Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Flashback. Beberapa jam sebelum kedatangan Sagara ke restoran pertemuan Nara dan Samudra.
"Mas, tolong bantu saya sekali ini saja." Tiwi menangkup kan kedua tangannya penuh harap di depan Sagara yang masih berdiri bingung di depan butik mewah itu.
Sagara menggaruk pelipis pelan. "Mbak, saya masih nggak ngerti maksud Mbak Tiwi ini apa?"
"Nanti saya jelaskan semuanya. Yang penting sekarang, Masnya mau ya tolongin saya," jawab Tiwi cepat. Wajahnya terlihat panik sekaligus khawatir.
Sagara menghela napas kecil. Sejujurnya ia ingin langsung pergi saja. Namun, melihat ekpresi Tiwi yang hampir putus asa membuatnya tidak tega. "Memangnya saya harus nolongin Mbak Tiwi apa?"
Tiwi melirik kanan kiri sebentar sebelum mendekatkan suaranya.
"Nona saya sedang dipaksa datang ke pertemuan penting malam ini."
"Lalu ...?" tanya Sagara bingung.
Tiwi tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, "Tolong bantu Nona Nara dengan berpura-pura menjadi pacarnya."
"Hah?!"
Suara Sagara langsung meninggi sampai beberapa orang di depan butik menoleh sekilas ke arah mereka.
Tiwi buru-buru menunduk malu. "Pelan sedikit, Mas."
"Mbak serius?" tanya Sagara masih tidak percaya.
"Sangat serius."
Sagara menatap wanita itu beberapa saat. Keningnya berkerut bingung. "Kenapa malah saya?"
"Karena ...." Tiwi mengigit bibir bawahnya gugup sebelum melanjutkan. "Nona tidak suka diatur untuk bertemu pria pilihan kakeknya."
Sagara menghela napas pendek sambil mengusap tengkuknya kasar. "Tapi tetap aja aneh, Mbak. Saya cuma montir merangkap tukang ojek."
"Justru karena itu." Tiwi menjawab cepat. "Nona butuh seseorang yang tidak ada hubungannya dengan dunia mereka."
Sagara masih tampak ragu.
Melihat itu, Tiwi kembali membujuk, "Masnya bisa minta bayaran berapa pun yang Mas mau. Atau barang apa pun yang Mas inginkan. Nona saya pasti memberikannya."
Kini gantian Sagara yang langsung menggeleng cepat. "Eh, jangan gitu, Mbak. Saya kalau mau nolong, ya nolong aja. Nggak ada niatan minta ini itu."
"Bukan begitu maksud saya!" Tiwi panik sendiri. "Jadi gimana ... Masnya bisa bantu saya nggak?" Tiwi menembak langsung. Jika terus berdebat, mereka hanya akan membuang waktu, sementara Nara menunggu kabar darinya.
Sagara diam sejenak, tampak berpikir. "Kalau saya menolak?"
"Maka Nona Nara akan memecat saya," jawab Tiwi cepat. "Saya punya ayah dan ibu yang harus saya kirimi uang tiap bulan. Belum lagi dua adik saya yang masih sekolah."
Ucapan itu membuat Sagara langsung terdiam. Tatapannya berubah canggung. Ia jelas tidak menyangka pembicaraan mereka akan sampai sejauh itu.
"Lho ... jangan nangis, Mbak," ucapnya salah tingkah ketika melihat mata Tiwi mulai memerah. Apalagi beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan mereka.
"Saya nggak nangis," bantah Tiwi cepat sambil mengusap sudut matanya.
Sagara menghela napas panjang kasar. Ia sebenarnya tahu Tiwi sengaja memainkan rasa tidak enaknya. Tapi tetap saja, ia memang tidak pandai menolak orang yang meminta bantuan padanya.
"Ya sudah," gumamnya menyerah. "Saya bantu."
Wajah Tiwi langsung berubah cerah. Akting sedihnya tadi, ternyata berhasil membuat pria itu berubah pikiran.
"Beneran?!" tanya Tiwi memastikan.
"Cuma datang sebentar dan pura-pura jadi pacar Nona Nara aja, kan?" tanya Sagara memastikan lagi.
Tiwi mengangguk mantap. "Iya, Mas."
Sagara baru ingin berucap lagi. Namun, Tiwi sudah lebih dulu menarik lengan jaketnya pelan. "Ayo cepat, Mas! waktunya mepet."
"Eh, Mbak ...."
Sagara bahkan tidak sempat melawan saat Tiwi menyeretnya masuk ke dalam butik mewah tersebut.
Beberapa pegawai butik langsung menyambut ramah. "Selamat datang," ucap mereka bersamaan.
