NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Dua prajurit yang masih terjaga itu mendadak mengerang. Mereka mencengkeram tubuh sendiri, menggaruk kulit dengan beringas seolah ada ribuan jarum yang merayap di bawah pori-pori.

Rasa gatal itu tampak begitu menyiksa hingga mereka bergulingan di lantai, mengerang bagai cacing yang terpanggang api. Kuku-kuku mereka menggaruk tanpa henti, merobek kain baju dan mengoyak kulit hingga darah segar merembes keluar, namun mereka tidak berhenti sampai daging mereka terkelupas.

​Lalu, secara serentak, keduanya diam. Senyap yang mencekam tiba-tiba menyergap ruangan.

​Jayantaka berdiri kaku dengan keris terhunus, napasnya tertahan melihat pemandangan mengerikan di depannya. Dari balik luka-luka robekan di tangan, dada, hingga wajah kedua prajurit itu, perlahan muncul kelopak mata yang membuka satu demi satu.

Ya, kini sekujur tubuh mereka dipenuhi puluhan mata yang berkedip di antara daging yang koyak, mengeluarkan aroma amis darah yang begitu pekat hingga membuat mual.

​Kedua prajurit itu bangkit berdiri dengan gerakan patah-patah layaknya mayat hidup. Mata asli di wajah mereka kini telah memutih seluruhnya, seputih kapas tanpa pupil. Secara bersamaan, bibir mereka bergerak, mengeluarkan satu suara sinkron yang berat dan bergema:

​"Aku adalah bencana yang tak pernah kau inginkan muncul dalam seumur hidupmu, Jayantaka..."

​Pesan itu bukan lagi sekadar ancaman. membuat nyali sang penyidik agung dari Trowulan itu bergetar untuk pertama kalinya.

"Dan aku bisa melakukan hal yang sama padamu... jauh lebih mudah dari yang kau bayangkan."

​"Aku tidak takut pada ancaman pengecutmu! Ini semua hanya ilusi, tipu daya rendah untuk melemahkan batinku. Kau tidak akan bisa menakutiku, Iblis!" teriak Jayantaka, mencoba memanggil sisa keberaniannya meski keringat dingin mulai membanjiri pelipis.

​"BODOH...!!" bentak suara itu, menggelegar hingga menggetarkan pilar-pilar penginapan.

​BLARRRR!

​Petir menyambar tepat di atas bangunan, cahayanya yang putih menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela, menerangi kengerian di dalam kamar. Bersamaan dengan kilatan itu, puluhan mata yang tertanam di tembok meluncurkan serangan yang tak terduga. Jaringan urat kemerahan melesat keluar dari lubang-lubang mata tersebut, memanjang dan melesat cepat bagai ratusan benang sutra yang hidup.

​"Crattt! Crattt!"

​Jayantaka merunduk, mengayunkan keris pusakanya dengan beringas. Beberapa untaian urat itu berhasil ditebas putus, menyemburkan cairan hitam yang berbau busuk. Namun, jumlahnya terlalu banyak. Dari sudut-sudut gelap yang tak terjangkau mata, belasan urat lainnya melilit pergelangan kaki dan tangannya dengan sangat kuat.

​Saking kerasnya sentakan urat-urat itu, keris di tangan Jayantaka terlempar jauh, berdenting saat menghantam lantai kayu.

​"Arghhhhh!" Jayantaka mengerang kesakitan.

​Urat-urat hidup itu menjerat tubuhnya begitu kencang hingga tulang-tulangnya terasa nyaris remuk. Rasanya bukan sekadar lilitan; ribuan duri renik yang tumbuh di sepanjang urat itu mulai menembus kulitnya, masuk ke dalam pori-pori dan mulai menghisap darahnya secara perlahan. Jayantaka meronta, namun setiap gerakan justru membuat lilitan itu semakin membelit lehernya, menariknya hingga ia terpaku pada dinding kamar yang dipenuhi mata berdarah.

