja. Kenapa rasanya sepi sekali? Padahal, sebelum ide gila pernikahan kontrak ini dimulai, aku sudah terbiasa hidup mandiri tanpa campur tangan pria mana pun. Tapi sekarang, tidak melihat wajah menyebalkan Arkan atau tidak mendengar omelan sok berkuasanya selama dua puluh empat jam saja sudah membuat sistem kewarasanku berantakan.

Namun, tentu saja, gengsiku sebagai Naura si wanita karir independen menolak keras untuk mengirim pesan duluan. Pantang bagiku mengemis maaf kalau bukan dia yang memulai!

Lamunanku yang tragis terpecah ketika terdengar keributan kecil di dekat pintu masuk Departemen Pemasaran. Siska berlari kecil menghampiriku dengan wajah kebingungan, diikuti oleh seorang kurir berseragam yang membawa sebuah buket bunga mawar merah raksasa. Ukurannya begitu besar hingga nyaris menutupi wajah si kurir.

"Bu Naura, maaf mengganggu. Ini... ada kiriman paket," ucap Siska ragu-ragu.

Aku menegakkan tubuh, mengernyitkan dahi. "Paket untukku? Dari vendor katering?"

Kurir itu menurunkan sedikit buket bunganya, menatap secarik kertas di tangannya. "Bukan, Bu. Ini kiriman spesial untuk Bapak Arkan Mahendra, CEO Mahardika Group."

Alisku bertaut tajam. Kiriman spesial? Sejak kapan Arkan punya penggemar rahasia yang tahu posisiku di lantai dua puluh dan sengaja menggunakan jasaku sebagai kurir dadakan?

Tanpa banyak bicara, aku menarik buket bunga super berat itu dari tangan si kurir. Di tengah lautan mawar merah yang wanginya lumayan menyengat itu, terselip sebuah kartu ucapan beraksen emas. Dengan tangan sedikit bergetar karena emosi yang mulai tersulut, aku mencabut kartu itu dan membacanya dalam hati.

*Untuk Arkan sayang, pria terhebatku.*

*Terima kasih untuk malam yang luar biasa panas dan tak terlupakan waktu itu. Aku tidak sabar mengulanginya lagi setelah kamu bosan dengan mainan barumu.*

*Peluk cium dari wanitamu,*

*Clara.*

Deg!

Rasanya seperti ada godam tak kasat mata yang baru saja menghantam ulu hatiku. Mataku memanas, membaca deretan kalimat murahan itu berulang kali. Clara? Siapa Clara?! Malam yang luar biasa panas?! Mainan baru?! Jadi, selama ini Arkan punya simpanan bernama Clara, dan aku yang berstatus sebagai istri sahnya ini hanya dianggap 'mainan baru' yang membosankan?!

Darahku langsung mendidih hingga ke ubun-ubun. Gengsi, rasa bersalah, dan kerinduanku pada pria itu menguap tak berbekas, digantikan oleh amarah cemburu yang membakar rasionalitas. Oh, pantas saja dia berani menetapkan Aturan Jarak Pandang CEO dan menuduhku macam-macam soal Bastian! Ternyata dia sendiri sedang asyik bermain api di belakangku! Maling teriak maling!

"Terima kasih atas kerja keras Anda, Mas Kurir," ucapku dengan suara sedingin es di kutub utara. "Siska, kembali bekerja. Tidak ada yang boleh mengikutiku."

Dengan langkah lebar dan diiringi aura membunuh yang jauh lebih mengerikan dari milik Arkan, aku menyeret buket bunga raksasa itu menuju lift eksekutif. Karyawan yang berpapasan denganku refleks menempel ke dinding, memberikan jalan seolah aku adalah Godzilla yang siap meratakan kota.

Pintu lift terbuka di lantai lima puluh. Hadi yang sedang berdiri di meja resepsionis lobi eksekutif, langsung menjatuhkan pulpennya begitu melihat kemunculanku.

"I-ibu Naura? Ya Tuhan, Ibu bawa bunga sebesar itu untuk minta maaf ke Bapak? Astaga, romantis sekali, Bu! Bapak pasti langsung luluh dan perang nuklir di lantai ini bisa segera bera—"

"Minggir, Hadi," potongku tajam.

Melihat mataku yang menyala seperti iblis, Hadi seketika kicep. Dia menelan ludah dan otomatis melangkah mundur, menempel pada pilar marmer tanpa berani bernapas.

