NovelToon NovelToon
Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?

Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.

​Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.

​Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.

Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12

Tiga bulan di pesisir telah mengubah fisik Arkan. Kulitnya yang dulu putih bersih kini kecokelatan terbakar matahari, tubuhnya lebih tegap, dan sorot matanya lebih tajam.

Ia turun dari mobil jemputan di depan kantor pusat dengan langkah gagah. Di tangannya, ia menggenggam plakat penghargaan sebagai Manajer Proyek Terbaik Tahun Ini atas keberhasilannya menyelamatkan proyek pesisir yang nyaris mangkrak.

Arkan merasa telah menebus dosanya pada perusahaan dan secara tidak langsung, pada Kinanti. Ia melangkah masuk ke lobi, menghirup aroma AC yang mewah, merasa bahwa ia akhirnya pantas kembali ke dunianya yang dulu.

"Pak Arkan, selamat atas kepulangannya," sapa resepsionis dengan hormat yang tulus.

Arkan mengangguk. "Terima kasih. Apakah Ibu Kinanti ada di ruangannya?"

"Ada, Pak. Beliau sedang menunggu Anda."

Arkan masuk ke ruang kerja Kinanti. Ia melihat istrinya duduk di sana, tetap anggun, tetap berkuasa. Arkan meletakkan laporan final dan plakatnya di meja. "Aku sudah menyelesaikan semuanya, Kin. Sesuai janjiku."

Kinanti menyesap kopinya, menatap plakat itu sekilas. "Kerja bagus, Arkan. Aku sudah mengembalikan akses kartu kreditmu, meski limitnya masih di bawah pengawasanku. Dan posisimu sebagai Direktur Utama kini resmi kukukuhkan kembali."

Arkan mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Kin. Sekarang... aku ingin menjemput Alana. Aku ingin membawa dia ke tempat yang layak sebelum dia melahirkan."

Kinanti tersenyum, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Arkan merinding. "Menjemputnya? Silakan, Arkan. Kalau kamu bisa menemukannya."

Arkan memacu mobilnya menuju motel murah yang terakhir kali disebutkan Kinanti dalam pesan singkatnya beberapa bulan lalu. Hatinya berdebu oleh rasa bersalah.

Ia sudah menyiapkan skenario, ia akan menyewa apartemen mewah, memberikan Alana biaya persalinan terbaik, dan meminta maaf karena telah mengabaikannya.

Namun, saat ia sampai di motel Mawar Indah yang kusam itu, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Alana? Perempuan hamil yang tinggal di kamar 204?" tanya penjaga motel sambil menggaruk kepalanya. "Oh, dia sudah pergi hampir tiga minggu yang lalu, Pak."

"Pergi ke mana?!" bentak Arkan.

"Saya tidak tahu. Dia diusir karena tidak bisa bayar sewa lagi. Barangnya yang sedikit itu diletakkan di pinggir jalan. Saya dengar dia pingsan dan dibawa warga, tapi tidak tahu dibawa ke mana."

Arkan berlari kembali ke mobilnya. Ia menelepon orang tua Alana. Suara Pak Handoko terdengar dingin di seberang sana.

"Jangan cari Alana di sini, Arkan. Kami tidak punya anak bernama Alana lagi. Dia sudah mati bagi keluarga ini sejak dia memilih pria yang tidak berguna seperti kamu."

Arkan memukul kemudi mobilnya. Ia baru menyadari, selama ia menikmati kedamaian di pesisir dan pujian dari Kinanti, Alana sedang berjuang sendirian di selokan kehidupan. Dunia Alana sudah runtuh, dan Arkan adalah orang yang memegang palunya.

Malam itu, Arkan pulang ke rumah utama dengan wajah hancur. Di meja makan, Kinanti sudah menunggu dengan hidangan mewah buatan Bi Ijah. Ada aroma sup iga yang hangat, namun bagi Arkan, ruangan itu terasa seperti ruang interogasi.

"Duduklah, Arkan. Kamu terlihat sangat berantakan," ujar Kinanti tenang.

"Di mana dia, Kin? Kamu tahu, kan? Kamu selalu tahu segalanya!" suara Arkan bergetar.

