NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Melihat kedua orang tua Dokter Daniel terus menatapnya, Shanum berusaha menekan rasa gugup yang mendera dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju satu jengkal dengan kepala tetap tertunduk sopan.

"Selamat pagi, Tuan, Nyonya. Saya Shanum," sapa Shanum dengan nada suara yang lembut dan penuh kesantunan.

Mendengar sapaan itu, senyuman hangat langsung terbit di wajah Nyonya Tania dan Tuan Lee. Ketegangan yang sempat dirasakan Shanum seketika mencair karena sikap kedua orang tua konglomerat itu ternyata begitu ramah, jauh dari kesan angkuh.

"Shanum sudah lama bekerja di sini?" tanya Nyonya Tania sembari melangkah mendekat.

"Belum Nyonya, baru beberapa hari saja," jawab Shanum jujur, jemarinya bertautan canggung.

Nyonya Tania sampai menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Matanya memperhatikan bagaimana Baby Ziva sejak tadi terus menempel manja pada lengan Shanum, bahkan sesekali menyandarkan kepalanya di dada wanita itu dengan sangat nyaman. Keakraban di antara mereka berdua benar-benar sudah terlihat seperti ikatan antara seorang ibu kandung dan anaknya.

"Baru beberapa hari tapi Ziva sudah senempel ini bersamamu? Hebat sekali kamu, Shanum. Ziva ini biasanya sangat pemilih dengan orang baru," puji Nyonya Tania tulus.

Tuan Lee yang berdiri di samping sang istri ikut tersenyum, lalu melirik arloji di tangannya. "Sumi, udara pagi sudah mulai mencerah. Ayo kita mengobrol di dalam saja. Kebetulan kami membawa banyak oleh-oleh dari Singapura." Beliau kemudian menoleh ke arah Shanum. "Ayo Shanum, bawa Ziva masuk ke dalam."

Pagi itu, ruang tengah kediaman Dokter Daniel dipenuhi oleh suasana hangat. Shanum benar-benar merasa beruntung karena kehadirannya diterima dengan sangat baik oleh keluarga besar ini. Di rumah mewah bak istana ini, seolah tidak ada batasan jarak yang kaku antara majikan dan pekerja.

Nyonya Tania membagikan berbagai macam suvenir, cokelat, dan pakaian yang dibelinya di Singapura kepada seluruh ART rumah, termasuk Bik Sumi yang menerima sekeranjang penuh oleh-oleh dengan wajah sumringah. Setelah semua ART selesai dibagikan, Nyonya Tania mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna biru tua dari dalam tas belanjanya. Ia berjalan menghampiri Shanum yang sedang duduk memangku Ziva.

"Dan untukmu Shanum... kebetulan kemarin aku melihat jam tangan wanita ini di bandara. Entah kenapa, aku ingin sekali membelinya. Tadinya barang ini mau ku hadiahkan untuk calon istrinya Daniel. Namun, berhubung putraku itu sampai sekarang belum memiliki calon istri lagi, maka aku putuskan untuk memberikan jam tangan ini padamu," ucap Nyonya Tania sembari mengulurkan kotak mewah tersebut.

Shanum seketika membeku. Rasa canggung dan segan langsung melingkupi hatinya. Dari logo emas yang tertera di kotak beludru itu, Shanum tahu pasti bahwa harga jam tangan tersebut tidaklah murah, bahkan mungkin setara dengan gajinya beberapa bulan. Ditambah lagi penjelasan Nyonya Tania bahwa barang itu sejatinya diniatkan untuk calon istri Dokter Daniel, membuat Shanum merasa semakin tidak enak hati.

"Tapi Nyonya... rasanya saya tidak pantas mendapatkan oleh-oleh semewah ini. Status saya di sini hanya seorang pekerja," tolak Shanum halus, melambaikan tangan kirinya tanda sungkan.

"Sudah, kamu ambil saja, Shanum! Jangan menolak rezeki," timpal Tuan Lee dari sofa seberang sembari melemparkan senyum kebapakan yang menenangkan ke arah Shanum.

Mau tidak mau, dengan tangan yang sedikit gemetar, Shanum menerima kotak mewah tersebut. "Terima kasih banyak, Tuan, Nyonya. Saya akan menjaganya dengan baik."

Tak berselang lama, Baby Ziva mulai menguap lebar beberapa kali dan mengucek matanya yang bulat. Shanum yang peka langsung melirik jam dinding.

