Rivera Briar Edwina seorang siswa yang mengalami kecelakaan akibat tertabrak mobil dan jiwanya berpindah ke tubuh Aluna Effie Alfred seorang istri yang sangat dibenci oleh suaminya aiden Cristian edgar karena adiknya kecelakaan akibat tertabrak oleh mobil yang ditumpangi aluna. Tidak hanya itu aluna bahkan anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandungnya dan menyalahkan aluna yang menyebabkan kecelakaan dan meninggal ibu aluna semenjak ayahnya menikah lagi dan membawa anak tirinya hubungannya dengan keluarga tidak pernah baik. Akankah vera yang menjadi aluna bisa melewatinya, atau memilih untuk menyerah atau akankah aluna akan mencari kasus kecelakaannya?
episode 12
"Ehm" suara dehem mengalihkan perhatian mereka, mata mereka melotot
"Aiden" kompak lucas dan aluna.
"Apa, kalian seperti tertangkap basah" seru aiden. Aiden melihat kedekatan aluna dan lucas menjadi geram dan langsung berjalan manarik kursi aluna menjauh dari lucas.
"Dilarang berdekatan, apa tidak ingat ini masih jam kerja? " seru aiden dengan nada naik satu oktaf.
"Apasih kita juga lagi kerja ini" seru aluna memegang berkas,
"Tapi jangan berdekatan" seru aiden.
"Bapak aiden yang terhormat, jika saya tidak dekat dengan bapak lengkuas bagaimana saya bisa paham" ucap aluna, lucas melihat kearah aluna, bisa bisanya aluna masih memanggilnya dengan sebutan lengkuas
"Kan bapak sendiri yang minta bapak lengkuas untuk mengajari saya" ucap aluna.
"Ptss.. Pttss.. " aluna menoleh kearah lucas.
"L U C A S bukan lengkuas" bisik lucas,
"Ehm.. " lucas mendongak melihat kearah aiden.
"He.. He.. Den, ehm, kayak tenggorokan gue seret, gue kebawah dulu" lucas langsung berdiri dari kursinya dan berlari keluar.
Dan kini diruangan lucas hanya ada aluna dan aiden, Aiden menatap aluna. Jujur saja baru kali ini ia melihat wajah istrinya, benar-benar cantik, apalagi saat aluna menatapnya bulu mata lentik, wajah yang halus, dan bibir yang merah mengoda imannya.
"Ehm.. " Aiden berdehem dan memalingkan wajahnya.
"Ke ruang kerja gue" ucap aiden, beranjak dari sana. Sejujurnya aluna kesal dengan aiden yang suka ngatur ngatur tapi apa boleh buat aiden atasan dan dia bawahan.
Dengan malas aluna beranjak lalu dia menghentak kakinya dan pergi berjalan menyusul aiden yang sudah pergi duluan.
"Apa yang lo tidak tahu? " tanya aiden yang duduk di kursinya aluna mendekat dan meletakan berkasnya dimeja aiden lalu membukanya, aluna menunjukkan apa yang menurutnya tidak tahu.
Aiden mengajari aluna layaknya seperti seorang guru les, aluna memperhatikan penjelasan aiden dengan seksama, sesekali aluna bertanya kepada aiden dan aiden menjawab, kadang aluna mengangguk paham, penjelasan aiden lebih muda dia pahami dari pada penjelasan dari lucas, setelah selesai menjelaskan aiden tidak sengaja menatap aluna yang masih fokus melihat ke berkas.
Aiden terpana dengan kecantikan istrinya baru kali ini dia mengakui istrinya benar-benar cantik, apalagi dalam mode serius seperti ini, pantas banyak pria yang mengincar istrinya itu. Aluna tersenyum dengan masih menatap berkas itu,
Aiden terkejut dan jantung aiden berdetak lebih kencang saat melihat senyum manis istrinya, aluna yang tidak sadar jika suami memperhatikannya masih fokus melihat dokumen itu.