Tiwi buru-buru menunjuk Sagara. "Tolong carikan setelan jas yang cocok untuk dia."
Sagara menoleh cepat. "Bentar dulu, saya belum bilang 'Iya' soal ini!"
"Yang penting tadi Masnya udah bilang mau bantu, kan?" balas Tiwi.
"Iya sih. Tapi ini ..." Ucapan Sagara terhenti saat beberapa pegawai butik mulai sibuk mengukur tubuhnya dan memilihkan setelan yang sesuai. ia hanya bisa berdiri kaku dengan ekspresi pasrah.
"Jas ini ...," gumamnya lirih. Sekelebat bayangan melintas di kepalanya. "Seharga motor bekas," lanjutnya saat melirik Tiwi yang sedang memperhatikannya.
Sementara Tiwi hampir tertawa mendengarnya. "Tenang, semuanya dibayar langsung oleh Nona Nara."
"Itu justru yang membuat saya takut."
Beberapa menit kemudian, Sagara keluar dari ruang ganti dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Dan untuk sesaat, Tiwi sampai terpaku.
Sagara benar-benar terlihat berbeda.
Dengan tubuh tinggi tegap dan wajah tampan yang kini terlihat lebih rapi, Sagara sama sekali tidak tampak seperti montir bengkel atau pengemudi ojek online.
Jika berdiri di hotel bintang lima pun, Orang-orang mungkin akan mengira ia putra keluarga kaya raya.
"Mas ...." Tiwi berkedip beberapa kali. "Pantes aja Nona ...."
"Hm?"
"Nggak jadi." Tiwi buru-buru mengalihkan pembicaraan.
Belum selesai sampai di situ, Tiwi kembali menarik Sagara keluar butik dan menuju salon yang berada tepat di sampingnya.
Begitu pintu salon terbuka, aroma harum langsung menyambut mereka.
"Mbak," panggil Tiwi.
Dua pegawai salon segera menghampiri dengan ramah. "Iya, Nona?"
Tiwi menunjuk Sagara tanpa ragu. "Tolong buat dia setampan mungkin,"
Dua pegawai itu langsung saling pandang sebelum salah satunya terkekeh pelan. "Orangnya udah tampan begini kok, Nona.
Sagara hanya tersenyum tipis sambil menggaruk tengkuknya canggung.
****** Flashback off.
"Perkenalkan," ucap Nara santai. "Ini kekasih saya." Kalimat itu membuat suasana langsung berubah hening beberapa detik.
Sagara nyaris tersedak ludahnya sendiri. Walaupun sudah diberi tahu rencananya sejak awal, tetap saja mendengar Nara mengucapkannya secara langsung terasa aneh di telinganya.
Sementara itu, Samudra hanya menatap mereka bergantian dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak. "Kekasih?" ulang samudra pelan.
Nara mengangguk tanpa ragu. "Iya."
Sagara bisa merasakan jemari Nara masih melingkar santai di lengannya. Entah kenapa, sentuhan kecil itu justru membuat tubuhnya semakin kaku.
"Kenapa diam saja?" bisik Nara pelan tanpa melepas senyum tipisnya.
Sagara langsung tersadar. "Ah, iya." Ia berdehem pelan sebelum mengulurkan tangan ke arah Samudra. "Sagara."
Tatapan Samudra turun sebentar pada tangan itu sebelum akhirnya menyambutnya sopan. "Samudra Dirgantara."
Jabatan tangan mereka berlangsung singkat. Namun, entah mengapa, udara di antara keduanya terasa sedikit dingin.
"Maaf saya datang terlambat," lanjut Sagara berusaha terdengar tenang. "Tadi jalanan macet."
"Tidak masalah," jawab Samudra santai.
Pria itu kembali menatap Nara beberapa detik sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. "Jujur saja, saya cukup terkejut."
"Karena saya memiliki kekasih?" tanya Nara cepat.
"Karena Tuan Dhanubrata tidak mengatakan apa pun soal itu."
Nara terkekeh kecil. "Kakek memang suka mengatur semuanya sendiri."
Sagara diam sambil memperhatikan percakapan mereka. Walaupun wajah Samudra terlihat tenang dan sopan, pria itu jelas bukan orang biasa. Auranya terlalu rapi, tenang, dan sulit dibaca.
"Kalau boleh tahu," ucap Samudra kemudian sambil menatap Sagara, "Anda bekerja di bidang apa, Tuan Sagara?"
Pertanyaan itu sukses membuat Sagara membeku sepersekian detik.
Sagara Artha Jayendra
***** Bersambung.