Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Gudang tua itu bergetar oleh gemuruh teriakan yang memekakkan telinga.
Nama "Kensington" menggema di sela-sela dinding beton yang lembap.
Di tengah ring, Kensington berdiri tegak, napasnya memburu teratur sementara lawannya terkapar tak berdaya di sudut lain, sedang ditangani oleh tim medis amatir arena. Kemenangan telak.
Tidak ada perlawanan di ronde terakhir; Kensington menyerang seolah-olah setiap pukulannya adalah titik poin yang harus diselesaikan dengan presisi absolut.
Ia melepaskan handwrap yang merah oleh darah—sebagian miliknya, sebagian milik lawannya. Saat ia melompat turun dari ring, Marco dan teman-teman elit lainnya langsung menyerbu, merangkul bahunya, dan menyodorkan botol bir dingin.
"Gila! Lo bener-bener nggak kasih ampun tadi, Ken!" seru Marco sambil tertawa lebar. "Pukulan terakhir itu... gue yakin rahangnya bakal geser seminggu."
Kensington hanya menanggapi dengan gumaman rendah. Matanya menyisir kerumunan, mencari sosok kecil dengan kaos Mickey Mouse yang tadi berdiri di barisan depan. Ia menemukannya. Audrey berdiri agak menjauh, tampak kaku dan sedikit gemetar di samping Vivian yang masih asyik bersorak.
Cahaya neon yang remang memantul di wajah Audrey yang pucat, menonjolkan mata sembabnya yang masih menyimpan sisa-sisa kehancuran akibat pengkhianatan Sander.
"Ayo kita cabut," ucap Kensington singkat, mengambil handuk kecil untuk menyeka keringat di lehernya.
Rombongan itu bergerak menuju area parkir yang gelap dan berdebu. Beberapa mobil mewah terparkir di sana, kontras dengan lingkungan kumuh di sekitarnya. Vivian menarik lengan Audrey, membimbingnya menuju mobil Marco.
"Kau pulang denganku, Drey. Jangan pikirkan si brengsek itu lagi," ucap Vivian, mencoba menghibur. Audrey hanya mengangguk lemas, langkahnya terseret, merasa sangat konyol mengenakan baju tidur di tempat seperti ini.
Sebelum mereka masuk ke mobil masing-masing, Kensington memberikan kode pada Marco agar mendekat. Mereka berdiri sedikit menjauh, di dekat mobil Lamborghini hitam milik Ken yang berkilau dingin di bawah lampu jalan yang mati-nyala.
Kensington menyandarkan punggungnya pada pintu mobil, menatap ujung sepatunya yang ternoda debu arena.
"Kau paling tahu aku, Marco," ucapnya tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil lain yang mulai dinyalakan. "Aku tidak pernah serius pada siapapun. Bagiku, wanita hanyalah bab-bab pendek dalam buku yang tidak pernah ingin kuselesaikan."
Marco menghentikan gerakannya yang hendak menyalakan rokok. Ia menatap sahabatnya dengan dahi berkerut. Jarang sekali Kensington bicara soal keseriusan. "Iya, gue tahu. Lo kolektor novel cinta, tapi nggak pernah mau jadi pemeran utamanya. Kenapa tiba-tiba ngomong begini?"
"Kali ini... aku ingin mencobanya," lanjut Kensington. Ia mendongak, matanya yang tajam menatap ke arah Audrey yang sedang dibukakan pintu mobil oleh Vivian.
Marco terdiam sejenak, mengikuti arah pandang Ken. "Dengan siapa? Jangan bilang..."
"Kau tahu orangnya, Marco," jawab Kensington tenang.
Marco tertawa canggung, seolah berharap ini hanya lelucon kasar khas Ken. "Drey? Audrey Hepburn? Ken, lo bercanda. Dia bukan tipe lo. Dia itu... dia itu terlalu 'lurus'. Dia nggak punya vibe yang sama dengan kita."
"Justru karena itu," gumam Ken.
"Kau mencintainya?" tanya Marco, suaranya kini lebih serius.
