NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32.Permohonan arwah lagi.

Di dalam ruang kelas yang masih sunyi senyap, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding dan gesekan halus ujung pena di atas kertas buku tulis. Salsa duduk di bangku bagian tengah, sendirian. Ia memang datang jauh lebih awal dari siswa lainnya, berniat memanfaatkan waktu sepi itu untuk menyelesaikan tugas matematika yang cukup sulit. Namun, apa yang ia harapkan menjadi waktu yang tenang, ternyata berubah menjadi ujian kesabaran yang luar biasa berat.

Sosok arwah gadis yang dilihatnya tadi di depan perpustakaan—Ria—ternyata tidak berhenti di situ saja. Ia mengikuti langkah Salsa dari kejauhan, melesat dengan cepat melintasi koridor, dan kini ia sudah duduk manis di bangku kosong tepat di depan meja Salsa. Tubuhnya yang setengah tembus pandang itu membiarkan cahaya matahari pagi menembusnya, namun penampakannya semakin jelas dan nyata dibandingkan saat di luar sana. Wajah pucatnya kini berjarak kurang dari satu jengkal dari wajah Salsa, menatapnya lekat-lekat dengan mata yang sayu namun penuh permintaan.

Salsa berusaha mati-matian untuk tetap fokus pada angka-angka di bukunya. Ia mengerutkan kening, menggigit ujung pulpen, dan memalingkan wajah ke arah jendela, berpura-pura tidak melihat sosok yang kini sedang bergerak-gerak gelisah di depannya. Ia berharap jika ia cukup diam dan mengabaikan, makhluk itu akan bosan dan pergi. Namun harapan itu pupus seketika.

"Hei... hei... dengar aku sebentar saja, ya?" suara Ria terdengar lirih dan berbisik, namun terdengar sangat jelas di telinga Salsa, seolah berbisik tepat di samping telinganya. Suara itu penuh keluhan dan kesedihan. "Kamu bisa melihatku, kan? Aku tahu kamu bisa. Jangan pura-pura buta begitu... ini penting sekali, sungguh."

Salsa tetap diam, matanya terpaku pada buku tulisnya, meski hatinya berdebar tidak karuan. Ia menggerakkan tangannya menulis, berusaha terlihat sibuk. Tapi Ria tidak menyerah. Gadis itu mulai bergerak mendekat, wajahnya kini hampir menempel di atas kertas buku Salsa.

"Di perpustakaan... ada sebuah buku bersampul kulit berwarna merah tua. Itu buku harianku," cerocos Ria tanpa henti, matanya berkaca-kaca meski tak ada air mata yang jatuh. "Aku menuliskan semuanya di sana. Rahasia kecil ku ada dalam sana...bagaimana ini? . Tolong ambilkan untukku, ya?. Aku tidak bisa masuk ke dalam sana lagi, ada penghalang aneh. Penunggu wanita tua itu tidak membiarkanku melangkah masuk sedikit pun."

Ria mengerang frustrasi, wajahnya berubah sedikit menjadi menyeramkan karena rasa kesalnya. Ia mengibaskan tangannya yang tembus pandang tepat di depan mata Salsa, membuat hawa dingin menjalar ke seluruh wajah gadis itu.

"Dan aku belum sempat berpamitan, tahu? Belum sempat mengucapkan terima kasih dan minta maaf sama Kak Dimas," keluh Ria lagi, suaranya bergetar penuh duka. "Orang tuaku sudah meninggal sejak aku kecil, hanya Kak Dimas yang membesarkanku, bekerja keras agar aku bisa sekolah. Dia sangat berharap aku lulus dan kuliah. Tapi lihatlah aku sekarang... aku pergi begitu saja, tiba-tiba, meninggalkannya sendirian. Dia pasti sedih sekali, dia pasti mencariku sampai tidak tidur. Aku belum bilang terima kasih... aku belum bilang aku sayang padanya... huhuhu..."

Arwah itu menangis dalam diam, tubuhnya berguncang hebat meski tak ada suara tangisan keras yang keluar. Ia terus berbicara, mengeluhkan nasibnya yang malang, menceritakan rasa sakitnya saat kejadian itu, betapa takutnya dia, dan betapa dia benci karena tidak bisa membalas budi kakaknya.