"Nyonya, Tuan... jika diizinkan, saya ingin meminta izin untuk pergi ke kamar atas untuk memberikan ASI eksklusif kepada Ziva. Biasanya di jam-jam seperti ini setelah mandi pagi, Ziva selalu mengantuk dan waktunya tidur," izin Shanum dengan sangat sopan.

Nyonya Tania mengangguk cepat dengan binar mata senang. "Oh, tentu saja, Shanum. Silakan bawa cucuku ke atas. Susui dia sampai kenyang, ya."

Setelah punggung Shanum menghilang di balik anak tangga lantai dua, Nyonya Tania duduk kembali di samping suaminya. Namun, sebuah senyuman misterius terus terkembang di bibirnya, membuat Nyonya Tania tersenyum-senyum seorang diri.

Tuan Lee yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh istrinya langsung mengerutkan dahi keheranan. "Kamu kenapa, Mah? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri begitu? Seperti orang sedang jatuh cinta saja."

Nyonya Tania menoleh, matanya berbinar jenaka. "Pah... kalau seandainya Shanum menikah dengan putra kita, Daniel, kamu setuju tidak?"

Tuan Lee terdiam sejenak. Sorot matanya berubah serius, menerawang ke masa lalu. "Kalau Daniel nya memang suka dan cinta sama dia, it's okay lah, Mah... Papah setuju saja. Papah tidak mau lagi memaksanya untuk menikah dengan wanita pilihan atau relasi bisnis kita seperti dulu. Ujung-ujungnya, putra kita malah dicampakkan begitu saja oleh Klara setelah semua yang Daniel berikan."

Nyonya Tania menghela napas pendek, gurat kesedihan sempat melintas di wajah cantiknya saat mengingat nama mantan menantunya itu. "Tapi bukan karena masalah dicampakkan itu saja, Pah... Papah ingat kan alasan yang dipakai Klara saat menggugat cerai dulu? Kata Klara, putra kita memiliki penyakit kelainan medis yang membuatnya tidak bisa memu4skan seorang istri di ranjang!"

Mendengar kalimat itu, Tuan Lee langsung mengibaskan tangan kanannya di udara dengan ekspresi tidak peduli. "Alah... Itu hanya akal-akalan wanita tukang selingkuh saja untuk mencari pembenaran atas dosanya, Mah! Mana mungkin Daniel putra kita memiliki penyakit memalukan seperti itu. Dia itu dokter spesialis, bertubuh sehat, dan atletis."

Nyonya Tania menggigit bibir bawahnya, rasa penasaran seorang ibu tampaknya sudah di ubun-ubun. "Apa... apa sebaiknya aku tanya langsung saja sama Daniel soal kebenaran berita itu, Pah? Mumpung kita sedang ada di rumahnya sekarang, dan sebentar lagi dia pasti pulang untuk makan siang."

Tuan Lee bersandar pada sofa mewah itu lalu memejamkan mata sejenak. "Terserah kamu saja, Mah! Tapi tanyanya pelan-pelan, jangan sampai menyinggung harga diri putra kita sebagai seorang laki-laki."

*

*

Menjelang sore hari, sedan mewah milik Dokter Daniel akhirnya meluncur masuk melewati gerbang rumah. Daniel melangkah ke dalam rumah dengan sisa-sisa lelah yang masih menggelayut di pundaknya. Namun, langkah kakinya seketika terhenti di ruang tengah saat mendapati sosok kedua orang tuanya sedang duduk bersantai di sofa.

"Loh, kok Papah sama Mamah ada di sini? Enggak bilang-bilang dulu kalau mau datang," tanya Daniel terkejut sembari melepas jam tangan dan melonggarkan sedikit dasinya.

Nyonya Tania langsung bangkit dan memeluk putranya dengan hangat. "Surprise, Sayang! Kebetulan urusan bisnis Papahmu di Singapura sudah selesai lebih cepat. Kami rindu sekali ingin melihat kamu dan cucu kesayangan Mamah, Ziva." Nyonya Tania kemudian menyenggol pelan lengan putranya dengan senyum penuh arti. "Tapi, Daniel... kau pandai juga ya mencari ibu susu untuk Ziva. Shanum itu... sudah cantik, baik, santun, dan sangat keibuan. Cocok sekali kalau jadi istrimu!"

Daniel menghela napas pendek, lalu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun. Perjodohan atau obrolan seputar asmara adalah hal terakhir yang ingin ia dengar saat ini.