​Sang penyidik agung yang biasanya disegani di Trowulan itu kini tak lebih dari mangsa yang tak berdaya. Di hadapan kekuatan iblis ini, logika dan keberaniannya perlahan mulai runtuh seiring dengan darahnya yang kian terkuras, meninggalkan rasa dingin yang mematikan di sekujur tubuhnya. Mata-mata di tembok itu kini menatapnya sangat dekat, berkedip kegirangan melihat sang mangsa perlahan mulai kehilangan kesadaran.

Di saat maut nyaris merenggut napas Jayantaka, sebuah fenomena ganjil kembali tercipta. Tiba-tiba, lantai kayu di bawah kakinya memercikkan cahaya kebiruan yang dalam sekejap berubah menjadi lingkaran api murni. Lidah-lidah api itu berkobar setinggi dada, melingkari tubuh Jayantaka seolah membangun benteng pertahanan yang tak tertembus.

​Hawa panas yang suci merambat cepat, menjalar ke arah jaring-jaring urat yang melilitnya. Begitu bersentuhan dengan api tersebut, urat-urat hidup itu menjerit—suara pekikan nyaring yang memekakkan telinga—sebelum akhirnya menghitam dan hancur menjadi abu. Sang Iblis, yang mengintai dari dimensi lain, menggeram rendah; ia mengenali getaran kekuatan yang baru saja mengintervensi permainannya.

​"Hmmh... kalian berdua hanya mengganggu saja," desis suara itu, mengandung kebencian yang mendalam terhadap campur tangan Ki Bagaskara dan Nyai Lodra

​Api tersebut kian membesar, menyapu seluruh permukaan dinding hingga puluhan mata yang menempel di sana hangus terbakar dan musnah tak berbekas. Bersamaan dengan hilangnya hawa jahat tersebut, kobaran api itu pun padam dengan sendirinya, menyisakan kepulan asap tipis yang beraroma kayu cendana.

​Jayantaka, yang tubuhnya dipenuhi luka bekas lilitan dan sisa-sisa duri penghisap darah, terjerembab ke lantai. Ia tersengal-sengal, mencoba meraup oksigen di tengah ruangan yang kini mendadak sunyi. Di sampingnya, kedua prajuritnya turut ambruk tak berdaya.

Meski nyawa mereka terselamatkan, sisa kengerian malam itu telah meninggalkan luka batin yang mungkin tak akan pernah sembuh. Jayantaka menatap hulu kerisnya yang tergeletak di kejauhan, menyadari bahwa di tanah Mojorejo ini, jabatan dan pangkat sama sekali tak memiliki harga di hadapan kekuatan yang baru saja menyerangnya.

Waktu terus merayap dalam keheningan yang panjang. Sudah hampir tiga hari lamanya Jayantaka terbaring dalam kegelapan koma, terjebak dalam batas antara hidup dan mati. Namun, pagi itu, cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah dinding kayu seakan menyapanya dengan hangat, perlahan membangkitkan urat-urat sarafnya yang nyaris padam diterjang hawa murni dan sihir hitam.

​Perlahan, kelopak matanya bergetar lalu terbuka sedikit. Dunia di sekitarnya tampak kabur, berputar seiring dengan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya yang terasa seringan kapas karena kehilangan begitu banyak darah. Ia menarik napas pendek yang terasa sesak, lalu mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang asing namun terasa akrab.

​Ingatannya yang tercecer mulai menyatu kembali. Bau kayu tua, keheningan yang tenang, dan arsitektur sederhana ini... ia pernah berada di sini sebelumnya. Matanya terpaku pada langit-langit bambu yang pernah ia amati dengan penuh curiga beberapa hari lalu.

​"Ini... rumah petani itu..." ucapnya dengan suara parau yang hampir menyerupai bisikan, disusul oleh batuk kering yang membuat dadanya terasa nyeri.

​Ia menyadari bahwa dirinya kini bukan lagi datang sebagai penyidik agung yang angkuh, melainkan sebagai seorang pesakitan yang nyawanya justru berutang pada orang yang sempat ia intimidasi. Di balik pintu kamar yang tertutup, ia bisa mendengar sayup-sayup suara orang bercakap, menandakan bahwa hidup masih berdenyut di rumah yang penuh rahasia ini.

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!