Salsa mulai merasa kepalanya pening. Ia sudah menahan diri sedari tadi, menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih agar tidak bersuara. Ia tahu kalau ia menjawab sedikit saja, rahasianya akan terbongkar. Tapi ocehan yang tak kunjung berhenti itu, campur aduk dengan rasa kasihan yang mulai menggerogoti hatinya, membuatnya semakin gelisah.

"Ah, dasar keras kepala! Kenapa sih tidak mau dengar? Kamu satu-satunya harapanku, lho! Kalau bukan kamu, siapa lagi? Apa kamu tega membiarkan aku terkatung-katung begini selamanya?!" seru Ria dengan nada sedikit tinggi, kesal karena terus diabaikan.

Ria makin mendekat, kepalanya kini menunduk tepat di atas halaman buku yang sedang dilihat Salsa. Tiba-tiba, wajah pucat, mata melotot, dan mulut yang menganga lebar itu muncul tepat di atas tulisan angka-angka matematika, menempel di kertas seolah ingin keluar dari halaman itu.

"AAAAARGHHH! BISA DIAM TIDAK KAU INI?!"

Batas kesabaran Salsa akhirnya pecah. Ia menepuk meja keras-keras sambil berdiri tiba-tiba, lalu berteriak lantang sambil menatap tajam tepat ke arah wajah Ria yang mengejutkannya itu. Wajah Salsa memerah padam, campuran antara marah, kaget, dan ketakutan. "DARI TADI CEROCOS TERUS, PINTAR-PINTAR DIKIT LAH KALAU MINTA TOLONG! BIKIN PUSING SAJA!"

Suara teriakan itu menggema keras di ruangan kelas yang sepi.

Namun, tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, Salsa menyadari ada keheningan baru yang berbeda. Dari arah pintu kelas, terdengar suara langkah kaki yang terhenti mendadak.

Salsa menoleh dengan kaku. Di ambang pintu, berdiri tiga orang teman sekelasnya—Rani, Lusi, dan Mery. Mereka baru saja sampai, membawa tas dan bekal makanan, namun kini mereka berdiri diam terpaku dengan mata terbelalak dan mulut sedikit menganga. Mereka sama sekali tidak memahami situasi itu. Di mata mereka, Salsa berdiri sendirian, berteriak marah pada ruang kosong di depannya, pada bangku yang kosong melompong.

Hening yang canggung menyelimuti ruangan itu.

"Eh... ehmm..." Salsa segera duduk kembali, jantungnya berdegup kencang karena panik. Ia menyadari kebodohannya sendiri. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia sedang memarahi hantu? Tidak mungkin!

Rani mengerjap bingung, menunjuk ke arah bangku kosong itu. "Sa... Salsa? Kamu... kamu ngomong sama siapa di situ? Kok marah-marah sendiri sih?"

Lusi dan Mery saling pandang, lalu menatap Salsa dengan pandangan aneh, campuran antara khawatir dan heran.

Salsa tertawa kaku, suara tawanya terdengar palsu dan dipaksakan. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum lebar namun canggung sekali.

"Ah... ahaha! Ti... tidak ada... tidak ada siapa-siapa kok," jawab Salsa terbata-bata, wajahnya kini merah padam menahan malu. "Aku... eh... aku tadi... sedang menghafal dialog! Iya, dialog drama! Jadi... ya... melatih nada suara yang tegas... hahaha..."

Ia mengarang alasan sekenanya, berharap teman-temannya percaya. Tanpa menunggu respon mereka, Salsa segera menunduk dalam-dalam, menyembunyikan seluruh wajahnya di balik buku tebal matematika yang ada di meja. Ia berharap bisa menghilang begitu saja dari hadapan mereka. Di balik buku itu, ia bisa mendengar bisikan kecil Ria kembali.

"Hu..uh... galak sekali. Tapi setidaknya kamu akhirnya bicara juga..." gumam Ria di dekat telinganya.

Tapi teman-temannya tahu kalau Salsa sedang menipunya, mereka menyadari ada arwah yang sedang bersama nya tadi. Tapi seperti nya Salsa masih belum mau terbuka dengan mereka, jadi mereka hanya menunggu Salsa meminta bantuan mereka.