"Terimakasih untuk penjelasannya sekarang gue benar-benar paham lo lebih akur.. " aluna menoleh kearah aiden dan seketika itu aluna berhenti berbicara saat aiden melihatnya, mata mereka sama sama bertemu, ia bisa melihat dengan jelas wajah istrinya itu.
Entah gejolak dari mana tiba-tiba aiden mendekatkan wajahnya, kearah aluna, aluna yang tersadar langsung memutuskan eye kontak dengannya, aluna beralih melihat kearah samping. Dan hal itu membuat aiden tersadar
"Ehm... Gue pergi dulu masih ada pekerjaan" aluna mengambil berkasnya langsung berlari keluar meninggal aiden yang masih diam di dalam ruangan.
Aluna berlari masuk kedalam ruangannya dengan tergesa-gesa.
Brakkk...
Aluna membanting pintu dengan keras. Dengan nafas yang terengah-engah.
Plakk..
Aluna menampar dirinya sendiri.
"Ayolah, aluna lo harus sadar lo dan dia bakal berakhir, jangan jatuh pada pesona tampangnya itu" seru aluna.
"Fokus, untuk sekarang lo dan dia hanya sebatas atasan dan bawahan, dan untuk dirumah lo dan dia orang asing hanya saja tinggal di satu atap" seru aluna berjalan menuju kursinya lalu dia duduk dengan menaikkan kaki satunya keatas pahanya.
Sungguh aluna tidak ada elegan nya sama sekali.
Sedangkan aiden tersenyum sendiri hal itu dilihat oleh sang asisten.
"Woi, nape lo awas kesambet" seru lucas. Aiden langsung mode asalnya yaitu dingin.
"Ini berkas yang harus lo periksa, dan i.. "Belum siap lucas berbicara tiba-tiba pintu didobrak.
" sayang, aku datang "seru lula lucas yang melihat itu memutar bola mata malasnya.
" aku kangen sama kamu sayang "saat lula ingin memeluk aiden, Aiden langsung menghindar.
" sudah gue bilang jangan temui gue kalau gue masih jam kerja, gue tidak suka diganggu "seru aiden
" maaf, sayang kamu tidak pernah menemui ku lagi jadi, ku bosan"seru lula.
"Lula, lo ganggu kita kerja tahu tidak" kesal lucas langsung membawa berkasnya dan pergi dari sana. Lula menatap tajam kearah lucas yang mulai menghilang.
"Ehm" suara dehem mengalihkan perhatian mereka, mata mereka melotot
"Aiden" kompak lucas dan aluna.
"Apa, kalian seperti tertangkap basah" seru aiden. Aiden melihat kedekatan aluna dan lucas menjadi geram dan langsung berjalan manarik kursi aluna menjauh dari lucas.
"Dilarang berdekatan, apa tidak ingat ini masih jam kerja? " seru aiden dengan nada naik satu oktaf.
"Apasih kita juga lagi kerja ini" seru aluna memegang berkas,
"Tapi jangan berdekatan" seru aiden.
"Bapak aiden yang terhormat, jika saya tidak dekat dengan bapak lengkuas bagaimana saya bisa paham" ucap aluna, lucas melihat kearah aluna, bisa bisanya aluna masih memanggilnya dengan sebutan lengkuas
"Kan bapak sendiri yang minta bapak lengkuas untuk mengajari saya" ucap aluna.
"Ptss.. Pttss.. " aluna menoleh kearah lucas.
"L U C A S bukan lengkuas" bisik lucas,
"Ehm.. " lucas mendongak melihat kearah aiden.
"He.. He.. Den, ehm, kayak tenggorokan gue seret, gue kebawah dulu" lucas langsung berdiri dari kursinya dan berlari keluar.
Dan kini diruangan lucas hanya ada aluna dan aiden, Aiden menatap aluna. Jujur saja baru kali ini ia melihat wajah istrinya, benar-benar cantik, apalagi saat aluna menatapnya bulu mata lentik, wajah yang halus, dan bibir yang merah mengoda imannya.
