"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Suasana kelas 10-A di Saint Jude High School pagi itu riuh rendah. Sebagai sekolah elit yang sebagian besar siswanya berasal dari kalangan atas, aroma parfum mahal dan obrolan tentang liburan musim panas di Eropa memenuhi udara.
Di barisan tengah, empat remaja laki-laki menjadi pusat gravitasi ruangan tersebut. Matthew, Martin, Luther, dan King duduk berkelompok, menciptakan zona nyaman mereka sendiri di tengah tatapan penasaran siswi-siswi lain.
"Kalian lihat tadi?" Martin membuka suara, suaranya pelan tapi penuh selidik. "Gadis berambut ungu tadi... Wynonna. Dia tidak memakai seragam. Padahal ini hari pertama dan kepala sekolah sangat ketat soal aturan."
Luther, yang ayahnya merupakan salah satu donatur besar yayasan, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya santai. "Aturan itu untuk manusia biasa, Martin. Bukan untuk dia. Kudengar High School ini berdiri di atas tanah milik kakeknya. Dia bisa masuk kelas pakai piyama kalau dia mau."
"Syukur kita tidak sekelas dengannya," timpal King sambil bergidik. "Aku merinding melihat tatapan tajamnya tadi di parkiran. Dia seperti macan tutul yang siap menerkam siapa saja yang menghalangi jalannya."
Matthew, yang sejak tadi hanya terdiam sambil memainkan pulpen di jemarinya, tiba-tiba bergumam. "Dia cantik."
Ketiga temannya serentak menoleh.
"Sangat cantik," lanjut Matthew, matanya menatap kosong ke papan tulis. "Mungkin secantik Mommy-ku. Tapi sayang sekali... penampilannya jelas bukan tipe Mommy-ku. Mommy pasti akan langsung pingsan kalau melihat menantunya punya rambut seperti permen karet begitu."
Tawa Martin, Luther, dan King meledak seketika. Lelucon tentang "Standar Kelayakan Menantu Versi Veronica Valerio" memang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka sejak SMP.
Mereka tahu betul bagaimana Matthew harus berjuang menjaga citra "anak baik" di depan ibunya yang traumatis terhadap kekasaran.
"Sialan kau, Matt!" King tertawa sampai memegangi perutnya. "Bayangkan dia datang ke mansion Valerio dengan jaket kulit dan memanggil Mommy-mu 'Yo-Ma!'. Habis kau!"
Matthew ikut terkekeh, tawa lepasnya membuat beberapa siswi di barisan depan mencuri pandang.
Inilah Matthew Apolo-Valerio yang sebenarnya. Di rumah dia adalah pangeran lembut, di sekolah dia bisa menjadi dingin dan tak tersentuh, namun saat bersama sahabat-sahabatnya, dia adalah remaja yang "pencicilan" dan tak jarang mengeluarkan komentar-komentar mesum yang nakal. Tidak ada yang tahu sisi ini kecuali mereka bertiga.
"Dengarkan aku," Matthew berdiri sedikit, bergaya ala orator ulung. "Bagi kita, para pria yang hidup di bawah bayang-bayang restu ibu yang suci, wanita kasar adalah racun tingkat tinggi. Jangan pernah jatuh cinta pada mereka, karena sebelum kau bisa menciumnya, Mommy-mu sudah akan mengirim mereka ke panti rehabilitasi moral."
"Hahaha! Hidup Matthew Sang Anak Terkekang!" seru Luther sambil memukul meja.
Kelas semakin bising oleh tawa mereka berempat. Matthew merasa aman. Baginya, gadis berambut ungu tadi hanyalah gangguan kecil yang sudah ia lupakan.
Dia hanya seorang gadis liar yang kebetulan menginjak kacamatanya. Culun. Kata itu masih terngiang, tapi Matthew tidak peduli. Dia sudah terbiasa memakai kacamata itu demi menyenangkan ibunya, meski di dalam hati dia membenci benda itu.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Seorang guru pria paruh baya masuk dengan tas jinjing kulit. Suasana kelas seketika hening.