Kinanti meletakkan sendoknya dengan pelan. "Aku memang tahu. Aku melihatnya saat dia diusir dari motel itu. Dia tampak sangat menyedihkan, Arkan. Memegangi perutnya yang besar sambil menyeret satu koper rusak. Dia mencoba meneleponmu, tapi kamu kan sedang sibuk menyelamatkan perusahaan, jadi ponselmu mati, bukan?"

Arkan memejamkan mata. Rasa sakitnya tak tertahankan. "Kamu membiarkannya? Kamu punya semua uang di dunia ini, Kin! Kamu membiarkan dia terlantar di jalanan saat mengandung anakku?"

"Anakmu?" Kinanti tertawa kecil, suara tawa yang sangat merdu namun mematikan. "Dia juga anak dari wanita yang menghancurkan rumah tanggaku, Arkan. Ingat, aku sudah memberinya cek sepuluh juta. Dia saja yang terlalu bangga, atau mungkin terlalu bodoh karena cek itu hilang saat dia dipalak preman di sekitar motel."

Arkan tersentak. "Dipalak? Dia terluka?"

"Entahlah. Aku hanya mendengar laporan bahwa ada wanita hamil yang dibawa ke rumah sakit daerah tanpa identitas. Tapi saat aku menyuruh orang mengeceknya pagi ini, dia sudah kabur dari bangsal karena takut ditagih biaya pengobatan."

Keesokan harinya, Arkan mencoba melacak seluruh rumah sakit daerah dan panti asuhan, namun hasilnya nihil. Alana hilang seperti uap. Di sisi lain, tekanan pekerjaan dari Kinanti tidak berhenti.

"Arkan, ada rapat penting dengan investor dari Singapura jam sepuluh. Kamu harus hadir. Penampilanmu harus sempurna," perintah Kinanti lewat telepon.

"Aku tidak bisa, Kin! Alana mungkin sedang melahirkan di pinggir jalan!"

"Pilih, Arkan. Kamu pergi mencari wanita yang mungkin sudah tidak ingin melihatmu lagi, atau kamu hadir di rapat ini dan mempertahankan tahtamu?" suara Kinanti mendingin. "Jika kamu tidak hadir, aku akan menganggap kamu mengundurkan diri. Dan kamu tahu artinya? Seluruh biaya untuk Alana akan kuhentikan saat ini juga."

Arkan tertegun. "Jadi... Kamu mencarinya?"

"Tentu saja. Aku ingin memastikan bayimu aman. Tapi aku hanya akan memberikan informasi itu jika kamu tetap menjadi Direktur yang patuh. Jadi, pilih mana? Cinta atau tahta?"

Arkan meremas ponselnya. Ia akhirnya bercermin, mengenakan jas mahalnya, menyisir rambutnya yang rapi, dan memakai jam tangan pemberian Kinanti. Ia memilih tahta.

Ia melangkah ke ruang rapat dengan hati yang mati, sadar bahwa ia telah menjadi budak di dalam penjara emas yang dibangun oleh istrinya sendiri.

Sore hari, setelah rapat selesai dan investor merasa puas, Kinanti masuk ke ruangan Arkan. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat kecil ke meja.

"Itu alamatnya," kata Kinanti.

Arkan langsung menyambar amplop itu. "Di mana dia?"

"Dia ada di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Seorang bidan desa merawatnya. Dia melahirkan tiga hari yang lalu, Arkan. Seorang bayi laki-laki."

Mata Arkan berkaca-kaca. "Laki-laki? Dia... mereka sehat?"

"Bayinya sehat. Tapi Alana... dia mengalami depresi berat. Dia menolak menyusui bayi itu. Dia terus menggumamkan namamu dan namaku dengan penuh kebencian." Kinanti berjalan menuju jendela, menatap pemandangan kota. "Pergilah. Temui mereka. Tapi ingat, jangan berani-berani membawanya kembali ke rumah ini atau memberinya uang sepeser pun tanpa izin dariku."

Arkan segera berlari menuju alamat tersebut. Namun, apa yang ia temukan jauh lebih mengerikan dari bayangannya. Di sebuah rumah sempit yang pengap, ia melihat Alana duduk di pojok ruangan dengan tatapan kosong. Bayinya menangis di atas tikar, namun Alana tidak bergeming.

"Alana..." panggil Arkan pelan.