"Ehm.. " Aiden berdehem dan memalingkan wajahnya.
"Ke ruang kerja gue" ucap aiden, beranjak dari sana. Sejujurnya aluna kesal dengan aiden yang suka ngatur ngatur tapi apa boleh buat aiden atasan dan dia bawahan.
Dengan malas aluna beranjak lalu dia menghentak kakinya dan pergi berjalan menyusul aiden yang sudah pergi duluan.
"Apa yang lo tidak tahu? " tanya aiden yang duduk di kursinya aluna mendekat dan meletakan berkasnya dimeja aiden lalu membukanya, aluna menunjukkan apa yang menurutnya tidak tahu.
Aiden mengajari aluna layaknya seperti seorang guru les, aluna memperhatikan penjelasan aiden dengan seksama, sesekali aluna bertanya kepada aiden dan aiden menjawab, kadang aluna mengangguk paham, penjelasan aiden lebih muda dia pahami dari pada penjelasan dari lucas, setelah selesai menjelaskan aiden tidak sengaja menatap aluna yang masih fokus melihat ke berkas.
Aiden terpana dengan kecantikan istrinya baru kali ini dia mengakui istrinya benar-benar cantik, apalagi dalam mode serius seperti ini, pantas banyak pria yang mengincar istrinya itu. Aluna tersenyum dengan masih menatap berkas itu,
Aiden terkejut dan jantung aiden berdetak lebih kencang saat melihat senyum manis istrinya, aluna yang tidak sadar jika suami memperhatikannya masih fokus melihat dokumen itu.
"Terimakasih untuk penjelasannya sekarang gue benar-benar paham lo lebih akur.. " aluna menoleh kearah aiden dan seketika itu aluna berhenti berbicara saat aiden melihatnya, mata mereka sama sama bertemu, ia bisa melihat dengan jelas wajah istrinya itu.
Entah gejolak dari mana tiba-tiba aiden mendekatkan wajahnya, kearah aluna, aluna yang tersadar langsung memutuskan eye kontak dengannya, aluna beralih melihat kearah samping. Dan hal itu membuat aiden tersadar
"Ehm... Gue pergi dulu masih ada pekerjaan" aluna mengambil berkasnya langsung berlari keluar meninggal aiden yang masih diam di dalam ruangan.
Aluna berlari masuk kedalam ruangannya dengan tergesa-gesa.
Brakkk...
Aluna membanting pintu dengan keras. Dengan nafas yang terengah-engah.
Plakk..
Aluna menampar dirinya sendiri.
"Ayolah, aluna lo harus sadar lo dan dia bakal berakhir, jangan jatuh pada pesona tampangnya itu" seru aluna.
"Fokus, untuk sekarang lo dan dia hanya sebatas atasan dan bawahan, dan untuk dirumah lo dan dia orang asing hanya saja tinggal di satu atap" seru aluna berjalan menuju kursinya lalu dia duduk dengan menaikkan kaki satunya keatas pahanya.
Sungguh aluna tidak ada elegan nya sama sekali.
Sedangkan aiden tersenyum sendiri hal itu dilihat oleh sang asisten.
"Woi, nape lo awas kesambet" seru lucas. Aiden langsung mode asalnya yaitu dingin.
"Ini berkas yang harus lo periksa, dan i.. "Belum siap lucas berbicara tiba-tiba pintu didobrak.
brakk....
" sayang, aku datang "seru lula lucas yang melihat itu memutar bola mata malasnya.
" aku kangen sama kamu sayang "saat lula ingin memeluk aiden, Aiden langsung menghindar.
" sudah gue bilang jangan temui gue kalau gue masih jam kerja, gue tidak suka diganggu "seru aiden
" maaf, sayang kamu tidak pernah menemui ku lagi jadi, ku bosan"seru lula.
"Lula, lo ganggu kita kerja tahu tidak" kesal lucas langsung membawa berkasnya dan pergi dari sana. Lula menatap tajam kearah lucas yang mulai menghilang.