"Selamat pagi, semuanya. Saya Mr. Henderson, wali kelas kalian," ucap guru itu tegas. "Kita akan memulai sesi perkenalan, tapi sepertinya ada satu kursi yang masih kosong."
Mr. Henderson baru saja hendak membuka buku absen ketika pintu kelas kembali terketuk dan terbuka pelan.
Deg.
Jantung Matthew seolah berhenti berdetak selama satu milidetik.
Di ambang pintu, berdiri seorang gadis. Dia mengenakan seragam sekolah Saint Jude yang sangat rapi—rok lipit yang panjangnya pas, kemeja putih yang dikancingkan hingga kerah paling atas, dan dasi yang terpasang sempurna.
Rambutnya disisir rapi, meski sisa cat ungu di ujung-ujungnya masih terlihat, namun kini ia tampak seperti siswi teladan yang baru saja keluar dari buku panduan sekolah.
"Itu kembarannya?" bisik Martin dengan mata membelalak.
"Bukan," balas Luther dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia mencondongkan tubuh ke arah Matthew. "Dia punya dua muka, Matt. Dan itu muka yang akan dia pakai di dalam kelas. Di luar sekolah... dia sering berkelahi dengan teman wanita ataupun pria." Luther menggerakkan tangannya secara horizontal di leher, memberi isyarat 'mati'.
"Dia predator, Matt. Kau tidak sendiri ternyata. Kau punya saingan dalam hal sandiwara."
King berbisik di sisi lain Matthew, "Kau tidak sendiri ternyata, Matt. Dia juga pemain peran."
Mr. Henderson menatap gadis itu. "Siapa namamu?"
"Wynonna Martin, Sir," jawab gadis itu. Suaranya berubah total. Tidak ada lagi nada kasar bin dingin seperti di parkiran tadi. Suaranya terdengar hangat, lembut, dan sangat sopan.
"Kenapa terlambat, Miss Martin?"
Gadis itu menunduk sedikit, menunjukkan raut wajah menyesal yang sangat meyakinkan.
"Maaf, Sir. Sopir saya mengantar saya ke gerbang SMP tadi. Dia lupa saya sudah menginjak High School. Saya harus berjalan cukup jauh ke sini."
Suara itu... Matthew sangat mengenal nada itu. Itu adalah jenis suara "anak baik" yang selalu ia gunakan untuk menenangkan ibunya. Itu adalah pembicaraan manipulatif yang sudah Matthew kuasai sejak kecil.
Wynonna kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas mencari kursi kosong. Matanya berhenti tepat pada kursi kosong di samping barisan Matthew.
Saat melewati meja Matthew, Wynonna sempat melirik kearah pria itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sangat tipis hingga hanya Matthew yang bisa melihatnya. Sebuah seringai kemenangan.
Bagi orang lain, Wynonna adalah siswi baru yang cantik dan sopan. Tapi bagi Matthew, gadis ini adalah cermin yang menyebalkan. Gadis ini bukan sekadar pengganggu; dia adalah ancaman.
Dia adalah seseorang yang memecahkan kacamatanya dengan kasar, memanggilnya culun, lalu masuk ke kelas dengan topeng kesucian yang bahkan lebih rapi dari miliknya.
Matthew menyandarkan tubuhnya, matanya menyipit menatap Wynonna yang kini duduk dengan anggun beberapa meter di sampingnya.
Permainan yang bagus, Wynonna, batin Matthew. Tapi kau baru saja bertemu dengan ahlinya.
Kelas dimulai, namun pikiran Matthew sudah melayang jauh. Hari pertamanya di sekolah tinggi ternyata tidak akan membosankan.
Karena di kelas ini, ada dua orang yang sama-sama menyembunyikan iblis di balik seragam rapi mereka. Dan Matthew tahu, salah satu dari mereka pasti akan meledak lebih dulu.
jd teh celup ka dia disana.... 😂