Waktu berlalu lambat namun pasti, hingga bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan belajar. Semua siswa bersorak gembira, berhamburan keluar kelas menuju kantin yang terletak di ujung sekolah. Rani, Lusi, dan Mery mengajak Salsa berjalan bersama, masih sedikit menggodanya soal kebiasaan anehnya berbicara sendiri tadi pagi.

Namun, Salsa hanya menggeleng pelan. "Kalian duluan saja ya, aku ada urusan sebentar. Nanti aku susul," tolaknya halus. Ia butuh waktu sendiri, dan ia tahu betul kemana ia harus pergi agar makhluk di sampingnya ini mau diam.

Setelah teman-temannya berlari riuh menjauh, Salsa berbalik arah. Ia berjalan melintasi koridor yang mulai sepi, menuju bangunan tua yang sudah ia hindari sejak awal masuk sekolah ini yaitu Perpustakaan sekolah. Di sampingnya, Ria melayang berjalan dengan wajah yang kembali berbinar penuh harap, tidak lagi mengeluh karena ia tahu tujuannya sudah dekat.

Kini, Salsa berdiri kembali tepat di depan pintu besar perpustakaan itu. Pintu kayu tua itu tertutup rapat, catnya sudah mulai mengelupas dimakan usia. Angin berhembus pelan, membawa hawa yang jauh lebih dingin dan menusuk dibandingkan bagian sekolah lainnya.

Salsa menelan ludah dengan susah payah. Ia bukan takut pada Ria, tapi ia sangat takut pada sosok lain yang tinggal di sana.

"Kamu tahu kan... di dalam sana ada dia?" bisik Salsa pelan, matanya menatap takut ke arah celah jendela kaca yang buram. "Penunggu wanita tua yang memakai pakaian kuno, rambutnya panjang berantakan, dan wajahnya... ya Tuhan, wajahnya seram sekali dan penuh amarah. Dia sangat tidak suka ada yang mengganggu ketenangannya. Aku selalu menghindari tempat ini karena dia sering melototiku seolah ingin mencabik-cabikku."

Ria menunduk sedih. "Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak berani masuk. Dia jahat padaku, selalu mengusirku kalau aku mendekat. Tapi... buku harianku ada di sana, terselip di rak paling pojok, di antara buku-buku tua yang tidak pernah dipakai orang. Itu sangat penting untuk ku. Tolonglah, Salsa... ambilkan saja. Setelah itu aku janji... aku tidak akan mengganggumu lagi."

Salsa meremas ujung bajunya dengan gelisah. Ia ragu, sangat ragu. Ingatan tentang wajah mengerikan wanita penunggu perpustakaan itu melintas di benaknya. Sosok yang selalu berdiri di sudut ruangan, menatap tajam siapa pun yang masuk dengan tatapan penuh kebencian.

Namun, melihat wajah penuh permohonan Ria, mendengar kisah sedihnya tentang kakaknya, dan juga ingin segera bebas dari gangguan makhluk itu yang bisa muncul kapan saja, keberanian Salsa perlahan tumbuh. Ia menghela napas panjang, menegakkan punggungnya, dan menatap pintu tua itu dengan tekad baru.

"Baiklah," gumam Salsa pelan. "Aku masuk. Tapi kalau wanita tua itu mulai marah atau menyerang, aku langsung lari dan tinggalkanmu di sini. Ingat itu."

Ria tersenyum lega, wajahnya bersinar bahagia. "Terima kasih! Terima kasih banyak, Salsa! Kamu benar-benar orang baik!"

Dengan tangan gemetar, Salsa menyentuh kenop pintu yang dingin itu. Ia memejamkan mata sejenak, menguatkan hati, lalu perlahan mendorong pintu perpustakaan tua itu terbuka. Bunyi engsel berderit panjang terdengar menyeramkan, dan seketika itu juga, hawa dingin yang menyengat menusuk tulang menyambut kedatangannya. Di sudut ruangan yang remang-remang itu, di antara tumpukan debu dan aroma kertas tua yang apek, sepasang mata yang tajam dan penuh kemarahan dari sosok wanita berpakaian kuno itu seketika tertuju lurus padanya.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!