NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

"Hei, Alma... kau tahu kenapa Terresa tidak masuk kemarin?" bisik Sherin dengan nada pelan namun penuh arti, seolah menyimpan rahasia besar.

Alma menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan.

"Dia dibunuh. Mayatnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan di hutan," lanjut Sherin, suaranya nyaris tak terdengar, seperti desiran angin.

Alma sontak menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar. Ia menoleh ke depan dua kali, memastikan guru tidak memperhatikan, lalu membisik, "Apa kau yakin?"

Sherin mengangguk mantap. "Media milik ayahku akan menjadi yang pertama meliput. Mungkin beritanya sudah naik sekarang."

Saat ini, pelajaran Matematika sedang berlangsung. Sang guru berdiri di depan kelas, menjelaskan soal dengan penuh keseriusan. Suasana hening, semua murid mencatat, kecuali dua gadis itu yang menunduk, berbicara dalam bisik-bisik gelisah.

"Aku rasa, pembunuhnya sama dengan yang membunuh Pak Albert," bisik Sherin lagi.

"Maksudmu?" Alma bertanya, alisnya terangkat sedikit.

"Saat ditemukan, ada mawar merah menancap di kedua punggung tangannya," ucap Sherin dengan nada ngeri. "Aku rasa itu sebabnya Freya juga tidak masuk sekolah hari ini."

Alma mengangguk pelan, seolah menyetujui. Namun matanya, tak seperti biasanya, memancarkan kilatan berbeda. Dingin. Tajam. Nyaris seperti... menikmati.

"Cepat juga dia ditemukan," pikirnya.

Tiba-tiba suara tegas memecah ketegangan.

"Kalian berdua di barisan ketiga! Maju ke depan, kerjakan soal di papan tulis!" seru Bu Anindya, guru Matematika mereka, yang sejak tadi memang sudah mencurigai keduanya terlalu asyik berbicara.

Nada suaranya tidak meninggi, tapi cukup tegas dan menyindir. Sorot matanya tajam menatap mereka berdua.

Sherin panik, menyenggol lengan Alma sambil berbisik, "Bagaimana ini? Aku bahkan tidak mendengar penjelasan tadi!"

"Tenang. Maju saja dulu," jawab Alma ringan, nyaris tanpa ekspresi, lalu berdiri dengan tenang dan melangkah menuju papan tulis.

Keduanya mengambil spidol. Sherin mendapat giliran mengerjakan soal nomor satu, sementara Alma mengerjakan nomor dua.

Tanpa ragu, Alma mulai menulis. Tangannya bergerak lincah, menorehkan rumus dan algoritma dengan presisi. Langkah demi langkah ia jabarkan, hingga sampai pada jawaban akhir yang benar. Semuanya sesuai dengan penjelasan sang guru sebelumnya. Cepat. Tepat. Tanpa cela.

Di sisi lain, Sherin berdiri kaku. Matanya menatap soal yang terasa seperti bahasa alien. Otaknya berputar-putar, mencoba mengingat sepatah dua patah penjelasan, tapi nihil. Tak satu pun masuk ke kepalanya. Ia hanya menulis satu baris, lalu menghapusnya lagi. Tangannya gemetar.

Bu Anindya yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah menduga. Alma memang selalu unggul, selalu teliti, dan jarang meleset. Sebaliknya, Sherin… yah, gadis itu lebih sering tenggelam dalam gosip dibanding rumus.

"Lain kali, dengarkan pelajaran. Jangan terlalu sibuk mengobrol," ucap Bu Anindya datar, namun cukup menusuk.

Keduanya menunduk dalam, mengangguk patuh sebelum kembali ke bangku masing-masing.

Sherin masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu karena malu, sementara Alma hanya duduk kembali dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, di balik sikap tenangnya itu, matanya masih menyimpan satu hal yang tak bisa diungkapkan. Sebuah rahasia gelap yang perlahan mulai menguap ke permukaan.

🥀🥀🥀

Pelajaran selesai dalam waktu dua jam. Bu Anindya, yang sejak awal masuk kelas sudah memasang wajah ketat, akhirnya keluar sambil menenteng semua buku-buku tebalnya. Sepatu hak tingginya berdetak nyaring saat menyusuri lorong kelas yang kembali bising oleh obrolan siswa.

Sherin mendesah panjang, meletakkan pulpen dengan bunyi cukup keras. "Kau lihat? Sepanjang pelajaran tadi, matanya itu selalu menatap tajam padaku!" keluhnya dramatis, satu tangan memegangi dada seakan baru saja lolos dari medan perang.

Alma hanya terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Itu ulahmu sendiri."

Sherin meringis. Ya, dia tahu. Andai saja dia tidak mulai membisikkan hal-hal sensitif tadi pada Alma di tengah pelajaran, mungkin Bu Anindya tidak akan semarah itu. Apalagi topiknya bukan main. Kasus pembunuhan Terresa.

