Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Kak Kay!"
"Kak KAY!"
"Ishhh...," Kayla Mendesis, suara cempreng Jenny menariknya dari alam mimpi.
Setelah tak ada respon, Kayla kembali tertidur. Jenny tak mau menyerah. dia kembali membangunkan Kayla dengan cara menggoyang- goyangkan tubuh Kayla.
Jenny segera membuka gorden, tak lupa juga membuka jendela. matanya menatap Kayla malas. "Kak, aku punya cara untuk menyelidiki panti asuhan itu. Tadi aku liat mereka sedang mencari pekerja baru. Kita harus segera kesana kak! Jangan sampai kita terlambat dari pelamar yang lain." ucapnya sambil berteriak.
Jenny berlari kecil ke arah Kayla, ditariknya tubuh Kayla dengan susah payah. Setelah Kayla berdiri sempurna Jeni mendorong Kayla ke arah Kamar mandi.
"Cepat kak! Kita tidak punya banyak waktu!"
Jenny terlihat sangat buru-buru, seperti seseorang yang tidak mau terlambat ke sekolah.
"Sabar Bego!" umpat Kayla saat dirinya di dorong-dorong. Padahal dia sudah berjalan pelan.
"Kita Harus Cepat! Udah nggak keburu nih!" ucap Jenny sambil melirik jam tangannya.
"Bawel banget! Kalau nggak keburu nggak usah ngelamar! Lagian kerja juga bikin capek!"
Dahinya mengkerut, rahangnya mengeras dan tatapan matanya jadi sangat tajam. Ia menatap Jenny seperti menatap musuh.
Jenny hanya bergidik ngeri." Kak jangan seperti itu, aku takut..."
Bilangnya takut tapi tangannya kembali mendorong Kayla. Kayla pun terlihat pasrah. Jika terus mengomel bisa-bisa tenaganya terkuras habis. Ia hanya bisa bernafas kasar buat nunjukin kalo ia sedang marah.
Brak!
Pintu kamar mandi di banting dengan sangat kuat. Jenny yang masih berada di depan pintu kamar mandi hanya bisa mengelus dada.
Setelah sedikit tenang, Jenny mendekatkan dirinya tepat di pintu kamar mandi. Ia penasaran apa yang akan dilakukan Kayla untuk meluapkan emosinya.
Brak!
Setelah selesai memakai sabun Kayla melempar tempat sabun ke dinding dan jatuh berserakan di lantai.
Jedar! Jedar!
Hal yang sama juga dirasakan oleh Shower. Shower kamar mandi juga tidak selamat dari tangan Kayla. Dilemparnya Shower itu kelantai, membuat suara gaduh yang bisa memekakkan telinga.
Walaupun begitu emosinya masih belum keluar semua. Ia kembali mengambil Tank Cover dan membenturkannya ke lantai sebanyak tiga kali.
Setelah tidak mendengar suara, Jenny bertanya."Kau sedang konser?"
Bukannya takut Jenny malah tertawa puas. Ia merasa pertunjukan yang dibuat Kayla terlihat lucu.
"JENNY!"
Baru saja menenangkan diri, Jenny kembali membuatnya marah.
"Kak aku tunggu diluar!" Teriak JENI di balik pintu kamar mandi.
................
"Dimana Kay?"
"Kamar mandi." Sebenarnya Jeni sadar kalau Alfian sedang mencurigainya, tapi perutnya yang sedang berdemo ini butuh makanan.
Joy menendang sedikit kursi milik Jeni, lalu memberikan kode dengan kepalanya. "Biarin aja, aku kan nggak ngapa-ngapain." Ucap Jeni yang masih fokus dengan makanannya.
"Jangan pernah melakukan hal yang akan membuatmu rugi. Kau tidak lupa dengan kejadian yang dulu kan? lupakan rencanamu itu." Peringat Joy.
Nasehat Joy dianggap angin lalu oleh Jeni, dia tak benar-benar mendengarkan nasehat pria itu. "Urus saja dirimu yang jomblo itu! pikirkan bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan pacar."
Jeni menatap Joy dengan seksama, ia seperti sedang memperhatikan tubuh Joy dari atas hingga ke bawah.
"Apakah kau tidak suka wanita? Apa kau... Belok?!" ucap Jenny sambil menutup mulutnya dengan tangan. Matanya melotot. Ia tidak terima kalau cowok setampan ini tidak menyukai wanita.
Pasalnya Joy adalah tipe anak yang tidak pernah dekat dengan wanita, kecuali dirinya. Walaupun begitu Joy pasti akan mencuci wajah dan tangannya saat bersentuhan dengan Jenny.
"Aku masih pria normal." Ucap Joy singkat tanpa penjelasan panjang. Padahal Jeni berharap Joy bisa memarahinya dengan ekspresi orang normal namun itu mustahil.
"Kau ini sungguh membosankan!" Gerutu Jeni tetap fokus pada makanan. "Dibanding dengan kak Kay, kau jauh lebih membosankan!" tambahnya.
Joy hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada makanan. Setelah dirasa sudah kenyang Joy membersihkan piringnya dan duduk kembali di tempatnya tadi.
"Ada apa menatapku seperti itu? aku bukan makanan!" Walaupun pandangannya tidak fokus pada Joy, Jeni masih bisa melihat Joy dengan ujung matanya.
"Aku hanya berpikir kau seperti tikus yang rakus." ucap Joy datar tanpa ekspresi. Seolah-olah tidak mengatakan sesuatu.
"Kamu!" Jeni mengambil ayam utuh yang ada di depannya. Ia melempar ayam itu dengan sangat brutal.
Namun, Joy dengan mudah menghindari serangan. Serangan itu tak ada artinya di mata Joy.