Tanpa mengetuk, aku menendang pintu kayu ek ganda ruang kerja Arkan hingga terbuka lebar. *Brak!*

Arkan yang sedang duduk di kursi kebesarannya, membaca berkas dengan kacamata bacanya yang membuat ketampanannya meningkat seribu persen, langsung mendongak kaget. Mata elangnya melebar melihatku berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan sebuah buket bunga mawar raksasa di pelukanku.

"Naura? Apa yang..."

Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, aku berjalan cepat menghampiri meja kerjanya dan membanting buket bunga itu tepat di atas tumpukan dokumen pentingnya. Kelopak mawar merah berhamburan ke segala arah.

"Kejutan spesial untukmu, Tuan CEO yang terhormat!" desisku dengan suara bergetar menahan amarah dan... entah kenapa, rasa ingin menangis. "Aku ini manajer pemasaranmu, bukan kurir cinta untuk selingkuhanmu! Kalau kamu ingin bermesraan dengan wanita bernama Clara ini, jangan libatkan aku!"

Arkan mematung. Dia menatap buket bunga di mejanya, lalu beralih menatapku dengan kening berkerut dalam. Dia melepaskan kacamata bacanya dengan gerakan pelan.

"Clara? Siapa Clara? Dan kenapa kamu membawa benda berbau menyengat ini ke ruangan saya?" tanya Arkan, suaranya tetap tenang namun menyiratkan kebingungan yang nyata.

"Jangan pura-pura amnesia, Arkan Mahendra! Baca saja kartunya!" Aku menunjuk kartu ucapan beraksen emas yang kini tergeletak di dekat *mouse* komputernya. "Malam yang panas?! Mainan baru?! Oh, jadi ini alasanmu mengibarkan bendera perang denganku dan membuat aturan jarak pandang konyol itu? Untuk menutupi kelakuanmu sendiri?!"

Mata Arkan menyipit tajam. Dia memungut kartu tersebut dan membaca isinya dalam diam. Semakin lama dia membaca, rahangnya semakin mengeras. Namun, anehnya, tidak ada kilat kepanikan di wajahnya. Alih-alih merasa bersalah atau tertangkap basah, Arkan justru mendekatkan kartu itu ke hidungnya, lalu mendengus meremehkan.

"Parfum *Baccarat* murahan tiruan," gumam Arkan pelan.

Dia lalu melempar kartu itu kembali ke meja, menatap lurus ke arah mataku yang sudah berkaca-kaca menahan emosi. Perlahan, senyum miring yang paling menyebalkan sedunia mulai terbentuk di bibirnya. Arogansinya kembali menyala terang.

"Jadi... kamu sedang cemburu, Manajer Naura?" tembak Arkan langsung pada sasaran, suaranya merendah menjadi bariton yang menggoda.

Aku melotot. "C-cemburu?! Siapa yang cemburu?! Aku marah karena kamu tidak profesional! Kamu menghancurkan citra pernikahan kita dengan menerima bunga dari wanita antah berantah!"

"Saya tidak pernah menerima bunga ini. Kamulah yang membawanya masuk ke ruangan saya," balas Arkan tenang, bersandar santai di kursinya. "Dan sebagai informasi, Naura. Saya tidak kenal wanita bernama Clara. Sejak saya mengambil alih posisi direktur lima tahun lalu, jadwal saya diawasi ketat oleh Hadi. Jangankan untuk menghabiskan 'malam yang panas', waktu tidur saya saja tidak lebih dari lima jam sehari."

"Lalu bunga ini dari siapa?! Jangan berbohong, pengirimnya sengaja menyuruh kurir menitipkannya padaku di lantai dua puluh! Tujuannya jelas untuk mengejekku!" suaraku mulai meninggi, pertahanan gengsiku mulai goyah melihat ketenangannya.

Arkan berdiri dari kursinya. Dia mengitari meja kerja besarnya dengan langkah lambat layaknya seekor predator yang sedang mendekati mangsanya. "Gunakan insting *marketing*-mu, Naura. Siapa wanita sinting yang baru saja kita permalukan minggu lalu, yang memiliki dendam kesumat, dan cukup licik untuk menggunakan nama samaran demi menciptakan perang dunia ketiga di antara kita?"

Tenggorokanku tercekat. Otakku yang sejak tadi tertutup kabut cemburu, mendadak menjernih. "V-Valerie...?"

"Tepat sekali." Arkan berhenti tepat di depanku. Jarak kami kini hanya tersisa hitungan sentimeter, sepenuhnya melanggar 'Aturan Jarak Pandang' konyol yang dia ciptakan sendiri kemarin.

Pria itu menatap mataku lekat-lekat. Kilat amarah yang kemarin sempat membakar matanya kini telah lenyap, digantikan oleh kelembutan yang membuat lututku mendadak lemas.