"Sudahlah, Mah. Jangan bahas itu dulu. Daniel capek dan lelah sekali hari ini," sahut Daniel pasrah. "Baiklah kalau begitu, Daniel ke kamar dulu untuk membersihkan diri."

"Ya sudah, bersihkan dirimu dulu, Putraku. Nanti Mamah sama Papah ingin berbicara serius denganmu di bawah," timpal Nyonya Tania setengah berteriak saat Daniel mulai melangkah menjauh.

Daniel hanya mengangguk pasrah tanpa berbalik. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan serius yang dimaksud ibunya.

Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaos rumahan yang santai, Daniel melangkah menuju kamar Ziva di lantai dua. Saat tangannya hendak memutar gagang pintu yang sedikit terbuka, ia menghentikan gerakannya.

Dari celah pintu, Daniel melihat Shanum sedang duduk di karpet bulu, mengajak Ziva bermain. Wanita itu memasang sebuah boneka tangan berbentuk kelinci di jemarinya dan mulai mendongeng dengan suara yang diubah-ubah lucu. Ziva yang telentang di depannya tertawa terbahak-bahak hingga kaki mungilnya menendang-nendang udara. Daniel mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia hanya berdiri mematung di ambang pintu, tersenyum hangat melihat bagaimana Shanum selalu berhasil mengembalikan keceriaan putrinya.

Ceklek.

Daniel menarik pelan pintu kamar itu hingga tertutup rapat demi menjaga ketenangan mereka. Namun, begitu ia membalikkan badan, ia terkejut mendapati kedua orang tuanya sudah berdiri tegak di belakangnya sejak tadi.

"Daniel, kalau kamu memang suka sama Shanum, sudah... nikahi saja dia!" bisik Nyonya Tania langsung pada intinya, tanpa basa-basi.

Tuan Lee ikut mengangguk mantap, menepuk bahu kokoh putrinya. "Betul, Putraku. Papah tidak akan pernah melarang atau membatasi wanita pilihanmu lagi. Anggap saja ini sebagai bentuk rasa bersalah dan penebusan dosa Papah yang dulu pernah memaksamu menikah dengan Klara."

Lagi-lagi Daniel menghela napas panjang. Merasa koridor kamar bukanlah tempat yang tepat untuk membahas hal sensitif, ia pun memberi isyarat. "Ikut Daniel ke ruang perpustakaan saja, Mah, Pah. Di sana lebih leluasa untuk mengobrol."

Ketiganya kini duduk bersantai di kursi sofa kulit yang nyaman di dalam ruangan perpustakaan pribadinya Daniel. Melalui dinding kaca besar, mereka bisa menikmati langit senja Jakarta yang perlahan berganti menjadi jingga keunguan. Daniel menumpukan kedua tangannya di atas lutut, mencoba mengumpulkan ketenangan sebelum membuka pembicaraan.

"Kenapa Mamah dan Papah mendesak terus masalah menikah? Daniel belum siap untuk membina rumah tangga lagi, Pah, Mah," ujar Daniel dengan nada suara yang berat.

Nyonya Tania saling berpandangan cemas dengan suaminya, sebelum akhirnya ia memberanikan diri menggeser duduknya mendekati Daniel. "Daniel... apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami selama ini? Karena... dulu saat proses perceraian, Klara pernah mengatakan kalau kamu... kamu..." Nyonya Tania tertahan, lidahnya mendadak kelu karena takut melukai harga diri putra satu-satunya.

Daniel tersenyum getir, menebak kelanjutan kalimat ibunya dengan sangat mudah. "Karena aku menderita ejakul4si dini? Benar begitu kan, Mah?"

Deg!

Wajah Nyonya Tania dan Tuan Lee seketika menegang. Atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat dan mencekam.

"I...iya, Putraku... Tapi, kamu tidak benar-benar menderita penyakit seperti itu, kan? Itu pasti cuma fitnah dari Klara untuk menutupi perselingkuhannya, kan?" tanya Nyonya Tania dengan suara yang mulai bergetar, berharap cemas.

Daniel terdiam sejenak, menatap lurus ke arah langit senja di luar balkon sebelum menghembuskan napas beratnya. "Apa yang dikatakan oleh Klara... itu adalah kebenaran yang nyata, Mah, Pah."

Bagaikan disambar petir di siang bolong, kedua orang tua Daniel tersentak hebat di sofa mereka. Wajah Tuan Lee seketika memucat.