Alana menoleh. Namun tidak ada cinta di matanya. Hanya ada ketakutan dan kegilaan. "Pergi! Pergi! Kamu orang suruhan Kinanti, kan? Kamu mau mengambil bayiku untuk diberikan padanya, kan?!" teriak Alana histeris.

Arkan mencoba mendekat, namun Alana meraih pisau dapur kecil di dekatnya. "Jangan sentuh kami! Arkan sudah mati! Kinanti membunuhnya!"

Arkan berdiri mematung di ambang pintu. Ia telah kembali dengan prestasi, ia telah kembali dengan kekayaan, namun wanita yang melahirkan anaknya kini tidak mengenalinya lagi.

Di rumah utama, Kinanti duduk tenang sambil membaca buku, tahu bahwa penderitaan Alana yang baru saja dimulai adalah nina bobo paling indah untuk membalas dendamnya yang sempurna.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Cookies
lanjut
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
top
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
sip buagus bgt ini novel ter the best in, bkn krn aq adl korban pelakor tp mm in cerita bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ayo kinan cepat bergerak, hancurkan sehancurnya seperti mafia yg menguliti musuhnya, persatukan alana dan arkan dlm penderitaan supaya mrk sadar balasan unt penjahat adl kesengsaraan
Siti Zaid
Terbaik author...semoga kinanti terus kuat dan sabar utk membalas semua pengkhianatan Arkan dan Alana😠
Arieee
mantap kinanti👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
Siti Zaid
Author lanjut...
Siti Zaid
Terima kasih sudah update 2 episode selalu...👍👍👍
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ayo kin terus maju jg gentar kamu istri sah hrs kuat, ayo bunuh jiwa arkan bnr2 lumpuhkan, pelakor dan penghianat hrs musnah dimuka bumi in hahahaha
stela aza
goodjob Kinanti bikin Arkan jadi gembel di jalanan dan blacklist karirnya biar kapok ,,, lanjut thor ❤️❤️
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰: betul2 itu biar jd gembel sm alana sm anaknya buang skalian arkan sm anaknya kin, jangan kasih ampun seorang penghianat, trs kel hadiningrat lumpuhkan dan miskinkan jg kin jg ksh ampun
total 1 replies
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
bagus istri sah, hebat kinanti, biarkan arkan diatas angin dl lalu jatuhkan smp udara pun minta padamu kinan, hidup istri sah, mau bawa alana kembali huek jg coba2
Siti Zaid
Apakah Arkan tidak pernah merasa bersalah kerana sudah menghianati kinanti dan dia juga yg sudah menbentuk sifat dan sikap kinanti seperti yg sekarang...
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
kalau cerita kinan kalah brarti para istri sah mm nasibnya tertindas dan plakor pemenang, ayo thor bikin arkan mrs menang tp sebenarnya mlh hancur, dan bikin kinan menang, aq suka kl istri sah memegang kendali, bkn arkan bertekuk lutut dibawah kinan dan menyesal yg sgt dalam, masak pelaku dan pelakor menang, aq udh suka bgt sm crita in, bikin kinan merajai sgalanya
Siti Zaid: Kakak setuju dengan pendapat anda...
total 1 replies
Himna Mohamad
gagalkan ya thoor rencana arkan
Atjeh ponsel
ceritanya sangat menarik
Siti Zaid
Arkan seolah2 menyalahkan kinanti sepenuhnya..padahal dirinya yg selingkuh duluan..pun begitu juga Alana yg sudah sangat jahat pada kinanti😠
Himna Mohamad
hrs gagal thoor rencana arkan
Lee Mba Young
Waduh istri sah kalah dong nanti yg menang pelakor. jng sampai kl Arkan Dan Alana menang Aku akn berhenti Baca.
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.

berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
Siti Zaid
Kinanti yg lemah lembut dan berhati malaikat telah mati disaat kamu selingkuh dan menikahi sahabat nya..Arkan!! kamu sendiri yg menjadikan Kinanti..wanita yg tidak memiliki perasaan..semuanya salah kamu dan Alana..😡
Herdian Arya
pembalasan yang sangat setimpal, tapi Kinanti juga mati hati nuraninya, dan yang paling kasian adalah bayi itu yangharus menanggung kesalahan orang tuanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!