"Dia sengaja menggunakan nama samaran dan mengirimkannya melalui kamu karena dia tahu kita sedang bertengkar. Dia ingin menyiramkan bensin ke dalam api gengsimu itu, Naura," jelas Arkan dengan suara rendah.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Matilah aku. Aku baru saja masuk ke dalam jebakan murahan mantan tunangannya, dan parahnya, aku baru saja mengekspos tingkat kecemburuanku yang luar biasa brutal di depan Arkan! Harga diriku langsung terjun bebas menembus lantai marmer.

"B-biarpun begitu... t-tetap saja ini salahmu! Kenapa kamu punya mantan tunangan selicik itu?!" elakku tergagap, mundur satu langkah untuk mencari pasokan oksigen, tapi Arkan dengan cepat maju satu langkah, kembali mengurungku.

"Kamu benar. Ini salah saya," Arkan mengangkat tangannya, lalu menyentil keningku dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh afeksi. "Tapi kamu juga salah karena lebih memercayai selembar kartu murahan ini daripada calon suamimu sendiri."

Tanpa aba-aba, Arkan berbalik sejenak. Dia meraup seluruh buket mawar merah raksasa itu dengan satu tangan, lalu tanpa belas kasihan melemparnya ke dalam tempat sampah besar di sudut ruangan hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang keras.

Setelah memastikan 'hama' itu masuk ke tempat sampah, Arkan kembali menatapku. Kali ini, kedua tangannya yang kokoh terangkat dan bertumpu pada pinggiran meja kerja di belakangku, mengunciku sepenuhnya di antara tubuh besarnya dan meja kayu mahoninya. Aroma kayu cendana dan *mint* dari tubuhnya langsung menyelimuti indra penciumanku, menghapus sisa-sisa bau mawar murahan tadi.

"Arkan... m-mundur sedikit. Kamu melanggar aturan radius dua meter-mu sendiri," cicitku pelan, wajahku sudah memanas hebat.

"Persetan dengan aturan itu," geram Arkan rendah, wajahnya menunduk hingga napas hangatnya menyapu puncak kepalaku. "Aturan itu saya cabut detik ini juga. Saya hampir gila menahan diri untuk tidak mendobrak pintu kamar tamu semalaman karena kebodohan ego kita sendiri."

Aku mendongak, menatap mata elangnya yang kini memancarkan kejujuran yang menembus pertahanan egoku.

"Dengar baik-baik, Naura Mahardika," bisik Arkan, ibu jarinya terangkat untuk mengusap pipiku dengan luar biasa lembut. "Saya ini pria yang sangat perhitungan. Saya tidak akan membuang waktu, energi, dan status hukum saya untuk sekadar bermain-main. Apalagi sampai mengurusi produk kedaluwarsa seperti Valerie atau fiktif seperti Clara."

Jantungku berdegup kencang, menabrak tulang rusukku seolah ingin melompat keluar.

"Satu-satunya wanita yang bisa membuat seorang Arkan Mahendra pusing tujuh keliling, uring-uringan mengecek laporan keuangan lima ratus perak, dan cemburu buta pada seorang pria berparfum pembersih lantai... hanyalah wanita cerewet yang sedang berdiri di hadapan saya saat ini."

Skakmat. Runtuh sudah seluruh Tembok tinggi yang kubangun tinggi-tinggi. Kata-katanya bukanlah kalimat 'aku cinta padamu' yang klise, tapi bagi seorang pria dengan level gengsi yang menyentuh stratosfer seperti Arkan, pengakuan barusan adalah bentuk deklarasi cinta paling romantis dan absolut.

Aku menggigit bibir bawahku, menahan senyum lebar yang nyaris meledak. "Jadi... Mas CEO mengakui kalau kemarin dia cemburu buta, nih?" godaku pelan, kembali mendapatkan rasa percaya diriku.

Arkan mendengus pasrah, tapi ujung bibirnya tertarik membentuk senyum menawan yang membuat duniaku terasa berhenti berputar. "Anggap saja itu efek samping dari memelihara istri yang terlalu keras kepala."

"Kalau begitu... perang dinginnya selesai?" tanyaku sambil memberanikan diri mencengkeram pelan ujung dasi sutranya.

"Selesai." Arkan menundukkan wajahnya, menyentuhkan keningnya pada keningku, membuatku memejamkan mata menikmati sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. "Kembalikan barang-barangmu ke kamar utama malam ini juga. Kita punya akad nikah yang harus dipersiapkan besok. Dan saya tidak mau calon pengantin wanita saya terlihat memiliki kantung mata karena kurang tidur memeluk guling stroberinya sendirian."

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!