Hap!
Dengan sigap, Kayla berhasil menangkap ayam yang hampir mengenai kepalanya.
"Ada apa ini?" Tanya Kayla dengan posisi memegangi 1 ekor ayam utuh.
Kayla memakan ayam ditangannya hingga tersisa tulangnya saja. "Jangan bertengkar di meja makan! kalian akan merugikan makanan-makanan lezat ini."
Jeni menghampiri Kayla, tangannya mengapit lengan Kayla. Ia bersiap melapor seperti anak kecil yang diganggu temannya.
"Kak Kay, masa Joy bilang aku kayak tikus yang rakus! aku kan hanya makan sedikit makanan."
"Sedikit makanan?"
Pandangan Kayla mengarah pada beberapa tumpukan piring dan beberapa lauk yang hanya tersisa sambalnya saja.
"Mungkin yang dikatakan Joy ada benarnya, kau harus mengurangi makanan yang berkalori, karena dengan tubuhmu yang... maaf..., sedikit berisi ini mungkin akan kesulitan dalam menjalani tugas."
Alfian dan Joy hanya tersenyum simpul, tapi terlihat sangat menyebalkan di mata Jeni.
Mereka sedang meledekku! Sangat menyebalkan!!
Kayla dan Alfian hanya tertawa kecil melihat Jeni keluar dari ruangan dengan raut wajah yang terlihat masam.
"Kata-katamu sedikit menyebalkan." ucap Alfian sembari tertawa dengan keras.
Kayla membekap mulut Alfian, "Jangan tertawa terlalu keras, dia pasti akan semakin merajuk."
Alfian menarik kursi dan mempersilahkan Kayla untuk duduk, "Mau makan apa tuan putri? hamba akan mengambilnya untuk anda."
"Terima kasih pak kasim, hari ini aku hanya ingin buah dan segelas susu." Kayla terlihat anggun saat mempraktekan gaya-gaya seorang putri.
Alfian terdiam sejenak, "Pak Kasim? kau tidak memahami sistem kerajaan! aku ini lagi berperan sebagai koki pribadi milik putri, bukan sebagai Kasim yang membawa berita! gimana sih?"
"Apa aktingku buruk?"
Pipinya membusung maju, matanya memancarkan tatapan kesal, kakinya di hentak- hentakan ke tanah. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Alfian, dia hanya terdiam dengan wajah masam.
Kayla mengerutkan dahi, sambil mengurut kening, merasa aneh dengan tingkah Alfian.
"Aku tak menyukai drama ini."
Dari pada harus melihat tingkah Alfian yang aneh, Kayla memilih meninggalkan Alfian sendirian di meja makan. Kayla merasa sangat lelah jika harus terus terjun ke dalam drama yang dibuat oleh temannya itu.
..........
"Menurut kabar dari akun sosial media milik pengurus panti,beberapa pengurus panti mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ini adalah kesempatan yang bagus buat mencari informasi! aku juga sudah membaca beberapa persyaratan untuk bekerja disana." Jenny terlihat serius menjelaskan Infomasi yang di dapatnya.
"Mungkin akan ada banyak yang melamar. Bagaimana caranya agar kita terpilih?" tanya Joy.
"Ancaman dan imbalan."
Kalimat singkat yang diucapkan Alfian membuat Kayla dan Jenny bingung. Mereka berdua saling menatap seolah-olah sedang bertanya "Kau mengerti?"
Melihat mereka terlihat bingung Alvian pun kembali menjelaskan maksudnya.
"Kita akan memberikan mereka dua pilihan, yaitu rugi atau untung. Kalau mereka mau melakukan apa yang kita mau, mereka akan mendapatkan imbalan. Tapi kalau mereka tidak mau mereka akan mendapatkan kerugian."
"Jadi kita akan memberikan mereka uang agar mereka mau mengundurkan diri dan tidak jadi melamar? tapi kalau pihak panti curiga?" tanya Kayla sedikit bingung.
"Iya. Mereka tidak akan mundur secara langsung, melainkan tetap mengikuti tes."
"Terus apa gunanya memberikan uang? kan jadi sia-sia." ucap Kayla semakin bingung.
"Kita harus melampaui mereka, dan mereka harus berada di bawah kita." lagi dan lagi Alfian menjelaskan dengan penjelasan yang membingungkan.
Melihat mereka yang semakin bingung, Alfian membuang nafas kasar. Namun ia kembali menjelaskan inti dari penjelasan panjang tadi.
"Kalian harus tingkatkan cara berfikir! Maksud aku yaitu, aku akan menyuruh mereka untuk mengurangi nilai mereka. Sementara kita, harus meningkatkan nilai kita, sehingga kita bisa melampaui mereka.
"Tidak bisakah kau langsung menjelaskan intinya? kau tidak perlu menjelaskan panjang lebar yang ujung-ujungnya membuat kami bingung!" kritik Kayla, sejak tadi kepalanya berputar-putar mendengar penjelasan panjang Alfian.
Sedangkan Joy dan Jeni hanya mengangguk pertanda mereka setuju dengan pendapat Kayla.
"Aku hanya ingin meningkatkan daya pikir kalian, dalam kasus besar kita harus punya pemikiran yang luas. kalau bisa selangkah lebih maju dari orang lain." jelas Alfian.
"Kapan kita akan melamar?" Tanya Joy.
"Satu minggu lagi, kita akan menggunakan waktu itu untuk melatih diri." Jawab Jenny cepat.
Kayla menatap tajam ke arah Jenny. Sedangkan Jeni hanya tertawa jahil.
"Kau membohongiku Jenny!"
"Ampun... kak!"