"Kamu jangan bercanda, Putraku! Jika kau masih menyimpan dendam atau kecewa kepada Papah dan Mamah atas masa lalu mu, tidak seperti ini caranya menghukum kami!" tukas Tuan Lee dengan suara meninggi, menolak mempercayai kenyataan pahit tersebut.

"Daniel tidak sedang bercanda, Pah," jawab Daniel lirih namun tegas, tatapan matanya menyiratkan luka lama yang mendalam. "Setelah aku berhubungan dua kali dengan Klara di awal pernikahan, tekanan batin dan stres akibat penolakan serta makiannya membuat fisikku drop. Aku divonis menderita gangguan fungsi s3ksual ini. Dan sejak saat itu, aku tidak bisa lagi menjalankan tugas ku sebagai suami yang sempurna di ranjang untuknya. Sampai detik ini, penyakit dan rasa trauma itu masih saja menghantuiku. Itulah alasan terbesar kenapa aku sama sekali tidak berniat untuk menikah lagi dengan wanita mana pun. Aku tidak ingin mengecewakan orang lain lagi."

Mendengar pengakuan jujur dan menyakitkan dari sang putra, Tuan Lee dan Nyonya Tania langsung terduduk lemas dengan tatapan kosong. Dada mereka terasa sesak didera rasa bersalah yang teramat sangat. Di dalam keheningan ruang perpustakaan yang kian menggelap, kedua orang tua itu saling menggenggam tangan, bertekad dalam hati bahwa mereka harus mencari cara dan jalan keluar medis apa pun agar putra kebanggaan mereka bisa sembuh dan kembali hidup normal seperti pria perkasa pada umumnya.

Bersambung...

1
Teh Yen
nah loh rasain malu malu dha tuh c Klara huuh 😤
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
Teh Yen
smoga setelah persidangan Daniel benar" meminta maaf dan meluruskan kata kata nya kmr yg salah ucap jujur janji yah Daniel jujur sama.perasaanmu sama shanum
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Nar Sih
siip daniel hajar terus sampai klara ngk bisa berkutik dan kmu lah yg jdi pemenang nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😉
total 1 replies
neny
makanya jng menganggap sepele sm orang lain,, apalagi masa lalu itu km sendiri yg menghancurkan nya,,
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
neny: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nar Sih
semagat 💪daniel smoga kmu lah yg menang atas tuntutan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 😊
total 1 replies
~Ni Inda~
Klw perlu karir yg dia bangun mati²an dg memanfaatkan Sony...hancur berkeping²
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju kak, hancur dengan sikapnya sendiri
total 1 replies
~Ni Inda~
Masalah gakan selesai dg saling menduga
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, mantap uji nyali ya kak🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
hajR trus spe masuk bui tuh perempuan licik dia yg berulah dia yg emosi hahaha kau ga bakal menang Kiara dasar perempuan murahan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
neny
ya iya lah daniel,,km yg buat Hanum seperti itu,,muka km hrs menyelesaikan Maslah ini,,spy kalian berdua harmonis lg🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
semoga shanum dan Daniel yg memenangkan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 🤲🏼
total 1 replies
neny
semuanya serba salah faham,,sebaik nya jujur ajh sm perasaan masing2,,drpd kesalah fahaman ini ber larut2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, tunggu saatnya tiba, harus ada salah satu yang mengalah
total 1 replies
Teh Yen
nanti malam.jangan.salahkan.shanum.klaau Tidka.mau.tidur sekamar lagi yah dok.huuh 😤
Teh Yen
lah knp malah kata kata itu yg keluar dari mulutmu Daniel hadeeuh kasian kan shanum terluka padhl dia jg berharap loh dokter Suka smaa dia 🙈
Teh Yen
nah gt dong untung dokter daniel.cepat sadar dengan perasaannya yah ,, smoga shanum jg mau mengakui perasaannya pada Daniel yah
Teh Yen
kasian dokter.daniel.sakit.karena kelelahan mungkin yah
Teh Yen
xixixi .... engg pa pa num pijit ajah lumayan bikin badan rileks kan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah kali ini gagal mah umpannya 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
Xixixiii mamah Daniel bisa aj nih bikin pengantin baru salah tingkah d nurutin kemauannya dari pada sandiwaranya terbongkar hihii tp bagus sih anggap aj latihan yah 😁
Teh Yen
duh udh main peluk peluk aj nih shanum cie daniel.deg deg gan engg tuh hihii 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!