"Apa kalian tadi sedang membicarakan kasus Terresa?" suara lain menyela. Karin, siswi berambut  karamel yang mejanya tepat di seberang kanan Alma, berdiri sambil menyender di meja. Matanya menyipit curiga, tapi nadanya penuh rasa ingin tahu.

Dia jelas mendengar bisikan tadi. Jarak mereka terlalu dekat untuk tidak mencuri dengar.

"Ah! Kau sudah melihat beritanya?" Sherin menoleh cepat, sedikit terkejut.

"Ya, dan sekarang sudah masuk forum sekolah. Kolom komentarnya penuh dengan spekulasi gila. Semua orang mendadak jadi detektif."

Alma hanya diam, matanya mengamati pergerakan siswa di kelas yang mulai membereskan buku, namun telinganya tetap fokus ke percakapan itu.

"Apa? Apa? Kalian sedang membicarakan kasus yang menghebohkan?" Suara Dennis tiba-tiba muncul, mengagetkan semua orang. Siswa bertubuh gempal itu muncul di antara mereka dengan napas sedikit ngos-ngosan, entah habis lari atau terlalu bersemangat ingin ikut.

Topik panas memang selalu menarik, bahkan jika yang dibahas adalah hal sekeji pembunuhan.

Karin mengangguk. "Sayangnya semua foto di media sudah disensor."

Nada suaranya terdengar kecewa. Meskipun terdengar tak etis, dia penasaran. Penasaran yang murni didorong rasa ingin tahu, bukan simpati.

Sherin mendongakkan dagu dengan bangga. "Aku punya versi aslinya."

Alma, Karin, dan Dennis serempak menatapnya penuh harap. Bahkan Alma, yang biasanya tenang dan tidak banyak bicara, tampak sedikit tertarik.

"Mana? Cepat tunjukkan!" desak Dennis tidak sabar, nyaris menyambar ponsel Sherin.

Sherin membuka ponselnya, membuka folder galeri khusus yang ia sembunyikan di balik kata sandi. Begitu gambar muncul, dia memutarnya agar semua bisa melihat.

Mereka mendekat.

Foto itu… mengerikan.

Tubuh Terresa ditemukan duduk membungkuk di atas gundukan tanah, seolah seseorang sengaja meletakkannya seperti patung usang. Di belakang tubuhnya, sebatang kayu besar menancap. Mungkin sebagai penyangga. Kulit tubuhnya penuh luka sayatan. Tidak ada satu inci pun yang tampak utuh. Wajahnya… hampir tak bisa dikenali. Luka-luka itu seolah diukir dengan kebencian. Namun yang paling mencolok: kedua pergelangan tangannya ditusuk dengan tangkai mawar merah segar. Mawar itu masih tampak mekar.

"Astagaaa…" Karin menutup mulut, langkahnya mundur satu. Matanya membelalak ngeri. "Aku… aku tidak nyangka akan separah ini…"

Dennis yang biasanya cerewet pun mendadak bungkam. Wajahnya pucat. Tangannya masih tergantung di udara, seperti belum sepenuhnya sadar bahwa tadi dia yang paling bersemangat ingin melihat.

"Aku rasa… pembunuhnya sama dengan yang membunuh Pak Albert," gumam Dennis akhirnya, suaranya rendah.

Sherin langsung mengangguk. "Nah, benarkan? Aku juga pikir begitu!"

"Polanya memang sama," Karin menyambung, masih dengan nada tak percaya. "Terutama mawar merah itu… simbol yang terlalu mencolok untuk diabaikan."

"Bagaimana menurutmu, Alma?" tanya Sherin, menoleh.

Alma menatap layar ponsel beberapa detik, lalu menjawab pelan, "Bisa jadi. Tapi yang pasti… aku rasa pembunuhnya mengenal mereka dengan baik."

Perkataan itu membuat Sherin tertegun. Dahi Sherin berkerut, mencoba memahami lebih dalam makna ucapan Alma.

"Alma…" bisiknya pelan, "kenapa aku tidak memikirkan ke arah itu…"

Alma melanjutkan tenang, "Rencananya terlalu rapi. Tidak ada jejak, tidak ada saksi, tapi mayatnya justru ditemukan di tempat yang mudah dijangkau. Seolah memang sengaja dipamerkan. Seolah pelakunya ingin ditemukan. Tapi hanya sebagian. Ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak sepenuhnya bicara."

Sherin mengangguk perlahan, matanya menerawang. "Albert ditemukan di kompleks perumahan, Terresa di hutan taman kota. Tempat umum. Tapi tidak ada CCTV, tidak ada yang melihat pelaku keluar masuk. Itu... mengerikan."

"Mawar itu," sambung Karin lirih, "hanya satu-satunya petunjuk."