Kensington terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana rasanya memeluk Audrey di arena balap, aroma stroberi dari rambutnya, dan tatapan penuh luka yang ia lihat malam ini. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Cinta itu konsep yang abstrak bagiku. Aku hanya merasa... ada sesuatu yang belum selesai di antara kami."
"Lalu kenapa kau ingin serius? Kalau nggak cinta, mending lo cari gadis seni lain yang tahu aturan mainnya. Audrey itu beda, Ken."
"Aku tidak tahu kenapa," Kensington menegakkan tubuhnya, matanya berkilat penuh tekad yang tidak bisa dijelaskan. "Aku hanya merasa harus memilikinya. Bukan hanya tubuhnya, tapi seluruh ceritanya."
Marco menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang nyata. "Dia masih murni, Ken. Kau tahu itu sendiri. Dia bukan Bianca yang sudah paham pahitnya dunia kita. Dan satu hal lagi... Vivian akan memarahimu habis-habisan kalau kau cuma main-main dengannya. Vivian sudah menganggap Audrey seperti adiknya sendiri."
Kensington menatap Marco dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. Tatapan yang ia gunakan saat memenangkan balapan atau menjatuhkan lawan di ring.
"Tidak. Kali ini aku benar-benar serius ingin mulai dengannya," tegas Kensington. "Aku akan menjemputnya besok pagi. Dan pastikan kau memberitahu Vivian agar tidak ikut campur."
"Ken, lo sadar nggak kalau lo baru saja bilang mau pacaran sama cewek yang baru saja diselingkuhi anak SMA dan sekarang lagi pakai baju tidur Mickey Mouse?" Marco menggeleng tak percaya.
Kensington tersenyum tipis—senyum yang sangat langka dan terlihat tulus namun berbahaya. "Itu awal yang bagus untuk sebuah bab baru, bukan? Tragedi di awal, kemenangan di akhir."
Di dalam mobil Marco, Audrey menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Pikirannya kosong. Bayangan video Sander dan Mia terus terputar seperti kaset rusak di kepalanya. Ia merasa sangat kotor, bukan karena lingkungannya sekarang, tapi karena ia pernah mencintai orang yang begitu dangkal.
"Drey?" panggil Vivian pelan.
"Ya?"
"Ken menatapmu terus tadi di arena. Kau sadar?"
Audrey memejamkan mata. "Dia hanya ingin mengejekku, Vi. Dia senang melihat prediksinya benar—bahwa hubunganku dengan Sander akan hancur."
"Entahlah," sahut Vivian sambil menatap ke luar jendela. "Gue kenal Ken sejak lama. Dia nggak pernah menatap cewek dengan cara dia menatap lo malam ini. Biasanya dia cuma menatap mereka seperti barang yang akan segera dibuang. Tapi lo... lo beda."
Audrey tidak menjawab. Ia terlalu lelah untuk membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya permainan elit kampus.
Baginya, Kensington Valerio adalah teka-teki yang tidak ingin ia pecahkan, karena ia takut jawaban dari teka-teki itu akan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.
Di belakang mereka, lampu depan Lamborghini hitam Kensington menyala, mengikuti mobil Marco dari kejauhan. Kensington mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti irama musik klasik yang mengalun di kabinnya.
Malam ini, ia tidak akan pulang ke penthouse-nya. Ia akan menghabiskan sisa malam dengan membaca ulang salah satu novelnya, mencari referensi tentang bagaimana cara menaklukkan hati seorang gadis yang baru saja patah hati tanpa terlihat seperti seorang penjahat.
Meskipun, jauh di dalam hatinya, Kensington tahu bahwa ia adalah penjahat yang paling berbahaya bagi Audrey—karena ia tidak menawarkan kenyamanan, melainkan sebuah adiksi yang takkan bisa Audrey lepaskan.
"Selamat datang di ceritaku, Audrey," bisik Kensington pada kegelapan jalan di depannya. "Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan penulis mana pun menentukan ending-nya selain aku sendiri."
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