Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi yang cerah di hari minggu, sinar matahari menyapa jendela-jendela besar gedung pernikahan milik keluarga Ganendra.
Udara di dalam ruangan rias itu amat sejuk dengan AC, namun tidak dengan Melina yang tengah mengenakan gaun pengantin.
Melina seorang gadis yang berusia 19 tahun tengah mengenakan gaun pernikahan berwarna putih tulang.
Di bagian bawahnya nampak megar dan terlihat mewah, gaun di hiasi bordiran mutiara yang detail, di bagian bahu terbuka model off-shoulder dan lengan panjang berenda transparan yang elegan.
Rambutnya sedang di cepol rapi, dengan di pakai sirkam mutiara sederhana seolah menambah kesan dewasa.
Di kepalanya sebuah veil atau kerudung putih tipis berbahan tile terpasang, menjuntai menutupi pundaknya.
Penampilannya Melina sebisa mungkin di buat dewasa, agar penampilannya tak ke banting oleh Ihsan yang berusia sebelas tahun lebih tua darinya.
Para MUA tengah merias wajah gadis itu, sudah di rias berkali-kali wajah gadis itu selalu pucat.
Entah karena trauma dan takut, akan sikap calon suaminya----atau memang dirinya gerogi saat mau melakukan akad pernikahan.
"Mbak wajahnya khas Indonesia banget," puji MUA itu berusaha menyenangkan Melina.
"Iya Mbak," ujar Melina tersenyum lembut.
MUA yang meriasnya adalah seorang laki-laki perangai seperti wanita, sesekali MUA itu menghibur dengan jokes-jokes agar suasana mencair.
"Ih eke nggak nyangka Ishan Ganendra bisa nikahin gadis muda yang bohayy," ujarnya dengan melambai sambil memoles blush on di pipi Melina.
Sementara di lain tempat ibunya Ishan sudah di rias dan sudah menunggu di depan.
"Sudah selesai, cusss ke ruang akad!" ucap perias itu dengan antusias.
Melina menghela napas, dirinya akan melangsungkan akad pernikahan dengan pria yang jelas tak menyukainya.
Bahkan sangat membencinya, entah salah apa Melina kepadanya.
Namun, Melina setelah menikah sebisa mungkin akan menjadi istri yang baik bagi Ishan sesuai yang di ajarkan Bunda Pipin padanya.
"Ya allah kuatkan hamba, bukakan pintu hati calon imam hamba...jujur hamba sangat takut pada Mas Ishan," batin Melina sambil berjalan di tuntun sahabat-sahabatnya ke ruang akad.
Di ruang akad sudah di sulap menjadi tempat elegan, terasa hening.
Gorden krem yang menjuntai memberikan kesan klasik, sementara hiasan bunga melati terasa menyeruak harum memenuhi sudut-sudut ruangan.
Pernikahan ini atas keinginan Adisti, jadi wanita itu yang memilih MUA, dekorasi dan makanan cateringnya.
Meski wanita itu berwajah Pakistan dan Turki, namun dirinya memilih mengenakan adat Jawa pakem.
Hati Melina amat berkecamuk hari ini, tak berani menatap mata Ishan Ganendra yang selalu menatap tajam ke arahnya.
Melina sudah duduk di samping calon imam dan suami untuknya nanti, meski usianya baru menginjak 19 tahun.
Namun dari pemikiran dan sikap, terlihat Melina sudah dewasa dan mandiri----karena terbiasa hidup tanpa mengandalkan orang lain.
Melina sudah dengan gaun pengantin mewahnya, wajahnya sudah di rias oleh penata rias terkenal.
Seolah menonjolkan kecantikan alaminya, meski terlihat hatinya menyembunyikan ketakutan yang mendalam.
Melina duduk di sisi Ishan dengan kerudung di sebagian kepala Ishan, seolah kerudung tipis yang di atas keduanya adalah sebuah naungan satu simbolis dalam budaya Jawa.
Ishan dengan tatapan dingin tampil mengenakan jas hitam formal, kemeja putih di dalamnya dan dasi berwarna senada, tak lupa sebuah peci hitam terpasang di atas kepalanya.
Ishan Ganendra bin Alfa Ganendra tampil gagah namun dingin, dan tak bersemangat karena hari ini bisa di bilang hari tersial dalam hidupnya.
Meskipun ini adalah hari pernikahan yang bisa di bilang di paksa, tapi demi menjadi anak berbakti tangannya yang besar menjabat tangan penghulu di atas meja kayu kecil.
Sebelum memulai akad penghulu bertanya, "siapa nama ayah dari pengantin wanita?" tanyanya.
Tiba-tiba, Adisti yang menjawab pertanyaan penghulu itu.
"Melina Khairunissa Binti Fulan!" jawabnya tegas.
"Baiklah bisa saya mulai akadnya," ucap penghulu.
"Bisa," jawab mereka serempak.
"Saudara Ihsan bisa ikuti saya, dan jabat tangan saya!" titah penghulu itu yang mengenakan baju putih dan sarung batik.
Akad pun di mulai, lalu dengan satu tarikan napas Ihsan mengucapkan sebuah kalimat yang menyatukan dirinya dan Melina selamanya.
Menyatukan di hadapan negara dan di hadapan tuhan mereka.
"Saya terima nikah dan kawinnya Melina binti Fulan dengan mas kawin perhiasan seberat sepuluh gram dan uang tunai 100 juta dibayar tunai!" ucap Ishan dengan suara bariton yang mantap dan lantang dalam satu tarikan napas.
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" jawab para saksi serentak.
Di sampingnya, Melina menghela napas dan kedua tangannya meremas ujung gaun di pahanya dengan sangat erat hingga jemarinya memutih.
Melina memejamkan matanya rapat-rapat saat doa mulai di bacakan.
Dirinya tahu baru saja menceburkan diri di kolam buaya dengan menikahi pria yang tak mencintainya.
Namun, Melina terpaksa menerima ini karena jika tidak, dirinya harus kehilangan pekerjaan dan tak di terima bekerja di mana pun.
Dalam hitungan detik statusnya berubah dari seorang gadis yang tumbuh besar di panti asuhan menjadi istri seorang aktor paling terkenal di seluruh Asia.
"Melina gadis matre dari panti asuhan, lihat saja akan aku lakukan sesuatu padamu! dan jangan harap hidupmu tenang!" ucap Ihsan dalam hatinya.
Di barisan kursi tamu.
Ada Adisti, Bunda Pipin, teman dekat Melina, dan anak-anak panti asuhan.
Adisti tampil mengenakan kebaya putih yang indah dengan kain batik warna maroon, rambutnya di cepol rapi dengan hiasan bunga melati senada dengan dekorasi ruangan.
Bibirnya nampak tersenyum lebar, karena merasa puas rencananya berhasil.
Di kanan dan kirinya ada teman-teman sosialitanya yang juga berkebaya cantik dan saling berbisik memuji Adisti.
"Hebat jeng Adisti berhati besar mau menerima anak panti asuhan jadi menantu loh."
"Iya, hebat loh."
Melina menjabat tangan suaminya untuk mencium, tapi tiba-tiba dengan tatapan tajam Ihsan meremas tangan Melina membuat gadis malang itu merintih kesakitan.
Melina dengan tulus mencium tangan suaminya sementara Ihsan masih menatap tajam ke arahnya.
Ihsan menatap Melina, dirinya tak sudi menyentuh gadis panti asuhan ini.
*
*
*
*
*
*