Empat anak remaja itu mendadak berubah menjadi detektif dadakan. Mereka mulai menghubungkan satu demi satu benang merah yang mungkin bahkan belum terpikirkan polisi. Masing-masing menyumbang teori, memperdebatkan motif, bahkan menduga-duga korban selanjutnya.

Namun di tengah antusiasme itu, hanya Alma yang masih memandangi foto dengan tatapan berbeda. Matanya tidak menatap korban—tetapi latar belakangnya. Seolah sedang menghitung sesuatu dalam diam.

Dan jika mereka perhatikan lebih teliti, ada kilatan samar di mata Alma. Bukan rasa takut. Bukan jijik. Melainkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Tenang... dan seolah... tahu terlalu banyak.

🥀🥀🥀

Sementara siswa lain masih berkutat dengan kurikulum umum khas anak SMA, hal yang sama tidak berlaku untuk Polaris. Mereka berbeda.

Untuk Polaris, tidak ada mata pelajaran matematika dasar, sejarah nasional, atau biologi. Di sini, hanya ada dua kelas utama. kelas bisnis dan kelas tatakrama. Kelas pewaris dan calon pemimpin. Mereka tidak membutuhkan pelajaran umum. Semua itu sudah mereka lahap sejak usia dini. Begitulah tuntutan menjadi penerus konglomerat, tidak ada ruang untuk ketidaktahuan.

Dan hari ini, di kelas bisnis yang luas dan megah itu, hanya ada lima siswa. Sebuah peraturan tak tertulis yang sudah menjadi tradisi. Kelas ini eksklusif. Hanya mereka yang memiliki darah biru dan otak tajam yang bisa duduk di sini.

Meja bundar mewah yang terbuat dari kayu jati berkilau diisi oleh lima nama besar. Kaiden, Calvin, Leon, Grace, dan Theo sang ketua OSIS. Mereka duduk membentuk setengah lingkaran menghadap ke depan, tempat guru mereka. Seorang pria paruh baya berjas abu-abu berdiri menerangkan materi tentang ekonomi global, fluktuasi pasar saham, dan strategi investasi lintas negara.

Namun tidak satu pun dari mereka terlihat benar-benar memperhatikan.

Kaiden menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan menopang dagu, bosan. Grace sibuk memainkan pulpen mahalnya, matanya diam-diam melirik ke arah Leon. Theo, seperti biasa, tenggelam dalam dunia sendiri, mengetik cepat sesuatu di tablet pribadinya. Hanya Leon yang tampak membuka file digital, meski entah benar-benar membaca atau hanya sekadar formalitas.

Dan Calvin duduk santai dengan kaki disilangkan. Ia menoleh ke kanan, ke arah Leon yang duduk di sampingnya.

"Hei," bisiknya sambil menyikut lengan sahabatnya pelan, "Bisa kau carikan informasi seseorang untukku?"

Leon menoleh dengan alis terangkat. Biasanya Calvin tidak meminta bantuan seperti ini. "Siapa?"

Calvin tak langsung menjawab. Tatapannya menerawang sesaat. Ia kembali mengingat wajah itu. Wajah seorang gadis cantik yang ia temui di tepi danau belakang sekolah kemarin. Gadis yang dengan berani menatap balik, membantah ucapannya tanpa rasa gentar. Sorot matanya masih terbayang jelas.

"Namanya Alma," ucapnya akhirnya, pendek namun mantap.

Keheningan tipis menyelimuti meja itu. Bukan hanya Leon yang mengerutkan kening. Bahkan Kaiden, yang sejak awal tampak tidak peduli, kini mengalihkan perhatiannya ke arah Calvin.

Leon menyipitkan mata, nada suaranya lebih tajam. "Untuk apa? Kau mengenalnya?"

Calvin hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tidak. Hanya penasaran saja," jawabnya singkat.

Setelah itu, ia kembali bersandar. Tak ada penjelasan lebih lanjut. Tapi tatapan Leon tak beralih darinya. Ia tidak menyukai rasa ingin tahu yang mendadak muncul dari Calvin, terutama jika itu menyangkut seseorang. Dan orang itu adalah Alma.

Di seberang meja, Grace merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Awalnya, ia memilih duduk di kelas bisnis hari ini bukan karena materi atau tanggung jawab. Melainkan agar bisa lebih dekat dengan Leon. Tapi, lagi-lagi… nama itu disebut.

Alma.

Pikiran Grace langsung bekerja, dia pernah melihat data pribadi Alma di layar laptop Leon. Waktu itu, dia mengira Alma hanya figuran biasa. Tapi hari ini? Bahkan Calvin menyebutnya.

"Sial… siapa sebenarnya Alma ini?" pikirnya. Tangan Grace mengepal di bawah meja. Rasa panas menjalari tubuhnya. Dia harus mencari taunya.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!