Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Teratai Di Atas Abu
Bab 7 — Tiga Tahun Membelah Batu
Tiga tahun berlalu, bagai air sungai yang mengalir tak berhenti, membawa serta masa lalu dan mengukir masa depan.
Di balik celah tebing belakang gubuk tua, tempat yang sepi dan tertutup dari angin, kini tampak sosok pemuda berusia lima belas tahun yang bertelanjang dada. Tubuhnya yang dulu kurus kering dan rapuh, kini berubah menjadi tegap dan berotot padat, meski tak terlalu besar. Kulitnya berwarna sawo matang yang terbakar matahari dan dinginnya salju, tertutup banyak bekas luka lama—jejak perjalanan panjang penyiksaan yang ia jalani setiap hari.
Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Lian Hua sudah bangkit. Ia tidak duduk bersila bermeditasi seperti kebanyakan kultivator lain yang mengumpulkan tenaga dalam dengan tenang dan tertib. Metode yang diajarkan Seni Teratai Langit sama sekali berbeda. Ia harus menempuh jalan yang kasar, menyakitkan, dan penuh perjuangan.
Hari-harinya diisi dengan kerja keras yang tak terbayangkan orang biasa. Ia mengangkat batu seberat ratusan kati, berjalan naik turun bukit hingga kakinya gemetar dan lututnya nyaris patah. Ia berdiri di bawah air terjun yang deras sedingin es, membiarkan hantaman air yang kuat menimpa seluruh tubuhnya berjam-jam lamanya, melatih ketahanan raga sekaligus memaksa hawa di dalam mengalir di jalur-jalur baru yang sedang dibentuknya. Di malam hari, ia berbaring di atas hamparan batu kasar, menahan rasa nyeri yang datang bagai ombak, saat tenaga di dalam tubuhnya bergerak memadatkan tulang, membersihkan darah, dan memperbaiki sisa-sisa kerusakan meridian yang dulu dianggap tak mungkin terselamatkan.
Setiap gerakan, setiap napas, selalu disertai rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Berbeda dengan orang lain yang makin berlatih makin terasa ringan dan nyaman, bagi Lian Hua, setiap kemajuan selalu dibayar dengan darah dan keringat. Berkali-kali ia pingsan karena tak kuat menahan siksaan, berkali-kali ia bangkit kembali dengan tubuh penuh luka, menatap langit kelabu dengan tekad yang makin membara.
A Bao hanya mengamati dari jauh, sesekali memberikan petunjuk singkat, namun tak pernah melarang atau menghentikannya. Ia melihat bagaimana anak itu perlahan berubah. Bukan hanya bentuk raga, tapi juga tatapan matanya. Dulu ada kepedihan dan ketakutan, kini hanya ada ketenangan yang dingin dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Orang luar akan mengira Lian Hua hanya melatih kekuatan fisik biasa, persis seperti pengawal atau pendekar rendahan. Tak ada pancaran tenaga dalam yang menyilaukan, tak ada hawa dahsyat yang memancar dari tubuhnya. Namun hanya Lian Hua sendiri yang tahu, di dalam sana, perlahan namun pasti, terbentuklah sesuatu yang jauh lebih kokoh dan murni daripada tenaga biasa. Jalur-jalur meridian barunya makin lebar, makin kuat, mampu menampung tenaga yang jumlahnya jauh melebihi kapasitas orang pada tingkatan yang sama. Ia tak mengikuti alur umum, ia membangun jalannya sendiri, persis seperti akar teratai yang menembus lumpur keras untuk mencari tempat tumbuh.
Tiga tahun itu juga mengubah pengetahuannya. Di sela-sela waktu istirahat, A Bao mengajarkan Lian Hua segala hal yang ia ketahui tentang dunia persilatan: berbagai jenis senjata, gaya bertarung, kelemahan dan kelebihan setiap aliran, serta cara membaca niat orang lain, bertahan hidup, dan bergerak di antara bahaya. Lian Hua menyerap semua itu dengan cepat, menyimpan setiap pelajaran baik ke dalam ingatannya. Ia sadar, selain kekuatan, akal dan pengetahuan adalah senjata lain yang tak kalah penting.
Suatu sore, di akhir musim dingin ketiga itu, Lian Hua sedang berdiri di depan gubuk, mengayunkan sebilah tongkat kayu berat ratusan kali tanpa henti. Gerakannya tak terlalu indah atau memukau, namun setiap ayunan membawa kekuatan yang berat, mantap, dan mematikan. Udara berdesir keras setiap tongkat itu bergerak, menandakan betapa dahsyatnya tenaga yang tersimpan di tubuh pemuda itu.
Saat ia meletakkan tongkatnya dan menghela napas panjang, A Bao datang mendekat sambil membawa bungkusan kain kecil. Wajah pemabuk tua itu yang biasanya selalu berkerut senyum, kali ini tampak serius dan sedikit haru. Ia menatap sosok pemuda di hadapannya—bocah lemah yang ia temukan nyaris mati membeku di salju, kini telah tumbuh menjadi seseorang yang matanya memancarkan cahaya baja.
“Sudah selesai,” ucap A Bao pelan namun tegas.
Lian Hua menoleh, mengusap keringat di dahinya. “Apa yang selesai, Paman?”
“Masa latihanmu di sini. Tiga tahun kau habiskan waktumu membelah batu, menembus dingin, dan menempa dirimu sendiri sampai ke tulang sumsum,” kata A Bao sambil menepuk bahu pemuda itu. “Dulu kau tak punya apa-apa: kekuatan, dasar, bahkan harapan pun hampir hilang. Kini, meski caramu berbeda dari orang lain, meski tak ada yang mengira kau kuat, fondasimu sudah jauh lebih kokoh dari siapa pun yang seumuran denganmu. Seni Teratai Langit bagian pertama telah kau selesaikan dengan sempurna.”
A Bao menyerahkan bungkusan kain itu. Di dalamnya terdapat jubah baru berwarna biru tua yang sederhana namun kuat, sebilah pedang lurus sederhana namun terbuat dari besi berkualitas baik, serta beberapa keping uang emas dan perak.
“Duniamu bukan di sini, Hua’er. Pegunungan ini hanya tempat berteduh sementara, tempat kau menanam akar dan menguatkan diri,” lanjut A Bao, matanya menatap jauh ke arah jalan setapak yang menurun ke bawah, menuju dataran luas di luar sana. “Musuhmu bukanlah serigala atau dinginnya salju. Musuhmu ada di sana, di tengah hiruk-pikuk dunia persilatan, di balik kemegahan sekte-sekte besar, dan di dalam bayang-bayam Menara Darah Hitam yang terus menyebar kegelapan.”
Ia menatap kembali wajah Lian Hua, suaranya makin berat dan tegas.
“Waktunya sudah tiba. Kau harus turun gunung. Pergilah, jelajahi dunia, asah lagi kekuatanmu, cari jejak, dan kumpulkan segala hal yang kau butuhkan. Ingatlah apa yang telah kau pelajari, ingatlah siapa dirimu, dan ingatlah bahwa teratai yang telah bertahan hidup di dalam abu, kelak akan mekar lebih hebat dan mematikan dari bunga mana pun.”
“Jalan panjang menunggumu, Lian Hua. Sekarang... pergilah.”